Abad ke-empat belas adalah masa peradaban Hindu di
Indonesia. Dimana kerajaan Majapahit berkuasa dengan masa keemasannya dibawah
pemerintahan Raja Hayam Wurk dengan Patih Gajah Madanya yang terkenal dengan sumpahnya,
" Tidak akan makan buah Palapa sampai seluruh Indonesia bersatu," Pada akhir
abad keempat belas kerajaan Hindu mulai runtuh sejak Kesultanan Demak yang beragama Islam
di Utara Jawa, musuhnya, mulai bangkit dibawah Rajanya Sultan Bintoro atau Raden Patah.
Pada tahun 1527 Sultan Bintoro menyerang kerajaan Majapahit Hindu yang terakhir di
Kediri.
Keluarga kerajaan melarikan diri dari Istana, diantaranya adalah Kebo Kenanga, putera
dari Raja Andayaningrat, raja terakhir Majapahit.
Kebo Kenanga beserta keluarganya dan juga perajurit pengikutnya melarikan diri dan
menetap di hutan Pengging disebelah timur gunung Merapi sebagai pengungsi. Mereka
bekerja keras membersihkan hutan dan mendirikan pemukiman baru bagi keluarga dan
pengikutnya.
Kebo Kenanga menukar agamanya menjadi Islam dan namanya menjadi Ki Ageng Pengging.
Ki dimuka namanya menandakan bahwa dia adalah guru agama. Kemudian dia berteman
dengan guru-guru agama Islam yang lain diantaranya adalah Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Butuh
dan Ki Ageng Ngerang.
Akan tetapi kakaknya, Kebo Kanigara menolak untuk memeluk agama Islam, dia pergi masuk
hutan dan menjadi pertapa.
Setelah dua tahun berdiam di Pengging, Ki Ageng Pengging mendapatkan seorang anak yang
diberi nama Karebet. Dia lahir sewaktu ayahnya sedang menikmati pertunjukan wayang
beber atau wayang karebet, maka itu lah namanya Karebet.
Ki Ageng Pengging menjadi guru agama yang terkenal dan desanya menjadi makmur karena
kepemimpinannya.
Sementara itu Raja Demak, Sultan Bintoro tidak senang dengan kemakmuran Pengging.
" Pengging adalah daerah kekuasaanku, mengapa pimpinan Pengging tidak pernah
datang kepadaku dan membayar pajak," Sultan berkata kepada gurunya Sunan Kudus.
" Jadi apa menurut pemikiran anda?" kata Sunan Kudus.
" Saya ingin anda pergi ke Pengging dan katakan kepada Ki Pengging agar datang
menghadap saya sekarang juga," kata Sultan.
Sunan Kudus bersama tujuh orang perajurit Demak bersenjata lengkap pergi ke Pengging
guna menemui Ki Ageng Pengging.
Dia bertemu dan berhadapan muka dengan Ki Ageng Pengging dirumahnya.
Setelah bercakap-cakap mengenai masalah-masalah yang ringan sifatnya sampailah kepada
hal yang prinsip.
" Jadi mengapa saudara tidak pernah datang ke Istana dan menghadap baginda secara
langsung?," kata Sunan Kudus
" Saya mohon maaf belum dapat datang sekarang disebabkan banyak hal di Pengging
yang harus diselesaikan; tolong sampaikan permintaan maaf saya kepada Baginda," kata
Ki Ageng Pengging.
" Saya datang kesini atas perintah Raja guna meminta kepada anda datang ke Istana
guna menghadap Raja sekarang juga,ini adalah perintah,apakah kamu mengerti?" kata
Sunan Kudus.
Situasi menjadi semakin kritis. Sunan Kudus memegang hulu kerisnya, demikian juga Ki
Ageng Pengging; nampaknya keduanya siap untuk berkelahi. Beberapa waktu kemudian
mereka saling menusukan kerisnya. Sunan Kudus lebih banyak menyerang dibanding
Ki Ageng Tingkir.
Setelah beberapa lama tampak Sunan Kudus berhasil mengatasi lawannya dan memberikan
satu tusukan pada lengan atas Ki Pengging. Disebabkan keris Sunan Kudus
mengandung racun warangan, maka Ki Ageng Pengging mati seketika.
