SWASTI! SWARA PURBAKALA NUSANTARA Media Publikasi Berita, Gagasan, Ide, dan Wacana Dalam Khazanah Kepurbakalaan Nusantara

Berwisata ke Candi,
Jangan Hanya Untuk Mengagumi Aspek Fisiknya Saja


tanggal upload naskah : 11 Januari 2003
Kontributor : Gatut Eko Nurcahyo



Candi, sebuah fenomena adiluhung, jejak-jejak monumental yang ditinggalkan oleh nenek moyang di Nusantara ini. Siapa insan di negeri ini yang belum pernah mendengar Candi Borobudur dan Candi Prambanan ? Keduanya itu baru merupakan sebagian kecil dari sedemikian banyak karya-karya monumental yang menjadi bukti tingginya peradaban budaya yang pernah ada.

So, what's the matter ? Soal berwisata ke candi-candi adalah hal biasa, siapa pun orangnya yang berniat berwisata ke Yogyakarta dan Jawa Tengah tentu akan menyempatkan diri mengunjungi Candi Borobudur dan Prambanan. Apa sih daya tarik kedua candi itu ? Adalah suatu fakta yang cukup mengherankan bahwa rata-rata para pengunjung tidak banyak yang tahu persis tentang alasan logisnya, kebanyakan hanya sekedar untuk memuaskan rasa penasaran sekaligus sebagai media legalitas atau keabsahan kunjungannya ke Yogya dan Jateng. Hanya itukah ? Suka tidak suka, memang demikian faktanya. Mereka datang, membeli tiket, masuk ke dalam kawasan bangunan candi, melihat-lihat sana-sini dengan sekali-kali berdecak kagum. Kagum pada bangunan-bangunan nan megah yang tersusun dari batu-batu yang saling berkait satu dengan lainnya. Kagum juga pada keindahan dan detail relief-relief yang terpahat di dinding-dinding candi. Selanjutnya, karena sudah capek, kepanasan, ya mereka lalu pulang atau melanjutkan perjalanan wisatanya.

What's wrong with the fact ? Tidak, tidak ada yang salah, sah-sah saja jika hal di atas merupakan sesuatu yang dianggap cukup bagi para pengunjung candi dewasa ini. Apa yang mereka lihat dan kesan yang timbul karenanya, sudah dirasa cukup sebagai suatu pengalaman. Sangat mudah untuk diperkirakan bahwa kesan tersebut hanyalah sebatas kesan yang timbul dari apa yang mereka lihat dan itu cenderung pada hal-hal yang berdimensi bentuk, aspek formalnya saja. Memangnya ada dimensi-dimensi lain ? Ya, memang ada. Kalimat kunci dalam hal ini adalah : what's the meaning behind the form ? Apa makna yang tersembunyi di balik bentuk ? Ada apa di balik kemegahan candi ? Ada kisah apa di balik adegan-adegan yang ditampilkan dalam relief-relief candi ? Apakah cukup dengan mengetahui isi ceritanya saja ? Ada beberapa pertanyaan yang kiranya dapat menggelitik pemikiran kita untuk berimajinasi tentang hal-hal tersembunyi di balik suatu bangunan candi :

  1. Kapan candi itu dibangun dan siapa pula yang membangunnya ?
  2. Apa alasan pembangunan candi itu ? Sekedar untuk kebutuhan keagamaan ?
  3. Ada makna simbolis apa di balik bentuk-bentuk unsur arsitektural candi ?
  4. Hingga sekarang, masih tetap diyakini bahwa kita yang hidup dalam jaman modern ini belum terbukti sanggup mendirikan bangunan-bangunan semacam candi-candi itu.
  5. Nah, sebetulnya bagaimana tradisi pembangunan candi yang pernah berlangsung pada masa lampau itu ?
  6. Siapa saja yang terlibat dalam pembangunannya ?
  7. Kenapa bentuknya harus demikian ? Bahkan, bagaimana alur "managemen" tenaga kerja pembangunan candi yang pastinya tidak hanya melibatkan puluhan orang itu ?
  8. Sejauh mana candi yang masih ada hingga sekarang mampu menggambarkan aspek-aspek kehidupan masyarakat pada masa lampau ?
Nah, sangat menarik bukan ? Janganlah sekali-sekali kita berpikir bahwa kunjungan ke suatu candi hanya akan menghasilkan suatu kebanggaan terhadap seni bangun saja, tetapi lebih dari itu, kita harus mampu menyerap hikmah di balik itu semua. Ya, itulah yang kita maksud dengan the meaning behind the form that we have to know.

