Home |
Fiksi
Requiem dari Sebuah Jalan
Aku merasa gelagat aneh menjalari tubuhku
hari ini. Badanku panas-dingin sepanjang siang. Keringat bercucuran walau
beberapa orang menyatakan kalau udara di kota kami, Malang, tak terlalu panas.
Malamnya aku tak bisa tidur. Kepalaku pening, badanku juga rasanya masuk
angin.
Malam
melarut dan mendingin. Kuambil jaket hitamku, kususuri jalanan yang sepi dan
lengang. Hanya tampak beberapa orang, sepeda dan sepeda motor lewat di salah
satu sudut kota ini, tempat aku tinggal. Berteman sebuah bir dengan prosentase
alkohol rendah, kucoba menepis benak dan tubuh yang kalut ini. Ada apa
gerangan? Tiba-tiba, hatiku dirasuki kata-kata tentang jalan. Jalan, ya,
tentang jalan... yang kini kupandangi dan kurenungi. Aku tak bisa
memperhatikan langit lama-lama, tak ada bintang-bintang, tak ada bulan. Aku
memandangi aspal hitam, lalu tiba-tiba saja aku berucap beberapa kata sajak.
Kata-kata itu mengalir begitu saja. Kemudian, karena sayang jika hilang,
kucatat di hp-ku, kusimpan. Aku merasa agak lega. Aku berjalan pulang.
Aku mencoba memejamkan mata, tapi tak bisa-bisa. Kucoba mengenang
kekasihku, kenangan terindah, namun rasanya hambar. Badanku lelah, tapi rasa
kantuk tak kunjung datang. Udara makin dingin. Pikiranku melayang-layang.
Tiba-tiba
saja, temanku datang. Wrekso, seorang tukang becak yang tidak suka dipanggil
Pak, Mas, atau Bang. Usianya sudah 58 tahun, badannya gemuk. Dia asli Blitar.
Dengan senyum dan tawa lebar ia menghampiriku dan mengajakku bicara.
“To, kok belum tidur-tidur?”
“Oh, Wrekso. Kok saya tidak mendengar langkahnya waktu masuk?”
“Biasa. Saya ‘kan detektif Canon.”
“Conan, bukan Canon, So!”
Kami duduk bersama. Kubuatkan dia kopi susu kesukaannya. Dia
tersenyum lebar memperhatikan asap yang mengepul dari atas gelas.
“Makasih, To!”
“Sama-sama.”
Ia menyulut sebuah rokok, menyedotnya dalam-dalam. Sambil
mengeluarkan asapnya perlahan-lahan, ia mengeluh, “Aku lelah, To. Aku lelah
hari-hari terakhir ini.”
“Ya, istirahatlah, So. Aku juga lelah membuat tugas-tugas kuliah.
Tapi, ya, namanya tugas harus dikerjakan.”
“Iya, tapi aku benar-benar lelah. Lelah banget. Rasanya anggota
badanku mau bertanggalan; aku ingin berhenti jadi tukang becak, To.”
“Walah, kok berhenti. Nanti kalau aku sudah jadi guru baru, baru
kauboleh berhenti, So. Mau dikasih makan apa Mbok Tarmi dan Wikromo?”
“Iya, kadangkala aku nggak tega lihat Tarmi kerja jadi bakul jamu
terus-menerus. Dia sering mengeluh, pinggangnya sakit.”
“Yah, mau gimana lagi, So? Selama masih kuat, ya dijalani saja
hidup ini.”
Aku memandangi langit yang kelam. Kulirik perut Wrekso yang
buncit. Memang jarang ada tukang becak yang segemuk dia. Kutaksir, berat
badannya paling sedikit 90 kg. Kasihan. Wrekso menyedot dalam-dalam rokoknya.
Asap yang ia keluarkan dari hidungnya dibawa angin malam, terbang
menari-nari....
“Wikromo bagaimana?” tanyaku memecah kesunyian. “Sudah bisa
sekolah lagi, So?”
“Tahun depan, mungkin. Dia pengin diajar kamu.”
“Walah, lha aku ini tamat kuliah saja belum. Nanti kalau aku sudah
jadi guru, dia boleh sekolah gratis di tempatku ngajar.”