Ketujuh perajurit pengawalnya dengan gerak cepat membentuk pengawalan kepada Sunan
Kudus. Kemudian mereka mundur perlahan-lahan dengan keris ditangannya masing-masing.
Ki Pengging tidak mempunyai pengawal yang profesional, yang ada adalah rakyatnta
sebagai petani dan pemukim baru. Mereka melihat pemimpinnya mati ditusuk dan
mereka siap membela guna menyerang pengacau dari Demak.
Tanpa diperintahkan, mereka segera menyerang para pengacau dari Demak. Tapi
karena perajurit Demak memang profesional dalam berkelahi, maka mereka kalah.
Kemudan para pengacau Demak ini pulang kembali ke Demak.
Rakyat di Pengging sangat bersedih dengan kematian pemimpinnya. Empat puluh hari
kemudian, isteri Ki Ageng Pengging pun meninggal dunia disebabkan kesedihan yang mendalam.
Mas Karebet tinggal sendirian sebagai yatim piatu. Teman-teman ayahnya sangat
bersimpati dengan anak yatim yang malang ini diantaranya Ki Ageng Tingkir; dia memutuskan
mengangkat anak.
Disebabkan Karebet tinggal dirumah besar Ki Ageng Tingkir, maka Mas Karebet lebih
dikenal dengan nama Jaka Tingkir. Rumah Ki Ageng Tingkir letaknya dilain desa; rumah
ini besar karena Ki Ageng Tingkir terkenal kaya raya. Tak berapa lama kemudian, Ki
Ageng Tingkir pun meninggal dunia, jadilah Nyonya Ki Ageng Tingkir janda.
Sewaktu umur Jaka Tingkir genap dua puluh tahun, Nyonya Tingkir mengrimnya ke Ki Ageng
Sela untuk menjadi muridnya. Pada waktu itu tidak ada sekolah formal, yang ada hanyalah
guru yang mengajarkan Silat, seni bela diri tradisional, Agama Islam, dan ilmu
spiritualisme dan mistik. Ki Ageng Sela adalah guru yang terkenal sakti. Rumor
mengatakan bahwa dia pernah menangkap kilat dari langit yang akan menghantam mesjid Agung
Demak. Oleh sebab itu Masyarakat percaya bahwa dia menpunyai kekuatan Super natural.
Ki Ageng Sela juga mempunyai keturunan Ningrat Majapahit karena dia adalah anak dari
Kidang Talengkas atau Jaka Tarub yang kawin dengan Dewi.
Jaka Tingkir menghadap Ki Ageng Sela.
" Engkau dapat belajar dari saya tentang ilmu apapun, selamat datang, tetapi
dengan satu syarat, apakah kamu setuju?" kata Ki Ageng Sela.
Ki Ageng Sela mempunyai kekuatan supernatural oleh karenanya dia dapat membaca keadaan
masa depan demikian pula dengan masa depan dari Jaka Tingkir.
" Saya titipkan anak dan cucu saya kepadamu; bawalah dia didalam kesenangan maupun
kesusahan, jangan tinggalkan mereka." kata Ki Ageng Sela.
" Saya akan melaksanakan pesan Guru semampu saya," kata Jaka Tingkir.
" Saya percaya kepadamu. Jika saya tidak salah melihat, maka kamu diramalkan
nantinya akan mendapat karunia dari Tuhan berupa kedudukan yang baik dimasyarakat.
Oleh sebab itu kamu harus selalu dekat dengan Tuhan dan menjalankan
perintahNya.
Jaka Tingkir adalah murid yang cerdas dan rajin; semua ilmu dipelajari dengan baik,
maka Guru menjadi senang sehingga Jaka diangkat menjadi anaknya.
Pada suatu malam Ki Ageng Sela bermimpi membabat hutan untuk membuat ladang; sewaktu
dia datang ke hutan dia melihat Jaka Tingkir sudah ada disitu bahkan sudah menebang
beberapa pohon disitu; kemudian dia terbangun.
Dia berpikir tentang mimpinya, apakah arti mimpi ini. Kata orang mimpi
membersihkan hutan berarti akan menjadi raja; kalau begitu Jaka Tingkir akan menjadi raja
suatu waktu.
