Sejak
pertengahan tahun 1960-an, teori arsitektur telah benar-benar menjadi
interdisipliner; bergantung pada jajaran luas paradigma kritis.
Proyek
perbaikan moderenisme ini, disajikan sebagai Pembuatan Teori baru untuk
Arsitektur, dijalankan dari sudut pandang paradigma politik, etika, ilmu bahasa, estetika, dan fenomonologi. Jenis Teori Teori dapat digolongkan dalam
beberapa sikap menurut subyeknya: yakni preskriptif, proskriptif, afirmatif, atau kritis.
Teori preskriptif menawarkan
penyelesaian baru atau dihidupkan lagi untuk masalah khusus; berfungsi untuk
menentukan norma baru untuk praktek. Jadi ini menaikkan standart atau bahkan metode disain. Dapat menjadi kritis (cenderung radikal) atau afirmatif dari status
quo (konservatif).
teori proskritif, yang menawarkan keadaan standar apa yang dihindarkan
dalam desain. Arsitektur yang baik atau urbanisme dalam hal
proskriptif didefinisikan dengan tiadanya sifat negative.
Teori kritis menilai dunia yang dibangun dan
hubungannya terhadap masyarakat yang dilayaninya. Teori ini sering memiliki orientasi politik atau etika yang dinyatakan untuk mendorong perubahan.
Teori kritis secara ideologi dapat didasarkan pada paradigma Marxisme atau feminisme, bersifat
spekulatif, mengandung pertanyaan, dan kadang-kadang utopia/ idaman.
Jika teori
harus membawa kepada hasil yang dapat diperkirakan, maka satu-satunya teori yang dapat diterima adalah
preskriptif dan proskriptif. Kedua aspek dalil ini ditantang
oleh para pembuat teori postmodern seperti Alberto Perez-Gomez: Kepercayaan
(modern) bahwa teori telah disahkan dlam hal dapatnya dipakai ¡V telah
memerlukan pengurangan teori yang benar terhadap status ilmu terapan- ¡§teori¡¨
ini terlupa dari dongeng dan pengetahuan yang bebas dan secara eksklusive mengenai
dominasi efisien dunia materi. Teori juga mengalamatkan
hubungan antara arsitektur dan alam, saat dikembangkan melalui konstruksi
tempat. Paradigma filosofi dan ilmiah sebagian besar telah membentuk pandangan
arsitek
lembaga lembaga
yang menyebarkan teori dan tulisan post modern antara lain IAUS dan AA
mereka
menyebarkan Publikasi melalui majalah ,jurnal akademi,polemik
Selama 1985-1995 terbit Skala
majalah arsitektur
Salah satu publikasi oleh Philip
Johnson menerbitkan kutipan dari signifikasi complexity and contradiction karya
venturi untuk postmodernisme yang
intinya kita seharusnya lebih berhubungan dengan
Publikasi
juga dijalankan melalui Pameran-Pameran.
Pameran mempengaruhi penyebaran teori arsitektur Postmodern.
Pameran
yang ketiga di MOMA merupakan arsitektur dekonstruktif pada 1988. Beberapa
arsitek menolak label dekonstruktif.dekonstruktifisme memberikan label khusus
untuk memamerkan karya provokatif. Dekonstruktifisme merefleksikan 2 sumber
yang mempengaruhi tip2 karya postmodern yang ditampilkan: dekonstruksi
filosofis Derrida dan kontruktivisme Rusia. Dari kelompok yang dipamerkan
Eisenamannn dan Tscumi yang paling dekat dengan posisi dekonstruksionis dengan
penekanan pada kritik dan mengupas batas kedisiplinan.Gehry dan Hool bertolak
belakang dengan historicsm postmodern,metafisika dan hal konkrit
Dengan
meningkatnya publikasi teori arsitek, dan eksibisi postmodernisme terdapat
tambahan yang ditandai dengan adanya paradigma teorikal atau framework
ideologikal, yang strukturnya masih menjadi perdebatan. Dilihat dari sisi lain, paradigma utama yaitu teori bentuk arsitek
yang merupakan sebuah fenomena, kecantikan, teori bahasa tubuh (semiotics,
structuralism, poststructuralism, dan deconstruction), Marxism, dan feminism.
Phenomenology
adalah kebenaran teori arsitektur pada metode filosofi. Dimana ancaman filosofikal ini didasarkan pada kebiasaan postmodern
melalui tempat, pandangan, dan pembuatan yang terkadang terlihat berlebihan dan
tidak dapat dipertanyakan. Pada teori terbaru
ditunjukkan spekulasi dari filosofi, dengan membuat masalah pada interaksi
tubuh dengan lingkungannya.
Pada tahun
1950, dimana Martin Heidgger dan Gaston Bachelard menerjemahkan sebuah
pekerjaan terdapat kemungkinan, pemikiran fenomenologikal arsitektur mulai
tidak menempatkan formalitas dan bergantung pada pekerjaan tanah untuk kecantikan
mendadak. Fenomenologi mengkritik logika dari
ilmuwan, melalui pemikiran (optimisme mengenai keuntungan dari adanya metode
ilmuwan yang dapat dikaitkan dengan kemanusiaan) positif telah dielevasikan dan
tidak diberi nilai, tampil seperti postmodernist yang berpikir ulang menjadi
modernity dengan hanya sedikit keinginan yang antusias.
Tulisan Heidgger didasarkan dengan
motivasi kekhawatiran mengenai ketidakmampuan orang modern untuk merefleksikan
hidup sebagai manusia, ia mendebat, refleksi semacam
itu mengartikan kondisi seorang manusia. Salah satu fenomenologikal yang sangat
berpengaruh pada arsitektur adalah Building Dwelling Thinking,dimana Heidgger
menuliskan hubungan antara bangunan, tempat tinggal, manusia, konstruksi, dan
penghematan. Dengan menyelidiki etimologi pada kata bauen
(bangunan) Heidgger menemukan kembali konotasi kuno dan arti luas yang
menyampaikan kesejahteraan potensial. Tempat tinggal
didefinisikan sebagai ‘tempat untuk bermalam’. Sedangkan
benda merupakan elemen yang mengumpulkan ‘empat fungsi’ dari bumi, udara,
makhluk hidup, dan dewa. Melalui essay-nya, Heidgger
menyimpulkan bahwa bahasa membentuk suatu pemikiran, sedangkan pemikiran dan
puisi diperlukan untuk sebuah tempat tinggal.
