MINBAR AT TAUHID DAN AL JIHAD
Home | Aqidah | Fiqh | Jihad | Bahst | Syair    
   
 

URWATUL WUTSQA


Penulis : Syeikh Al-Mujahid Abu Muhammad Al-Maqdisi (semoga Allah bebaskan dari tahanannya)
Judul asli : Tauhidullah Haqqullah alal Ibad “AlUrwatul wutsqa”
Alih bahasa : Izzi

Pertama yang paling pertama Allah wajibkan atas hamba sebelum diwajibkan atasnya shalat, zakat, siyam, haji dan seluruh faridhah-faridhah lainnya adalah Tauhid "Pahamillah bahwasanya Dia tidak ada Illah selain Allah" (Muhammad 19). Tidaklah Allah Yang maha Suci ciptakan hambanya kecuali untuk menerapkan urusan yang agung ini "Dan tidaklah Aku ciptakan manusia dan jin kecuali untuk menyembahKu" (Adzariyat 57). Kecuali hanya untuk mentauhidkanKu (menyembah hanya kepadaKu saja), inilah La illaha illallah yang bermakna 'La ma`budun bihaqqin illallah' Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya kepada Allah.

Bahwasanya tauhid merupakan tujuan yang dengannya diutuslah para rasul "Dan sungguh telah Kami utus pada masing-masing ummat para rasul (untuk menyerukan) sembahlah oleh kalian Allah dan tinggalkanlah para thoghut". "Sembahlah Allah saja dan Jauhilah thoghut". Semua ayat ini bermakna ajakan pada La illaha illallah, sebab kalimat ini mencakup atas 'An-Nafyu' peniadaan dan 'Al-Itsbat' penetapan.

Maksud dari pada An-Nafyi berarti : 'La illaha' = Ikrar tidak ada sesembahan di dunia ini
Maksud dari Al-Itsbat berarti : 'Illallah' = Ikrar yang patut disembah hanyalah Allah.
Laillaha menuntut hamba menjauhi setiap hal yang bisa disembah selain Allah, yaitu para thoghut jika thogut itu ridha diibadahi. Illallah menuntut hanya menetapkan ibadah pada Allah saja. Seluruh hamba harus mengejewantahkan kaliamt agung ini secara keseluruhan antara An-Nafyi dan Al-Itsbat. Menetapkan An-Nafyi saja tanpa Al-itsbat merupakan tindakan kufur dan ta`thil (mengada-ada), sedangkan menetapkan Al-Itsbat saja itu tidak cukup sebab bisa mengandung makna pengakuan akan sesembahan lain selain Allah. Maka para hamba harus mengakui Al-Itsbat dan An-Nafyi, menyembah Allah saja dan baro` (berlepas diri) serta mengkafirkan semua sesembahan selain daripadaNya. Bila hamba telah melakukan ini semua dapatlah dikatakan mengaplikasikan tauhid yang telah dibawa oleh para rasul.

Allah berfirman: “Dia menurunkan malaikat dengan perintahNya untuk menyampaikan wahyu kepada orang-orang yang dikehendakiNya diantara hamba-hambaNya yaitu : 'Berilah perintah olehmu, bahwa tidak ada Illah yang patut disembah kecuali hanyalah Aku, sebab itu bertaqwalah kepadaKu “ (An-Nahl 2)

“Dan Kami tidak pernah mengutus seorang rasulpun sebelumu (hai Muhammad), kecuali selalu Kami wahyukan kepadanya bahwa: Tidak ada Illah selain Aku karena itu sembahlah Aku” (Al-Anbiya: 25)
Rasulullah saw bersabda: “perkataan yang paling utama yang aku ucapkan dan juga diucapkan oleh para rasul sebelumku: La illaha illallah” (Bukhari).

Oleh sebab tujuan agung ini (tauhid) terjadi persengketaan antara rasul-rasul dan kaumnya, timbulah pergolakan, 'alwala wal baro` (loyalitas dan anti loyalitas), cinta dan benci, persahabatan dan permusuhan. Karena tauhid terbunuhlah banyak nabi-nabi serta penyingkiran, disiksa dan diusir para sahabat dari kota Makkah, begitu sebelum syariat shalat, zakat, haji dan kewajiban lain diperintahkan. Allah berfirman: “Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang rasul pemberi peringatan dari kalangannya sendiri. Orang kafir itu berkata : 'Ini adalah seorang pandai sihir yang banyak berdusta. Mengapa tuhan-tuhan yang sebanyak itu ia jadikan satu tuhan saja? Sungguh ini benar-benar merupakan suatu hal yang sangat mengherankan'”. (Sod 4-5)