Ki Ageng Sela sebagai keturunan ningrat Majapahit selalu ber-doa memohon kepada Tuhan
YME, agar keturunannya kelak dapat menjadi raja suatu saat nanti; dia berdoa agar
harapannya dapat terkabul.
" Jaka pernahkah engkau bermimpi yang menurut kamu mimpi itu aneh?, tanya Ki Ageng
Sela.
" Pernah guru, saya bermimpi bulan jatuh dipangkuan saya, itu terjadi sewaktu saya
bertapa di gunung Talamaya. Dan sewaktu saya bangun, saya mendengar suara
dentuman yang berasal dari puncak gunung itu." kata Jaka Tingkir.
" Anakku,itu adalah mimpi yang bagus sekali. Untuk membuka tabir mimpi itu
maka sebaiknya kamu pergi ke Demak dan menjadi abdi disana guna merebut posisi yang baik
dilingkungan Istana, saya akan berdoa untuk kesuksesan kamu" kata Ki Ageng Sela.
Setelah Ki Ageng Sela memberi wejangan dia melepas keberangkatannya menuju Demak.
Sebelum pergi ke Demak, Jaka Tingkir mampir dulu menemui ibu angkatnya sekedar
mengucapkan salam.
Ibu angkatnya terkejut melihat anaknya pulang terlalu awal. " Apakah engkau sudah
menyelesaikan tugas belajarmu?, tentu engkau adalah murid terpandai," kata
Nyonya Tingkir.
" Tidak ibu, tetapi saya mendapat tugas untuk pergi keDemak guna mengabdi ke
Istana." kata Jaka Tingkir.
" Demak?, nampak ketidak senangan Nyonya Tingkir dengan Demak, karena dia teringat
akan kematian ayah anaknya yang dibunuh oleh Sultan Bintoro.
" Demak akan mengalami kemajuan dan saya akan mendapat suatu posisi yang bagus
dikalangan Istana, demikian ramalan Ki Ageng Sela , guruku," kata Jaka.
" Barangkali dia benar karena dia mempunyai kekuatan supernatural; baiklah saya
mendukung rencana ini, dan saya minta kamu untuk tinggal di saudaraku didesa Ganjur,
pamanmu disana sebagai lurah Ganjur. Tinggalah disini untuk dua hari karena
saya masih kangen dengan kamu," kata Nyonya Tingkir.
Selama tinggal dirumah, Jaka bekerja di sawah bertanam padi. Selagi dia
bertanam, ada orang menegur, " Hai Jaka mengapa kamu masih ada disini?, bukankah kamu
harus ke Demak secepatnya?" Dia adalah Sunan Kali Jaga, salah satu dari
sembilan orang suci yang pertama membawa agama Islam. Sebagai orang alim dia tau
akan masa depan Jaka, maka dia menganjurkan agar Jaka segera ke Demak.
Kerajaan Demak dengan raja pertamanya adalah Sultan Bintoro atau Raden Patah. Beliau
wafat pada tahun 1518. Sultan mempunyai anak-anak seperti dibawah ini.
Yang pertama adalah Ratu Mas, beliau menikah dengan Pangeran Cirebon. Walaupun
dia anak tertua, tapi dia tidak berhak untuk menjadi Raja, karena perempuan.
Putera yang kedua adalah Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor. Dia diangkat menjadi Raja
menggantikan ayahnya. Pada waktu usianya tujuh belas tahun dia ikut bertempur di selat
Malaka memerangi orang Portugis, bantu membantu dengan Sultan dari Malaka, Sultan
Machmudsyah. Oleh sebab itu dia bergelar Pangeran Sabrang Lor yang artinya pergi keluar
negeri. Setelah memerintah Kerajaan selama tiga tahun dia dibunuh oleh
seseorang. Rumor di masyarakat mengatakan bahwa yang membunuh adalah adiknya yang
terkecil, Pangeran Trenggono.
Anak ke tiga adalah Pangeran Kanduruan atau Pangeran Seda Lepen. Dia seharusnya
berhak menduduki tahta kerajaan, tapi sayang dia dibunuh oleh keponakannya sendiri,
Pangeran Prawoto, anak tertua dari Pangeran Trenggono.