O.K. sekarang akan kita coba memberikan contoh tentang relevansi aspek-aspek candi dengan kehidupan pada masa sekarang. Contoh berikut ini kami olah dari temuan para ahli tentang beberapa objek-objek yang pernah diteliti, di antaranya J.G. de Casparis tentang isi prasasti-prasasti pendek di candi-candi perwara Plaosan Lor dan Marijke J. Klokke tentang relief cerita Tantri. Contoh ini berkaitan dengan permasalahan aktual dewasa ini : fenomena penerapan otonomi daerah. Sudahkah kita semua tahu bahwa prinsip otonomi daerah semacam yang akan kita anut sekarang ini benih-benihnya telah disemai oleh tradisi birokrasi pemerintahan kerajaan-kerajaan Nusantara masa lampau ? Lihat saja di kompleks Candi Plaosan Lor, letaknya agak di sebelah timur Candi Prambanan. Akan kita jumpai di sana banyak sekali candi-candi perwara -istilah bagi bangunan candi yang didirikan mengelilingi candi-candi induk- yang berprasasti. Isi prasasti-prasasti pendek tersebut adalah nama-nama pejabat atau pembesar yang tidak saja menjadi mata rantai dalam birokrasi pemerintahan namun juga ada yang berkedudukan sebagai rakai, suatu istilah bagi penguasa-penguasa wilayah di bawah lingkup wilayah yang lebih besar atau rajya. Meskipun berkedudukan di wilayah bagian dari suatu wilayah yang lebih besar, para rakai itu mempunyai kewenangan penuh, otonom dalam menjalankan pemerintahan sehari-hari di wilayah kekuasaannya. Ada pun kewajibannya pada penguasa yang lebih tinggi, yaitu maharaja, jangan dibayangkan seperti seorang gubernur di hadapan presiden via mendagri yang sifatnya sentralistik. Itu sebagian kecil gambarannya saja, perlu waktu dan tempat cukup banyak untuk membahasnya lebih lanjut.

O.K. satu lagi contoh lain. Kali ini di bidang edukasi dan kesantunan nenek moyang kita dalam menyampaikan kritik, ajaran moral, dan pendidikan. Masih ingat Candi Mendut di dekat Candi Borobudur itu ? Nah, rata-rata pengunjung hanya melihatnya sekilas pada bangunannya saja. Tahukah mereka bahwa ada keistimewaan pada Candi Mendut yang cukup langka, belum tentu ada di candi-candi lainnya. Keistimewaan itu terletak pada relief-reliefnya. Relief-relief pada Candi Mendut didominasi oleh adegan-adegan cerita binatang yang istilahnya adalah cerita-cerita Tantri. Setiap adegan mengandung cerita yang berbeda-beda dengan bermacam tema dan "pesan" yang hendak disampaikannya pun berbeda-beda pula. Setiap adegan dapat diidentifikasi isi ceritanya (tentu saja dengan bekal ilmu yang memadai) dan secara umum mengandung ajaran moral tentang tata perilaku manusia untuk mencapai keberhasilan dalam hidup. Kenapa harus dengan media cerita binatang ? Nah, itulah bukti kesantunan nenek moyang kita dalam menyampaikan pesan-pesan moral. Melalui binatang-binatang sebagai perlambang, nenek moyang kita bermaksud menghilangkan kesan menggurui, usaha mereka menyampaikan ajaran dilakukan dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan orang lain, bahkan kepada para penguasa dan rajanya sendiri.

Baru dua contoh kecil dari dua candi yang kita bahas di atas, padahal masih banyak candi-candi di tlatah tanah Jawa ini, khususnya Yogyakarta dan Jawa Tengah. Cukup keliru jika kita hanya mengetahui bahwa hanya ada dua candi saja yang fenomenal, yaitu Borobudur dan Prambanan. Padahal, jika kita bicara soal karakter, setiap candi memiliki ke-khas-an sendiri-sendiri, bentuk boleh mirip-mirip tetapi soal the meaning behind the forms tetaplah ada keunikannya sendiri-sendiri. Singkatnya, batu-batu itu mampu "bicara" dan "bercerita" banyak jika kita mampu memahami "bahasa" yang mereka gunakan.




Komunitas Swasti! Swara Purbakala@2003
Website Administrator : gatut.eko@plasa.com

Kembali ke Daftar Wacana Kembali ke Halaman Utama