Christian
Norberg-Schulz mengartikan konsep tempat tinggal Heidgger sebagai berada di
tempat yang damai pada tempat yang telah dilindungi. Ia mendebat, potensi arsitektur untuk mendukung tempat
tinggal: “Tujuan utama dari arsitektur adalah untuk membuat dunia terlihat. Dapat diumpamakan sebuah benda, dan dunia yang dibawa ke permukaan
terdiri dari apa yang didapatkan.” Kritik norwegia
muncul dengan adanya koneksi antara arsitektur dan tempat tinggal. Norberg-Sshulz secara luas diteliti, dan dipertimbangkan sebagai
arsitektur yang fenomenologi, yaitu, memberi perhatian terhadap ‘ruang yang
konkrit’ melalui seluruh tempat. Aspek teknoik dari
arsitektur memainkan sebuah peran, terutama detail yang konkrit, dimana
norberg-Schulz berkata “jelaskan lingkungan dan buatlah karakter tersebut
memanifestasi.”
Fenomenologi
pada arsitektur membutuhkan perhatian dalam pembebasan mengenai bagaimana benda
dibuat. Seperti yang dikatakan Mies “Tuhan adalah
detail.” Pengaruh pemikiran ini dikenali sebagai elemen dasar dari
arsitektur (dinding, lantai, tembok,dll, sebagai pembatas atau beban) tetapi
juga menunjuk kearah ketertarikan yang dibentuk ulang dalam kualitas yang
sensual alam material, cahaya, warna dan simbol, merupakan hal yang signifikan
untuk digabungkan.
Perez-Gomez mengatakan, dengan
mengembangkan konsep Heidgger mengenai tempat tinggal untuk memungkinkan
‘orientasi keberadaan’, pengenalan budaya, dan hubungan dengan sejarah.
Fenomenologi Finnish, Juhani
Pallasmoa, mengartikan arsitektur dari fisik. “Pembukaan
pandangan ke realita kedua mengenai persepsi, mimpi, memori yang terlupakan dan
imaginasi.” Hal ini merupakan pemikiran yang sempurna
mengenai ‘arsitektur diam’ yang abstrak. Sementara
Pallasmoa menginvestigasi ketidaksadaran paralel dalam Freudian, arsitekturnya
membentuk sebuah sublime sementara.
Seperti
fenomenologi, estetik sebagai paradigma filosofi berhadapan dengan produksi dan
penerimaan seni pekerjaan. Karena fungsinya sebagai ekspresi
karakter modern, konstitusi sublime bergabung dengan dasar kategori estetik pada
periode postmodern. Kelahiran kembali ketertarikan pada sublime merupakan masa
yang dapat diterapkan pada emphasis sekarang, pada pengetahuan arsitektur
melalui fenomenologi. Paradigma fenomenologi sebagai persoalan fundamental pada
estetik: efek pekerjaan arsitektur mempunyai sudut pandang. Sebagai
contah pada sublime, pengalaman merupakan sebuiah hal yang penting.
Definisi penggabungan dari sublime
memberikan bentuk pada model estetik modern dan pemikiran postmodern. Pemikiran
kembali mengenai sublime dapat dipergunakan untuk membangun kembali arsitektur
yang salah dan pindah ke formalisme sekarang.
Pada
arsitektur abad ke-20. pemikiran mengenai sublime
atau kecantikan terlihat begitu bebas. Untuk mencapai ‘titik
radikal’ pada sejarah dari masa moder, teori estetik harus berubah. Polemik modernistadalah untuk estetik tabula rasa (abstraksi) dan
untuk aplikasi ilmu dalam desain, menanamkan teori yang berlangsung.
Perhatian secara positif diberikan kepada rasional, fungsi kecantikan dan
sublime sebagai masalah arsitektural. Postmodern sendiri, pada sublime adalah
sebagai batas ijin perkembangan teori yang penting.
Deskripsi
uncanny menurut Sigmund Froud, merupakan sebuah penemuan mengenai sesuatu yang
tidak asing lagi untuk ditampilkan; perasaan yang tidak mudah mengenai
ketidakberadaan. Campuran dari yang diketahui dan
tidak asing oleh orang asing, asla dari kata uncanny, unheimliche, yang
diartikan tidak mempunyai rumah. Penbelajaran terbaru Vidler pada The architectural uncanny ditulis, tema umum dari ide adalah
mengenai tubuh manusia.
Vidler mengenali kegunaan dari
defamiliarizing, ‘pembalikan dari norma kecantikan dan
penggantian sublime’ sebagai sebuah strategi pengamatan formal. Penjelasan dari
eksplorasi Eisenman adalah sebagai ‘manifestasi ketidakpastian fisikal’, ia meng-klaim penawaran grolesque sebagai tantangan untuk
terus mendominasi kecantikan, sejak jaman Renaissance. Eisenman
berpikir bahwa gerakan modern merupakan sesuatu yang tidak terganggu selama 500
tahun, yang dikatakan sebagai ‘masa klasikal’.
Sublime yang sangat penting dikenal
dengan tulisan kritis, yang mempunyai seni dan literature utama. Ditampilkan sebagai sebuah fenomenon modern sebagai sebuah kritik
sosial, atau sebuah aspek psikologi yang ditemui, profil dari sublime bergabung.
Yang kemudian Jean Franquois Lyolara dan Eisenman
mengkonstruksi ulang dan menentukan keabstrakan tersebut. Posisi teori
ini telah berpindah dan mempunyai batasan dari kemampuan untuk melihat
arsitektur pada masa dialog yang terus-menerus antara sublime dan ‘yang
cantik’. Perhatian Vidler dan penempatan Eisenman merupakan
pengalaman spasial mengenai tantangan tujuan manusia sebagai seorang formalis
dan penerimaan arsitektur non-percobaan.
Perputaran
perhatian pada budaya kritis postmodern juga mempengaruhi restrukturisasi
pemikiran dari paradigma bahasa. Semiotik,
strukturalisme, dan post-strukturalisme membentuk ulang literatur, filosofi,
antropologi, sosiologi, dan aktivitas kritikal yang besar.
SEMIOTICS
Paradigma
ini diparalelkan sebagai sebuah kebangkitan arti dan simbol pada dunia
arsitektur. Arsitektur mempelajari bagaimana arti
dibawa dalam bahasa dan diaplikasikan terhadap ilmu melalui ‘linguistic
analogy’ menjadi sebuah arsitektur. Timbul pertanyaan, apakah dalam hal
umum seperti bahasa, dapat dimengerti oleh orang awam diluar dunia arsitektur
dalam proses pembuatannya. Diana Agrest dan Mario Gandelsonas
pada “Semiotics and Architecture” serta Geoffrey Broodbent pada “A Plain Man’s
Guide to the Theory of Signs in Architecture”, menanyakan mengenai ‘kontak
sosial’ yang terdapat pada setiap arsitektur. Sebagai
perwujudan fungsi modern dimana bentuk yang menentukan, hal ini didebat dari
poin bahasa, dimana obyek arsitektur tersebut tidak mempunyai maksud lain,
namun mampu membentuk suatu budaya. Ahli bahasa Swiss,
De Saussure memberi kontribusi utama, yaitu pembelajaran bahasa secara sinkron,
dan pemeriksaan bagian bahasa dan hubungannya antar setiap bagian. De
Saussure merupakan penemu note signifier, yang relasi strukturalnya ditandai
dengan bahasa. Sebagai dua komponen penting pada tanda, timbul ide: “bahasa
merupakan sebuah sistem yang mempunyai masa bebas dimana setiap masa
menghasilkan kesulitan dari kehadiran secara simultan terhadap yang lainnya.”