Jadi Kerajaan Demak berlumuran darah yang dilakukan oleh Sultan Trenggono beserta
keluarganya.
Jaka Tingkir akan menghadap Sultan Demak yang pada saat itu adalah Sultan Trenggono.
Yang pertama dia kunjungi adalah Lurah Ganjur guna mendapat rumah penginepan.
Dia serahkan surat dari ibu angkatnya kepada Ki Lurah.
" Hai Jaka, kamu sekarang sudah besar. Saya teringat pada waktu saya berkunjung
terakhir kerumahmu, engkau masih kecil, umyur kamu lima tahun." kata Lurah Ganjur.
" dia seorang pemuda ganteng, sopan dan kuat; jadi saya kira dia akan mudah untuk
menjadi abdi dalem Istana," pikir Ki Lurah.
" Hai Jaka besok adalah hari Jumat. Sultan akan sembahyang di Mesjid Agung
Demak. Jadi besok pagi-pagi kita bersama-sama akan membersihkan mesjid. Diharapkan
Sultan akan melihat kamu dan mengangkat kamu sebagai pengawalnya atau abdi dalem."
kata Ki Lurah.
" Terimakasih, ini adalah kesempatan saya untuk melihat Sultan yang terkenal itu
dari jarak dekat dan juga untuk pertama kalinya," kata Jaka Tingkir.
Pagi-pagi sekali Ki Lurah beserta stafnya dan juga Jaka sudah berangkat ke Mesjid untuk
bekerja membersihkan Mesjid dan halamannya.
Disebabkan Jaka terlalu tekun dengan pekerjaannya, dia tidak melihat atau menyadari
kalau Sultan dan rombongannya sudah dekat akan memalui tempatnya. Jika dia
pergi begitu saja maka dia akan membelakangi Sultan. Tetapi jika dia diam ditempat
itu, tentu dia akan dilanggar oleh Sultan beserta rombongannya. Tempat dia
sedang bekerja adalah diantara dua kolam yang tempatnya sempit, tempat lalu Sultan.
Tiba-tiba dia melompat melewati kolam. Itu adalah salah satu pelajaran silat yang
diajarkan oleh Ki Ageng Sela.
Sultan dan rombongan sangat terkejut begitu juga Ki Lurah Ganjur. Sultan mendekati
Lurah Ganjur dan memberi tanda agar anak muda tadi untuk datang menemuinya sesudah
sembahyang Jumat.
Ki Lurah Ganjur pucat mukanya," hukuman apa yang akan dijatuhkan Sultan kepada
Jaka Tingkir?"
" Tingkir tindakanmu tadi adalah melanggar kesopanan. Sultan berkenan
menemuimu nanti setelah sembahyang Jumat, saya harapkan Sultan tidak akan memberimu
hukuman," kata Ki Lurah Ganjur.
" Saya minta maaf paman; saya tidak menyadari kalau Sultan dan rombongan tiba-tiba
sudah ada dimuka saya," kata Jaka Tingkir.
" Apa yang harus saya katakan kepada ibumu, Nyonya Tingkir, jika Sultan memberikan
hukuman," kata pamannya.
" Akankah dia memberi hukuman?, saya hanya melompati kolam, kemudian dihukum
karena tindakan itu?," kata Jaka
" Dengan berbuat seperti itu kamu telah pamer kepandaian silatmu. Kamu tahu
bahwa Demak ini adalah gudangnya master Silat," kata pamannya.
Tidak berapa lama kemudian Sultan beserta rombongan sudah keluar dari mesjid dan
menemui Jaka tingkir, " siapakah namamu anak muda?, kata Sultan.
" nama saya Jaka Tingkir,'
" Siapakah orang tuamu?, tanya Sultan
" Orang tua saya bernama Ki Ageng Tingkir, masih ada hubungan keluarga dengan Ki
Lurah Ganjur, bahkan saya juga bermalam di rumah Ki Lurah." jawabnya.
" Hmm,...kamu tidak pernah cerita bahwa kamu mempunyai seorang keponakan Ganjur.
