|
Kuliner Jawa, Wisata Masakan Tradisional Nan Eksotis tanggal upload naskah : 2 November 2003 Kontributor : Gatut Eko Nurcahyo Paket ini secara sederhana dapat diartikan sebagai paket yang bertema wisata masakan tradisional Jawa. Nuansa tradisional, cita rasa, eksotisme, estetika dan atraksi penyajian, serta higiena, merupakan titik-titik kekuatan inti dari produk yang ditawarkan. Selain itu, sangat relevan untuk disampaikan kiranya bahwa kekuatan wisata kuliner ini merupakan hikmah dari pengamatan terhadap suatu fenomena yang cukup menarik yang dialami dan terjadi pada manusia. Jelasnya, manusia adalah makhluk petualang yang selalu mencari hal-hal baru yang kiranya dapat memberikan pengalaman-pengalaman baru yang akan ia kenang sepanjang hayat, dan bahkan jika pengalaman itu sedemikian berkesan, suatu ketika ia akan merindukan dan berusaha kembali ke waktu, tempat, dan suasana terjadinya pengalaman tersebut. Satu contoh konkrit dalam hal ini adalah fenomena tradisi makan lesehan, lesehan gudeg, atau burung dara goreng, bahkan tradisi makan sambil kongkow-kongkow di "kafe ceret telu", "warung koboi", atau istilah umumnya warung "angkringan"-lah. Apa yang terbayang di benak orang-orang di tempat-tempat makan tersebut ? Sekedar makan ? Makanan di tempat-tempat itu pasti enak ? Soal harga ? Jawabnya pasti : belum tentu atau bukan itu sama sekali. Memang, faktor rasa dan harga itu memang patut diperhitungkan. Namun demikian, marilah kita pahami bahwa ada satu hal, meskipun sifatnya abstrak, yang sangat menentukan : pengalaman. Pengalaman rasa, suasana, nuansa, eksotika, dan yang sangat familiar bagi kita : nostalgia. Nah, bukankah itu semua cukup membuka inspirasi akan potensi wisata kuliner ? Tentu dengan berbagai macam kreasi yang perlu ditambahkan untuk memberi nilai plus bagi paket yang akan ditawarkan, sejauh masih dalam batas-batas yang natural, meminimalisir adanya kesan yang serba rekaan atau artifisial. O.K., so what can we do for business ? Ya, kita punya perbendaharaan produk inti yang akan ditawarkan : masakan tradisional Jawa. Bukannya suatu imajinasi liar 'kan, seandainya kita bayangkan alangkah terkesannya wisatawan-wisatawan domestik ataupun non-domestik ketika melihat itu yang namanya klepon, mata kebo, dawet, and so on ? Masakan Jawa itu indah, eksotis, dan itulah yang pertama kali akan dilihat oleh mereka, so dari situ mata mereka telah mendapatkan "santapan" yang selanjutnya akan merangsang keinginan untuk mencicipi. Pasti enak bagi mereka ? Belum tentu, pasti. But, jangan lupa itulah yang kita harapkan sebagai salah satu pemicu memori mereka untuk menyimpan kesan terhadap rasa, dan itu merupakan suatu pengalaman, bukan ? Bayangkan saja, alangkah excited-nya mereka ketika dengan sangat percaya diri mencomot sebutir klepon dan tahu-tahu pada gigitan pertama akan ada kejutan : "juruh"/kuah dari dalam camilan tersebut akan muncrat keluar ! Ah, itu hanya sekedar joke saja, biar pun sangat mungkin untuk terjadi dan 99% adegan yang akan tampil adalah adegan yang penuh dengan muka-muka yang sedang tertawa-tawa. Nah, yang ini lain lagi : akankah terbayang bagi kita yang memang asli wong Jawa ini bahwa orang-orang Manca itu akan terheran-heran dan bertanya-tanya tentang salah satu jenis minuman tradisional kebanggaan nenek-moyang kita nan legendaris itu : dawet. Kenapa dengan dawet ? Buat kita sih biasa, tapi bukankah sangat mungkin bagi wong-wong londo yang