Mario
Gondelsonas membandingkan sintatis yang diambil pada pekerjaan Eisenman dengan
semantik yang digunakan oleh
STRUCTURALISM
Strukturalisme merupakan metode
pembelajaran yang secara umum menuntut: “bentuk alami benda dapat dikatakan
tidak terdapat pada benda itu sendiri, tetapi pada hubungan yang telah kita
bangun dan buat diantara benda tersebut.” Dunia dibentuk oleh
bahasa, dimana struktur mempunyai hubungan yang berarti antara tanda, namun ada
juga perbedaan antara struktur dan sistem bahasa pada saat tidak adanya masa
yang positif.
Struktural focus pada kode,
konvensi, dan proses pertanggungjawaban pada pekerjaan, dimana mampu
menciptakan arti sosial yang tersedia. Sementara struktur
yang telah menjadi dasar pada linguistic dan antropologi, merupakan sebuah
persilangan disiplin.
Penampilan dari strukturalisme
untuk arsitektur rasional sangat jelas melalui penjelasan metode berikut ini,
yaitu bila salah satu pengganti arsitektur bekerja untuk pekerjaan literatur:
‘Strukturalis mengambil bahasa sebagai sebuah model dan mencoba untuk membangun
sebuah grammar – peralatan sistematik dari elemen dan kemungkinannya untuk
kombinasi – yang akan dihitung untuk bentuk dan arti dari pekerjaan literatur.’
POST-STRUCTURALISM
Kritik budaya Hal Foster menandai
perubahan dari modern menjadi postmodern melalui dua ide yang dipinjam secara
langsung dari literatur dan kritik budaya Roland Barther. Perubahan focus pada
artistic atau produksi literatur dari kreasi modern terhadap seluruh atau
kesatuan, menjadi kreasi postmodern terhadap ‘ruang multidimensi’ atau
‘methodological field’. Sangat sulit untuk memisahkan
strukturalisme dan post-strukturalisme.
Cara lain
untuk menandai perubahan strukturalisme menjadi post-strukturalisme, yaitu
pergerakan dari memandang bahasa secara obyektif, memandangnya sebagai obyek
yang tidak salah. Dimana Eagleton menjelaskan ‘discourse’
berarti bahasa diambil sebagai sebuah dasar atau pelatihan.
Sebelum
strukturalisme, tindakan interpretasi dilakukan untuk menemukan arti yang
melibatkan tujuan dari pengarang atau pembaca; hal ini berarti dipertimbangkan
secara jelas. Strukturalisme tidak mencoba
menegaskan arti yang benar mengenai pekerjaan, atau untuk mengevaluasi
pekerjaan dalam relasinya dengan peraturan-peraturan. Pada
post-strukturalisme, hal tersebut menjadi tidak berarti, dan berada di bagian
paling dasar.
Menurut Foster pada ‘[Post]modern
Polemics’, paradigma poststrukturisasi mengajukan dua pertanyaan utama bagi
arsitektur postmodern, status dari subyek dan bahasanya, dan status sejarah dan
perwakilannya; dimana keduanya dibentuk dengan perwakilan sosial. Obyek dari post-strukturalis adalah untuk menampilkan segala
sesuatu dalam kenyataan sebagai yang diberi kuasa oleh penulisnya, untuk
merefleksikan mereka. Sebagai contoh, sejarah,
merupakan implikasi yang subyektif.
Barthe dan
Michel Foucault menyarankan keunikan dan kekreativitasan dari pengarang untuk
kenyamanan, dibandingkan dengan pemilihan, pengurangan peran pengarang yang
memainkan dibatasi oleh sejumlah masalah.
Teori
postmodern diambil untuk diteliti ulang oleh arsitektur modern, juga relasi
terhadap sejarah, perhatian pada inovasi modernisme, serta tanda pada
individual, arsitek ‘pahlawan’. Banyak pencoba
berpengaruh dan pelatih arsitektur beranggapan bahwa post-strukturalis benar.
DECONSTRUCTION
Salah satu
post-strukturalis yang sangat penting adalah dekonstruksi.
Dekonstruksi terlihat sebagai sebuah dasar pada pemikiran dari ‘logocentrisme’
dan pondasi dari bentuk lain seperti arsitektur.
Jacques Derrida, seorang filsuf Perancis yang hampir selalu bekerja dengan yang
berkaitan dengan dekonstruksi, menjelajahi kegunaan dari operasi teori untuk
memproduksi dasar tanah atau pondasi perdebatan, dan mengambil catatan untuk
setiap catatan yang telah diberikan konsep.
Tujuan dari
dekonstruksi adalah untuk menempatkan kategori filosofi dan menjadi seorang
ahli, seperti membuat suatu bentuk menjadi bentuk lainnya yang bertentangan,
seperti hadir atau tidak hadir. Derrida melihat arsitektur sebagai
sebuah pengendalian yang mengarah ke komunikasi dan transportasi pada bidang
sosial, sama halnya dengan bidang ekonomi. Dekonstruksi merupakan bagian dari kritik postmodern, yang
tujuannya untuk mengakhiri dominasi arsitektur modern.
Pernyataan Tschumi mengenai
arsitektur sangat dekat dengan Derrida: untuk mendapatkan konstruksi kondisi
dimana ditempatkan yang paling tradisional dan aspek dari sosial kita dan
mengatur ulang secara simultan elemen ini dengan cara
yang paling bebas. Untuk mencoba batasan tersebut, ditemukan
batasan yang bertentangan dengan disiplin dan subyek, yaitu kritis radikal.
Tschumi merupakan bagian arsitektural dari Barthes dan
Derrida. Ia tertarik dengan teks arsitektur,
sebagaimana suatu potensial yang terbatas, tapi melanggar batasan disiplin
tersebut. Jika tanda tidak dapat diartikan, maka kemudian diartikan dengan
beberapa cara simultan. Yang menjadi
pertanyaan adalah bagaimana arsitektur mendapat arti tersebut, apakah dapat
terjadi persetujuan ‘bahasa’ dalam arsitektur.
