SWASTI! SWARA PURBAKALA NUSANTARA Media Publikasi Berita, Gagasan, Ide, dan Wacana Dalam Khazanah Kepurbakalaan Nusantara

Gondang - Wedi - Bayat
Dari Pabrik Gula Kolonial, Perkampungan Kuna,
Keramik Tradisional, Hingga Jejak Wali


tanggal upload naskah : 4 Desember 2003
Kontributor : Gatut Eko Nurcahyo



Cerita neehh .....

Anda tau di mana nama-nama tempat itu berada ? Gondang, Wedi, Bayat, ketiganya adalah nama kecamatan yang terdapat di Dati II Klaten, Jawa Tengah. Ketiganya cukup dekat letaknya dengan dua kota besar nan legendaris, bahkan ada di antara keduanya : Yogyakarta dan Solo. Ketiga tempat itu masing-masing memiliki karakter dan potensi "jelajah" yang spesifik, berbeda-beda antara satu dengan lainnya, yang justru menjadi daya tarik untuk merangkainya menjadi satu acara penjelajahan. Kata-kata kunci yang kiranya sangat tepat untuk "membuka" wawasan kita adalah : pabrik gula, museum, ladang tebu, kereta-kereta tebu (lori), perkampungan kuna, bangunan-bangunan kolonial, nuansa pedesaan, dokar, perkampungan industri keramik tradisional, peziarahan, panorama alam, dan kuliner. Kenapa dengan semua itu ? Apa daya tariknya ?

Pertama tentang pabrik gula, yang kita maksud adalah P.G. Gondang di Kecamatan Gondang, letaknya di pinggir jalan raya Yogya - Solo, 45 menit dari pusat kota Yogya. Pabrik itu didirikan pada awal abad ke-19, pada saat jaya-jayanya kaum kolonial "bermain" gula pasir yang full -mulai dari bahan baku sampai dengan pengolahannya- diperas dari tanah Jawa tercinta ini. Pernah dengar suatu ungkapan yang berbunyi : ada saatnya tanah Jawa ini terapung di atas lautan gula yang memakmurkan ? Kita dapat melakukan wisata minat khusus di sana, (khususnya) wisata sejarah. Ada suatu fenomena yang menarik bahwa meskipun pihak pengelola P.G. Gondang belum menetapkannya secara resmi sebagai tourism destination, ternyata telah ada kunjungan-kunjungan dari wisatawan, khususnya wisman, yang kontinyu. Rata-rata, menurut sumber, mereka tertarik dengan gaya bangunan, ingin tahu tentang seluk-beluk pembuatan gula tebu (sementara di mancanegara gula tebu sudah jarang dikonsumsi), dan riwayat P.G. Gondang tersebut.

Wisatawan domestik memang sementara ini bukanlah pengunjung dominan karena wisata sejarah masih menjadi hal yang baru, sementara di luar negeri telah menjadi aset berharga bagi negara-negara yang memiliki khasanah sejarah dan bangunan bersejarah yang unik. Mengantisipasi minat untuk berwisata sejarah, that's the point, meskipun harus diakui bahwa tidak semua orang merasa cukup antusias dan interes dengan yang namanya sejarah. Ada baiknya bahwa kita pribadi tetap berprinsip bahwa menelusuri sejarah bukanlah langkah mundur, tidak menegok ke belakang semata-mata. Wawasan, ilmu pengetahuan, dan hikmah, itulah yang kita cari dari pengalaman manis, getir, maupun pahit yang pernah dialami oleh negeri beserta seluruh anak negeri ini. Prinsip sedemikian rupa telah sangat membudaya di "luar sono". Menarik memang, bahwa untuk sementara kita dapat menarik suatu konklusi bahwa bagi bangsa yang telah mapan, sejarah itu menjadi sedemikian pentingnya untuk memperteguh jatidiri. Semua itu karena mereka telah mengakui adanya hikmah di balik keberadaan bangunan tua dan sebagainya. Kembali pada daya kreatif kitalah untuk mampu menonjolkan daya tariknya sehingga pantas dan perlu untuk dikunjungi. Oleh karena itu, prinsip guiding yang selalu scientific-oriented mutlak diperlukan. Suatu guiding yang mampu memberikan info-info yang dapat dipertanggungjawabkan, mampu mejelaskan hal-hal yang tersembunyi di balik suatu bentuk.

