Pendahuluan

Sejak pertengahan tahun 1960-an, teori arsitektur telah benar-benar menjadi interdisipliner; bergantung pada jajaran luas paradigma kritis.

Proyek perbaikan moderenisme ini, disajikan sebagai Pembuatan Teori baru untuk Arsitektur, dijalankan dari sudut pandang paradigma politik, etika, ilmu bahasa, estetika, dan fenomonologi. Jenis Teori Teori dapat digolongkan dalam beberapa sikap menurut subyeknya: yakni preskriptif, proskriptif, afirmatif, atau kritis.

 Teori preskriptif menawarkan penyelesaian baru atau dihidupkan lagi untuk masalah khusus; berfungsi untuk menentukan norma baru untuk praktek. Jadi ini menaikkan standart atau bahkan metode disain. Dapat menjadi kritis (cenderung radikal) atau afirmatif dari status quo (konservatif).

teori proskritif, yang menawarkan keadaan standar apa yang dihindarkan dalam desain. Arsitektur yang baik atau urbanisme dalam hal proskriptif didefinisikan dengan tiadanya sifat negative.

Teori kritis menilai dunia yang dibangun dan hubungannya terhadap masyarakat yang dilayaninya. Teori ini sering memiliki orientasi politik atau etika yang dinyatakan untuk mendorong perubahan. Teori kritis secara ideologi dapat didasarkan pada paradigma Marxisme atau feminisme, bersifat spekulatif, mengandung pertanyaan, dan kadang-kadang utopia/ idaman.

 

 Jika teori harus membawa kepada hasil yang dapat diperkirakan, maka satu-satunya teori yang dapat diterima adalah preskriptif dan proskriptif. Kedua aspek dalil ini ditantang oleh para pembuat teori postmodern seperti Alberto Perez-Gomez: Kepercayaan (modern) bahwa teori telah disahkan dlam hal dapatnya dipakai ¡V telah memerlukan pengurangan teori yang benar terhadap status ilmu terapan- ¡§teori¡¨ ini terlupa dari dongeng dan pengetahuan yang bebas dan secara eksklusive mengenai dominasi efisien dunia materi. Teori juga mengalamatkan hubungan antara arsitektur dan alam, saat dikembangkan melalui konstruksi tempat. Paradigma filosofi dan ilmiah sebagian besar telah membentuk pandangan arsitek

 

Lembaga teori

lembaga lembaga yang menyebarkan teori dan tulisan post modern antara lain IAUS dan AA

mereka menyebarkan Publikasi melalui majalah ,jurnal akademi,polemik

Ada 3 majalah arsitek Italia: Lotus, Cassabela dan Domus. Lotus menerbitkan teori yang berpengaruh di Italia dan Inggris.

Selama 1985-1995 terbit Skala majalah arsitektur denmark, Di jepang terbit majalah architecture dan urbanisme (a+u) menampilkan karya yang memiliki prospek di masa depan.

 

Salah satu publikasi oleh Philip Johnson menerbitkan kutipan dari signifikasi complexity and contradiction karya venturi untuk postmodernisme yang intinya kita seharusnya lebih berhubungan dengan kota dan mengandalkan bangunan tua. Dalam 11 tahun publikasinya teori venturi tersebar luas. Pertama kali diterbitkan oleh Stern pada majalah perspecta (1965). Menjelaskan paham postmo historicsm yang menyebut 3 fokus: kota, bagian muka ide dari memori budaya,bangunan merupakan bagian dari kontekstualisme, arsitektur merupakan kombinasi dari respon budaya dan sejarah.

 

Publikasi juga dijalankan melalui Pameran-Pameran.

Pameran mempengaruhi penyebaran teori arsitektur Postmodern.

Pameran yang ketiga di MOMA merupakan arsitektur dekonstruktif pada 1988. Beberapa arsitek menolak label dekonstruktif.dekonstruktifisme memberikan label khusus untuk memamerkan karya provokatif. Dekonstruktifisme merefleksikan 2 sumber yang mempengaruhi tip2 karya postmodern yang ditampilkan: dekonstruksi filosofis Derrida dan kontruktivisme Rusia. Dari kelompok yang dipamerkan Eisenamannn dan Tscumi yang paling dekat dengan posisi dekonstruksionis dengan penekanan pada kritik dan mengupas batas kedisiplinan.Gehry dan Hool bertolak belakang dengan historicsm postmodern,metafisika dan hal konkrit

 

 

DEFINISI TEORITIS PARADIGMA POSTMODERNISME

Dengan meningkatnya publikasi teori arsitek, dan eksibisi postmodernisme terdapat tambahan yang ditandai dengan adanya paradigma teorikal atau framework ideologikal, yang strukturnya masih menjadi perdebatan. Dilihat dari sisi lain, paradigma utama yaitu teori bentuk arsitek yang merupakan sebuah fenomena, kecantikan, teori bahasa tubuh (semiotics, structuralism, poststructuralism, dan deconstruction), Marxism, dan feminism.

 

PARADIGMA 1: PHENOMENOLOGY

Phenomenology adalah kebenaran teori arsitektur pada metode filosofi. Dimana ancaman filosofikal ini didasarkan pada kebiasaan postmodern melalui tempat, pandangan, dan pembuatan yang terkadang terlihat berlebihan dan tidak dapat dipertanyakan. Pada teori terbaru ditunjukkan spekulasi dari filosofi, dengan membuat masalah pada interaksi tubuh dengan lingkungannya.

Pada tahun 1950, dimana Martin Heidgger dan Gaston Bachelard menerjemahkan sebuah pekerjaan terdapat kemungkinan, pemikiran fenomenologikal arsitektur mulai tidak menempatkan formalitas dan bergantung pada pekerjaan tanah untuk kecantikan mendadak. Fenomenologi mengkritik logika dari ilmuwan, melalui pemikiran (optimisme mengenai keuntungan dari adanya metode ilmuwan yang dapat dikaitkan dengan kemanusiaan) positif telah dielevasikan dan tidak diberi nilai, tampil seperti postmodernist yang berpikir ulang menjadi modernity dengan hanya sedikit keinginan yang antusias.

Tulisan Heidgger didasarkan dengan motivasi kekhawatiran mengenai ketidakmampuan orang modern untuk merefleksikan hidup sebagai manusia, ia mendebat, refleksi semacam itu mengartikan kondisi seorang manusia. Salah satu fenomenologikal yang sangat berpengaruh pada arsitektur adalah Building Dwelling Thinking,dimana Heidgger menuliskan hubungan antara bangunan, tempat tinggal, manusia, konstruksi, dan penghematan. Dengan menyelidiki etimologi pada kata bauen (bangunan) Heidgger menemukan kembali konotasi kuno dan arti luas yang menyampaikan kesejahteraan potensial. Tempat tinggal didefinisikan sebagai ‘tempat untuk bermalam’. Sedangkan benda merupakan elemen yang mengumpulkan ‘empat fungsi’ dari bumi, udara, makhluk hidup, dan dewa. Melalui essay-nya, Heidgger menyimpulkan bahwa bahasa membentuk suatu pemikiran, sedangkan pemikiran dan puisi diperlukan untuk sebuah tempat tinggal.