“Iya, To. Ide bagus itu!” kata Marto bersemangat. “Kalau kau nanti
tamat kuliah, dirikanlah banyak-banyak sekolah gratis untuk orang miskin.”
“Wah, itu ‘kan tugasnya Pak Menteri. Emangnya saya Menteri?
Hehehe....”
“Iya, ya. Tapi... siapa tahu kau bisa jadi menteri suatu saat?”
Aku diam dan merenung. Jadi menteri? Menteri Pendidikan Nasional,
Marto Saptaji. Wah, kelihatannya keren juga! Aku tersenyum sendiri.
“Kenapa senyum-senyum sendiri, To? Teringat mantan pacarmu, ya?”
“Ah nggak. Mau tau aja lu, So!”
Kami ini beda usia 25 tahun tapi kami bersahabat. Wrekso tinggal
berdekatan denganku, bertetangga. Wikromo, anak tunggalnya sering kuajak
jalan-jalan ke Alun-alun kalau aku lagi tidak ada kerjaan. Wrekso merasa
sangat senang karena anaknya bisa berteman denganku. Hampir tiap malam Wrekso
main ke kosku hanya sekedar untuk menonton televisi dan bicara beraneka hal
yang remeh-temeh. Di rumahnya, ia hanya punya radio AM. Tempat kosku baru
tutup di atas jam 1 malam karena aku sering mengarang cerita ketika malam.
“So, kamu
belum mengantuk?”
“Belum.”
Kuperhatikan tubuh besarnya yang selalu lelah bila ia bertandang. Aku merasa
iba.
“Gimana
les musikmu, To? Lancar? Aku pengin bisa juga main gitar.”
“Walah,
nyanyi saja fals, mau belajar main gitar! Jangan terlalu banyak kemauan, So.
Ngerti ora’, So?”
“Ya
sudah. Nggak jadi....”
“Nanti
kuajari Wikromo saja. Kelihatannya dia kalau nyanyi nggak fals kayak
bapaknya.”
Wrekso
tersenyum kecut. Kuambil gitarku, kupetikkan nada-nada melankolis. Wrekso
selalu senang melihat aku main gitar. Senyumnya berubah, matanya berbinar. Dia
sangat menikmatinya. Namun, diantar petikan gitar itu, perlahan-lahan kami
kemudian hanyut di dalam suasana yang syahdu.
“Aku
lelah, To. Aku bosan mengayuh becak. Aku bosan memandangi jalan. Aspal hitam,
debu, asap kendaraan di kota yang makin panas ini mulai membuat aku ingin cari
pekerjaan lain.”
“Terus,
mau jadi apa, So?”
“Jadi apa
ya enaknya? Jadi tukang bangunan, mungkin.”
“Tukang
bangunan? Bukannya nyindir, kau paling bisanya jadi kuli bangunan.”
“Lho aku
dulu pernah kerja di bangunan lho. Duluuu sekali.”
“Kapan
itu?”
“Kapan,
ya? Dua puluh tahun lalu mungkin.”
“Kau gak pernah cerita. Dan sekarang, kalau mau jadi tukang
bangunan pun, siapa yang mau mempekerjakanmu? Kau punya kenalan? Apa kiramu
jadi kuli itu nggak capek? Bisa-bisa jauh lebih capek daripada menarik becak.”
Wrekso memajukan bibir bawahnya, berpikir.
“To, aku
lelah.... Aku lelah.... Aku mau pamit dulu ya. Sebenarnya, malam ini aku mau
jujur saja ke kamum kalau....”
Tiba-tiba, hatiku diliputi sebuah rasa sedih.
“Kau mau
ke mana. So?”
“Aku mau
ke Blitar.”
“Kenapa
ke Blitar?”
“Aku
pengin jajan es drop*) sambil nyekar ke makam Pak Karno.”
“Kapan
berangkat?”
“Besok
pagi.”
“To...
aku titip anak istriku, ya.... Tarmi mungkin marah-marah kalau tahu aku pergi.
Harusnya narik becak, malah tamasya. Kamu jangan bilang siapa-siapa. Aku sudah
lama pengin beli es drop. Aku juga sudah kangen dengan kereta Matarmaja,
melihat para pedagang asongan teriak di sepanjang gerbong, menikmati kripik
B2**) yang nikmat. Oh, Blitar... aku kangen sama Blitar. Pak Karno,
junjunganku, aku juga kangen beliau.”
