AHLAN WA SAHLAN FI HOMEPAGE AMATIR TATANG

 

Philoshopy Kebenaran

Di dunia ini konflik bisa terjadi karena setiap kelompok mempertahankan kebenarannya. Dan kebenaran yang dipertahankan itu sesungguhnya hanyalah pengejaran terhadap sesuatu yang menyenangkan diri pribadi belaka. Apakah sesungguhnya yang kita kejar-kejar itu? Sesuatu yang kita kejar adalah sesuatu yang belum tentu ada, yang belum terjadi, yang belum berada di tangan kita. Kita selalu mengejar sesuatu yang lain daripada yang telah ada. Kita selalu ingin yang BEGITU, karena kita tak menghargai lagi yang BEGINI. Pengejaran terhadap yang begitu tentu saja saja membuat yang begini menjadi hilang artinya, hilang keindahannya. Yang tak ada selalu dicari-cari, dirindukan, dianggap paling baik, paling indah, sehingga anggapan ini membuat apa yang sudah ada menjadi kelihatan buruk, bahkan tidak kelihatan lagi.

Manusia selalu menghargai yang belum diperoleh, memandang remeh yang sudah berada di dalam tangannya. Inilah sumber dari segala pengejaran yang tak dapat dihindarkan lagi pasti mendatangkan pertentangan, kekecewaan, dan penderitaan. Pengejaran membuat mata buta dan pengejaran itulah yang menimbulkan konflik, yang bermula dari batin sendiri hingga meluas menjadi konflik antar bangsa. Hal itu terjadi karena kita selalu terbiasa menunggangi orang-orang sekitar kita untuk memenuhi keinginan kita. Bermula dari teman, saudara, keluarga, suku, atau kelompok. Bahkan jika kita seorang penguasa maka kita akan menunggangi negara untuk mewujudkan ambisi kita.

Jadi sumber dari segala kebahagiaan dan kesenangan berada di dalam diri sendiri. Demikian pula sumber dari segala bencana seperti perang, penindasan, dsb. Kita semua bertanggungjawab terhadap terciptanya peradaban yang keras seperti sekarang ini. Kita semua yang harus menanggulangi. Bukan dengan cara merubah keadaan atau merubah orang lain melainkan melakukan perubahan pada diri sendiri. Selama diri kita tak berubah maka keadaan yang menjadi akibat dari sikap batin dan perbuatan kita itu tak mungkin dapat berubah pula. Perubahan diri sendiri hanya mungkin dapat terjadi jika kita mengenal diri sendiri, kemunafikan diri sendiri, kekotoran sendiri. Ini baru terlaksana kalau kita membuka mata mengamati diri sendiri lahir batin setiap saat.

Berbagai macam agama telah memenuhi dunia ini dan di anut oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Tetapi mengapa dunia masih begini kalut, mengapa mengapa perang masih selalu merajalela dan berkobar, mengapa kebencian, pertentangan, permusuhan masih selalu memenuhi kehidupan kita ini? Kalau kita mau membuka mata melihat keadaan seperti apa adanya, maka akan tampaklah bahwa semua agama atau kepercayaan apapun hanyalah menjadi semacam tempat pelarian saja bagi kita. Kita ini mau enaknya saja, hanya mau memperoleh jaminan ketenangan dan surga dari agama yang kita anut, tanpa menghayati isi atau intinya. Orang yang betul-betul beragama, bukan hanya mengaku beragama, tidak akan mengenal kebencian, tidak kan mengenal permusuhan. Sayang, kita hanya pandai mengaku saja bahwa kita beragama. Padahal agama sesungguhnya tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Agama dalam arti yng sebenarnya adalah hidup benar, hidup bijak, hidup bersih. Dan ini baru mnjadi kenyataan kalau batin kita penuh dengan sinar cinta kasih. Tanpa adanya sinar cinta kasih dalam batin, maka semua yang kita lakukan adalah pura-pura dan palsu belaka.

Dapatkah kebaikan dipelajari? Kebaikan barulah sejati kalau menjadi sifat, seperti harum pada bunga. Kebaikan yang telah berada dalam diri manusia menuntun semua gerak-gerik perbuatan si manusia itu sehingga segala yang dilakukan pun tentu baik tanpa disadari lagi bahwa itu adalah kebaikan. Sebaliknya, kebaikan yang dipelajari, dilatih, dan diusahakan hanyalah akan menjadi pengetahuan belaka dan kalaupun ada perbuatan yang dianggap baik oleh orang yang menyelipkan kebaikan dalam perbuatannya, maka kebaikan itu hanyalah menjadi suatu cara untuk mencapai suatu tujuan, dan karenanya menjadi kebaikan palsu. Seperti topeng belaka.