Christian Norberg-Schulz mengartikan konsep tempat tinggal Heidgger sebagai berada di tempat yang damai pada tempat yang telah dilindungi. Ia mendebat, potensi arsitektur untuk mendukung tempat tinggal: “Tujuan utama dari arsitektur adalah untuk membuat dunia terlihat. Dapat diumpamakan sebuah benda, dan dunia yang dibawa ke permukaan terdiri dari apa yang didapatkan.” Kritik norwegia muncul dengan adanya koneksi antara arsitektur dan tempat tinggal. Norberg-Sshulz secara luas diteliti, dan dipertimbangkan sebagai arsitektur yang fenomenologi, yaitu, memberi perhatian terhadap ‘ruang yang konkrit’ melalui seluruh tempat. Aspek teknoik dari arsitektur memainkan sebuah peran, terutama detail yang konkrit, dimana norberg-Schulz berkata “jelaskan lingkungan dan buatlah karakter tersebut memanifestasi.”

Fenomenologi pada arsitektur membutuhkan perhatian dalam pembebasan mengenai bagaimana benda dibuat. Seperti yang dikatakan Mies “Tuhan adalah detail.” Pengaruh pemikiran ini dikenali sebagai elemen dasar dari arsitektur (dinding, lantai, tembok,dll, sebagai pembatas atau beban) tetapi juga menunjuk kearah ketertarikan yang dibentuk ulang dalam kualitas yang sensual alam material, cahaya, warna dan simbol, merupakan hal yang signifikan untuk digabungkan.

Perez-Gomez mengatakan, dengan mengembangkan konsep Heidgger mengenai tempat tinggal untuk memungkinkan ‘orientasi keberadaan’, pengenalan budaya, dan hubungan dengan sejarah.

Fenomenologi Finnish, Juhani Pallasmoa, mengartikan arsitektur dari fisik. “Pembukaan pandangan ke realita kedua mengenai persepsi, mimpi, memori yang terlupakan dan imaginasi.” Hal ini merupakan pemikiran yang sempurna mengenai ‘arsitektur diam’ yang abstrak. Sementara Pallasmoa menginvestigasi ketidaksadaran paralel dalam Freudian, arsitekturnya membentuk sebuah sublime sementara.

 

PARADIGM 2: AESTHETIC OF THE SUBLIME

Seperti fenomenologi, estetik sebagai paradigma filosofi berhadapan dengan produksi dan penerimaan seni pekerjaan. Karena fungsinya sebagai ekspresi karakter modern, konstitusi sublime bergabung dengan dasar kategori estetik pada periode postmodern. Kelahiran kembali ketertarikan pada sublime merupakan masa yang dapat diterapkan pada emphasis sekarang, pada pengetahuan arsitektur melalui fenomenologi. Paradigma fenomenologi sebagai persoalan fundamental pada estetik: efek pekerjaan arsitektur mempunyai sudut pandang. Sebagai contah pada sublime, pengalaman merupakan sebuiah hal yang penting.

Definisi penggabungan dari sublime memberikan bentuk pada model estetik modern dan pemikiran postmodern. Pemikiran kembali mengenai sublime dapat dipergunakan untuk membangun kembali arsitektur yang salah dan pindah ke formalisme sekarang.

Pada arsitektur abad ke-20. pemikiran mengenai sublime atau kecantikan terlihat begitu bebas. Untuk mencapai ‘titik radikal’ pada sejarah dari masa moder, teori estetik harus berubah. Polemik modernistadalah untuk estetik tabula rasa (abstraksi) dan untuk aplikasi ilmu dalam desain, menanamkan teori yang berlangsung. Perhatian secara positif diberikan kepada rasional, fungsi kecantikan dan sublime sebagai masalah arsitektural. Postmodern sendiri, pada sublime adalah sebagai batas ijin perkembangan teori yang penting.

Deskripsi uncanny menurut Sigmund Froud, merupakan sebuah penemuan mengenai sesuatu yang tidak asing lagi untuk ditampilkan; perasaan yang tidak mudah mengenai ketidakberadaan. Campuran dari yang diketahui dan tidak asing oleh orang asing, asla dari kata uncanny, unheimliche, yang diartikan tidak mempunyai rumah. Penbelajaran terbaru Vidler pada The architectural uncanny ditulis, tema umum dari ide adalah mengenai tubuh manusia.

Vidler mengenali kegunaan dari defamiliarizing, ‘pembalikan dari norma kecantikan dan penggantian sublime’ sebagai sebuah strategi pengamatan formal. Penjelasan dari eksplorasi Eisenman adalah sebagai ‘manifestasi ketidakpastian fisikal’, ia meng-klaim penawaran grolesque sebagai tantangan untuk terus mendominasi kecantikan, sejak jaman Renaissance. Eisenman berpikir bahwa gerakan modern merupakan sesuatu yang tidak terganggu selama 500 tahun, yang dikatakan sebagai ‘masa klasikal’.

Sublime yang sangat penting dikenal dengan tulisan kritis, yang mempunyai seni dan literature utama. Ditampilkan sebagai sebuah fenomenon modern sebagai sebuah kritik sosial, atau sebuah aspek psikologi yang ditemui, profil dari sublime bergabung. Yang kemudian Jean Franquois Lyolara dan Eisenman mengkonstruksi ulang dan menentukan keabstrakan tersebut. Posisi teori ini telah berpindah dan mempunyai batasan dari kemampuan untuk melihat arsitektur pada masa dialog yang terus-menerus antara sublime dan ‘yang cantik’. Perhatian Vidler dan penempatan Eisenman merupakan pengalaman spasial mengenai tantangan tujuan manusia sebagai seorang formalis dan penerimaan arsitektur non-percobaan.

 

PARADIGMA 3: LINGUISTIC THEORY

Perputaran perhatian pada budaya kritis postmodern juga mempengaruhi restrukturisasi pemikiran dari paradigma bahasa. Semiotik, strukturalisme, dan post-strukturalisme membentuk ulang literatur, filosofi, antropologi, sosiologi, dan aktivitas kritikal yang besar.

SEMIOTICS

Paradigma ini diparalelkan sebagai sebuah kebangkitan arti dan simbol pada dunia arsitektur. Arsitektur mempelajari bagaimana arti dibawa dalam bahasa dan diaplikasikan terhadap ilmu melalui ‘linguistic analogy’ menjadi sebuah arsitektur. Timbul pertanyaan, apakah dalam hal umum seperti bahasa, dapat dimengerti oleh orang awam diluar dunia arsitektur dalam proses pembuatannya. Diana Agrest dan Mario Gandelsonas pada “Semiotics and Architecture” serta Geoffrey Broodbent pada “A Plain Man’s Guide to the Theory of Signs in Architecture”, menanyakan mengenai ‘kontak sosial’ yang terdapat pada setiap arsitektur. Sebagai perwujudan fungsi modern dimana bentuk yang menentukan, hal ini didebat dari poin bahasa, dimana obyek arsitektur tersebut tidak mempunyai maksud lain, namun mampu membentuk suatu budaya. Ahli bahasa Swiss, De Saussure memberi kontribusi utama, yaitu pembelajaran bahasa secara sinkron, dan pemeriksaan bagian bahasa dan hubungannya antar setiap bagian. De Saussure merupakan penemu note signifier, yang relasi strukturalnya ditandai dengan bahasa. Sebagai dua komponen penting pada tanda, timbul ide: “bahasa merupakan sebuah sistem yang mempunyai masa bebas dimana setiap masa menghasilkan kesulitan dari kehadiran secara simultan terhadap yang lainnya.”

