Jika Iblis Datang Kepadamu
(Petikan dari  sijoripos)
Oleh: Prija Djatmika

Jika iblis datang kepadamu dan berkata: ‘’Orang-orang menzalimimu sedangkan kamu tidak menzalimi seorang pun.’’ Maka, katakan kepadanya: ‘’Siksaan akan menimpa orang-orang yang berbuat zalim dan tidak menimpa orang-orang yang berbuat kebajikan.’’

Pesan ini adalah ajaran agama yang sangat diingat dan dikukuhi Parto. Parto ingat, suatu sore di surau, bapaknya yang renta di Pacitan, mengatakan: ‘’Ingatlah ajaran itu, bila kau didatangi bisikan iblis dan bala tentaranya untuk mengganggu iman dan ibadahmu. Jangan kezaliman orang kepadamu kamu balas dengan kezaliman. Percayakan saja kepada keadilan Tuhan,’’ begitu kata bapak Parto.

Parto mengukuhi betul ajaran ini. Parto yakin, serta pengalaman menunjukkan, orang-orang yang menzalimi dirinya tak perlulah dibalas oleh dirinya sendiri. Ia yakin, keadilan Tuhan akan menghukum orang-orang yang menzalimi dirinya itu.

Maka, ketika anaknya yang bekerja di sebuah pabrik plastik di-PHK hanya karena salah menempatkan tabung elpiji, Parto menerima dengan lego-lilo. Anaknya yang bernama Rompoko, sebenarnya tak mau menerima begitu saja PHK itu. Sesuatu ingin dilakukannya. Entah menuntut ke pengadilan atau membuat perhitungan sendiri.

‘’Alasan PHK itu mengada-ada, Bapak. Tabung elpiji itu semestinya memang saya letakkan di sudut ruang kerja Pak Direktur Personalia, dekat kamar mandinya. Tetapi sekretarisnya yang menyuruh saya menempatkan di samping pintu dulu, menunggu teknisi yang akan memasangnya datang. Saya nurut saja.

Tapi, ketika Pak Direktur datang dan melihat tabung ada di samping pintu ruangnya, saya yang dihardik dan malah di-PHK,’’ kata Rompoko bersungut-sungut.

‘’Sudahlah, Nak. Memang tidak sepantasnya menaruh elpiji yang penuh gas di dekat pintu. Tentu saja Pak Direkturmu terganggu jalannya. Apalagi kalau tertendang, kan bisa meledak. Kamu memang agak teledor,’’ tutur Parto menyabarkan anaknya.

‘’Tapi yang menyuruh sekretarisnya!’’

‘’Sudahlah. Wajar direkturmu akan menyalahkan kamu, bukan sekretarisnya. Karena memecat kamu dan mencari penggantimu, lebih gampang daripada memecat dan mencari ganti sekretaris itu. Hukuman di-PHK itu memang berlebihan. Ya, beginilah nasib rakyat kecil. Tapi percayalah, tangan Tuhan akan membalas kezaliman ini. Sekarang carilah pekerjaan lain. Tuhan menyebar rejekinya di mana-mana,’’ kata Parto seraya menghela napas panjang. Mulutnya komat-kamit berdoa, mohon sabar dan keadilan Tuhan.

Rompoko bangkit dari duduknya dan dengan setengah hati melangkah keluar. Hatinya masih belum menerima kezaliman majikannya, juga kepasrahan bapaknya. Tapi apa mau dikata, Rompoko tahu bapaknya memang orang nriman.

Tubuh Rompoko makin menjauh menuju jalan raya. Parto segera bangkit untuk membuka warung. Sebuah warung kelontong kecil yang menyediakan kebutuhan sehari-hari bagi tetangga.

Sebagian besar warga di kompleks perumahan Parto adalah buruh harian. Kebanyakan mereka baru menerima gaji setiap Sabtu. Dan setiap Sabtu sore, Parto akan menerima pelunasan dari warga di sekitar rumahnya, yang berhutang padanya. Hampir sembilan puluh persen konsumen Parto, membeli dengan cara utang. Apa saja diutang. Rokok, beras, gula, kopi, teh, kacang hijau, minyak angin sampai obat nyamuk. ‘’Pokoknya, catat saja dulu Pak Parto. Nanti Sabtu sore saya bayar,’’ kata pelanggan-pelanggannya. Dan Parto menyediakan sebuah buku tulis kumal untuk mencatat utang-utang itu.

Tetapi tidak tiap Sabtu semua orang yang berutang padanya membayar. Ada pensiunan TNI yang membayar setiap dua minggu sekali, atau malah kadang baru melunasi setelah sebulan utang. ‘’Pensiunannya setiap sebulan sekali, Pak Parto. Jadi, ya mesti bagaimana lagi. Pemasukan lain tidak ada, kebutuhan jalan terus,’’ begitu alasan Pak Kaban, si pensiunan tentara beranak tiga itu. Parto nurut saja.