Contoh bangunan :
HOUSE X – Peter Eisenman [deconstruction]
House X
milik Peter Eisenman ini memasukkan kategori filosofi di dalamnya, dimana
bangunan ini dibuat dengan konsep yang jelas terhadap urban. Terdapatnya aksis urban yang juga dijadikan aksis dalam bangunan
tersebut, menjadikan House X sebagai bentukan yang saling bertentangan,
terlihat jelas bentukan-bentukan seperti hadir – tidak hadir.
Arsitektur
sebagai pengendalian yang mengarah ke komunikasi dan transportasi di bidang
sosial, hal diwujudkan House X dalam perannya yang mampu mengkomunikasikan
urban dengan baik secara sosial. Dari aspek sosial tersebut,
terlihat adanya elemen-elemen yang diatur ulang secara simultan dengan cara yang bebas, yaitu bentukan-bentukan kotaknya.
PARADIGMA 4: MARXISTME
Arsitektur post modern tak dapat lepas dari paradigma marxistme. Paradigma ini merupakan suatu kritik terhadap arsitektur postmo.Pendekatan marxist berkaitan dengan masalah politik,ideologi dan hubungan antar kelas arsitektur dan urbanisme.Paradigma marxist menyoroti krisis arsitektur modern yang gagal karena hanya bergantung dan mengikuti revolusi umum dan mengandalkan kritik dari kelas arsitektur saja, tanpa mampu menyebabkan revolusi itu sendiri.Teori yang kritis baru datang dari institut penelitian sosial frankurt yang melakukan pendekatan tidak hanya terhadap arsitektur tetapi juga melalui filosofi, sejarah dan psikologi untuk mendeskripsikan fenomena budaya pada konteks sosial.
PARADIGMA 5: FEMINISME
Diawali pada tahun 1960an yang menaruh perhatian pada masalah sosial terutama masalah perbedaan seksual. Pendekatan kritis yang bermunculan membawa jenis kelamin sebagai pengontrol sosial. Sebagai pengontrol sosial feminisme menggunakan paradigma kritis termasuk poststrukturalisme, marxisme dan psikoanalisis.Jadi, jenis kelamin dipergunakan dalam sejarah untuk membatasi atau memberi tanda terhadap yang lainnya.Dalam karyaarsitektur Sedangkan Psikoanalisis menawarkan teori universal mengenai pembangunan fisik jenis kelamin pada dasar perwakilan, hal tersebut menawarkan sebuah kerangka kerja dimana feminin dan maskulin dapat dimengerti.
Kritik
feminisme mengenai arsitektur bertujuan untuk mengejar teori berkaitan dengan
kenyataan sosialnya.Kritik ini bersifat kritis, sehingga bangunan yang dimaksud
bisa saja sangat radikal, dimana tolak ukurnya sendiri adalah keadaan
sosialnya. Di sini Merupakan tempat dimana seseorang
dapat dekat dengan arsitektur dan bahkan berada di dalamnya, dapat meneliti
mekanisme ideologi dan mengaburkan batas yang memisahkan arsitektur dengan yang
lainnya.
Tema umum yang beredar merupakan
pokok-pokok permasalahan yang disoroti oleh teori postmodern. Tema merupakan tanggung jawab
sosial dan tubuh dari budaya postmodern.Adapun dalam dunia arsitektur post
modern dikenal 6 macam tema yang menjadi isu penting dalam teori postmodern
yakni: Histori dan historikisme, meaning(arti),tempat(place),poloitik
dan etika,teori urban dan tubuh(body)
Terjadinya krisis pada arsitektur
modern meningkatkan kesadaran diri, analitis, image baru ,
dan orientasi pada alam dari periode
postmodern.
Cara yang ditempuh dapat melalui:
Apropriasi dan kesadaran diri mengenai saat ini sebagai moment sejarah.
Pendekatan yang dilakukan
postmodern adalah suatu pendekatan progresif dengan adanya suatu keinginan
untuk meluas dan melengkapi apa yang kurang dari
tradisi budaya modern. Foster menyetujui pendapat dari Clement Greenberg bahwa
modern adalah suatu program kritik diri dengan menjanjikan suatu kualitas
tinggi dari suatu budaya yang diterapkan pada produksi masa kini dengan adanya
kelanjutan estetik dari nilai tertentu.
Habermas seorang aliran dari
postmodernisme menyatakan perbedaan antara efek modernisasi dan post modern
adalah kurangnya keefektifan pada arsitektur modern dalam memecahkan masalah
sosial.
Lyotard
mengatakan bahwa dalam modernisme teknologi telah mengambil alih semua posisi
kekuatan.
Salah satu teori historikisme yang
dipakai dalam postmodern adalah Teori sejarah abad 19 yang mementingkan relatifisme modernitas budaya
khususnya ide affan garde, maksudnya kreasi bentuk baru berkelanjutan di bawah
gerak sosial dan teknologi dan representasi simbol tsb dari masyrakat melalui
bentuk-bentuk ini.Jadi bentukan baru yang
tercipta mampu merepresentasikan keadaan sosial masyarakat namun tidak
meninggalkan teknologi dan kekreatifan desain.
Colqiuhoun
menemukan 2 aspek paradok historikisme.
1.
pencarian ekspresi kesalahan penjelasan spirit
seseorang ke pola perubahan yang kontinu
2.
modernisme mengganti
sarana ke masa depan karena ide yang statis dan peraturan klasiknya.
Paradoks
tersebut tidak dapat dihindari
Historikisme meliputi bagaimana seseorang dapat mengidentifikasikan penentuan spirit dari sejarah.
Dua definisi historikisme dalam
postmodern:
1.
sikap yang perhatian pada tradisi masa lalu
2.
praktek artistik dari penggunaan bentuk sejarah
Kejadian
penting dalam sejarah arsitek saat ini adalah penilaian kembali dari hasil
karya bukan untuk mencocokkan diri.Jadi
sebenarnya karya yang baru tidak menyamakan diri dengan sejarah, tetapi tetap
memperhatikan sejarah dan alam dan sosial budaya.
para historian
arsitektur Marxist memilih suatu pendekatan dialetik yang menekankan ke alam
yang lain dari aliran modern.
Revisi
postmodern dengan tema historikisme bertujuan mencari kesinambungan dengan
hasil karya yang lebih awal, dan mempertanyakan apakah suatu perubahan yang
radikal itu layak?
dari
Contoh bangunan yang mengambil tema
histori dan historikisme ini adalah bangunan karya ROBERT VENTURI yakni bangunan
Sainsbury Wing, (1986) di London England.Gaya
bangunan ini didesain utuk menanggapi bangunan lama yang ada di sebelahnya
yakni bangunan national gallery yang dibangun pada 1983. Sainsbury wing menampilkan
replikasi ornamen lama
.