Inilah fenomena 'urwatul wutsqa' (tali yang kuat) yang dengannya Allah memberikan jaminannya bagi para hambaNya bila mereka berpegang teguh pada tauhid, tidak ada jalan lain untuk menuju keselamatan kecuali menggenggam kalimat tauhid, “Tidak ada paksaan dalam memeluk agama, sebab sudah jelas jalan yang benar dari jalan yang salah. Barangsiapa yang inkar pada thoghut hanya beriman pada Allah berarti ia telah berpegang pada tali yang berbuhul kuat yang tidak mungkin putus” (2:257)

Tafsir ayat:
“Faman yakfur bi thoghut” Barangsiapa ingkar pada thoghut = An-Nafyi sebuah tuntutan La illaha.
“Wa yu`min billah” Dan beriman pada Allah = Al-Itsbat sebuah tuntutan Illallah
Sedang 'urwatul wutsqa' yang tidak ada seorangpun dapat selamat di dunia dan akherat kecuali berpegang padanya ialah = La illaha illallah.

Iman memiliki banyak cabang dan manusia berbeda-beda dalam keistiqomahan mengamalkannya, diantara mereka ada yang kuat memegang shalat, atapun sedekah, ataupun perbuatan-perbuatan terpuji saja. Tetapi semua amalan ini tidak cukup untuk menyelamatkan hamba tanpa 'urwatul wustqa'. Sekali-kali tak akan selamat tanpa ikatan yang agung ini (la illaha illallah) yang harus diaplikasikan sebelum mengamalkan cabang-cabang iman lainnya. Tanpanya tidak akan diterima amalan. Sebagai contoh Firaun ketika melihat kehancuran dan kematian menjemputnya mengikrarkan tauhid (namun keimanannya tidak diterima karena pengikraran diujung maut) “ Demi disaat Firaun itu telah hampir tenggelam, berkatalah ia: 'Aku beriman bahwasanya Ia tidak ada Illah kecuali Illah yang diimani Bani Israil dan aku sekarang jadi orang muslim'”. (Yunus 90)

Sebagai bukti akan agungnya urusan tauhid telah dinyatakan oleh Nabi saw dalam sebuah hadist shahih, bahwa langit dan bumi seandainya diletakkan pada sebuah papan timbangan dan La illaha illallah diletakkan pada papan lainnya sungguh berat timbangan itu akan condong pada La illaha illallah.

Tidak ada cobaan berat yang menghadang dari ujian membela tauhid. Apakah anda lupa pada doa ditengah kesempitan “Allah, Allah rabbku dan aku tidak mensyerikatkanNya dengan suatu apapun”. Makanya para nabi merupakan manusia yang paling paham dan faqih juga tergoncang dalam menghadapi dasyatnya membela tauhid , bertawasul dengan tauhid sebab mereka tahu dengan ilmu mereka bahwa tidak ada yang paling mampu kecuali Allah. Allah berfirman menceritakan kisah Yunus: “Lalu dia mendoa dalam (tiga rangkaian) kegelapan bahwa tidak ada illah selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang berbuat zhalim. Maka Kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan, begitulah Kami selamatkan orang-orang mukmin” (Al-Anbiya: 87-88)

Ketahuilah bahwa La illaha illallah memiliki beberapa syarat yang tidak akan sah kecuali dengannya:

1. Pemahaman tentang makna An-Nafyi dan Al-Itsbat “Fa`lam anahu la illaha illallah.

2. Yakin tanpa keraguan, seperti sabda Rasulullah saw “Manusia yang paling berhak mendapat syafaatku di hari kiamat yang berkata : la illaha illallah murni dari dalam qolbunya atau jiwanya” (Bukhari)

3. Shidiq tanpa kedustaan. Artinya tauhid tidak menerima orang yang berkata di mulutnya namun hatinya mengingkari seperti halnya orang muanfiq. Allah berfirman “Sesungguhnya orang-orang munafiq berada di intinya neraka”.

4. Ikhlas tanpa kesyirikan. Allah berfirman “Sesungguhnya berangsiapa syirik pada Allah, telah diharamkan baginya sorga”.

5. Mencintai kalimat ini dan yang berhubungan dengannya.

6. Tunduk dalam mengaplikasikannya. Wahb bin Munabih berkata: “La illaha illallah merupakan kunci pintu sorga. Setiap kunci pasti memiliki gerigi, siapa saja yang membuka dengan kunci yang memiliki gerigi yang pas, maka pintu akan terbuka. Sedangkan yang membuka pintu dengan gerigi yang salah maka pintu tidak akan terbuka”. Gerigi la illaha illallah yaitu rukun-rukun Islam, cabang-cabang iman dan yang melaziminya.

7. Menjauhi hal-hal yang membatalkan La illaha illallah seperti syirik.

Demikian sedikit penjelasan kalimat tauhid la illaha illallah yang kami terjemahkan dari Tauhidullah Haqqullah alal Ibad “AlUrwatul wutsqa” tulisan Syeikh Al-maqdisi dengan beberapa ringkasan.