Aku
menelan ludah. Mataku panas. Kontan tangan kananku meraih ke dalam saku,
hendak mengambil beberapa uang untuk memberinya uang saku.
Ketika
kumasukkan tangan ke dalam kocekku, uang-uang itu serasa lenyap. Aku menyentuh
sebuah benda lain yang keras. Aku panik. Di mana uangku? Di mana uangku?
Tiba-tiba aku merasa tubuhku seperti disentakkan oleh suatu kekuatan. Baru aku
sadar, hp-ku bergetar. Tanganku sedang memegangi hp-ku di kocek celanaku.
Ternyata, Wrekso telah datang di dalam mimpi! Rasanya benar-benar sangat
nyata! Kami seperti benar-benar berbincang-bincang. Kulihat jam dinding. Masih
pukul lima. Kuberjalan menuju dapur, minum segelas air.
SMS itu!
Apa isinya? “To, Wrekso telah tiada 10 menit yang lalu, Pak Arie!”
“Tidak!!!”
Kubuka
pintu kamarku dan berlari aku menuju ke rumah Wrekso. Beberapa tetangga sudah
berkumpul. “Tidak! Ini tidak mungkin! Tidak!!!” Aku berteriak-teriak bagai
orang gila. Pedih benar rasanya ketika kehilangan seseorang yang baru
diimpikan semalam lalu. Semua mata memandangiku ketika kugoncang-goncang tubuh
Wrekso yang telah kaku.
“Dia baru
pamitan sama aku mau ke Blitar. Dia titip anak istrinya. Dia
berbincang-bincang denganku. Dia ingin naik kereta.... Dia... Wrekso!”
Orang-orang berpikir kalau aku mungkin mendramatisir semua ini. Bagiku, mimpi
itu begitu nyata.
Matahari
muncul dari balik dedaunan pohon akasia di depan rumah Wrekso. Kami semua siap
mengantar Wrekso ke haribaan Penguasa. Kami berkeyakinan sama, Kristiani. Di
acara pelepasan jenazah, kumainkan gitarku untuk mengantarkan Wrekso. Aku tak
sanggup bernyanyi, hanya memetikkan nada-nada sendu untuknya.
Acara
pelepasan jenazah usai. Siang tiba, Wrekso diantar ke tempat peristirahatannya
di sebuah makam di tengah kota yang bising ini. Mbok Tarmi dan Wikromo tampak
tabah. Kudekati mereka ketika peti usai tertutup tanah. Kurangkul Mbok Tarmi
dan Wikromo. “Moga encokmu cepet sembuh, Mbok.... Moga kau bisa bersekolah
lagi, Mo.” Mereka balas merangkulku dengan isak tangis. Momen penuh haru.
Malam
ini, kuambil gitarku, kubuka hp-ku. Tahulah kini kepada siapa aku harus
memberikan dua bait sajak kemarin malam. Tak bisa kubiarkan ini hanya menjadi
sebuah sajak; itu harus menjadi... requiem, lagu pengantar kematian. Requiem
untuk Wrekso, yang telah lelah mengeja meter demi meter jalan yang dilaluinya
bersama becaknya. Dua jam kemudian lagu itu selesai.
Wrekso,
kini dengarkanlah aku bernyanyi dengan nada dasar E minor....
jalan
adalah sebuah teman renungan
yang
menghapus lelah tubuh dan gundah hati
ia
adalah penafsir jejak renungan
yang
disusupi duka dan nyanyi sunyi
langkahku berat sambung-menyambung
pada
jalan yang dibuai dengan renung
aku
bersama jalan coba menyatu
mengeja
kenangan bersama gerak waktu
***
Keterangan:
*) es
seperti es lilin, yang terkenal sebagai jajanan khas kota Blitar.
**)
kripik siput, yang juga terkenal sebagai jajanan khas kota Blitar.
Catatan:
Terima
kasih untuk John Petrucci, gitaris grup band Dream Theater yang telah
menciptakan lagu “The Spirit Carries On”, yang menjadi penggerak terciptanya
cerita ini.
== TAMAT ==
© Sidik Nugroho,
2006