|
Suara pembaruan
online
Potensi Pariwisata Tasikmalaya Belum
Dimanfaatkan Secara Optimal
TASIKMALAYA - Bangkit dan
mengejar ketertinggalan merupakan perjuangan keras yang kini
diupayakan Pemda Dati II Tasikmalaya, Jawa Barat. Betapa
tidak, kabupaten ini pernah dilanda bencana dengan
meletusnya gunung Galunggung tahun 1982. Juga kerusuhan
massa 26 Desember 1996.
Tetapi peristiwa tersebut
tidak memupuskan semangat untuk membangun daerah. Berbagai
upaya terus dilakukan dilakukan untuk kembali mendandani
daerah itu. Bagaimana hasil pembangunan yang telah dicapai
di Kabupaten Tasikmalaya?
Kabupaten Tasikmalaya
memiliki luas 268.047 hektare, berpenduduk 1,823 juta jiwa.
Secara administratif kabupaten ini terdiri dari satu Kota
Administratif (Kotif), delapan wilayah pembantu bupati, 30
kecamatan, 17 perwakilan kecamatan, 397 desa, dan 15
kelurahan.
Pembangunan dan
perkembangan perekonomian Kabupaten Tasikmalaya, memang
tampak menggembirakan. Pada tahun 1994, misalnya, PDRB
(produk domestik regional bruto) berdasarkan harga yang
berlaku mencapai Rp 2,003 triliun dengan laju pertumbuhan
ekonomi 6,06 persen per tahun. PDRB per kapita pada 1994
mencapai Rp 1.078.444.
Bupati Tasikmalaya, H
Suljana WH dan Wakil Bupati H Oman Rusman baru-baru ini
mengatakan, wilayahnya yang luas dengan berbagai potensi
alam yang berharga, serta didukung oleh masyarakatnya yang
dinamis dan jiwa wirausaha yang tinggi, mendorong optimisme
bahwa Tasikmalaya akan berkembang di masa datang.
Dengan melihat
permasalahan yang ada, pemda terus berusaha mengejar
ketertinggalan dengan berbagai program pembangunan. Antara
lain memanfaatkan potensi sumber daya alam yang begitu
besar, terutama di sektor-sektor pertanian, industri,
pertambangan dan kepariwisataan. Di sektor-sektor tersebut,
masih terbuka peluang bagi investor yang berminat menanam
modalnya.
Bupati Tasikmalaya juga
optimis, potensi sumber daya alam tersebut bisa memberikan
keuntungan apabila dikelola dengan tepat. Sebab, dari kajian
ekonomi makro terdapat beberapa sektor yang memiliki tingkat
laju pertumbuhan di atas 7 persen. Yaitu sektor perbankan
dan lembaga keuangan lainnya (9,23 persen), sektor
bangunan/konstruksi (8,72 persen), pertambangan dan
penggalian (7,34 persen), pertanian (7,33 persen),
angkutan/komunikasi (7,01 persen).
Ditilik dari segi
perwilayahan, pembangunan di Dati Tasikmalaya dibagi ke
dalam enam sub-wilayah pembangunan (SWP). Yakni SWP Kota
Tasikmalaya, SWP Ciawi, SWP Manonjaya, SWP Singaparna, SWP
Bantarkalong, dan SWP Cikatomas.
Dalam membangun wilayah
tersebut, Wakil Bupati, H Oman Rusman mengatakan, beberapa
upaya yang telah dilaksanakan. Misalnya membangun dan menata
objek wisata, membangun dan meningkatkan jalan-jalan di desa
tertinggal.
Khusus desa tertinggal, di
Kabupaten Tasikmalaya terdapat 57 desa, sebagian besar
berada di Tasikmalaya bagian selatan. Ketertinggalan selain
disebabkan faktor alam yang kurang mendukung, juga sarana
dan prasarana perhubungan yang masih minim.
Perekonomian desa-desa
tersebut, relatif tertinggal. Hasil bumi sulit dipasarkan,
sementara harga kebutuhan pokok dan bahan bangunan menjadi
mahal, karena penduduk harus membayar ongkos angkut yang
cukup besar.