Menurut Robert Venturi arsitektur
tidak muncul begitu saja , namun berasal dari suatu sejarah, yang memiliki
identitas dan unsur historis.Hal ini
sesuai dengan karyanya yang benyak menampilkan kekompleksan desain karena
Venturi tidak menyukai elemen yang murni,bersih dan terus terang.Namun elemen
kompleksitu didapatkan dari kultur yang sudah ada, yakni unsur historikisme
yang dimaksud di atas, yakni sikap memperhatikan tradisi masa lalu.Venturi
juga menggunakan elemen klasik pada sainsbury wing dengan cara ‘ menempel’
maupun rekonstruksi ulang dari bangunan national galeri.
Jadi, venturi menganggap perlunya
kesinambungan antara bangunan lama yang sudah ada sebelumnya dengan bangunan
baru.Tidak perlu perubahan radikal
Arsitektur memiliki nilai yang
mengandung arti 2 macam:
1. Estetika yang berasal dari
lingkungan sekitar. ….
2. fungsi
Bentuk atau isi: tipe, fungsi,
tektonis
Banyak orang menemukan bahwa ada
hal-hal yang penting yang tidak dapat dipisahkan dari arsitektur yaitu:tipe, fungsi,dan tektonis. Fungsi berbicara tentang
kegunaan, dan tektonis mengenai system structural..
Dalam arsitektur sangat penting
untuk memperhatikan kaitan antara: tipe fungsi tektonis dengan estetika
kegunaan dan ketahanan.
Dalam
arsitektur modern banyak ditemukan tipe-tipe bangunan yang menawarkan suatu
yang rasional, suatu awal yang baik dari arsitektur suatu metode desain
ransformasi, tetapi perlu diperhatikan bahwa suatu penemuan bentuk desain baru
memainkan suatu peranan yang sangat penting dalam dunia desain.
Funsi dalam
arsitektur modern dilihat sebagai suatu yang rasional dan ilmiah merupakan
intisari dari arsitektur modern.Einsenmann menentang fungsi yang menjadi suatu
aspek yang berkelanjutan dari teori arsitektur yang terus-menerus digunakan
sejak jaman renaissance dan hubungan yang mendasar dengan humanism sehingga
arsitektur terus-menerus dalam kungkungan modernsm. Einsemann menjelasakn lebih lanjut bahwa
yang seharusnya terjadi ialah dengan teori yang ada kita justru dapat berkarya
lebih jauh ,menyempurnakan apa yang telah ada, dengan demikian arsitektur terus
bertumbuh sejalan dengan perbedaan modernism dan humanism yang rumit,tidak
sesimple yang dijelaskan pada teori modernism.
Sehingga dapat mengubah cara pandang yang selama ini menjadi pola piker arsitektur
modern: bentuk mengikuti fungsi. Dalam arsitektur modern terjadi suatu
pemikiran yang memandang fungsi sebagai suatu yang external,apa
yang ada di dalam (jiwa) memancar keluar,ditentukan oleh fungsi. Jada dalam arsitektur modern fungsi itu sendiri merupakan jiwa dari
arsitektur.
Debat serupa terjadi pada sentralis
tektonik arsitektur, yang menyatakan bahwa suatu desain bangunan baru dapat
dikatakan memiliki nilai arsitektur bila orang lain memeliharanya. Bentukan/form yang terjadi tidaklah menjadi pegangan bahwa karya
itu dikatakan memiliki nilai arsitektur. Sehingga kembali muncul pertanyaan :bila suatu proyek dibangun, bilamana
bangunan/desain tersebut dikatakan memiliki nilai arsitektur? Sejauh mana perbedaan yang terdapat antara bangunan dan arsitektur?
Arsitek demetri Porphyrios menyatakan pentingnya kehadiran bahan-bahan mentah, yang bukan hasil dari produksi massal, seperti yang terjadi pada arsitektur modern, sehingga hal ini menjelaskan mengapa modernism hanya memproduksi bangunan saja.
Posisi
formalis menyatakan bahwa bentuk itu sendiri merupakan isi/inti dari
arsitektur. Arsitektur modern berhenti menghadirkan
image yang dapat dikenali dalam kehidupan.
Inti dari
perdebatan dia atas adalah maksud dari postmodern representasi dan figurasi
merupakan pusat tema ini.
Dalam Arsitektur post modern
abstraksi mulai berkembang dibangun dan diperluas dengan adanya suatu tujuan
yaitu menciptakan suatu bentuk gabungan untuk memperluas pola/bentuk desain
yang terbatas dari arsitektur modern, juga melebarkan pembangunan yang sempit
pada arsitektur modern.
Grave yang bekerja sejak tahun
1976-1977 menggambarkan suatu hubungan antara arsitektur dengan alam dan
budaya. Sehingga pada tahun 1980 yang merupakan masa kejayaan untuk arsitek
diusahakan suatu bangunan signature yang diusahakan dapat mempengaruhi
masyarakat.Tapi apa yang benar-benar menjadi pasar massa pada saat itu ialah :
bahwa adanya suatu bentukan “imitasi” yang justru menjadi suatu fenomena
komersiil, dan hal ini benar-benar menjadi suatu “pukulan” bagi dunia
arsitektur. Apabila suatu produk arsitektur mengalami peng”imitasi”an maka akan terjadi pengurangan pada komponen aslinya.
Contoh bangunan yang mengambil tema
arti adalah
Frank. O.Gehry
Bagaimana
terjadinya suatu bentukan?
Bangunan ini seperti bangunan yang
tak bermakna sama sekali,asal comot bentukan, lengkung
Menciptakan suatu yang baru ,yang
memiliki arti di balik yang ada , yang membuat orang bertanya-tanya apa arti di
balik semua gaya”pemberontakan” ini,dengan gaya lengkung yang berani, tegas,
penuh tantangan , brutal, memberontak, menembus tembok budaya yang ada, penuh
kekuatan, dan sensasi,mendobrak arsitektur kuno yang terbentuk sebelumnya.
“bentuk mengikuti fungsi” menjadi
paradigma yang kuno,tak berpengaruh, tidak berarti
lagi , didesak keluar dari kemapanannya diganti”fungsi mengikuti bentuk”.
Apa yang dulu
tidak mungkin menjadi mungkin.Apa itu fungsi mengikuti bentuk?
Beranjak dari dalam, dari mana
muncul suatu bentukan, bagaimana proses terjadinya suatu bentukan? Mengapa suatu bentukan penting?
Apa beda antara bentukan yang satu
dengan yang lain kalau ternyata fungsinya sama saja, lalu apa keistimewaan dari
bentukan/form,kalau yang dipentingkan fungsinya?
Dari sini kita beralih pada cara pandang manusia, apa yang dilihat manusia?
Ketertarikan secara fisik,atau langsung mengarah pada bagian dalam yang tidak dapat
dilihat? Bangunan secara fungsi boleh sama karena kebutuhan manusia itu-itu saja .