Mario Gondelsonas membandingkan sintatis yang diambil pada pekerjaan Eisenman dengan semantik yang digunakan oleh Graves. Agrset dan Gondelsonas dalam teori dan pelatihannya dipengaruhi oleh bahasa, dimana mereka menemukan cara semiotik dalam membaca arsitektur sebagai sebuah lapangan produksi pengetahuan.

STRUCTURALISM

Strukturalisme merupakan metode pembelajaran yang secara umum menuntut: “bentuk alami benda dapat dikatakan tidak terdapat pada benda itu sendiri, tetapi pada hubungan yang telah kita bangun dan buat diantara benda tersebut.” Dunia dibentuk oleh bahasa, dimana struktur mempunyai hubungan yang berarti antara tanda, namun ada juga perbedaan antara struktur dan sistem bahasa pada saat tidak adanya masa yang positif.

Struktural focus pada kode, konvensi, dan proses pertanggungjawaban pada pekerjaan, dimana mampu menciptakan arti sosial yang tersedia. Sementara struktur yang telah menjadi dasar pada linguistic dan antropologi, merupakan sebuah persilangan disiplin.

Penampilan dari strukturalisme untuk arsitektur rasional sangat jelas melalui penjelasan metode berikut ini, yaitu bila salah satu pengganti arsitektur bekerja untuk pekerjaan literatur: ‘Strukturalis mengambil bahasa sebagai sebuah model dan mencoba untuk membangun sebuah grammar – peralatan sistematik dari elemen dan kemungkinannya untuk kombinasi – yang akan dihitung untuk bentuk dan arti dari pekerjaan literatur.’

POST-STRUCTURALISM

Kritik budaya Hal Foster menandai perubahan dari modern menjadi postmodern melalui dua ide yang dipinjam secara langsung dari literatur dan kritik budaya Roland Barther. Perubahan focus pada artistic atau produksi literatur dari kreasi modern terhadap seluruh atau kesatuan, menjadi kreasi postmodern terhadap ‘ruang multidimensi’ atau ‘methodological field’. Sangat sulit untuk memisahkan strukturalisme dan post-strukturalisme.

Cara lain untuk menandai perubahan strukturalisme menjadi post-strukturalisme, yaitu pergerakan dari memandang bahasa secara obyektif, memandangnya sebagai obyek yang tidak salah. Dimana Eagleton menjelaskan ‘discourse’ berarti bahasa diambil sebagai sebuah dasar atau pelatihan.

Sebelum strukturalisme, tindakan interpretasi dilakukan untuk menemukan arti yang melibatkan tujuan dari pengarang atau pembaca; hal ini berarti dipertimbangkan secara jelas. Strukturalisme tidak mencoba menegaskan arti yang benar mengenai pekerjaan, atau untuk mengevaluasi pekerjaan dalam relasinya dengan peraturan-peraturan. Pada post-strukturalisme, hal tersebut menjadi tidak berarti, dan berada di bagian paling dasar.

Menurut Foster pada ‘[Post]modern Polemics’, paradigma poststrukturisasi mengajukan dua pertanyaan utama bagi arsitektur postmodern, status dari subyek dan bahasanya, dan status sejarah dan perwakilannya; dimana keduanya dibentuk dengan perwakilan sosial. Obyek dari post-strukturalis adalah untuk menampilkan segala sesuatu dalam kenyataan sebagai yang diberi kuasa oleh penulisnya, untuk merefleksikan mereka. Sebagai contoh, sejarah, merupakan implikasi yang subyektif.

Barthe dan Michel Foucault menyarankan keunikan dan kekreativitasan dari pengarang untuk kenyamanan, dibandingkan dengan pemilihan, pengurangan peran pengarang yang memainkan dibatasi oleh sejumlah masalah.

Teori postmodern diambil untuk diteliti ulang oleh arsitektur modern, juga relasi terhadap sejarah, perhatian pada inovasi modernisme, serta tanda pada individual, arsitek ‘pahlawan’. Banyak pencoba berpengaruh dan pelatih arsitektur beranggapan bahwa post-strukturalis benar.

DECONSTRUCTION

Salah satu post-strukturalis yang sangat penting adalah dekonstruksi. Dekonstruksi terlihat sebagai sebuah dasar pada pemikiran dari ‘logocentrisme’ dan pondasi dari bentuk lain seperti arsitektur. Jacques Derrida, seorang filsuf Perancis yang hampir selalu bekerja dengan yang berkaitan dengan dekonstruksi, menjelajahi kegunaan dari operasi teori untuk memproduksi dasar tanah atau pondasi perdebatan, dan mengambil catatan untuk setiap catatan yang telah diberikan konsep.

Tujuan dari dekonstruksi adalah untuk menempatkan kategori filosofi dan menjadi seorang ahli, seperti membuat suatu bentuk menjadi bentuk lainnya yang bertentangan, seperti hadir atau tidak hadir. Derrida melihat arsitektur sebagai sebuah pengendalian yang mengarah ke komunikasi dan transportasi pada bidang sosial, sama halnya dengan bidang ekonomi. Dekonstruksi merupakan bagian dari kritik postmodern, yang tujuannya untuk mengakhiri dominasi arsitektur modern.

Pernyataan Tschumi mengenai arsitektur sangat dekat dengan Derrida: untuk mendapatkan konstruksi kondisi dimana ditempatkan yang paling tradisional dan aspek dari sosial kita dan mengatur ulang secara simultan elemen ini dengan cara yang paling bebas. Untuk mencoba batasan tersebut, ditemukan batasan yang bertentangan dengan disiplin dan subyek, yaitu kritis radikal. Tschumi merupakan bagian arsitektural dari Barthes dan Derrida. Ia tertarik dengan teks arsitektur, sebagaimana suatu potensial yang terbatas, tapi melanggar batasan disiplin tersebut. Jika tanda tidak dapat diartikan, maka kemudian diartikan dengan beberapa cara simultan. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana arsitektur mendapat arti tersebut, apakah dapat terjadi persetujuan ‘bahasa’ dalam arsitektur.

Contoh bangunan :

HOUSE X – Peter Eisenman [deconstruction]      

House X milik Peter Eisenman ini memasukkan kategori filosofi di dalamnya, dimana bangunan ini dibuat dengan konsep yang jelas terhadap urban. Terdapatnya aksis urban yang juga dijadikan aksis dalam bangunan tersebut, menjadikan House X sebagai bentukan yang saling bertentangan, terlihat jelas bentukan-bentukan seperti hadir – tidak hadir.

