Ketika aku ada di kamar ini, aku merasa berada jauh dari kota ini.
Malang, kotaku, mulai diguyur hujan beberapa hari terakhir ini. Kesepian jadi kian sempurna kala aku menikmatinya bersama secangkir kopi di kamar kosku yang sepi.
PHK kualami dua kali karena kedua perusahaanku itu dirampingkan. Gadis yang kusukai meninggalkan aku karena aku tak bisa menjanjikan komitmen dan hubungan jangka panjang sepuluh tahun lalu. Delapan tahun terakhir aku bekerja freelance pada sebuah perusahaan dekorasi bunga yang melayani berbagai pesanan rangkaian bunga: untuk pernikahan, ucapan selamat, ucapan terima kasih, juga kematian.
Penghasilanku tak tetap. Kadangkala dalam sebulan aku dapat uang tiga ratus ribu. Kadangkala hanya dua ratus ribu. Aku tak punya tabungan. Untuk membeli bensin, makanan dan membayar uang kos saja kadangkala tidak cukup. Kadangkala aku berhemat hingga sebuah mi instan kupakai untuk tiga kali makan dalam sehari. Ketika masih mentah aku membaginya menjadi tiga bagian. Tiga bagian mentah itu lalu kurebus pada pagi, siang dan malam hari. Lumayan, nasi ada lauknya. Kalau nasi putih saja rasanya kok tidak enak.
Aku juga rajin menulis sejak lima tahun belakangan, namun hasilnya amat mengecewakan. Dari sepuluh cerpen yang kukirim ke media cetak, biasanya hanya satu yang dimuat. Kini aku telah mengarang 120-an cerpen. Dari semuanya tak lebih dari 10 yang dimuat. Aku telah menawarkan lima naskah novel ke penerbit dan semuanya ditolak. Teman dekatku menyatakan agar aku melupakan saja impianku untuk menjadi penulis. Dari ucapannya ia seperti menganggapku terlalu bodoh untuk menulis. Ah, biarlah aku dianggap bodoh. Siapa tahu tulisan orang bodoh ini kali ini dimuat? Tapi, aku mencintai tulisan-tulisanku. Aku kerap meminta temanku yang lain mengomentari tulisanku. Tapi mereka hanya bilang: “Lumayan,” atau, “Ya… bagus.”
Aku telah melakukan segala hal yang menurutku baik dalam kehidupan ini. Aku telah menggali segenap kemampuanku untuk menjadi diriku sendiri.
“Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang di tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Inilah yang kerap kudengar dari semua orang di sekitarku. Setelah aku bersusah-susah selama dua puluh tahun, toh aku tak bahagia-bahagia. Usiaku sudah 44 tahun saat ini. Rasanya aku hampir mati. Aku sering sakit. Sejak usiaku 26, aku kerap bermimpi kalau aku akan mati pada usia 40. Tapi untunglah aku belum mati. Hm, untung atau rugi, ya? Entahlah….
Suatu ketika aku tergelitik untuk mengutak-atik pepatah itu: “Bila kau tak terlalu mahir berenang, berenang saja di tepian.”
***
Namun, aku tak menjadi orang yang selalu tinggal di kamar.
Kali ini aku pergi ke perpustakaan umum di kotaku untuk mengembalikan buku. Ya, aku secara teratur membaca dua buah buku cerita sebulan. Bagaimana aku bisa menjadi seorang pencerita bila aku tak pernah membaca buku cerita? Aku selalu mengagumi buku-buku yang kubaca itu. Menurutku rata-rata bagus. Aku beruntung.
Aku suka sekali membaca Astrid Lindgren. Aku tak henti-hentinya kagum pada Tolstoy. Dan, yang paling luar biasa bagiku adalah Tolkien. Dia bagaikan Tuhan bagi karyanya. Dia menciptakan dunia, kisah, tokoh, yang lengkap pula dengan sejarahnya. Kerap aku bermimpi bisa mengarang sehebat mereka. Aku bukan hanya bermimpi. Aku mencoba dan terus mencobanya. Tapi, nyatanya, menurut para editor media-media cetak dan penerbit, sebagian besar karyaku tak cukup bagus untuk dibaca orang lain.
Setelah aku mengembalikan buku yang kupinjam, aku tak tahu harus meminjam buku apa lagi saat ini. Kepalaku pusing. Mungkin besok aku akan datang lagi untuk mencari buku apa yang harus aku baca. Aku ingin pulang.
Sayang, hujan turun teramat deras. Aku tadi lupa membawa payung. Aku lalu duduk di teras perpustakaan.
***
Daya juangku di kota ini telah kulalui dengan beragam debar dan getar.