Kembali ke Gondang lagi. Adakah hal lain yang dapat kita telusuri di sana ? Secara agak rinci dapat kita himpun beberapa hal, produk, aktifitas, dan atraksi yang menarik, yaitu bangunan (daya tarik arsitektural), museum gula (antara lain koleksi kereta-kereta loko/lokomotif kuna), aktifitas dan atraksi pembuatan gula pasir dari bahan mentah (tebu) hingga jadi (gula pasir). Pada bulan-bulan tertentu, ada juga momen yang sangat unik dan langka : musim giling tebu yang biasanya diawali dengan berbagai macam prosesi dan atraksi tradisional. Bukankah itu semua merupakan tontonan yang tidak setiap saat dapat dilihat. Pengalamannya itu lho ...

Sebenarnya masih ada satu lagi potensi di P.G. Gondang yang sebetulnya dapat dikembangkan bersama dengan lingkungan di sekitarnya. Masih ingat dengan kereta-kereta plus gerbong-gerbong mininya yang berfungsi sebagai alat pengangkut tebu dari ladang menuju pabrik pengolahan (kami menyebutnya kereta lori) ? Benda-benda itu, bila ditinjau secara jeli memiliki nilai eksotis tersendiri pula. Ada semacam nuansa tempo doeloe yang merasuk saat kita melihat benda itu berjalan di atas relnya, dengan bunyi yang berirama, meski tidak merdu. Apalagi jika kita bayangkan kereta-kereta itu tengah dijalankan di antara ladang-ladang tebu yang berangin sejuk dan teduh. Bukankah lori-lori itu sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai alat transportasi wisata nan eksotis ? Logikanya demikian : tidak setiap waktu, setiap saat atau setiap musim benda-benda tersebut digunakan untuk mengangkut tebu. Menilik konstruksinya, rasanya cukup reasonable untuk dimodifikasi sebagai alat angkut manusia dengan kapasitas masing-masing dua orang untuk setiap "gerbong" mini itu. Bayangkan saja, sederetan kereta mini dengan atap semi-terbuka, ada penumpang di dalamnya, berjalan pelan menelusuri rel, menempuh perjalanan yang bernuansa pedesaan sambil melihat-lihat lalu-lalang penduduk lokal yang sedang beraktifitas di pasar, sawah, maupun ladang. Fantastis 'kan ?

So, what about Wedi ? Kecamatan Wedi letaknya di sebelah selatan Gondang, setengah jam perjalanan dari sana. Tema sejarah juga masih terasa di sana. Hanya saja bukan nuansa industrial, tetapi atmosfer pemukiman kuna. Masih banyak bangunan-bangunan tradisional dan kuna di daerah Wedi, demikian juga dengan lorong-lorong sempit di tengah perkampungan yang sangat unik. Yah, cukup dimaklumi, karena daerah tersebut pernah sangat kondang sebagai sentra saudagar-saudagar tekstil yang makmur dan hingga sekarang masih menyisakan jejak kejayaannya sebagai sentra industri konveksi. Selain itu, aktifitas keseharian penduduk lokal pun merupakan salah satu atraksi yang menarik untuk diamati, di antaranya adalah penggunaan alat transportasi tradisonal, yaitu dokar. Kereta kuda beroda dua itu selalu siap untuk di-booking menyusuri kawasan Wedi dan sekitarnya, dari kawasan yang sibuk-padat hingga menyusuri jalan-jalan yang terdapat di antara ladang tebu, padi, dan tembakau.

O.K. dari Wedi kita teruskan dengan pembahasan tentang Bayat dan potensi yang ada di dalamnya. Bayat means culture and panorama!. Pertama, kita bahas soal budaya di sana. Setidak-tidaknya terdapat dua pokok perhatian : sentra industri keramik tradisional dan masjid-makam Sunan Pandanaran. Sentra industri keramik tradisional Bayat sebetulnya tidak terletak di Kecamatan Bayat, melainkan masih termasuk ke dalam Kecamatan Wedi, tetapi memang lebih dekat dengan tempat-tempat penting yang berada dalam wilayah Bayat.