Arsitektur sebagai pengendalian yang mengarah ke komunikasi dan transportasi di bidang sosial, hal diwujudkan House X dalam perannya yang mampu mengkomunikasikan urban dengan baik secara sosial. Dari aspek sosial tersebut, terlihat adanya elemen-elemen yang diatur ulang secara simultan dengan cara yang bebas, yaitu bentukan-bentukan kotaknya.

 

 

PARADIGMA 4: MARXISTME

Arsitektur post modern tak dapat lepas dari paradigma marxistme. Paradigma ini merupakan suatu kritik terhadap arsitektur postmo.Pendekatan marxist berkaitan dengan masalah politik,ideologi dan hubungan antar kelas arsitektur dan urbanisme.Paradigma marxist menyoroti krisis arsitektur modern yang gagal karena hanya bergantung dan mengikuti revolusi umum dan mengandalkan kritik dari kelas arsitektur saja, tanpa mampu menyebabkan revolusi itu sendiri.Teori yang kritis baru datang dari institut penelitian sosial frankurt yang melakukan pendekatan tidak hanya terhadap arsitektur tetapi juga melalui filosofi, sejarah dan psikologi untuk mendeskripsikan fenomena budaya pada konteks sosial.

 

PARADIGMA 5: FEMINISME

Diawali pada tahun 1960an yang menaruh perhatian pada masalah sosial terutama masalah perbedaan seksual. Pendekatan kritis yang bermunculan membawa jenis kelamin sebagai pengontrol sosial. Sebagai pengontrol sosial feminisme menggunakan paradigma kritis termasuk poststrukturalisme, marxisme dan psikoanalisis.Jadi, jenis kelamin dipergunakan dalam sejarah untuk membatasi atau memberi tanda terhadap yang lainnya.Dalam karyaarsitektur Sedangkan Psikoanalisis menawarkan teori universal mengenai pembangunan fisik jenis kelamin pada dasar perwakilan, hal tersebut menawarkan sebuah kerangka kerja dimana feminin dan maskulin dapat dimengerti.

Kritik feminisme mengenai arsitektur bertujuan untuk mengejar teori berkaitan dengan kenyataan sosialnya.Kritik ini bersifat kritis, sehingga bangunan yang dimaksud bisa saja sangat radikal, dimana tolak ukurnya sendiri adalah keadaan sosialnya. Di sini Merupakan tempat dimana seseorang dapat dekat dengan arsitektur dan bahkan berada di dalamnya, dapat meneliti mekanisme ideologi dan mengaburkan batas yang memisahkan arsitektur dengan yang lainnya.

 

Tema umum yang beredar merupakan pokok-pokok permasalahan yang disoroti oleh teori postmodern. Tema merupakan tanggung jawab sosial dan tubuh dari budaya postmodern.Adapun dalam dunia arsitektur post modern dikenal 6 macam tema yang menjadi isu penting dalam teori postmodern yakni: Histori dan historikisme, meaning(arti),tempat(place),poloitik dan etika,teori urban dan tubuh(body)

 

TEMA 1. Histori dan Historikisme

Terjadinya krisis pada arsitektur modern meningkatkan kesadaran diri, analitis, image baru , dan  orientasi pada alam dari periode postmodern. Para arsitek postmodern kemudian lebih menaruh perhatian pada mereka sendiri dengan suatu sejarah yang mempengaruhi.

Cara yang ditempuh dapat melalui: Apropriasi dan kesadaran diri mengenai saat ini sebagai moment sejarah.

Pendekatan yang dilakukan postmodern adalah suatu pendekatan progresif dengan adanya suatu keinginan untuk meluas dan melengkapi apa yang kurang dari tradisi budaya modern. Foster menyetujui pendapat dari Clement Greenberg bahwa modern adalah suatu program kritik diri dengan menjanjikan suatu kualitas tinggi dari suatu budaya yang diterapkan pada produksi masa kini dengan adanya kelanjutan estetik dari nilai tertentu.

Habermas seorang aliran dari postmodernisme menyatakan perbedaan antara efek modernisasi dan post modern adalah kurangnya keefektifan pada arsitektur modern dalam memecahkan masalah sosial.

Lyotard mengatakan bahwa dalam modernisme teknologi telah mengambil alih semua posisi kekuatan.

 

Salah satu teori historikisme yang dipakai dalam postmodern adalah Teori sejarah abad 19 yang  mementingkan relatifisme modernitas budaya khususnya ide affan garde, maksudnya kreasi bentuk baru berkelanjutan di bawah gerak sosial dan teknologi dan representasi simbol tsb dari masyrakat melalui bentuk-bentuk ini.Jadi bentukan baru yang tercipta mampu merepresentasikan keadaan sosial masyarakat namun tidak meninggalkan teknologi dan kekreatifan desain.

 

Colqiuhoun menemukan 2 aspek paradok historikisme.

1.      pencarian ekspresi kesalahan penjelasan spirit seseorang ke pola perubahan yang kontinu

2.      modernisme mengganti sarana ke masa depan karena ide yang statis dan peraturan klasiknya.

Paradoks tersebut tidak dapat dihindari

 

Historikisme meliputi bagaimana seseorang dapat mengidentifikasikan penentuan spirit dari sejarah.

Dua definisi historikisme dalam postmodern:

1.      sikap yang perhatian pada tradisi masa lalu

2.      praktek artistik dari penggunaan bentuk sejarah

Para arsitek postmodern menggunakan elemen-elemen klasik dari kolase,patische atau rekonstruksi otentik

Kejadian penting dalam sejarah arsitek saat ini adalah penilaian kembali dari hasil karya bukan untuk mencocokkan diri.Jadi sebenarnya karya yang baru tidak menyamakan diri dengan sejarah, tetapi tetap memperhatikan sejarah dan alam dan sosial budaya.

 

para historian arsitektur Marxist memilih suatu pendekatan dialetik yang menekankan ke alam yang lain dari aliran modern.

 

Revisi postmodern dengan tema historikisme bertujuan mencari kesinambungan dengan hasil karya yang lebih awal, dan mempertanyakan apakah suatu perubahan yang radikal itu layak?

dari gaya historikalnya.

 

Contoh bangunan yang mengambil tema histori dan historikisme ini adalah bangunan karya ROBERT VENTURI  yakni bangunan Sainsbury Wing, (1986) di London England.Gaya bangunan ini didesain utuk menanggapi bangunan lama yang ada di sebelahnya yakni bangunan national gallery yang dibangun pada 1983. Sainsbury wing menampilkan replikasi ornamen  lama   .  

Menurut Robert Venturi arsitektur tidak muncul begitu saja , namun berasal dari suatu sejarah, yang memiliki identitas  dan unsur historis.Hal ini sesuai dengan karyanya yang benyak menampilkan kekompleksan desain karena Venturi tidak menyukai elemen yang murni,bersih dan terus terang.Namun elemen kompleksitu didapatkan dari kultur yang sudah ada, yakni unsur historikisme yang dimaksud di atas, yakni sikap memperhatikan tradisi masa lalu.Venturi juga menggunakan elemen klasik pada sainsbury wing dengan cara ‘ menempel’ maupun rekonstruksi ulang dari bangunan national galeri.

