Pencuri Hati
(Petikan dari page rilek)
Oleh: Dyan

"Itu dia!", batin Icha kegirangan saat matanya menangkap sosok cowok yang dicarinya. Cowok hitam manis itu tengah duduk di bangku halte sembari membolak-balik halaman buku. "Kali ini gue harus berani kenalan. Gue nggak boleh ciut. Ayo Icha, tunjukin keberanian loe", teriak Icha menyemangati dirinya sendiri. Hanya saja ia terlalu bersemangat sehingga lupa diri kalau dia tuh tengah berada di pinggir jalan, di kerumunan banyak orang. Walhasil, nggak sedikit orang yang menoleh heran ke arahnya.
Icha melangkah mendekati cowok tersebut. Semakin dekat langkahnya semakin pelan, penuh keraguan. Hatinya bertanya-tanya apa ia pantas menegur cowok itu lebih dulu? Sejenak ia tampak ragu. Namun begitu ia teringat penderitaannya beberapa hari belakangan ini, dimana pikirannya selalu tertuju pada cowok itu, ia memantapkan hatinya untuk kesekian kalinya. Ia harus kenalan!
"Hai! Boleh kenalan nggak? Nama gue Icha. Dan menurut gue loe tuh manis banget", sapa Icha tanpa basa-basi lagi sambil mengulurkan tangan kanannya.
Cowok itu menatap Icha sedikit dengan perasaan kaget. "Gue Toni. Thanks pujiannya", akhirnya cowok itu membalas uluran tangan Icha. "Eh, gimana kalau kita ngobrol-ngobrol di warung nasi situ? Makanannya enak-enak lho", Toni menunjuk ke arah warung yang nggak begitu jauh dari posisi mereka.
"Hmm... Boleh juga", dengan senang hati Icha menerima tawaran tersebut. Ngobrol dengan Toni memang sudah jadi mimpi indahnya belakangan ini.
Beberapa menit kemudian Icha dan Toni sudah nampak asyik dengan bahan obrolannya. Sesekali Icha mencuri pandang menatap Toni dan mengaguminya dalam hati.
"Gila, senyumannya manis banget", jerit Icha dalam hati.
Nggak terasa waktu berlalu. Akhirnya saat berpisah pun tiba.
"Waduh, sudah sore lagi", kata Toni sembari melirik jam di tangan kanannya. "Nggak kerasa ya, Cha?"
Icha mengangguk pelan. Ada rasa kecewa di hatinya mengetahui ia harus segera berpisah dengan Toni.
"Well, pulang yuk!" ajak Toni. "Senang bisa kenalan sama loe. Loe anaknya asyik juga ternyata. Nyambung. Kapan-kapan kita ngobrol-ngobrol lagi yach, Cha".
"Oke"
Akhirnya mereka pun berpisah, tapi Icha tidak segera pulang. Ia sengaja mondar-mandir di sekitar halte tempat ia pertama kali melihat sosok Toni. Sesekali sebuah senyuman mengambang di wajahnya saat bayangan Toni bermain di benaknya.
"Toni, Toni.. Loe tuh asli keren banget sih", kata Icha dalam hati. "Baik lagi. Nggak mandang gue yang masih SMU ini. Gue bener-bener naksir elo. Loe tuh udah nyuri hati gue tau nggak?"
"Aqua...Aqua...Aquanya, Mbak? Mumpung dingin", seorang bocah penjual Aqua menyadarkan Icha dari lamunannya. Icha menoleh ke arah penjual Aqua tersebut.
"Hmm... Kayaknya segelas Aqua dingin boleh juga nih buat nyegerin gue", pikirnya. Icha membuka tas sekolahnya, berusaha mencari dompetnya. Tapi ia tidak berhasil menemukannya.
"Aneh", batinnya. Ia yakin betul menyimpan dompetnya di dalam tas. Malah ia ingat persis, ia sempat mengeluarkannya saat membayar makanan bersama Toni tadi".
"Bersama Toni!", pekik hati Icha. Tiba-tiba ia teringat kejadian yang menimpa Wulan, teman sekelasnya beberapa hari yang lalu. Ia kehilangan dompet setelah berkenalan dengan seorang cowok. Kalau nggak salah ciri-ciri cowok itu bertubuh tinggi, berkacamata dan memiliki senyum manis yang hangat.
"Oh, Tuhan!", Icha merasa sekujur tubuhnya lemas. "Itu kan juga ciri-ciri Toni. Jadi... Toni, kamu ternyata bukan saja mencuri hatiku, tapi juga dompetku".
* * *

Keatas