Kalau kita melihat fungsi saja yang
menjadi jiwa/penentu keberhasilan suatu bangunan, lalu di mana letak
keistimewaan bangunan tersebut?fungsi yang menjadi
jiwa, maka semua bangunan memiliki nilai yang sama. Apakah
itu berarti semua bangunan memiliki nilai arsitektur dilihat dari fungsi?
Karena manusia semua membangun dengan 1 tujuan, asal fungsi tercapai,bereslah!
Kalau hanya
itu, lalu peran arsitektur murni di mana?
Kalau Cuma melihat fungsi ,mau tidak mau saat ini banyak bangunan yang berubah
fungsi, rumah tinggal dibuat toko, gedung serbaguna jadi ruang rapat, stadion
jadi pusat kampanyemenarik
Secara otomatis dan secara instant,
begitu kebutuhan mendesak apa saja bisa digunakan asal
fungsi tercapai.
Kita
berbicara mengenai bentuk. Apa
bentuk bisa berubah semudah kita merubah fungsi?
Mau tak mau kita mengakui saat kita
tertarik pada bangunan ,yang kita lihat pertama kali
pasti bentuknya,tidak mungkin kita melihat fungsinya yang tidak kelihatan.
Bentuk sebagai sesuatu yang esensial, memiliki nilai arsitektur tersendiri , yang unik, yang tidak bisa dikopi, memiliki cita rasa tersendiri.
Bentuk
sebagai jiwa dalam arsitektur. Kalau demikian bagaimanabisa
terjadi suatu bentukan yang unik ,yang tidak hanya
“wah” tetapi memiliki makna?
Bertolak dari cara
pandang dan latar belakang yang dimiliki masing-masing arsitek apa yang sudah
terbentuk di dalam memancar keluar menjadi karakter dari apa yang didesain.
Bangunan
museum ini memiliki form/bentuk yang brutal, menembus kemonotonan yang ada atau
justru dengan bentukan itu ingin menjadikan bangunan sekitar lebih hidup?
Bangunan
ini memiliki konsep seperti awan di langit ditengah perkotaan dengan
gedung-gedung yang tinggi. Dengan demikian sang arsitek
menciptakan suatu bangunan yang tetap tampil modern tanpa mengacaukan keadaan
sekitar. Bertolak dari konsep ini, sang arsitek membuat
bentukan yang unik dan memiliki karakter tersendiri tetapi tetap memiliki arti.
“Dengan
luas dijelaskan selama 10 dasa warsa yang lalu, bahwa pendekatan pragmatic
fungsionalisme ini yang mengantarkan ke lingkungan skema dan karakter dengan
kedudukan yang tidak layak bagi manusia. Dimana
yang datang awalnya adalah masalah pada maksud arsitektur.”
MANUSIA, ARSITEKTUR, DAN ALAM
Hubungan
antara manusia dengan alam adalah masalah filosofi yang panjang, yang dapat
dijelaskan dengan fenomena, seperti Norberg-Schulz. Negara Barat memikirkan alam sebagai ‘hal yang berbeda’ dalam
hubungannya dengan budaya yang mampu menstabilkan/memberi tema untuk suatu
negara.
Sejak
revolusi industri, kemajuan revolusi tersebut mengurangi hambatan-hambatan yang
selalu hadir. Hal ini ditunjukkan dengan
dekonstruksi, dimana oposisi budaya/alam tidak dilibatkan, adanya
ketidaksesuaian, dan sepanjang semua ini benar, apakah perbedaan struktur harus
dibatasi?
Beberapa
pendapat yang ada mengatakan, bahwa alam diutamakan, tantangan budaya sekarang
ini berasal dari perlawanan akhir pada spectrum, juga dari pengetahuan manusia
dan bentuk instrumentalnya yang dinamakan teknologi.
Dalam
perindustrian masa lalu, produksi dalam arsitektur dilakukan atas referensi
yang disusun untuk alam dan berhubungan dengan alam. Arsitektur modern memegang analogi mesin disamping analogi organik.
Walaupun mesin seringkali didesain berdasarkan sistem alam,
namun digunakan sebagai model formal dari arsitektur yang menimbulkan
pencegahan dari hubungan langsung dengan alam. Problem
tersebut karena adanya kemajuan teknologi, dimana simbol posisi manusia
bersama-sama dengan alam meninggalkan peraturan arsitektur.
TEMPAT DAN GENIUS LOCI
Albert Einstein mengatakan tempat
sebagai bagian kecil pada permukaan bumi yang diidentifikasi dengan nama, obyek material dan hal-hal yang lain. Sejarahwan
arsitektur, Peter Collins menerima definisi dari Albert Einstein tersebut dan
mengembangkan implikasinya :
“Saat ini ada berbagai macam
kecepatan yang dilibatkan dalam desain arsitektur, salah satu kemungkinan yang
dimuat bahwa ‘tempat’ (plaza, piazza) adalah kecepatan terbesar bahwa pada
arsitektur bisa disesuaikan dengan kinerja seni yang tidak menyatu.”
Teori
tempat timbul dari fenomena dan geografi fisik. Tempat
menawarkan cara untuk mempertahankan kerelatifan dalam
teori modern pada sejarah penggambaran tubuh dan versifikasinya pada kualitas
utama pada sisi.
Menurut Heidgger posisi yang berhubungan dengan alam
adalah usaha untuk memperkaya pengalaman manusia yang
ditampung oleh banyak arsitek kontemporer dan teoritis, seperti Gregotti,
Raimund Abraham, Tadao Ando, dan Norberg-Schulz. Klaim
pertanggungjawaban arsitek yang selanjutnya adalah untuk menyelidiki genius
loci dan desain dalam cara (pembuatan-tempat) yang
diperhitungkan untuk kehadirannya. Sebaliknya, Norberg-Schulz
menyebutkan intervensi manusia untuk intensitas atribut alam pada keadaan.
Elemen yang nyata pada arsitektur diperingatkan pada fenomena sebagai
‘kesesuaian pada perbedaan’ dan ‘batasan dan ambang pintu’ merupakan elemen
yang menunjang tempat.
Gregoti menetapkan pembuatan-tempat
untuk tindakan arsitektur prima, dimana keasliannya :
meletakkan batu pada tanah dan mulai ‘memodofikasi’ bahwa tempat ditentukan
kedalam arsitektur.
Tugas
arsitek adalah menghubungkan alam dengan keadaan dan penggunaan landscape. Keindahan yang berlangsung didalam penyusunan site mencerminkan
hasrat untuk membuat tempat, seperti yang dipromosikan oleh Norberg-Schulz dan
Gregotti.