Jadi, venturi menganggap perlunya kesinambungan antara bangunan lama yang sudah ada sebelumnya dengan bangunan baru.Tidak perlu perubahan radikal

 

 

TEMA2: arti

Arsitektur memiliki nilai yang mengandung arti 2 macam:

1. Estetika yang berasal dari lingkungan sekitar. ….

2. fungsi

Bentuk atau isi: tipe, fungsi, tektonis

Banyak orang menemukan bahwa ada hal-hal yang penting yang tidak dapat dipisahkan dari arsitektur yaitu:tipe, fungsi,dan tektonis. Fungsi berbicara tentang kegunaan, dan tektonis mengenai system structural..

Dalam arsitektur sangat penting untuk memperhatikan kaitan antara: tipe fungsi tektonis dengan estetika kegunaan dan ketahanan. Ada berbagai jenis tipe-tipe yang melandasi terjadinya suatu bentukan. Arti merupakan suatu yang esensial untuk dibahas, karena bila kita berbicara mengenai arti, kitan pasti berbicara dari mana asal terjadinya suatu bentukan dari sebuah bangunan, apakah dari pengulangan bentuk-bektuk yang ada atau dari unsure-unsur invariant. Sehingga secara sadar ataupun tidak tipe telah menciptakan suatu kesinambungan dalam sejarah, yang memberi arti/menciptakan suatu latar belakang yang melandasi terjadinya suatu bentukan dalam arsitektur.Pondasi neoralism memiliki suatu konsep, yang intinya :adanya batasan-batasan yang tercipta karena dipengaruhi oleh tradisi-tradisi arsitektur yang telah terbentuk sebelumnya,dan suatu tindakan yang didasari dari logika. Di sinilah peran arsitek sangat dibutuhkan untuk menterjemahkan intisari dari tipe-tipe yang ada ke dalam suatu model fisik yang memiliki suatu citra tersendiri. Giulio Carlo Argon menawarkan suatu teori yang merupakan gabungan antara tipe dengan tektonik ,sehingga dapat tercipta suatu bentuk yang tidak dapat “diabaikan”.

Dalam arsitektur modern banyak ditemukan tipe-tipe bangunan yang menawarkan suatu yang rasional, suatu awal yang baik dari arsitektur suatu metode desain ransformasi, tetapi perlu diperhatikan bahwa suatu penemuan bentuk desain baru memainkan suatu peranan yang sangat penting dalam dunia desain.

Funsi dalam arsitektur modern dilihat sebagai suatu yang rasional dan ilmiah merupakan intisari dari arsitektur modern.Einsenmann menentang fungsi yang menjadi suatu aspek yang berkelanjutan dari teori arsitektur yang terus-menerus digunakan sejak jaman renaissance dan hubungan yang mendasar dengan humanism sehingga arsitektur terus-menerus dalam kungkungan modernsm. Einsemann menjelasakn lebih lanjut bahwa yang seharusnya terjadi ialah dengan teori yang ada kita justru dapat berkarya lebih jauh ,menyempurnakan apa yang telah ada, dengan demikian arsitektur terus bertumbuh sejalan dengan perbedaan modernism dan humanism yang rumit,tidak sesimple yang dijelaskan pada teori modernism.

Sehingga dapat mengubah cara pandang yang selama ini menjadi pola piker arsitektur modern: bentuk mengikuti fungsi. Dalam arsitektur modern terjadi suatu pemikiran yang memandang fungsi sebagai suatu yang external,apa yang ada di dalam (jiwa) memancar keluar,ditentukan oleh fungsi. Jada dalam arsitektur modern fungsi itu sendiri merupakan jiwa dari arsitektur.

Debat serupa terjadi pada sentralis tektonik arsitektur, yang menyatakan bahwa suatu desain bangunan baru dapat dikatakan memiliki nilai arsitektur bila orang lain memeliharanya. Bentukan/form yang terjadi tidaklah menjadi pegangan bahwa karya itu dikatakan memiliki nilai arsitektur. Sehingga kembali muncul pertanyaan :bila suatu proyek dibangun, bilamana bangunan/desain tersebut dikatakan memiliki nilai arsitektur? Sejauh mana perbedaan yang terdapat antara bangunan dan arsitektur?

Arsitek demetri Porphyrios menyatakan pentingnya kehadiran bahan-bahan mentah, yang bukan hasil dari produksi massal, seperti yang terjadi pada arsitektur modern, sehingga hal ini menjelaskan mengapa modernism hanya memproduksi bangunan saja.

Posisi formalis menyatakan bahwa bentuk itu sendiri merupakan isi/inti dari arsitektur. Arsitektur modern berhenti menghadirkan image yang dapat dikenali dalam kehidupan.

Inti dari perdebatan dia atas adalah maksud dari postmodern representasi dan figurasi merupakan pusat tema ini.

Dalam Arsitektur post modern abstraksi mulai berkembang dibangun dan diperluas dengan adanya suatu tujuan yaitu menciptakan suatu bentuk gabungan untuk memperluas pola/bentuk desain yang terbatas dari arsitektur modern, juga melebarkan pembangunan yang sempit pada arsitektur modern.

Grave yang bekerja sejak tahun 1976-1977 menggambarkan suatu hubungan antara arsitektur dengan alam dan budaya. Sehingga pada tahun 1980 yang merupakan masa kejayaan untuk arsitek diusahakan suatu bangunan signature yang diusahakan dapat mempengaruhi masyarakat.Tapi apa yang benar-benar menjadi pasar massa pada saat itu ialah : bahwa adanya suatu bentukan “imitasi” yang justru menjadi suatu fenomena komersiil, dan hal ini benar-benar menjadi suatu “pukulan” bagi dunia arsitektur. Apabila suatu produk arsitektur mengalami peng”imitasi”an maka akan terjadi pengurangan pada komponen aslinya.

Contoh bangunan yang mengambil tema arti adalah New Guggenheim Museum, Bilbao, Spain

Frank. O.Gehry

Bagaimana terjadinya suatu bentukan?

Bangunan ini seperti bangunan yang tak bermakna sama sekali,asal comot bentukan, lengkung sana,lengkung sini, asal terlihat “wah” dan terkesan menimbulkan suatu gairah.

Menciptakan suatu yang baru ,yang memiliki arti di balik yang ada , yang membuat orang bertanya-tanya apa arti di balik semua gaya”pemberontakan” ini,dengan gaya lengkung yang berani, tegas, penuh tantangan , brutal, memberontak, menembus tembok budaya yang ada, penuh kekuatan, dan sensasi,mendobrak arsitektur kuno yang terbentuk sebelumnya.

“bentuk mengikuti fungsi” menjadi paradigma yang kuno,tak berpengaruh, tidak berarti lagi , didesak keluar dari kemapanannya diganti”fungsi mengikuti bentuk”.

Apa yang dulu tidak mungkin menjadi mungkin.Apa itu fungsi mengikuti bentuk?

Beranjak dari dalam, dari mana muncul suatu bentukan, bagaimana proses terjadinya suatu bentukan? Mengapa suatu bentukan penting?