Pertambangan
Sementara itu, potensi
pertambangan yang dimiliki Tasikmalaya tak kalah dengan
daerah lain. Misalnya, bentonit terdapat di Kecamatan
Karangnunggal, Cikatomas, Cibalong dan Cikalong dengan
cadangan jutaan ton.
Gips terdapat di Desa
Cidadap, Kecamatan Karangnunggal dengan cadangan 200 ribu
meter kubik. Kalsit di Desa Ciawang Kecamatan Sukaraja dan
di Desa Cigunung Kecamatan Cibalong dengan cadangan jutaan
ton. Di Desa Margaluyu Kecamatan Pancatengah terdapat
cadangan 63,73 juta ton.
Kaolin terdapat di Desa
Kadipaten Kecamatan Ciawi, Kecamatan Manonjaya dengan
cadangan 123,44 ribu ton (sudah dieksploitasi). Di Cipatujah
cadangannya jutaan ton, namun belum ada penelitian.
Fosfat terdapat di
Kecamatan Kawalu, dengan cadangan 1,09 juta meter kubik.
Sedangkan di Desa Puspahiang, Sukaraja belum ada penelitian.
Zeolit terdapat di Kecamatan Cikalong dengan kandungan
terdapat pada areal 51,2 hektare, Karangnunggal dengan
kandungan 46 juta ton, Cipatujah dengan kandungan 15 juta
ton.
Berdasarkan eksplorasi
logam mulia di daerah pegunungan selatan Kabupaten
Tasikmalaya, yang pernah dilakukan Direktorat Sumber Daya
Mineral, maka daerah yang memiliki prospek cerah penambangan
logam mulia terdapat di kecamatan-kecamatan Cineam, Salopa,
Cikatomas, Cipatujah-Cikalong, Toblong, Singajaya.
Selain itu, Tasikmalaya
merupakan daerah industri kecil dan kerajinan, termasuk
industri kecil pedesaan. Industri kerajinan ini memiliki
tradisi pertumbuhan yang cukup panjang, sehingga aktivitas
tersebut mendapat tempat yang kokoh dalam kehidupan
masyarakat di sini. Dan industri kecil yang tumbuh tentunya
ada yang bersifat turun-temurun dan berdasarkan kreativitas
masyarakat. Juga yang tumbuh berdasarkan rangsangan dari
luar maupun pembinaan dari instansi terkait.
Dilihat dari PDRB sektor
industri mencapai 8,27 persen menduduki urutan kelima
setelah sektor pertanian 28,38 persen, sektor perdagangan,
hotel dan restoran 23,17 persen, jasa-jasa 15,54 persen dan
bangunan/konstruksi 11,63 persen.
Potensi industri kecil
tampak dari beberapa indikator, pada tahun 1995 terdapat
nilai produksi Rp 342,9 miliar, menyerap tenaga kerja
114.117 orang, dan nilai ekspor 3.183.983 dollar AS.
Sedangkan sentra industri
kecil di Tasikmalaya sampai tahun 1995 secara kumulatif
sebanyak 117 buah sentra. Antara lain sentra industri kecil
pangan 31, sandang dan kulit 24, kimia dan bahan bangunan 7,
logam 5, kerajinan dan umum 50.
Pariwisata
Di bidang pariwisata,
objek wisata yang sudah di Tasikmalaya di antaranya
pemandian air panas kawah gunung Galunggung maupun Kampung
Naga. Sedangkan di Tasikmalaya Selatan, kaya akan panorama
alam. Terdapat tujuh obyek wisata yang ditawarkan kepada
wisatawan yang berminat. Ketujuh objek wisata tersebut yaitu
Taman Lengsar di pantai Sindangkerta, suaka Penyu Hijau,
pantai Cipatujah, Pantai Cikalong, pemukiman nelayan
tradisional Pamayangsari dan Pantai Karang Tawulan.
Berdasarkan pengamatan,
potensi kepariwisataan di Tasikmalaya Selatan masih belum
ditata dengan baik. Tak heran hingga dari potensi yang
dikembangkan itu masih belum membawa manfaat yang optimal.
Dalam pengembangan pariwisata, harus didengar keinginan dan
harapan masyarakat setempat agar pembangunan daerah wisata
tidak menyimpang dari tujuan semula, dalam arti masyarakat
setempat turut menikmati hasilnya.