KONFRONTASI DAN TEMPAT TINGGAL
Abraham
menguraikan sisi yang menjelaskan keagresifan sikap dalam landscape. Prosesnya
diuraikan dalam ‘negosiasi dan rekonsiliasi’, Abraham mengatakan
: “Ini adalah sisi kekuasaan, transformasi pada topografi alam,
memberitahukan akar ontology pada arsitektur. Proses desain
hanya merupakan aksi kedua dan penunjang, yang tujuannya adalah untuk
merekonsiliasi konsekuensi pada hubungan, koalisi, dan negosiasi.”
Desain
Abraham dan kerja teoritis menunjukkan komitmen untuk prinsip pengelolaan
antara arsitektur dan landscape.
TEMPAT DAN DAERAH
Didasarkan
pada fenomena, regionalisma Frampton melihat kemungkinan pada tempat tinggal
dalam arsitektur untuk dimaksudkan pada pengalaman yang lebih besar. Frampton mengamati daerah, bangunan, kepekaan cahaya, kepekaan
udara, dan kepekaan suhu.
Aspek regionalis dalam kritik umu
adalah sikap kontra terhadap pemakaian massa yang mampu
menghasilkan produk bangunan. Frampton menyebut puisi Samper
yang memahami perbedaan didalam rangka (ceriol) dan membawa kebaikan sistem
bangunan dinding (bumi’telluric’).
Arsitek Ezra Ehrenkrontz
memprediksi sosial dan ekonomi untuk Amerika berdasarkan pada dispersal
populasi sebagai penerima informasi yang canggih, pengamatannya dilengkapi
dengan tingkat teori urban yang timbul ketika arsitek postmodern menyelidiki
kembali sebagai landasan aktifitas arsitektural pada tingkat
: sosio ekonomi, politik, sejarah, formal, puisi dan artistic.
Bila
dikaitkan dengan tema “tempat”, maka dalam berarsitektur hendaknya disesuaikan
dengan keadaan geografis dan site sekitar. Arsitektur
dibangun tidak sekedar asal bangunan indah dan menbarik perhatian namun, disini
juga dituntut bangunan yang peduli pada lingkungan, pada tempat bangunan
tersebut berdiri. Contohnya pada bangunan Wisma Dharmala, pada fasadenya terdapat sunshading yang
miring-miring, sunshading tersebut tidak muncul begitu saja tanpa fungsi yang
jelas namun telah diperhitungkan sebelumnya oleh Paul Rudolf, dimana ia
membangun perkantoran di daerah tropis, yang membutuhkan banyak pembayangan
sehingga, energi listrik dalam bangunan dapat dihemat.
dapat
digolongkan sebagai bangunan yang sesuai dengan tema “tempat”.
Dengan memperhatikan keadaan
lingkungan sekitar banyak keuntungan yang didapat, contohnya: pada daerah yang
banyak terdapat kayu jati, kita dapat mempertimbangkan untuk menggunakan bahan
kayu tersebut daripada menggunakan bahan batu kali, karena banyak kerugiannya
mengingat kita harus mengeluarkan biaya ekstra untuk mengangkut batu-batu
tersebut ke lokasi proyek kita sementara disekitar lokasi proyek tersebut kayu
jati melimpah, disamping itu juga bangunan yang berdiri pada site tersebut
tidak selaras dengan lingkungan sekitarnya, dimana ditengah-tengah hutan kayu
berdiri suatu bangunan kokoh dengan material batu, dan memberi kesan seperti
“rusa ditengah kota”.
Contoh lainnya
pada Electa Book Shop for the Venice
Biennale karya James Stirling dan Michael Wilford.
Toko buku karya
Bagaimana
pun juga bangunan yang dibangun dengan mempertimbangkan tema “tempat” mempunyai
nilai tambah dari pada bangunan yang dibangun tanpa memperhatikan keadaan alam
sekitarnya.
Pada tahun
1960, urban terjadi kembali dan berhubungan drastis dengan modern yang
memperhatikan fabric urban. Arsitek berfokus pada penciptaan
kebebasan ‘obyek’ bangunan (misalnya Museum Guggensheim dan bangunan Seagram di
New York) untuk 40 tahun, mulai merealisasi bahwa ada perlawanan yang
diperuntukkan bagi obyek itu. Contohnya, fungsional
penempatan dibawah semangat postmodern untuk pendekatan negatifnya pada
perencanaan.
KONTEKSTUALISME
Artikel milik
Rowe dan Kottler ‘Kota Sekolah Tinggi’ menawarkan analisa pengaruh dan strategi
desain yang masih ditetapkan pada beberapa sekolah arsitektur saat ini.
Ada bukti
nyata Rome seperti yang dikatakan Rowe dan Kotler ‘mentalitas bricolage’, tidak
masuk akal, tidak terpikirkan secara sistematis bahwa pertahanan mampu
membahayakan keseluruhan hambatan dalam perancanaan urban. Mereka berusaha untuk menggunakan logika positif untuk sesuatu yang
tidak pasti, seperti arsitektur dan desain urban.
Teknik grafik pada bacaan
dikembangkan oleh Rowe dan sekolah Cornell yang menawarkan kamusdan syntax pada
validitas yang berkelanjutan untuk menguraikan dan memahami kota.
TEORI MEMBACA DAN MENGARTIKAN
Dalam periode postmodern, semiologi
juga mempunyai dampak pada persepsi kota, yang
menunjukkan proses membaca letak kota sebagai teks. Memakai model bahasa untuk
maksud yang diberikan dari hubungan antara obyek didalam kota.
Bahasa ditetapkan oleh arsitek
postmodern sebagai cara pengkodean maksud arsitektural
kedalam sistem.
Tschumi memilih penetapan aspek
yang berbeda dengan bahasan Barthes tentang kota yang
memperhatikan ‘dimensi erotis’ pada kota yang diidentifikasi sebagai pusat kota
yang memegang keluasan. Semiologi Barthes dan urbanisme serta
le plaisir du texle merupakan pengaruh jelas pada Tschumi, ‘keindahan pada
arsitektur.’
IMAGE KOTA
Kritik pada post kota
WWII, Lynch membutuhkan catatan visual yang memesan ungkapan manusia, kemampuan
ber-image atau kemampuan untuk dibaca menjadi atribut penting yang diperhatikan
oleh perancang urban dan arsitek sendiri yang berkenaan dengan isu komunikasi
pada makna.
Barthes menuntut Lynch agar dapat
menyelesaikan masalah semantik urban, tapi pada kenyataannya bahwa konsepsi
pada kota lebih gestaltik daripada struktural.
URBANISME EROPA :
NEORATIONALISME DAN TYPOLOGY
Rossi juga menuntut Lynch terhadap
pendapatnya bahwa orientasi didalam kota berasal dari
pengalaman, seperti monumental. Strukturalis berpendapat bahwa kota adalah menjelaskan keseluruhan repetisi pada komponen
elemental. Dimana Rossi menyelidiki fungsi bentuk di
kota-kota Eropa sebagai penyimpan memori kolektif.