Daya tarik tempat tersebut akan segera kita rasakan setelah memasuki perkampungan Pagerjurang yang masih kental nuansa pedesaannya itu. Hampir di setiap muka rumah penduduk dapat kita lihat tumpukan benda-benda yang terbuat dari lempung bakar, misalnya celengan bagong, kendi, periuk, dan sebagainya, yang di antaranya kadang-kadang masih menyisakan aroma sekam padi yang baru saja dibakar, sungguh eksotis. Ciri khas yang menempatkan sentra keramik tradisional Pagerjuran terletak pada apa yang dinamakan dengan tradisi pembuatan gerabah dengan teknik putaran miring. Teknik apa pula itu ? Nah, di situlah kelangkaannya. Bahkan seorang profesor dari Jepang pun telah menyempatkan diri tinggal di Bayat selama beberapa tahun untuk menimba ilmu dan mencari filosofi yang terkandung dalam teknik putaran miring itu. Komentar yang ia sampaikan : teknik tersebut tidak ada duanya. Tidak saja berlatar belakang teknis, namun juga terdapat makna filosofis nan estetis di dalamnya. Lebih dari itu, di saat-saat prinsip industri yang ramah lingkungan dan berkonsep back to nature baru digalakkan baru-baru ini, masyarakat perajin keramik di sana, secara tradisional dan turun-temurun, telah terbiasa dengan penggunaan bahan dan teknik yang berwawasan lingkungan. Apa ya tidak hebat itu ? Bayangkan saja, untuk memberi warna pada barang-barang buatannya, mereka terbiasa memanfaatkan jelaga dan daun-daunan tertentu. Tidak hanya itu, dalam teknik pengolahan bahan baku, mereka punya ramuan yang terdiri dari bahan-bahan alami khusus sebagai bahan campuran lempung yang akan dibentuk.

Bayangkan saja, alangkah excited-nya jika kita disuguhi atraksi pembuatan gerabah dengan bahan dan cara tradisional seperti itu. Terlebih jika kita mendapat kesempatan untuk mencoba membuat sendiri benda-benda gerabah a la tradisional.. Bukankah merupakan suatu pengalaman mengesankan kita berkesempatan merasakan betapa eksotisnya perasaan yang timbul ketika tangan-tangan kita menyentuh segumpal lempung basah yang meliuk-liuk di atas landasan putar untuk dibentuk. Tangan-tangan yang berlepotan lempung basah, genjotan kaki yang menggerakkan landasan putar, bukankah itu merupakan pengalaman mengesankan ? Bayangkan juga daya tarik benda-benda tradisional macam seperangkat poci dan cangkir untuk minum teh, celengan tradisional yang bentuknya beraneka ragam, kendi, dan sebagainya. Hebatnya lagi, kita dapat bercerita banyak tentang makna dan fungsi tradisional dari benda-benda nan legendaris itu. Dengan demikian, kita dapat berperan dalam melestarikan living culture, sesuatu yang sebenarnya dapat memperlihatkan kepedulian dan komitmen kita sebagai insan-insan bangsa yang menghargai kekayaan budaya bangsa sendiri. Mumpung tradisi tersebut belum punah sama sekali.

Nah, selanjutnya kita dapat meninjau masjid Sunan Pandanaran. Tema yang cukup relevan adalah sejarah, budaya, dan ziarah. Sekedar prolog, Masjid Sunan Pandanaran dan wilayah sekitarnya merupakan tempat-tempat yang keberadaannya telah diakui pengaruhnya sepanjang sejarah Jawa Tengah. Tempat-tempat itu telah menunjukkan pengaruh keberadaannya sejak sekitar abad ke-15, saat-saat penting peralihan periode klasik yang bernuansa Hindu-Budha ke periode Islam dan kolonial. Tercatat dalam prasasti dan naskah-naskah atau babad-babad kuna yang menceritakan kunjungan resmi para raja Tanah Jawa ke Masjid Sunan Pandanaran, seperti Sultan Trenggana dari Demak, Sultan Hadiwijaya dari Pajang, Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Mataram-Islam, dan tokoh-tokoh legendaris lainnya. Secara arsitektural pun tempat tersebut memiliki banyak keunikan yang menarik untuk dipelajari karena merupakan perpaduan dari tradisi seni bangun Indonesia Klasik dan tradisi seni bangun Islami yang memperlihatkan sedemikian tinggi daya cipta-rasa-karsa bangsa ini.

