- Situs Web Pribadi Sigit Djatmiko -

Depan

Daftar Artikel

Maaf, Anda tersesat ke halaman rahasia! J

 

 

Hari-hari meluruh seperti salju.

Telah kuduga, usai kubaca

catatan di almanak tua kemarin pagi,

Adinda bakal mohon pamit di musim yang buruk ini.

Ketika sajak-sajak mengkristal, dan kisah

Bharatayuda yang seru tinggal beku.

Seperti salju.

 

Hari-hari terkelupas dari kalender.

Membayang derak jarum jam yang sebentar lagi menjelma

silhuet Durga. Di pinggir hutan melolong seratus serigala.

Cahaya bulan yang jatuh di kamar perlahan jadi temaram,

menyisakan ceceran mimpi yang lupa ditafsirkan.

Bau amis menebar memenuhi dinding ruang.

 

Salju.

Hari-hari kembali putih, bagai pakeliran

yang belum dimainkan.

Gaung suara genta di gereja, menelan kenangan

yang lepas dari agenda.

Peristiwa-peristiwa melintas cepat, luput dari dekap.

Selebihnya hanya salju.

Cakrawala kesuraman, horison kesenyapan.

Selebihnya tak ada upacara perpisahan,

kecuali sedikit doa kematian.

 

Berangkatlah, ke negeri serba kelam katamu,

meski wajahmu retak memendam kenestapaan.

Ini kafan, serta segulung asap kemenyan.

Bawalah, sebagai cinderamata, juga bukti telah turun

hujan salju di sini.

 

Berangkatlah segera, bersama hari-hari salju,

bersama getar sihir, bersama taburan bunga pandan.

Namun kuminta Adinda mengingat,

sepotong sajak Chairil

tentang hidup yang sarat kesia-siaan 

 

[1993]