Apa beda antara bentukan yang satu dengan yang lain kalau ternyata fungsinya sama saja, lalu apa keistimewaan dari bentukan/form,kalau yang dipentingkan fungsinya?

Dari sini kita beralih pada cara pandang manusia, apa yang dilihat manusia?

Ketertarikan secara fisik,atau langsung mengarah pada bagian dalam yang tidak dapat dilihat? Bangunan secara fungsi boleh sama karena kebutuhan manusia itu-itu saja .

Kalau kita melihat fungsi saja yang menjadi jiwa/penentu keberhasilan suatu bangunan, lalu di mana letak keistimewaan bangunan tersebut?fungsi yang menjadi jiwa, maka semua bangunan memiliki nilai yang sama. Apakah itu berarti semua bangunan memiliki nilai arsitektur dilihat dari fungsi? Karena manusia semua membangun dengan 1 tujuan, asal fungsi tercapai,bereslah!

Kalau hanya itu, lalu peran arsitektur murni di mana?

Kalau Cuma melihat fungsi ,mau tidak mau saat ini banyak bangunan yang berubah fungsi, rumah tinggal dibuat toko, gedung serbaguna jadi ruang rapat, stadion jadi pusat kampanyemenarik massa,dsb

Secara otomatis dan secara instant, begitu kebutuhan mendesak apa saja bisa digunakan asal fungsi tercapai.

Kita berbicara mengenai bentuk. Apa bentuk bisa berubah semudah kita merubah fungsi?

Mau tak mau kita mengakui saat kita tertarik pada bangunan ,yang kita lihat pertama kali pasti bentuknya,tidak mungkin kita melihat fungsinya yang tidak kelihatan.

Bentuk sebagai sesuatu yang esensial, memiliki nilai arsitektur tersendiri , yang unik, yang tidak bisa dikopi, memiliki cita rasa tersendiri.

Bentuk sebagai jiwa dalam arsitektur. Kalau demikian bagaimanabisa terjadi suatu bentukan yang unik ,yang tidak hanya “wah” tetapi memiliki makna?

Bertolak dari cara pandang dan latar belakang yang dimiliki masing-masing arsitek apa yang sudah terbentuk di dalam memancar keluar menjadi karakter dari apa yang didesain.

Bangunan museum ini memiliki form/bentuk yang brutal, menembus kemonotonan yang ada atau justru dengan bentukan itu ingin menjadikan bangunan sekitar lebih hidup?

Bangunan ini memiliki konsep seperti awan di langit ditengah perkotaan dengan gedung-gedung yang tinggi. Dengan demikian sang arsitek menciptakan suatu bangunan yang tetap tampil modern tanpa mengacaukan keadaan sekitar. Bertolak dari konsep ini, sang arsitek membuat bentukan yang unik dan memiliki karakter tersendiri tetapi tetap memiliki arti.

 

 

TEMA 3 : TEMPAT

“Dengan luas dijelaskan selama 10 dasa warsa yang lalu, bahwa pendekatan pragmatic fungsionalisme ini yang mengantarkan ke lingkungan skema dan karakter dengan kedudukan yang tidak layak bagi manusia. Dimana yang datang awalnya adalah masalah pada maksud arsitektur.”

MANUSIA, ARSITEKTUR, DAN ALAM

Hubungan antara manusia dengan alam adalah masalah filosofi yang panjang, yang dapat dijelaskan dengan fenomena, seperti Norberg-Schulz. Negara Barat memikirkan alam sebagai ‘hal yang berbeda’ dalam hubungannya dengan budaya yang mampu menstabilkan/memberi tema untuk suatu negara.

Sejak revolusi industri, kemajuan revolusi tersebut mengurangi hambatan-hambatan yang selalu hadir. Hal ini ditunjukkan dengan dekonstruksi, dimana oposisi budaya/alam tidak dilibatkan, adanya ketidaksesuaian, dan sepanjang semua ini benar, apakah perbedaan struktur harus dibatasi?

Beberapa pendapat yang ada mengatakan, bahwa alam diutamakan, tantangan budaya sekarang ini berasal dari perlawanan akhir pada spectrum, juga dari pengetahuan manusia dan bentuk instrumentalnya yang dinamakan teknologi.

Dalam perindustrian masa lalu, produksi dalam arsitektur dilakukan atas referensi yang disusun untuk alam dan berhubungan dengan alam. Arsitektur modern memegang analogi mesin disamping analogi organik. Walaupun mesin seringkali didesain berdasarkan sistem alam, namun digunakan sebagai model formal dari arsitektur yang menimbulkan pencegahan dari hubungan langsung dengan alam. Problem tersebut karena adanya kemajuan teknologi, dimana simbol posisi manusia bersama-sama dengan alam meninggalkan peraturan arsitektur.

TEMPAT DAN GENIUS LOCI

Albert Einstein mengatakan tempat sebagai bagian kecil pada permukaan bumi yang diidentifikasi dengan nama, obyek material dan hal-hal yang lain. Sejarahwan arsitektur, Peter Collins menerima definisi dari Albert Einstein tersebut dan mengembangkan implikasinya :

“Saat ini ada berbagai macam kecepatan yang dilibatkan dalam desain arsitektur, salah satu kemungkinan yang dimuat bahwa ‘tempat’ (plaza, piazza) adalah kecepatan terbesar bahwa pada arsitektur bisa disesuaikan dengan kinerja seni yang tidak menyatu.”

Teori tempat timbul dari fenomena dan geografi fisik. Tempat menawarkan cara untuk mempertahankan kerelatifan dalam teori modern pada sejarah penggambaran tubuh dan versifikasinya pada kualitas utama pada sisi.

Menurut Heidgger posisi yang berhubungan dengan alam adalah usaha untuk memperkaya pengalaman manusia yang ditampung oleh banyak arsitek kontemporer dan teoritis, seperti Gregotti, Raimund Abraham, Tadao Ando, dan Norberg-Schulz. Klaim pertanggungjawaban arsitek yang selanjutnya adalah untuk menyelidiki genius loci dan desain dalam cara (pembuatan-tempat) yang diperhitungkan untuk kehadirannya. Sebaliknya, Norberg-Schulz menyebutkan intervensi manusia untuk intensitas atribut alam pada keadaan. Elemen yang nyata pada arsitektur diperingatkan pada fenomena sebagai ‘kesesuaian pada perbedaan’ dan ‘batasan dan ambang pintu’ merupakan elemen yang menunjang tempat.

Gregoti menetapkan pembuatan-tempat untuk tindakan arsitektur prima, dimana keasliannya : meletakkan batu pada tanah dan mulai ‘memodofikasi’ bahwa tempat ditentukan kedalam arsitektur.

Tugas arsitek adalah menghubungkan alam dengan keadaan dan penggunaan landscape. Keindahan yang berlangsung didalam penyusunan site mencerminkan hasrat untuk membuat tempat, seperti yang dipromosikan oleh Norberg-Schulz dan Gregotti.