sangat logic itu untuk bertanya-tanya tentang bagaimana cara orang kita bikin butiran-butiran dawet itu ? Dibikin satu-satu, butir-demi-butir ? Wah, lha terus kapan jadinya ? Nah, itu 'kan proses logic mereka yang juga merupakan satu kunci pembuka "urat" pengalaman dan daya interes mereka. Puji syukur pada Tuhan Yang Maha Pemurah yang telah menganugerahkan daya kreasi yang fantastis bagi orang Jawa. Lha kenyataannya 'kan makanan dan minuman Jawa itu betul-betul tinggi nilai cita rasa, eksotika, dan estetikanya. Jangan juga dilupakan : sisi atraktif yang terdapat di dalamnya. Maksudnya ? Itulah, coba kita ingat-ingat cara orang membuat kue coro/cara/carabikang. Menarik 'kan, cara simbok-simbok dan ibu-ibu sepuh di pasar-pasar membuatnya ? Sak-irus adonan cair yang berwarna merah muda nan menawan dituangkan ke dalam cetakan yang antik dan dimasak di atas bara api arang dalam anglo. Detik-detik berikutnya, dari adonan itu akan muncul bintik-bintik yang sekonyong-konyong dan susul-menyusul timbulnya. Selanjutnya, hup, dengan sebatang "cuthik" dari belahan bambu, sang pembuat kue carabikang itu menusuk adonan dari tepinya, diungkitnya bagian tengah kue yang masih setengah matang itu, diungkitnya, dan plup ! Kue carabikang itu pun jadilah, dengan permukaan atasnya yang kini mengembang nan menggoda untuk segera disantap hangat-hangat. Itu atraktif sekali 'kan, untuk ditampilkan ? Terlalu sempit kiranya ruang yang diberikan untuk mendeskripsikan keunggulan produk-produk dalam paket wisata kuliner ini. Justru karena hal ini : makanan-minuman tradisional Jawa itu sungguhlah adiluhung. Ah, apa tidak berlebihan bila dikatakan adiluhung ? Ya tidak, tho karena ada dimensi lain yang belum kita paparkan di sini, yaitu makna, arti, atau simbol nan mengagumkan yang membuat dhaharan dan unjukan Jawa itu tidak hanya sekedar sebagai santapan jasmani tetapi juga santapan rohani. Masih ingat 'kan, makna dan simbol di balik bentuk makanan ketupat, jenang pancawarna, kolak, dan sebagainya ? Kita tahu itu. Nah, itu 'kan juga merupakan dimensi yang dapat juga kita anggap sebagai "santapan" untuk para wisatawan. Inilah nilai plus yang kita tawarkan : scientific guiding. Terbukti bukan, bahwa di balik cita rasa, eksotika, dan estetika dhaharan dan unjukan Jawa itu ada so much meanings yang sangat menarik untuk disampaikan pada orang-orang yang menghargai jatidirinya sebagai manusia yang berada di antara manusia lain, di antara alam semesta, dan di hadapan Sang Pencipta ? Yah, saatnya bicara praktek ! O.K., dalam paket ini kita akan membawa para wisatawan ke suatu tempat yang memenuhi kriteria sebagai berikut : antik, tradisional, nuansa di sekitarnya mewakili nuansa keseharian kehidupan tradisional, tenang, higienis, dan aksesibilitasnya cukup baik. Tempat itu dapat berbentuk bangunan tradisional Jawa (joglo, kampung, limasan, gubu-gubugan) dan dapat juga di tempat-tempat terbuka yang punya nilai plus dari sisi lingkungan sekitarnya, misalnya di pinggir sungai, danau, sawah, laut, dan sebagainya. Practically, memang lebih representatif bagi kita yang bertindak sebagai organizer untuk cenderung menggunakan bangunan, karena lebih reasonable dalam penyajian produk dan atraksi pembuatannya. Tentu saja, kita harus sudah punya daftar nominasinya ! Bagaimana dengan dhaharan dan unjukan yang akan disajikan ? Apakah kita akan mengusahakannya sendiri ? Dalam batas-batas tertentu kita tidak akan mengusahakannya