|
NASEHAT KEPADA
PEMUDA IKHWANUL MUSLIMIN
Oleh : Syeikh Al-Mujahid Abu
Aiman Adz-Dzawahiri
Alih bahasa : Izzi
Rasulullah saw bersabda: “Agama
itu nasehat”. (Muslim).
Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk
isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai
hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayatayat
Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya
untuk melihat (tandatanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai
telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayatayat
Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih
sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (Al-A’raf
179)
Allah berfirman: “Hampir-hampir
(neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan
ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir). Penjaga-penjaga
(neraka itu) bertanya kepada mereka: "Apakah belum pernah
datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?"
[67.9] Mereka menjawab: "Benar ada, sesungguhnya telah
dating kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan
(nya) dan kami katakan: "Allah tidak menurunkan sesuatu
pun, kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar".
[67.10] Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan
atau
memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni
neraka yang menyala-nyala". [67.11] Mereka mengakui dosa
mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang
menyalanyala. (Al-Mulk 8-11)
Wahai pemuda Ikhwan: Kami sampaikan
ayat-ayat tadi sebagai nasehat bagi kalian supaya kalian mendengar
dan berfikir, karena suatu kaum yang menutup akal mereka menyumbat
telinganya dari kebenaran maka mereka akan menuju ke tempat
seperti yang disebutkan dalam ayat.
Wahai pemuda, janganlah kalian
menjadi seperti yang difirmankan Allah: “Dan apabila dikatakan
kepada mereka: "Ikutilah apa yang diturunkan Allah".
Mereka menjawab: "(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti
apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya".
Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun
setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala
(neraka)?” (Lukman: 21)
Wahai pemuda, apakah kalian
ridha menamakan demokrasi sebagai syareat? Dan agama tidak melarang
dalam urusan ini? Apakaha kalian ridha untuk tidak mengkafirkan
pemerintahan-pemerintahan taghut yang tidak menegakkan syareat
islam? Apakah kalian ridha bila jama’ah kalian berbaiat
kepada para thagut kafir? Apakah kalian ridha menamakan jihad
fisabilillah dengan ‘metode keganasan’ padahal Islam
berlepas diri dari panamaan ini? Bila diantara kalian memang
bodoh dalam persoalan ini, maka telah datang kebenaran pada
kalian dalam makalah ini dan makalah-makalah lain yang telah
kami sebar luaskan mengenai kesesatan pemimpin-pemimpin Ikhwan,
“Dan barang siapa yang bermaksiat kepada Allah dan rasul-Nya
maka dia telah sesat dalam kesesatan yang nyata”. (Al-Ahzab:
36).
Hujah
tentangnya telah tegak, tidak ada alasan udzur lagi setelah
ini dalam persoalan menjauhi ahlu dholal dan menegakkan jihad
kepada pemerintahan kufar.Bila kalian tidak menerima kenyataan
ini, berarti kalian mengikuti dunia yang kalian incar serta
ashabiyah yang terbentuk dalam jama’ah kalian, padahal
Allah berfirman: “Katakanlah: "Jika bapak-bapak,
anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta
kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri
kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai,
adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan (dari)
berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan
keputusanNya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang fasik.” (Taubah 24)
“Dan ketahuilah, bahwa
hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya
di sisi Allahlah pahala yang besar.” (Al-Anfal: 28)
Bila kalian beralasan bahwa
pendapat inilah yang diikuti oleh mayoritas manusia maka Abdullah
bin Mas’ud ra telah berkata: “Jama’ah ialah
apa-apa yang sesuai dengan al-haq walupun kalian sendirian mengikutinya”.
(Ibnu Asakir, di shahihkan oleh Al-Bani).
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:
“Betapa baiknya perkataan Abu Muhammad Abdurrahman bin
Ismail yang dikenal dengan nama Abu Syamah dalam kitab Al-Hawadit
wal Bid’I, sebagaimana beliau menyuruh untuk beriltizam
kepada jama’ah, maksudnya yaitu iltizam dan mengikuti
(itiba’) pada al-haq walauapun yang mengikutinya sedikit
dan yang mengingkarinya banyak. Sebab yang dinamakan al-haq
ialah jama’ah perdana seperti di masa Nabi saw dan sahabat.”
(Ighatsatul Lahfan 82-83)
Islam muncul asing dan akan
kembali asing sebagaimana kemunculan pertama kalinya, maka beruntunglah
bagi ghuraba (orang yang terasing).
Perhatikanlah wahai saudaraku,
sesungguhnya Abdullah bin Mas’ud berkata: “Janganlah
kalian taqlid pada agama seseorang, jika dia beriman maka kalian
ikut beriman namun jika mereka kafir maka kalian ikuti kekafirannya.
Sesungguhnya tidak ada uswah kecuali dalam hal baik”.
(I’lam Muwaqi’in 62/176)
Sesungguhnya aku kawatir pada
kalian wahai akhi, pada suatu hari kalian berkata penuh penyesalan;
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang lalim menggigit
dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku
mengambil jalan bersama-sama Rasul." [25.28] Kecelakaan
besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan
itu teman akrab (ku). [25.29] Sesungguhnya dia telah menyesatkan
aku dari Al Qur'an ketika Al Qur'an itu telah dating kepadaku.
Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia”. (Furqan
27-29)
Aku takut engkau memohon: “Dan
mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami
telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami,
lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). [33.68]
Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat
dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar". (Al-Ahzab
67-68)
Dimana akalmu ya akhi….?
Ya akhi…Sesungguhnya Islam
sangat jauh dari konsep-konsep parlemen dan duduk-duduk satu
majlis dengan mujrimin kafirin. Sesungguhnya Islam jauh dari
perkumpulan orang-orang yang rasuk dan tamak seperti ketamakan
dan kerakusan mereka pada kehidupan dunia.
Ketika Nabi mengirim utusan
menyeru Heraclus agar dirinya masuk Islam, Heraclus memerintah
bawahannya untuk mencari seseorang dari kaum Nabi saw di Syam
untuk mendapatkan informasi. Maka mereka mendatangkan Abu Sufyan
yang sedang berdagang di Syam. Ketika itu tahun 6 H dan Abu
Sufyan masih musyrik Heraclus bertanya: “Apakah pengikutnya
(Nabi) dari orang-orang mulia atau orang-orang lemah?”
Abu Sufyan menjawab: “Orang-orang lemah”. Heraclus
berkata: “Mereka inilah pengikut para rasul”. (Bukhari
Muslim)
“Dan Kami hendak memberi
karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu
dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka
orang-orang yang mewarisi (bumi), [28.6] dan akan Kami teguhkan
kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada
Firaun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan
dari mereka itu”. (Al-Qashas 5-6)
walhamdulillah.
***
* Subhanallah….Ketika saya bertanya kepada salah seorang
dari Ikhwan mengenai sebab keharusan mereka memilih calon presiden
yang telah ditentukan oleh para pemimpin jama’ah, akhi
tersebut menjawab: “Ini adalah perintah, barangsiapa tidak
mentaatinya maka dia berdosa dan bila ketahuan tidak memilih
maka akan segera dikeluarkan dari partai”. La haula wala
quwwata illa billah.
|