KONFRONTASI DAN TEMPAT TINGGAL

Abraham menguraikan sisi yang menjelaskan keagresifan sikap dalam landscape. Prosesnya diuraikan dalam ‘negosiasi dan rekonsiliasi’, Abraham mengatakan : “Ini adalah sisi kekuasaan, transformasi pada topografi alam, memberitahukan akar ontology pada arsitektur. Proses desain hanya merupakan aksi kedua dan penunjang, yang tujuannya adalah untuk merekonsiliasi konsekuensi pada hubungan, koalisi, dan negosiasi.”

Desain Abraham dan kerja teoritis menunjukkan komitmen untuk prinsip pengelolaan antara arsitektur dan landscape.

TEMPAT DAN DAERAH

Didasarkan pada fenomena, regionalisma Frampton melihat kemungkinan pada tempat tinggal dalam arsitektur untuk dimaksudkan pada pengalaman yang lebih besar. Frampton mengamati daerah, bangunan, kepekaan cahaya, kepekaan udara, dan kepekaan suhu.

Aspek regionalis dalam kritik umu adalah sikap kontra terhadap pemakaian massa yang mampu menghasilkan produk bangunan. Frampton menyebut puisi Samper yang memahami perbedaan didalam rangka (ceriol) dan membawa kebaikan sistem bangunan dinding (bumi’telluric’).

Arsitek Ezra Ehrenkrontz memprediksi sosial dan ekonomi untuk Amerika berdasarkan pada dispersal populasi sebagai penerima informasi yang canggih, pengamatannya dilengkapi dengan tingkat teori urban yang timbul ketika arsitek postmodern menyelidiki kembali sebagai landasan aktifitas arsitektural pada tingkat : sosio ekonomi, politik, sejarah, formal, puisi dan artistic.

 

 

Bila dikaitkan dengan tema “tempat”, maka dalam berarsitektur hendaknya disesuaikan dengan keadaan geografis dan site sekitar. Arsitektur dibangun tidak sekedar asal bangunan indah dan menbarik perhatian namun, disini juga dituntut bangunan yang peduli pada lingkungan, pada tempat bangunan tersebut berdiri. Contohnya pada bangunan Wisma Dharmala, pada fasadenya terdapat sunshading yang miring-miring, sunshading tersebut tidak muncul begitu saja tanpa fungsi yang jelas namun telah diperhitungkan sebelumnya oleh Paul Rudolf, dimana ia membangun perkantoran di daerah tropis, yang membutuhkan banyak pembayangan sehingga, energi listrik dalam bangunan dapat dihemat.

dapat digolongkan sebagai bangunan yang sesuai dengan tema “tempat”.

Dengan memperhatikan keadaan lingkungan sekitar banyak keuntungan yang didapat, contohnya: pada daerah yang banyak terdapat kayu jati, kita dapat mempertimbangkan untuk menggunakan bahan kayu tersebut daripada menggunakan bahan batu kali, karena banyak kerugiannya mengingat kita harus mengeluarkan biaya ekstra untuk mengangkut batu-batu tersebut ke lokasi proyek kita sementara disekitar lokasi proyek tersebut kayu jati melimpah, disamping itu juga bangunan yang berdiri pada site tersebut tidak selaras dengan lingkungan sekitarnya, dimana ditengah-tengah hutan kayu berdiri suatu bangunan kokoh dengan material batu, dan memberi kesan seperti “rusa ditengah kota”.

Contoh lainnya pada Electa Book Shop for the Venice Biennale karya James Stirling dan Michael Wilford.          

Toko buku karya Stirling ini dibangun di tengah site taman yang terdapat banyak pepohonan rimbun. Toko buku tersebut sengaja diberi warna coklat terang pada bagian bawahnya (dinidingnya) dan warna hijau pada bagian atapnya. Hal ini dimaksudkan agar bangunan tersebut selaras dan menyatu pada alam sekitar tempatnya dibangun, sehingga bila dipandang akan memberi kesan selaras dan harmonis. Atapnya yang berwarna hijau sesuai dengan rimbunnya dedaunan di atas pohon, sementara dindingnya selaras dengan batang pohon.

Bagaimana pun juga bangunan yang dibangun dengan mempertimbangkan tema “tempat” mempunyai nilai tambah dari pada bangunan yang dibangun tanpa memperhatikan keadaan alam sekitarnya.

 

 

TEMA 4 : TEORI URBAN

Pada tahun 1960, urban terjadi kembali dan berhubungan drastis dengan modern yang memperhatikan fabric urban. Arsitek berfokus pada penciptaan kebebasan ‘obyek’ bangunan (misalnya Museum Guggensheim dan bangunan Seagram di New York) untuk 40 tahun, mulai merealisasi bahwa ada perlawanan yang diperuntukkan bagi obyek itu. Contohnya, fungsional penempatan dibawah semangat postmodern untuk pendekatan negatifnya pada perencanaan.

KONTEKSTUALISME

Artikel milik Rowe dan Kottler ‘Kota Sekolah Tinggi’ menawarkan analisa pengaruh dan strategi desain yang masih ditetapkan pada beberapa sekolah arsitektur saat ini.

Ada bukti nyata Rome seperti yang dikatakan Rowe dan Kotler ‘mentalitas bricolage’, tidak masuk akal, tidak terpikirkan secara sistematis bahwa pertahanan mampu membahayakan keseluruhan hambatan dalam perancanaan urban. Mereka berusaha untuk menggunakan logika positif untuk sesuatu yang tidak pasti, seperti arsitektur dan desain urban.

Teknik grafik pada bacaan dikembangkan oleh Rowe dan sekolah Cornell yang menawarkan kamusdan syntax pada validitas yang berkelanjutan untuk menguraikan dan memahami kota.

TEORI MEMBACA DAN MENGARTIKAN

Dalam periode postmodern, semiologi juga mempunyai dampak pada persepsi kota, yang menunjukkan proses membaca letak kota sebagai teks. Memakai model bahasa untuk maksud yang diberikan dari hubungan antara obyek didalam kota.

Bahasa ditetapkan oleh arsitek postmodern sebagai cara pengkodean maksud arsitektural kedalam sistem.

Tschumi memilih penetapan aspek yang berbeda dengan bahasan Barthes tentang kota yang memperhatikan ‘dimensi erotis’ pada kota yang diidentifikasi sebagai pusat kota yang memegang keluasan. Semiologi Barthes dan urbanisme serta le plaisir du texle merupakan pengaruh jelas pada Tschumi, ‘keindahan pada arsitektur.’

IMAGE KOTA

Kritik pada post kota WWII, Lynch membutuhkan catatan visual yang memesan ungkapan manusia, kemampuan ber-image atau kemampuan untuk dibaca menjadi atribut penting yang diperhatikan oleh perancang urban dan arsitek sendiri yang berkenaan dengan isu komunikasi pada makna.

Barthes menuntut Lynch agar dapat menyelesaikan masalah semantik urban, tapi pada kenyataannya bahwa konsepsi pada kota lebih gestaltik daripada struktural.

URBANISME EROPA : NEORATIONALISME DAN TYPOLOGY

Rossi juga menuntut Lynch terhadap pendapatnya bahwa orientasi didalam kota berasal dari pengalaman, seperti monumental. Strukturalis berpendapat bahwa kota adalah menjelaskan keseluruhan repetisi pada komponen elemental. Dimana Rossi menyelidiki fungsi bentuk di kota-kota Eropa sebagai penyimpan memori kolektif.