Toh, Kaban lebih baik daripada beberapa tetangganya yang lain. Ada yang berbulan-bulan tidak membayar, atau baru membayar kalau sudah ditagih. Itu pun kalau Parto tega hati untuk menagih. Seringkali Parto lebih percaya bahwa orang-orang itu tidak bermaksud menzalimi dirinya, hanya mereka lupa atau mungkin belum ada uang saja.

Memang, ada beberapa yang sadar datang sendiri untuk melunasi utang-utangnya. Namun yang tidak muncul batang hidungnya juga banyak. Apalagi setelah banyak tetangganya di-PHK, seperti Rompoko, anaknya itu.

‘’Banyak tetangga yang punya utang kepada kita, kabur semua Pak. Mas Jiman yang kerja di pabrik tekstil itu, juga sudah pergi. Padahal kan punya utang Rp 36 ribu. Pak Sambo yang buruh bangunan juga sudah pergi. Utangnya Rp 49 ribu. Pak Edi malah sudah membawa seluruh keluarganya kembali ke orang tuanya di Madiun, utangnya Rp 112 ribu. Bagaimana ini? Modal kita ludes kalau terus begini. Bapak tagih dong, jangan sabarrrrrr melulu begitu,’’ ungkap Bu Parto kesal.

Parto hanya manggut-manggut. Ekspresi wajahnya tetap datar saja. Malah tersenyum simpul melihat istrinya bersungut-sungut begitu. ‘’Lha wong mereka di-PHK. Pabriknya kena krisis ekonomi, lalu bangkrut. Bagaimana lagi?’’

‘’Kan dapat pesangon,’’ jawab istrinya.

Parto menghela napas panjang dan kemudian menyalakan rokok. ‘’Mungkin tidak cukup untuk biaya pulang kampung dan melunasi utang sekalian. Siapa tahu, nanti kalau mereka sudah dapat rejeki, datang ke sini dan melunasi.’’

Istrinya sudah malas bicara lagi. Paling-paling suaminya akan menjawab seperti itu terus, atau kalau sudah terdesak, akan keluar kata-kata saktinya. ‘’Siksaan Tuhan akan menimpa orang-orang yang berbuat zalim, bukan yang berbuat kebajikan.’’

Dagangan Parto terus menyurut. Warungnya tidak lagi menjual semua merk rokok, seperti dulu. Hanya merk-merk rokok yang banyak dicari orang saja yang sekarang dikulaknya. Jumlah gula, beras dan kopi yang dijual, juga tidak sebanyak dulu lagi. Dagangan sabun, shampo, deterjen dan permen, juga terus berkurang. Modal untuk kulakan banyak tersendat di pelanggan-pelanggan. Mereka yang rutin melunasi, tiap hari terus datang untuk berutang lagi.

Parto bingung harus berbuat bagaimana. Ia sangat percaya, orang-orang itu tidak akan menzalimi dirinya. Direktur personalia yang memecat Rompoko, anaknya, juga tidak bermaksud menzalimi. ‘’Tapi kok ya kejam sekali Pak Direktur itu,’’ kata bagian hatinya yang lain. ‘’Para pelangganku yang tak mau membayar itu, kok ya tega-teganya. Padahal mereka ya dapat pesangon,’’ kata bagian hatinya yang lain lagi. ‘’Ah, keadilan Tuhan mesti akan datang,’’ hibur hatinya. Parto lalu memutuskan menunggu saja dengan sabar.

Parto sudah mau beranjak untuk menutup warung, ketika dua petugas dari kelurahan datang ke rumahnya. Mereka berboncengan sebuah sepeda motor. Parto mengenali yang duduk di depan, yakni Rifai, sekretaris desa. Parto tergopoh keluar menyambut dan menyilahkan mereka masuk di ruang tamu. Parto lalu memanggil istrinya untuk menggantikan menjaga warung.

Setelah basa-basi sebentar, Pak Sekdes dan temannya yang ternyata petugas tata kota itu, menjelaskan maksud kedatangannya. ‘’Jadi begini Pak Parto. Gang di depan rumah Pak Parto ini, oleh pemda mau dilebarkan delapan meter lagi, kanan-kiri. Rumah-rumah yang tempatnya persis di samping jalan ini, tentu akan kena pemaprasan, empat meter masing-masing. Saya kemari menyampaikan surat undangan dari Pak Walikota, yang mengundang bapak-bapak di sini untuk rapat. Besok Sabtu depan,’’ kata Rifai kalem. Temannya manggut-manggut membenarkan.

Sebuah amplop diserahkan Rifai ke Parto. Parto menerima surat itu dengan lunglai. Kabar yang tiba-tiba itu mengagetkannya. Tak pernah ada bayangan warungnya akan dikepras. Panjang halaman rumahnya yang cuma sepuluh meter akan dikepras empat meter. Berarti warung dan ruang tamunya akan tergusur dan rumahnya tinggal 6 meter kali 6 meter. Kalau ia terus membuka warung (dan itu satu-satunya mata pencahariannya), maka ruang untuk kamar tidur, kamar tidur anaknya dan dapur, akan sempit dan pengab. Ruang tamunya juga harus tak ada lagi, diganti kamar tidur.