Anak muda besok kamu menghadap saya di Istana," kata Sultan.
Pendek cerita, Jaka Tingkir diterima sebagai "abdi dalem" pegawai Istana.
Dua tahun kemudian dia diangkat sebagai Tumenggung di kalangan militer Kerajaan Demak,
karena dia pandai, cerdas berilmu dan tahu membawa etiket Kerajaan.
Dia mengadakan reorganisasi kalangan militer di Kerajaan dan melatih ketrampilan
perajurit Demak yang menjadikan militer Demak cukup disegani. Sultan sangat senang dan
puas kepada hasil kerja Jaka Tingkir, sehingga dia mengangkat anak kepada Jaka Tingkir.
Disebabkan Jaka Tingkir adalah pemuda yang ganteng, maka banyak wanita-wanita
mengharapkan menjadi kekasihnya.
Pada suatu hari, selagi Jaka bertugas di Istana, dia melihat seorang wanita cantik
tanpa sengaja. Dia adalah Puteri Mas Cempa yang tinggal di kaputren.
Tidak seorangpun boleh masuk kedalam kaputren tanpa seizin baginda. Puteri pun
melihat dia, maka keduanya saling jatuh cinta.
" Mana mungkin Baginda mengambil mau saya sebagai menantu, karena saya hanyalah
pemuda desa. Tapi melihat matanya, nampaknya dia jatuh hati juga sama seperti saya.
Bagaimana cara saya mengutarakan rasa cinta saya kepadanya, kalau saya tidak
diperkenankan masuk kedalam Kaputren?, itu adalah permasalahan Jaka." pikir Jaka
Tingkir.
Dia hampir melupakannya, tetapi pada suatu hari seseorang mengantar surat rahasia dari
dia, Puteri. Dia mengundang datang ke Kaputren, dia juga menyertakan peta jalan
rahasia untuk sampai ke Kaputren sehingga tidak ada seorangpun mengetahui kehadirannya di
Kaputren. Sejak itu terjadilah beberapa pertemuan rahasia diantara kedua pasang muda mudi
yang sedang dimabuk asmara. Sejauh ini lancar-lancar saja, karena tidak ada yang tau
pertemuan tersebut. Hanya teman-temannya mencurigai dia sedang dilanda asmara karena
sering kedapatan melamun.
Pada akhirnya pengawal kerajaan melihat dari kejauhan, Jaka Tingkir bersama Puteri Mas
Cempa berada di Kaputren. Kemudian melaporkan ke Baginda dan Baginda segera
memanggil Jaka menghadapnya.
" Mengapa engkau berani melanggar aturan memasuki Kaputren? tanya Sultan
Belum pernah Jaka melihat Sultan kelihatan semarah hari ini karena dia memang belum
pernah berbuat kesalahan.Nafasnya menjadi sesak dan mukanya pucat Dia tidak pernah
berkata bohong, maka juga saat ini.
" Tuanku, saya dengan Puteri Mas Cempa sedang merundingkan sesuatu," katanya
" Apa itu?," tanya Sultan.
" Kami berdua saling jatuh cinta," kata Jaka.
" Beraninya kamu, kamu harus tau dan menyadari, kamu hanyalah pemuda rakyat biasa
dari kampung, kamu hanyalah petugas layan Istana kami. Mulai sekarang kamu
dipecat dan dihukum. Kamu masuk hutan tanpa membawa senjata dan saya akan perintahkan
semua perajurit Demak untuk menangkap kamu hidup atau mati. Saya akan umumkan bahwa
kamu telah mencuri pusaka keramat Kerajaan, baju antakusumah, sekarang pergi, saya tidak
mau melihat kamu lagi," kata Sultan.
Sangat buruk dan bahkan lebih buruk disebabkan mencuri baju antakusumah berarti bukan
saja perajurit Demak akan mengejarnya bahkan semua rakyat Demak akan ikut mengejar.
" Maafkan saya Tuan, saya akan melaksanakan perintah Tuan. Bila saya gagal
dan mati, maafkan saya dan Ratu Mas Cempa, kami berdua saling mencintai," kata Jaka.
Kemudian dia pergi masik hutan. Sepanjang itu tidak ada seorang perajuritpun yang
mengikutinya guna membunuhnya.