Padatahun 1997, Pemda Dati
II Tasikmalaya juga merencanakan akan mengembangkan
objek-objek wisata pemandian air panas di Cipanas Pamoyanan,
Kecamatan Ciawi dan Cipanas Cipacing di Kecamatan
Pagerageung. Selain itu, pengembangan objek wisata Situ
Sangiang di Kecamatan Sukaraja. Di lokasi ini terdapat objek
menarik seperti danau, lokasi pemancingan, jaring apung,
perkemahan.
Sedangkan potensi yang
dimiliki Tasikmalaya di bidang pertanian tanaman pangan
yaitu padi sawah dengan pengembangannya berada di 12
kecamatan. Areal pengembangannya 54.582 hektare, di
antaranya pengairan teknis 7.468 hektare. Sedangkan untuk
padi gogo, daerah pengembangannya di 11 kecamatan seluas
12.000 hektare. Tanaman jagung pengembangannya berada di 7
kecamatan seluas 9.300 hektare dan kedelai pengembangannya
di 6 kecamatan seluas 7.000 hektare.
Bagaimana tingkat
pendapatan petani di kabupaten ini? Tingkat pendapatan
petani merupakan tolok ukur terhadap keberhasilan petani
dari usahataninya. Pada usahatani, pendapatan petani
diperoleh dari hasil usaha komoditas yang diusahakan berupa
produk hasil panenan yang dinyatakan dalam nilai
uang.
Perhitungan pendapatan
pendapatan petani dilakukan oleh Lembaga Penelitian
Universitas Padjadjaran bekerja sama dengan Dinas Pertanian
Tanaman Pangan Jabar (1996) pada pertanian lahan basah di
Kecamatan Indihiang dan Manojaya. Sedangkan lahan kering di
Kecamatan Karangnunggal dan Salopa.
Pada kelompok luasan lahan
kurang dari 0,5 hektare, petani yang berusaha tani kurang
lebih 70 persen, baik untuk lahan basah maupun lahan kering.
Rata-rata garapannya berkisar 0,29-0,32 hektare. Sebesar 20
persen petani responden di Tasikmalaya menggarap lahan
dengan luasan 0,5-1 hektare, dengan rata-rata garapan 0,7
hektare. Hanya 10 persen petani responden yang menggarap
lahan lebih dari 1 hektare.
Pendapatan
Berdasarkan luas
garapannya, petani responden yang menggarap lahan kurang
dari 0,5 hektare lahan basah, rata-rata tingkat pendapatan
usaha tani keluarga tercatat Rp 855.204 per tahun dan lahan
kering Rp 883.149 per tahun. Bila tidak memperhitungkan
pendapatan di luar usaha tani, tingkat pendapatan tersebut
belum bisa memenuhi target dalam Instruksi Gubernur (Ingub)
Jabar Nomor 5 tahun 1993.
Pendapatan petani
responden terendah pada petani lahan kering-basah di
Kabupaten Tasikmalaya, dengan nilai pendapatan usahatani
dengan memperhitungkan tenaga keluarga Rp 176.641 per tahun.
Komoditas yang diusahakan pada lahan tersebut adalah padi.
Lahan tersebut hanya ditanami satu kali dalam setahun (sawah
tadah hujan). Hasil panen padi rata-rata relatif rendah,
kurang lebih 4 ton per hektare.
Pendapatan dari usaha tani
pada luas garapan lahan 0,5-1 hektare, rata-rata Rp
1.468.607 per tahun untuk lahan basah dan Rp 1.273.159 per
tahun untuk lahan kering. Bila dikaitkan dengan Ingub Jabar
Nomor 5/1993, tingkat pendapatan usaha tani tersebut masih
belum mencapai target.
Di Kabupaten Tasimalaya,
lebih dari 90 persen pendapatan non-usaha tani menjadi
pendapatan utama petani responden. Untuk sementara,
pendapatan petani responden dari usaha tani, masih rendah
karena komoditas yang ditanam di lahan kering belum
menghasilkan.