Ada bonus lho ! Tidak jauh dari Bayat, kita akan menjumpai lagi satu pesona panorama dan kuliner : Rawa Jombor. Rawa tersebut merupakan salah satu tempat tujuan wisata yang sebetulnya sudah cukup dikenal. Tema pertama dari tempat itu adalah panorama. Rawa Jombor adalah bentukan alami dengan panorama berupa bentangan rawa berair yang luas dan dikelilingi barisan bukit-bukit. Atraksi natural yang dapat disaksikan di sana, selain bentangan air rawa yang sangat luas dan melegakan pandangan, juga aktifitas pencari ikan di atas rakit bambu, bentangan tumbuhan rawa yang didominasi tumbuhan eceng gondok. Pada musim-musim tertentu Rawa Jombor berubah menjadi kolam raksasa yang dipenuhi bunga teratai merah di atas permukaan air. Dapat dibayangkan betapa indahnya, kan ? Daerah tepi rawa dimanfaatkan sebagai tempat kedai-kedai makanan terapung. Nah, itu sangat unik juga. Masakannya pun khas dan sesuai dengan lingkungan pendukungnya : makanan berbahan dasar ikan air tawar. Cita rasa dan tingkat higienanya pun dapat dijamin.

Anda penasaran ? Berikut ini saran dari kami untuk Anda. Penjelajahan terpadu ini sebaiknya diawali dari Yogyakarta menuju P.G. Gondang. Anda dapat menelusuri sejarah keberadaannya dan dilanjutkan dengan sightseeing ke dalam pabrik, melihat-lihat peralatan dan sekaligus proses pembuatan gula pasir, setidak-tidaknya dari petugas khusus di sana. Setelah itu, dilanjutkan dengan kunjungan ke museum gula yang masih berada dalam satu kompleks P.G. Gondang. Jangan lewatkan pula melihat-lihat rumah-rumah bergaya kolonial yang dulunya menjadi kediaman para administratur dan pegawai pabrik gula ini.

Perjalanan dilanjutkan ke Wedi, langsung menuju ke sub-arrival site yang telah ditentukan dengan kriteria berupa bangunan tradisional yang representatif. Ada baiknya Anda menelusuri sejarah lokal dan seluk-beluk bangunan kuna di sana. Anda dapat menelusuri perkampungan kuna dengan jalan kaki melalui lorong-lorong atau gang, atau dengan naik dokar tetapi sebatas hanya dapat melalui jalan besar saja.

Perjalanan dilanjutkan menuju perkampungan perajin keramik tradisional Pagerjurang. Pertama-tama, Anda dapat meminta petugas dari showroom yang banyak terdapat di sana untuk diarahkan melihat-lihat produk jadi dan disertai dengan keterangan mengenai produk tersebut. Ada kalanya Anda berkesempatan melihat atraksi pembuatan benda-benda gerabah secara tradisional. Selanjutnya menuju Rawa Jombor untuk makan siang. Sesampainya di sana, sambil menunggu matangnya masakan yang telah dipesan sebelumnya, Anda kesempatan untuk melihat-lihat panorama sekitar. Selesai makan siang di Rawa Jombor, perjalanan dilanjutkan ke Masjid-makam Sunan Pandanaran. Wisata budaya, sejarah, dan ziarah di sana akan lebih lengkap jika Anda mampu menyerap informasi tentang sejarah bangunan dan lingkungannya, legenda atau mitosnya, dan ritus tradisional yang masih ada. Sightseeing ke sekitar masjid dan makam Bayat akan menambah wawasan Anda tentang gaya seni bangunan, makna, fungsi, dan nilai-nilai filosofis di baliknya.




Komunitas Swasti! Swara Purbakala@2003
Website Administrator : gatut.eko@plasa.com

Kembali ke Daftar Wacana Kembali ke Halaman Utama