Parto berpikir, di mana harus menerima tamu? Jadi satu dengan warung? Selama ini, rumah bagian depannya yang tiga meter kali enam meter dibagi dua. Satu untuk warung dan satunya untuk ruang tamu. Sisanya masih bisa untuk dua kamar dan satu dapur, serta kamar mandi kecil.

Parto tiba-tiba sudah merasakan kesempitan dan kesemrawutan rumahnya. Empat orang anaknya, dua sudah dewasa, akan tidur berdesakkan. Sebagian mungkin harus tidur dengan dia dan istrinya. Betapa sesaknya. Bagian hati Parto yang paling dalam tiba-tiba bicara: ‘’Jangan kau bersabar lagi, kali ini. pemerintahmu akan menzalimimu. Hanya satu kata, lawan!!’’ Ya, hanya satu kata: lawan!!’’ bisiknya dalam hati, seperti mengutip sajak Widji Thukul yang kini raib entah ke mana itu.

‘’Ini iblis datang dan membujukku,’’ kata bagian hatinya yang lain. ‘’Siksaan akan datang kepada orang-orang yang menzalimi, bukan yang berbuat kebajikan. Percayalah,’’ bujuk kata hatinya yang lain lagi. Tapi bayangan rumah yang tinggal enam meter kali enam meter, empat anaknya, masa depan mata pencahariannya, terus menggantung di pelupuk matanya.

Keringat dingin tiba-tiba mengalir di lehernya, meski udara sore terasa dingin. Parto merasa gerah. Harga diri dan keberaniannya sebagai seorang bapak, merasa ditantang. Dilecehkan. Menghadapi orang-orang zalim, mungkin masih bisa dengan kesabaran dan pasrah kepada Tuhan. Tetapi menghadapi penguasa zalim, tak bisalah dengan kesabaran. Mahkluk-mahkluk manusia yang tergabung dalam organisasi yang bernama pemerintah itu pasti akan berlindung di balik jubah kepemerintahannya, meskipun mereka sengaja berbuat sewenang-wenang atau korup.

‘’Ini bukan soal individu camat, individu lurah atau individu walikota dengan Pak Parto. Tetapi ini soal tugas dan kewenangan lembaga pemerintahan untuk mengatur kota ini, Pak Parto. Jadi, Pak Parto jangan salahkan kami, orang-orang yang kebetulan bekerja di pemerintahan, yang terpaksa harus mengepras sebagian rumah Bapak. Semua berdasarkan peraturan. Jadi, semuanya sah. Apalagi Pak Parto kan belum memiliki sertifikat untuk tanah ini. Artinya, tanah yang Bapak tempati ini tanah negara. Sekarang negara memerlukannya untuk pelebaran jalan, Pak Parto harus menerimanya,’’ kata laki-laki berseragam coklat, yang duduk di sebelah Rifai, nyerocos.

Tidak ada satu pun dari kata-kata itu yang mampir di benak dan hati Parto. Kupingnya mendengar, tetapi hanya ada satu kata di hatinya: lawan!! Parto kemudian bangkit dari duduknya. Tanpa kata sepatah pun, ia lalu berdiri di samping pintu rumahnya yang terbuka.

’Bapak-bapak silahkan keluar. Ini rumah dan tanah saya. Saya beli dengan keringat saya sendiri. Sepuluh tahun di Surabaya, ini hasil kerja saya. Tidak ada seorang pun atau apa pun yang saya bolehkan mengepras tanah dan rumah saya. Juga Anda, walikota atau mbelgedes siapa saja. Sekarang, keluaaarrr!!!!’’ kata Parto dengan nada tinggi. Sedikit membentak.

Rifai dan temannya kaget bukan kepalang. Mereka masih mencoba hendak bicara, tapi Parto kembali berteriak, ‘’Keluaaarrrrrr!!!!’’ Dua petugas pemerintah itu segera beranjak dari kursinya. Tergopoh keluar, menghidupkan mesin motornya dan kabur.

Setelah sosok dua manusia itu hilang di tikungan, Parto menutup pintu rumah. Istrinya yang bingung, tak tahu apa yang terjadi, hanya bengong di warung. ‘’Tutup warungnya, Bu!’’ kata Parto, tak ingin menjelaskan apa pun. Istrinya tergopoh menutup warung. Parto menuju kamar tidurnya. Sebuah kelewang peninggalan bapaknya diambil dari balik lemari kayu. Sampai petang sudah lewat, ia terus mengasah kelewang itu. Istrinya dan Rompoko yang sudah pulang sedari tadi masih belum berani bertanya apa pun. Tiba-tiba Parto berteriak: ‘’Rompoko, asah pedangmu. Kita akan perangngngngng!!!!!’’

Keatas