Kalau kita melakukan sesuatu yang sebelumnya sudah kita anggap suatu kebaikan, tentu tersembunyi pamrih tertentu, baik pamrih lahir maupun batin yang kita lakukan dibalik perbuatan yang kita lakukan itu. Dan kebaikan yang diusahakan, yang berpamrih, bukanlah kebaikan namanya, melainkan palsu, hanya merupakan cara atau jembatan untuk memperoleh yang dipamrihkan tadi. Kebaikan seperti itu serupa dengan seorang anak yang menyapu lantai dengan tekun dan bersih namun pekerjaan itu dilakukan karena takut dimarahi orangtuanya atau pekerjaan itu dilakukan untuk mengharap pujian orangtuanya. Sungguh jauh bedanya dengan kalau anak itu menyapu lantai dengan bersih karena memang dia mencintai pekerjaannya itu, karena dia memang suka melakukan pekerjaan itu tanpa pamrih apa apa, bahkan dia tidak ingat lagi bahwa dia melakukan suatu kebaikan.

Kebaikan akan otomatis ada di dalam setiap tindakan setelah keburukan menghilang dari batin. Yang terpenting adalah bukannya menghafal segala macam kata mutiara, filsafat, ataupun kebatinan, melainkan membuka mata dengan penuh kewaspadaan untuk mengenal diri pribadi. Seribu satu macam pelajaran tentang kebaikan atau tentang bagaimana kita harus menjadi orang baik hanya merupakan teori-teori kosong belaka dan semua pelajaran itu hanya menjadi alat untuk membanggakan diri sebagai orang yang pandai, alat untuk berdebat disaat ada pembicaraan tentang kebajikan dan sebagainya, alat pemanis bibir agar dianggap sebagai orang yang bijaksana dan pandai.

Kebaikan akan timbul jika diri kita telah dipenuhi rasa cinta kasih pada sesama manusia. Sebagai contoh, di saat kita memberi uang kepada pengemis. Kita melakukannya bukan karena kita mengharap pahala surga, dan juga bukan karena kita tahu bahwa masyarakat dan kita sendiri menganggap itu sebagai suatu kebaikan, melainkan hanya karena kita iba dan ingin pengemis itu mendapatkan sedikit keringanan hidup dengan bantuan sedekah tersebut. Jadi seorang yang betul betul baik justru sering tidak ingat bahwa dia telah melakukan suatu kebaikan. Berbuat baik bukan karena hasil latihan adalah suatu kewajaran, dan hal ini baru mungkin apabila ada landasan cinta kasih. Kalau sudah begini maka kebahagiaan hidup tidak perlu lagi dikejar-kejar, karena setiap hari selalu menjalani hidup dengan batin yang penuh cinta kasih.

Kebaikan tanpa cinta kasih adalah kebaikan buatan yang di dalamnya tersembunyi pamrih untuk memperoleh imbalan baik itu berupa pujian masyarakat, pujian dari ego diri sendiri yang selalu menganggap diri sebagai orang yang sudah baik, bahkan yang juga parah adalah kebaikan yang dilakukan hanya karena mengharapkan pahala surga belaka, tanpa adanya rasa cinta kasih yang memenuhi batin.

Jika kita berbicara mengenai cinta, sering terjadi kita terlalu sering mengotori cinta dengan berbagai penafsiran sehingga cinta yang sejati menjadi suram dan tidak nampak lagi. Kata "cinta" yang kita obral dan dengan mudah sekali kita ucapkan itu sesungguhnya pantas kita selidki lagi apakah semua itu benar-benar cinta. Sukar untuk menyelidiki pernyataan cinta orang lain, akan tetapi jelas kita dapat menyelidiki pernyataan cinta kita sendiri dan mari kita sama menjenguk dan menyelami.

Si suami berkata kepada isterinya, atau isteri kepada suaminya, "aku cinta kepadamu," akan tetapi biasanya di dalam pernyataan cinta ini terkandung sebab atau pamrih. Aku cinta padamu karena engkaupun cinta padaku, atau aku cinta padamu karena engkau memuaskan hatiku, melayaniku, menyenangkan hatiku. Jadi pada hakekatnya, cinta macam ini adalah suatu jual beli saja. Kita membeli dengan cinta untuk mendapatkan kesenangan.

