|
Hari-hari meluruh seperti salju.
Telah kuduga, usai kubaca
catatan di almanak tua kemarin pagi,
Adinda bakal mohon pamit di musim yang buruk ini.
Ketika sajak-sajak mengkristal, dan kisah
Bharatayuda yang seru tinggal beku.
Seperti salju.
Hari-hari terkelupas dari kalender.
Membayang
derak jarum jam yang sebentar lagi menjelma
silhuet Durga. Di pinggir hutan melolong seratus serigala.
Cahaya bulan yang jatuh di kamar perlahan jadi temaram,
menyisakan ceceran mimpi yang lupa ditafsirkan.
Bau amis menebar memenuhi dinding ruang.
Salju.
Hari-hari kembali putih, bagai pakeliran
yang belum dimainkan.
Gaung suara genta di gereja, menelan kenangan
yang lepas dari agenda.
Peristiwa-peristiwa melintas cepat, luput dari dekap.
Selebihnya hanya salju.
Cakrawala kesuraman, horison kesenyapan.
Selebihnya tak ada upacara perpisahan,
kecuali sedikit doa kematian.
Berangkatlah, ke negeri serba kelam katamu,
meski wajahmu retak memendam
kenestapaan.
Ini kafan, serta segulung asap kemenyan.
Bawalah, sebagai cinderamata, juga bukti telah turun
hujan salju di sini.
Berangkatlah segera, bersama hari-hari salju,
bersama getar sihir, bersama taburan bunga pandan.
Namun kuminta Adinda mengingat,
sepotong sajak Chairil
tentang hidup yang sarat kesia-siaan
[1993]
|