Rossi juga mengingatkan simbol kota yang penting dalam memfokuskan kembali perhatian pada pendapat pembuat arsitektur dalam konteks urban, “pertentangan diantara utama dan umum, diantara individu dan kolektif, dicukupi dari kota dan dari konstruksinya, juga arsitekturnya.”

Rossi memperkenalkan kembali catatan tipologi sebagai alat analitik dan sebagai dasar rasional untuk proses desain pada transformasi.

 

 

 

TEMA 5 : POLITIK DAN AGENDA ETIKA

Arsitektur  ternyata juga dikaitkan dalam hal politik & etika, sehingga para arsitek diharuskan untuk :

  1. bisa memberikan penggambaran yang nyata mengenai keadaan sosial dalam karyanya.
  2. bisa mendukung status Quo dan keadaan yang ada
  3. bisa mempengaruhi masyarakat untuk ikut dalam hal-hal tertentu
  4. bisa mengubah status dan tradisi masyarakat

Keterkaitan dengan masalah politik menimbulkan munculnya teori dari Adorno (1962) bahwa politik yang bisa ditentang dalam seni mencapai otonominya.

 

Arsitektur adalah seni atau jasa; hal ini menjadi masalah dalam arsitektur. Etik adalah pengamatan masalah moral manusia dalam budayanya dan etik didalam arsitektur  dipakai untuk  mengikat peraturan.

 

Ghirardo menyatakan  keoptimisannya dalam arsitektur modern yang mencakup segala bidang untuk perubahan sosial, tanpa memikirkan ideology yang berlaku saat itu.

 

ETIKA LINGKUNGAN

William MCDonough, berpendapat bahwa perkembangan arsitektur juga mengakui hak-hak generasi yang akan dating yang  tidak merusak lingkungan. Jadi semestinya diusahakan bahan daur ulang dan bahan yang ramah lingkungan.

 

Arsitektur disamping membuat karya seni yang indah juga harus dapat mengkomunikasikan dan memberikan penggambaran yang nyata dari keadaan sosial dalam karyanya. Rumah seorang yang berada tentunya tidak mau dibuat sama seperti rumah orang-orang menengah ke bawah. Mereka pasti mengharapkan rumah tinggalnya dapat menunjukkan stautus mereka yang terhormat, atau contoh ekstrimnya rumah tinggal seorang bangsawan atau bahkan raja biasanya berupa puri-puri yang megah dan luas, sementara rakyat jelata tempat tinggalnya sangat sederhana.

Salah satu contoh nyata bangunan yang dibangun dengan tujuan awal memperhatikan keadaan sosial adalah: Antigone Housing Complex karya dari Ricardo Bofill. Bangunan ini mengadaptasi gaya arsitektur lama, Baroque ditampilkan kembali dalam Antigone Housing Complex. Ricardo Bofill mengambil ide dasar bentukan bangunannya dari kuil. Untuk unsur pokok dalam kuil pada Antigone dihadirkan pada atapnya.

Tentu saja seperti kuil-kuil pada umumnya tidak hanya dibangun sebagai tempat berlindung terhadap angin dan hujan, bangunan ini didesain untuk kalangan menengah kebawah sebagai bagian dari kota dan dan mereka memperlakukan bagian dari kota ini seperti kuil. Namun pada kenyataannya bangunan ini tidak tampak seperti bangunan untuk kalangan menengah kebawah karena secara eksterior terlalu megah dan tampak seperti sebuah puri atau semacamnya. Sehingga orang-orang yang melihatnya tidak akan menyangka bila bangunan ini ternyata bukan untuk kalangan menengah keatas, karena pada kenyataannya, Antigone tidak sesederhana bangunan-bangunan untuk kalangan menengah kebawah yang biasanya menggunakan material seaadanya dan dibangun sesederhana mungkin, tanpa memikirkan detail-detail arsitekturalnya. Antigone Housing Complex ini malah membuat detail-detail yang rumit pada jendela-jendelanya, juga kolom-kolomnya. Jadi bangunan ini rasanya kurang mengena bila dikembalikan ke tujuan utamanya "membuat bangunan unutuk kalangan menengah kebawah".

Selain memperhatikan keadaan sosial, arsitektur juga dituntut untuk memperhatikan etika lingkungan, dimana harus memperhatikan dan melestarikan lingkungan sekitar

 

TEMA 6:BADAN

Le Corbusier membandingkan berdasarkan manusia. Rute Postmodern diharapkan bertemu pada badan manusia sebagai tempat arsitektur, dan muncul beberapa bentuk yaitu: fenomenologi, poststruktualis, dan feminis.

 

BADAN, SUBJEK DAN OBJEK

Badan digambarkan sebagai tubuh (fisik) manusia sedangkan subjek menunjukkan individu; dan setiap individu berbeda pengenalannya.

Badan dalam arsitektur klasik menurut Vidler , badan digambarkan sebagai skala dan dapat menyatakan alam pada umumnya dalam perencanaan bangunan.

 

AKHIR PROYEKSI BUDAYAWAN

Jean-Paul Sartre mengklaim dalam Being & Nothingless bahwa badan menggerakkan pengetahuan itu sendiri dari proyek didunia.

            Eisenman menjelaskan bahwa kaitan manusia dan modernisme adalah manusia merupakan fungsi yang bersambungan antara satu sama lain di antara system bahasa yang kompleks.

 

RENOVASI POSTMODERN BADAN

Hilangnya gagasan kemanusiaan tentang anthroposentrisme dikemukakan oleh Graves sehingga manusia tidak dapat merasa terpusat dalam suatu ruang.

            Sedang Perez Gomez juga berpendapat bahwa arsitektur modern perlu menunjuk citra badan yang berbeda  dari arsitektur klasik.

            Vidler membahas badan adalah studi yang aneh yang berfokus pada penjelmaan anthropomorfis dalam arsitektur, menyebabkan bangunan dalam rasa sakit.

 

DUGAAN POSTSTRUKTURALIS DARI BADAN SEBAGAI TEMPAT

Postrukturalis menolak anthroposentrisme. Salah satu pernyataan pandangan posthumanis yaitu signifikansi badan bukan sebagai sumber gambar proyeksi mimetic tapi untuk persembahan kekuatan; oleh Robert Macanulty , yang menganjurkan perumusan badan dalam  “istilah ruang , persembahan dan sexual” disamping istilah fenomenologi “gambar, proyektif, dan animistis.”

 

KESIMPULAN : PERLUNYA TEORI POSTMODERN

Teori postmodern dapat mengembangkan atau membuka paradigma arsitek untuk berkarya secara bertanggung jawab antara bangunan & perilaku.

            Hasil teori ini tidak dapat diprediksi macam-macam karena bersifat spekulatif dan berakhir terbuka yang berdampak pada bidang politik & sosial ditahun 1960-an – 1970-an.

            Pada tahun 1990-an ada 3 tema teori yang muncul yaitu masalah badan, estetika dan etika lingkungan.