Ketika aku menyandarkan kepalaku, aku tertidur. Aku bermimpi melihat perusahaan-perusahaan yang telah kumasuki lamaran kerja. Aku juga melihat majalah dan koran-koran yang pernah kukirimi karyaku. Perusahaan hingga koran-koran itu semuanya dilatarbelakangi dengan warna hitam yang teramat pekat. Pekat sekali, sehingga kesan yang kurasakan di benakku saat bermimpi adalah ketiadaan harapan. Pekat yang juga berarti hampa. Pekat, yang mungkin juga adalah kematian. Dan aku rasanya menangis dalam mimpi itu. Hatiku dibuat takut, bergetar, ngeri… dengan kepekatan itu.
Kemudian aku melihat ayah dan ibuku yang sudah tidak ada lagi. Mereka hanya melambai-lambai di kejauhan. Mereka berdua tampak bahagia. Mereka tersenyum. Tampaknya mereka ingin melihat aku tersenyum juga. Pemandangan berganti: kini aku melihat diriku sendiri.
Aku sendirian. Di sebuah pantai yang tampaknya bukan sebuah tempat wisata, di situ aku berdiri. Aku tak kenal pantai itu. Pantai itu berpasir putih, berhutan cemara dan memiliki sebuah bukit kecil yang di ujungnya ada sebuah pohon bakau yang rindang. Ombak-ombaknya kecil. Aku bahagia dan berlari-lari ke sana kemari.
Kemudian aku melihat sebuah perahu kecil yang lewat. Di atas perahu itu aku melihat mantan pacarku menggendong seorang anak kecil. Tampak juga seorang pria yang gagah bersamanya, menjadi pendayung. Mereka tampaknya hendak menuju ke sebuah pulau yang jaraknya sekitar satu kilometer dari pantai. Aku memandangi mereka lama sekali. Kata-kata itu kemudian muncul di benakku ketika mereka lenyap: “Bila kau tak terlalu mahir berenang, berenang saja di tepian.” Dalam mimpi aku berpikir: aku bukan hanya tak pandai berenang, aku juga tak punya perahu. Jadi, aku memang tak pantas untuk menuju ke pulau. Aku tampaknya ditakdirkan menjadi penikmat pantai.
Aku terbangun. Hari sudah menjelang sore.
***
Mungkin, kebahagiaan bagiku sederhana saja: kembali pada sepi
Aku melangkah pulang. Mimpi sedih, muram dan menyisakan tanda tanya menjadi bahan perenunganku dalam melangkah. Kotaku tampak sepi. Jalan, jalan yang hitam, jalanlah yang menjadi teman setiaku, inspirasiku. Dan kini, jalan berbicara padaku tentang hidupku: bahwa akhirnya kau sampai pada akhir. Bahwa akhirnya kau sampai pada tujuanmu.
Tubuhku sakit lagi. Dalam kesakitan ini aku merenung. Aku mungkin tak akan pernah memiliki rumah untukku sendiri, seperti menjangkau pulau di mimpi itu. Juga, aku mungkin tak akan pernah menjadi kaya. Tulisan-tulisanku mungkin akan dilupakan dan tidak ada seorangpun yang membaca. Aku tak akan pernah jadi pengarang hebat walau aku telah menghidupi tujuanku untuk menjadi pengarang. Tidak ada saksi setia bagi perjuangan yang kutempuh dalam kehidupan ini. Aku mungkin akan meninggalkan dunia ini tanpa seorang istri yang mengantarkanku ke pemakaman. Di makamku juga mungkin kelak akan sepi pengunjung.
Semua ini, akankah membuat hidupku menjadi tak berbahagia?
Oh, tentu tidak. Aku kini tersenyum-senyum seorang diri.
Ketika sampai di kamar, aku mulai mengerti lebih jelas: kebahagiaan tersedia saat ini, di sini. Bila kumati esok, aku akan merasa yakin bahwa aku akan kembali dalam pelukan-Nya. Aku akan mengatakan pada-Nya, ”Aku telah berusaha. Aku, yang bodoh ini, telah hidup tak sia-sia. Kautahu, Tuhan, apa yang kukerjakan dengan hidupku.” Kuayunkan penaku, kutulis sebuah puisi untuk mengenang masa ini:
Ketika aku ada di kamar ini, aku merasa berada jauh dari kota ini
Namun, aku tak menjadi orang yang selalu tinggal di kamar
Daya juangku di kota ini telah kulalui dengan beragam debar dan getar
Mungkin, kebahagiaan bagiku sederhana saja: kembali pada sepi
Kurasa, Tuhan akan menyukai puisi ini.
== TAMAT ==
© Sidik Nugroho, 2006