Marilah kita bersikap jujur dan meneliti diri sendiri. Tidakkah demikian keadaannya? Jika pada suatu waktu si dia yang kita cinta karena pelayanannya itu, baik sex, sikap manis, uang, atau apa saja, menolak untuk memberi pelayanan itu, maka kita pun menjadi marah. Dan cintapun kabur entah kemana. Cinta seperti itu sifatnya hanya merupakan jembatan, untuk penyeberangan kita ke arah kesenangan. Cinta seperti itu membuat kita ingin menguasai, memiliki, dimiliki, memberi, diberi, dan terutama sekali menginginkan dia untuk menjadi hak milik kita dengan hak penuh dan tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun juga. Dan kalau pada suatu waktu dia yang kita cinta itu bermanis-manis dengan pria atau wanita lain, marahlah kita dan perpisahan pun terjadilah. Cinta seperti itu hanya merupakan api yang dihidupkan dengan bahan bakar berupa kesenangan untuk diri kita sendiri. Api itu masih bernyawa selama bahan bakarnya masih ada. Kita masih mencinta dia selama dia yang kita cinta itu masih mendatangkan kesenangan, akan tetapi kalau bahan bakar itu habis, cinta itu pun padamlah. Bahkan cinta kita bisa saja berubah jadi benci. Apakah seperti itu yang kita sebut cinta sejati? Jawabannya akan kita peroleh jika kita selalu membuka mata batin kita dan mengambil pelajaran dari hari-hari hidup kita untuk mengenal diri pribadi secara utuh.

Kebenaran

Ada satu hal menarik ketika saya membaca skripsi teman saya, pada lembar pendahuluan teman saya menulis tentang kebenaran, entah terminologi kebenaran jenis apa yang di anut olehnya, teman saya itu menulis, "Secara alamiah, kebenaran itu ada 3 (tiga) jenis" :

  1. Kebenaran personal, yaitu sesuatu yang di anggap benar menurut pendapat masing-masing.
  2. Kebenaran publik, yaitu sesuatu yang dianggap benar oleh publik dan menjadi dasar kebenaran secara umum.
  3. Kebenaran dari sang Maha Segalanya, dan inilah kebenaran yang hakiki.

Secara generalisir, kebenaran itu sangatlah abstrak, terminologi ilmiah bukan merupakan suatu patokan, karena begitu buramnya falsafah keadilan yang memang di cerminkan dari hukum. Akhir-akhir ini ada langkah maju ( kalau bisa di katakan demikian) dari para penguasa untuk memulai sesuatu yang disebut keadilan, yang pada dasarnya harus berlandaskan kebenaran.

Setelah begitu bertaburannya keluhan akan ketidak adilan dan sejenisnya, langkah Tim LSM mungkin dapat merupakan suatu solusi, walau sangat rentan terhadap masalah, karena pada dasarnya asumsi komunitas terhadap kebenaran masih bersifat "keuntungan" yang sangat subjektif. Artinya jika secara pribadi seseorang dirugikan maka dia akan berusaha untuk mengusung nama kebenaran ( dan terkadang segala carapun dilakukan), sedangkan ketika dia diuntungkan oleh kondisi maka dia akan berusaha untuk menenggelamkan makna adil walau itu sangat nyata di hadapannya.

Secara alamiah ini merupakan sikap individu yang normal, karena siapa sih yang ingin dirugikan ??. Walau sebenarnya inilah sikap yang merusak makna keadilan, minimal keadilan dalam bingkai yang kita buat bersama dalam komunitas kehidupan dengan makna yang sangat sederhana. Tidak usahlah kita bicara tentang terminologi hukum dan segala definisi, serta aturan-aturan bakunya, kalau kita masih terus melakukan "kebijaksanaan" individu dalam melihat perspektif keadilan itu sendiri.

Dan ada satu hal lagi yang sangat mengerikan, jika kita berusaha membuat suatu makna kebenaran dalam bingkai pribadi menjadi suatu opini publik dengan sedikit bumbu-bumbu logika. Karena secara tidak langsung kita telah membuat suatu asumsi keresahan yang sangat fatal. Suatu opini kebenaran adalah merupakan kewajiban untuk di sampaikan agar menjadi pandangan, asalkan tetap dalam wadah yang tidak memuat tendensi apapun di dalamnya. Karena kebaikan umum adalah segala-galanya, dan bukan menjadikan ular dalam pemikiran yang menggerogoti kebaikan di dalam ide-ide di otak kita.

Menciptakan suatu komunitas yang saling menghargai, saling menghormati dan saling membantu, bukanlah tugas yang sangat mudah. Suatu komunitas mustahil akan menjadi "sopan" hanya dengan suatu mantra evacuate atau satu lusin lebih pejabat keadilan. karena tools-tools itu hanya dapat menangkap sesuatu yang "kasat mata". Padahal masih banyak ideologi-idoelogi "ular" berselimut kebenaran yang masih menggerogoti faham-faham keadilan yang ada dalam diri kita.

Kebenaran bukan hanya milik kita, dan bukan hanya menurut kita, kebenaran adalah milik bersama, jadi mari kita lakukan secara bersama-sama dalam naungan sebuah system wadah...TANPA TENDENSI apapun di dalamnya.

 

1 1 1