sendiri. Ingat, kita 'kan organizer ! Pada prakteknya, pengadaan produk-produk masakan-minuman yang telah ditentukan (dengan kriteria-kriteria khusus, tentunya) kita usahakan melalui rekanan-rekanan usaha yang masing-masing memiliki karakter yang khas untuk tiap-tiap produk makanan-masakan-minuman tertentu. Kita akan sajikan bentuk jadi dari setiap produk di tempat digelarnya paket wisata kita terlebih dulu sebelum kedatangan para wisatawan di tempat itu, tentu dengan mempertimbangkan daya tahan setiap produk. Satu atau dua jenis makanan-masakan-minuman tertentu, yang memiliki nilai atraktif yang tinggi dalam proses pembuatannya, akan di-display-kan oleh ahli pembuatnya di hadapan para wisatawan sambil mereka menikmati produk lain yang sudah jadi. Akan ada session tanya-jawab pada momen tersebut, dan di situlah muatan scientific guiding kita disampaikan. Selain tanya jawab, dalam rangka menciptakan momen yang mengesankan, akan ada sesi bagi satu atau dua orang wisatawan untuk mencoba mempraktekkan pembuatan makanan-masakan-minuman yang di-display-kan, tentu saja dengan asistensi ahlinya. Satu hal yang tidak boleh terlupakan dalam momen itu adalah main guide-nya harus pandai-pandai mengolah kata untuk menciptakan suasana yang segar karena pada saat itu ia bertindak sebagai presenter dan moderator. Setidak-tidaknya ia harus jeli mengolah momen-momen yang lucu karena hal-hal yang sifatnya spontan untuk menyegarkan suasana. Satu lagi : dokumentasi khusus bagi wisatawan yang sedang in-action, karena hal itu nantinya akan menjadi sebuah gift dari kita untuknya, sehingga pada akhir perjalanan akan muncul kesan bahwa kita sangat care and warm terhadap wisatawan tersebut. Siapa tahu dari hal-hal kecil itu kita dapat menciptakan pelanggan yang loyal. Acara wisata kuliner ini akan diawali dengan kedatangan para wisatawan di tempat yang telah kita tentukan. Penyambutan terhadap mereka dapat kita usahakan dengan hal-hal yang khas dan kreatif, misalnya penyambutan a la tradisi lokal. Setelah itu, kita lakukan basic-guiding tentang semua produk yang telah tersaji, misalnya tentang nama, bahan pembuatan, dan cara pembuatan. Basic-guiding itu tidak perlu berlama-lama. Muatan scientific-guiding yang sesungguhnya akan diberikan sebagai ilustrasi pada sesi mencicipi dan menikmati masakan-minuman yang telah tersaji. Kita usahakan ada waktu khusus yang dapat menarik perhatian seluruh wisatawan terhadap sesi praktek memasak yang dilakukan oleh satu-dua orang wisatawan yang berminat. Oh, iya, kita usahakan juga ada momen barang setengah sampai satu jam bagi para wisatawan untuk menikmati sajian tanpa ada guiding-speech apa pun. Pada momen tersebut kita menciptakan suasana etnik nan eksotis dengan memberi ilustrasi acara cicip-mencicip itu, misalnya dengan iringan gamelan (live ataupun recorded) atau kicauan burung-burung, misalnya perkutut. Melalui momen tersebut, kita harapkan para wisatawan akan mendapatkan sejenak kesempatan untuk mengendapkan segala kesan dan pengalaman yang baru bagi mereka. Acara wisata kuliner ini akan diakhiri dengan sesi foto bersama dengan background bangunan atau tempat yang kita tentukan. Positioning peserta dalam foto bersama ini memperhitungkan aspek pemilihan dan pengambilan sudut/angle yang menjadi ciri khas dari bangunan atau tempat tersebut. Fantastis ! Website Administrator : gatut.eko@plasa.com |
| Kembali ke Daftar Wacana | Kembali ke Halaman Utama |