Rossi juga mengingatkan simbol kota yang penting dalam memfokuskan kembali perhatian pada
pendapat pembuat arsitektur dalam konteks urban, “pertentangan diantara utama
dan umum, diantara individu dan kolektif, dicukupi dari kota dan dari
konstruksinya, juga arsitekturnya.”
Rossi memperkenalkan kembali
catatan tipologi sebagai alat analitik dan sebagai dasar rasional untuk proses
desain pada transformasi.
TEMA 5 : POLITIK DAN AGENDA ETIKA
Arsitektur ternyata juga dikaitkan dalam hal
politik & etika, sehingga para arsitek diharuskan untuk :
Keterkaitan
dengan masalah politik menimbulkan munculnya teori dari Adorno (1962) bahwa
politik yang bisa ditentang dalam seni mencapai otonominya.
Arsitektur
adalah seni atau jasa; hal ini menjadi masalah dalam arsitektur. Etik
adalah pengamatan masalah moral manusia dalam budayanya dan etik didalam arsitektur dipakai
untuk mengikat peraturan.
Ghirardo menyatakan keoptimisannya dalam arsitektur modern
yang mencakup segala bidang untuk perubahan sosial, tanpa memikirkan ideology
yang berlaku saat itu.
ETIKA LINGKUNGAN
William
MCDonough, berpendapat bahwa perkembangan arsitektur juga mengakui hak-hak
generasi yang akan dating yang tidak merusak lingkungan. Jadi semestinya diusahakan bahan daur ulang dan bahan yang ramah
lingkungan.
Arsitektur
disamping membuat karya seni yang indah juga harus dapat mengkomunikasikan dan
memberikan penggambaran yang nyata dari keadaan sosial dalam karyanya. Rumah
seorang yang berada tentunya tidak mau dibuat sama
seperti rumah orang-orang menengah ke bawah. Mereka pasti
mengharapkan rumah tinggalnya dapat menunjukkan stautus mereka yang terhormat,
atau contoh ekstrimnya rumah tinggal seorang bangsawan atau bahkan raja
biasanya berupa puri-puri yang megah dan luas, sementara rakyat jelata tempat
tinggalnya sangat sederhana.
Salah satu contoh nyata bangunan
yang dibangun dengan tujuan awal memperhatikan keadaan sosial adalah: Antigone Housing Complex karya dari Ricardo
Bofill. Bangunan ini mengadaptasi gaya arsitektur
lama, Baroque ditampilkan kembali dalam Antigone Housing Complex. Ricardo Bofill mengambil ide dasar bentukan bangunannya dari kuil.
Untuk unsur pokok dalam kuil pada Antigone dihadirkan pada
atapnya.
Tentu saja seperti kuil-kuil pada umumnya tidak hanya dibangun sebagai tempat berlindung terhadap angin dan hujan, bangunan ini didesain untuk kalangan menengah kebawah sebagai bagian dari kota dan dan mereka memperlakukan bagian dari kota ini seperti kuil. Namun pada kenyataannya bangunan ini tidak tampak seperti bangunan untuk kalangan menengah kebawah karena secara eksterior terlalu megah dan tampak seperti sebuah puri atau semacamnya. Sehingga orang-orang yang melihatnya tidak akan menyangka bila bangunan ini ternyata bukan untuk kalangan menengah keatas, karena pada kenyataannya, Antigone tidak sesederhana bangunan-bangunan untuk kalangan menengah kebawah yang biasanya menggunakan material seaadanya dan dibangun sesederhana mungkin, tanpa memikirkan detail-detail arsitekturalnya. Antigone Housing Complex ini malah membuat detail-detail yang rumit pada jendela-jendelanya, juga kolom-kolomnya. Jadi bangunan ini rasanya kurang mengena bila dikembalikan ke tujuan utamanya "membuat bangunan unutuk kalangan menengah kebawah".
Selain memperhatikan keadaan
sosial, arsitektur juga dituntut untuk memperhatikan etika lingkungan, dimana
harus memperhatikan dan melestarikan lingkungan sekitar
TEMA 6:BADAN
Le
Corbusier membandingkan berdasarkan manusia. Rute
Postmodern diharapkan bertemu pada badan manusia sebagai tempat arsitektur, dan
muncul beberapa bentuk yaitu: fenomenologi, poststruktualis, dan feminis.
BADAN, SUBJEK DAN OBJEK
Badan
digambarkan sebagai tubuh (fisik) manusia sedangkan subjek menunjukkan
individu; dan setiap individu berbeda pengenalannya.
Badan dalam arsitektur klasik
menurut Vidler , badan digambarkan sebagai skala dan
dapat menyatakan alam pada umumnya dalam perencanaan bangunan.
AKHIR PROYEKSI BUDAYAWAN
Jean-Paul
Sartre mengklaim dalam Being & Nothingless bahwa badan menggerakkan
pengetahuan itu sendiri dari proyek didunia.
Eisenman
menjelaskan bahwa kaitan manusia dan modernisme adalah manusia merupakan fungsi
yang bersambungan antara satu sama lain di antara
system bahasa yang kompleks.
RENOVASI POSTMODERN BADAN
Hilangnya gagasan kemanusiaan
tentang anthroposentrisme dikemukakan oleh Graves
sehingga manusia tidak dapat merasa terpusat dalam suatu ruang.
Sedang
Perez Gomez juga berpendapat bahwa arsitektur modern perlu menunjuk citra badan
yang berbeda dari
arsitektur klasik.
Vidler membahas badan adalah studi yang aneh yang berfokus pada
penjelmaan anthropomorfis dalam arsitektur, menyebabkan bangunan dalam rasa
sakit.
DUGAAN POSTSTRUKTURALIS DARI BADAN
SEBAGAI TEMPAT
Postrukturalis
menolak anthroposentrisme. Salah satu pernyataan pandangan
posthumanis yaitu signifikansi badan bukan sebagai sumber gambar proyeksi
mimetic tapi untuk persembahan kekuatan; oleh Robert Macanulty
, yang menganjurkan perumusan badan dalam “istilah ruang , persembahan dan sexual”
disamping istilah fenomenologi “gambar, proyektif, dan animistis.”
Teori
postmodern dapat mengembangkan atau membuka paradigma arsitek untuk berkarya
secara bertanggung jawab antara bangunan & perilaku.
Hasil teori ini tidak dapat diprediksi macam-macam karena bersifat
spekulatif dan berakhir terbuka yang berdampak pada bidang politik & sosial
ditahun 1960-an – 1970-an.
Pada tahun 1990-an ada 3 tema teori yang muncul yaitu masalah
badan, estetika dan etika lingkungan.