Pada luasan lahan lebih
dari 1 hektar, pendapatan tertinggi diperoleh petani yang
berbasis lahan kering dengan bantuan tenaga keluarga yaitu
Rp 2,071 juta per tahun, sedangkan di lahan basah Rp 2,020
juta per tahun. Dengan nilai pendapatan tersebut, kelompok
petani responden ini belum juga memenuhi target yang
ditetapkan dalam Ingub Jabar Nomor 5 tahun 1993.
Berdasarkan luasan
garapannya, tingkat pendapatan petani dari lahan kering
lebih besar dibandingkan dengan petani lahan basah.
Tingginya biaya sarana produksi dan mahalnya upah tenaga
kerja mengakibatkan pendapatan dari usaha tani lahan basah
relatif kecil. Pendapatan petani terendah terdapat pada
responden pada basis lahan tadah hujan.
Menurut status pemilikan
lahan, pendapatan tertinggi diperoleh petani pemilik yang
menggarap lahan basah dengan luasan lebih dari 1 hektare.
Nilai pendapatannya mencapai Rp 3,8 juta per tahun. Pola
tanam yang dilaksanakan pada lahannya adalah
padi-padi-bera/palawija.
Kontribusi pendapatan
usaha tani dari usaha wiraswasta menduduki peringkat paling
tinggi yaityu 82 persen. Tingkat pendapatan dari usaha
sebagai makelar dan sopir memberikan nilai tertinggi bila
dibandingkan dengan sumber mata pencaharian non-pertanian
lainnya.
Pendapatan petani
responden yang berusaha ternak kambing dan domba yang
terdapat di Tasikmalaya menunjukkan tingkat cukup tinggi, Rp
1,584 juta per tahun bila dibandingkan dengan usaha di luar
usahatani tanaman pangan seperti perikanan, usahatani
campuran, ternak unggas.
Kendala
Titik berat pembangunan
jangka panjang kedua Kabupaten Tasikmalaya adalah bidang
ekonomi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Secara
lebih spesifik arahnya adalah pengembangan sumber daya
manusia, pembangunan yang berkelanjutan, pengembangan
kelembagaan sosial-ekonomi, pengembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi, dan konsolidasi perwilayahan pemerintahan dan
perwilayahan pembangunan.
Namun, tak dapat
dipungkiri bahwa dalam mengupayakan pembangunan di Kabupaten
Tasikmalaya, tidak sedikit kendala yang menghadang. Ini erat
kaitannya dengan kondisi geografis wilayah yang kurang
menguntungkan, tampak dari sebaran lahan kering yang kurang
subur lebih luas dibandingkan dengan lahan basah.
Juga terdapatnya desa-desa
terpencil yang karena kondisi topografinya, sulit untuk
mendapatkan prasarana perhubungan yang memadai serta
terdapatnya beberapa daerah yang termasuk daerah rawan
bencana alam. Selain itu, terbatasnya sumber daya air di
beberapa daerah kritis, terutama di daerah selatan
Tasikmalaya.
Dalam meningkatkan
prasarana dan sarana daerah, pemda akan mengembangkan dan
meningkatkan pendayagunaan sumber daya air untuk keperluan
pertanian dan non-pertanian, melalui pembangunan dan
rehabilitasi prasarana pengairan antara lain penuntasan
pembangunan bendung Padawaras serta rehabilitasi beberapa
daerah irigasi lainnya. Misalnya irigasi Cikunten I dan
Cikunten II, normalisasi Situ Gede, dan irigasi
pedesaan.
Di samping itu,
meningkatkan pengendalian banjir dan konservasi sumber daya
air terutama untuk mengamankan daerah produksi pertanian di
daerah tangkapan air Cilangla, Ciwulan, Citanduy dan
membangun prasarana dan pengendalian banjir lahar yang
berasal dari Gunung Galunggung serta prasarana pengaman
pantai di wilayah objek wisata pantai selatan
Tasikmalaya.
Tantangan dalam membangun
daerah Tasikmalaya merupakan tugas yang tidak ringan.
Potensi sumber daya yang ada memang perlu dimanfaatkan
optimal. Untuk itu dukungan dari sumber daya manusia beserta
tokoh-tokoh masyarakat sangat diharapkan dalam rangka
membangun Dati II Tasikmalaya mengejar ketertinggalannya
dari Dati II lainnya di Jawa Barat.
|