Sultan dibalik itu merasa sangat tertekan dan penuh penyesalan karena dia sebenarnya
membutuhkan dia sebagai perajurit yang baik, organisatoris yang handal dan seorang pemuda
yang ganteng. Jaka adalah pemuda sempurna tanpa cacat yang dapat ditemukan. Bahkan
dia adalah sempurna sebagai memantunya. Sultan tidak mengetahui bahwa dia
sebenarnya adalah berdarah biru dari kerajaan Majapahit, musuhnya.
Jaka meninggalkan Demak dengan cepat. Tanpa tujuan, hanya kesedihan yang mendalam dan
frustrasi kehilangan kekasihnya Ratu Mas Cempa. Sewaktu dia beristirahat dibawah
pohon disuatu hutan, seseorang datang menghampiri, " Hai anak muda mengapa kamu
berada di hutan yang angker ini?, " tanya orang tua.
" Saya Jaka Tingkir dari desa Tingkir. Saya adalah anak dari Ki Ageng
Pengging. Orang tua saya sudah mennggal dunia sewaktu saya masih muda, kemudian saya
diangkat anak oleh Ki Ageng Tingkir jadi nama saya adalah Jaka Tingkir.
Matanya menjadi basah karena menangis. " Oh anakku ayahmu adalah temanku, nama
saya adalah Ki Ageng Butuh. Jadi apa yang terjadi dengan kamu sehingga kamu berada
dihutan ini?" tanaya Ki Ageng Butuh.
Dan jaka menceritakan apa yang terjadi.
" Jadi apa rencana kamu selanjutnya?"
" Saya tidak tau, mungkin saya akan bunuh diri," kata Jaka.
" Jangan lakukan itu anakku, Itu tidak baik, saya tau pikiran kamu sedang kacau
karena kamu sedang mendapat kesulitan dan kesedihan yang mendalam. Alangkah baiknya
jika kamu datang kerumahku dan semua nya akan menjadi dingin dan tenang." kata Ki
Ageng Butuh.
Jaka Tingkir setuju atas saran itu dan menginap selama seminggu atau lebih dirumahnya.
Ada juga disana tetangganya, Ki Ageng Ngerang yang juga teman ayahnya.
Kedua orang itu mengajarkan Jaka ilmu Mystic dan ilmu spiritualism yang membuat Jaka
menjadi orang baik, sopan dan bijaksana.
Sesudah satu bulan, Jaka Tingkir ingin kembali ke Demak. Mengharapkan Sultan
sudah dapat melupakan dosanya dan dapat menerimanya seperti sebelumnya. Sesudah
mengucapkan terimakasih dan salam kepada kedua gurunya, dia meninggalkan desa Butuh pergi
ke Demak.
Dia sampai ke pintu gerbang kerajaan dan menemui pengawal disana yang masih
mengenalinya sebagai tutor pendidikan kemiliteran. Mereka bercakap dan berdiskusi
mengenai situasi Istana. Tetapi Sultan masih marah kepada Jaka, kata pengawal itu.
Jaka sangat kecewa dengan keterangan itu, dia meninggalkan Demak dan menuju Pengging,
kota kelahirannya.
Dia meninggalkan Pengging sewaktu dia berumur dua tahun, maka tampak agak aneh kota
itu. Dia bertanya kepada seseorang di jalan, dimana kuburan ayahnya. Dia
pergi kekuburan ayahnya guna memberikan bunga. Dia tertidur dikuburan karena dia
terlalu lelah berjalan. Dia bermimpi seseorang datang kepadanya dan berkata, " anakku
Karebet, jangan bersedih jangan biarkan hidupmu menjadi sia-sia. Jadi kamu harus
pergi ke desa Banyu Biru dan temui Ki Buyut Banyu Biru, jadilah muridnya dan patuhi semua
perintahnya. Aku adalah ayahmu, Ki Ageng Pengging.
Dia terbangun dan merasa aneh karena mimpi itu seperti sungguhan terjadi.
Siapakah Ki Buyut Banyu Biru?. Dia sebenarnya adalah Kebo Kanigara, kakak dari
ayahnya.