|
BAHAYA TEKNOLOGI
(INFORMATIKA) DAN DAMPAKNYA PADA
KELURUSAN PEMIKIRAN KEISLAMAN MUSLIMIN
Arsadana 1415 H
A.
Pendahuluan
Teknologi selalu berhubungan dengan kreasi cipta manusia yang
dihasilkan dari buah teori dan pemikiran yang keduanya diolah
dari akal. Kecerdasan manusia merupakan suatu hal yang sangat
dibanggakan, karena dari benda inilah (dalam tanda kutip) besi
bisa terbang, atau mengapung diatas lautan luas, robotic, dan
sebagainya yang dahulu dianggap sebagai suatu fantasi belaka.
Sebelum suatu hasil produk dapat dinikmati, manusia harus merangkai
suatu logika algoritma yang mendasari proyek karyanya. Dalam
dunia Informatika kemampuan algoritma dan logika yang baik merupakan
tuntutan urgen. Orang yang algoritmanya baik insya Allah dengan
mudah ia dapat menulis program sofware yang baik pula, sebab
penulisan program bukan dengan kekuatan otot, tapi menggunakan
kekuatan otak.
Perkembangan teknologi saat ini sungguh sangat pesat, dalam
informatika terdapat berbagai macam bahasa programing language
semakin canggih dan muncul bahasa-bahasa baru. Sebut saja misalnya
java, perl, python, dll ataupun hardware yang semakin mikro.
Hampir seluruh teknologi modern saat ini memperpadukan teknik
informatika dengan bidang ilmu eksak maupun sosial lainnnya.
B.
Bahaya Teknologi bagi Pemikiran
Teknik memecahkan problem dengan mengandalkan akal yang dibangun
secara terus menerus dalam membuat suatu program menggiring
pada suatu pemikiran, apapun bisa diciptakan bila masih bisa
diteorikan. Manusia akan mengandalkan dan percaya 100% pada
kemampuan akal dalam menyelesaikan berbagai problem yang menghadang.
Semakin sulit dan fantasi program tersebut semakin tertantang
untuk memecahkannya. Bahkan dalam era kompetisi hari ini dan
era perubahan dunia yang semakin panas, sipil dan militer berlomba
menciptakan karya untuk tujuannya masing-masing. Seluruh keputusan
disandarkan pada akalnya, dan ia berubah menjadi suatu benda
yang sangat potensial dan sangat dihargai serta dipercaya dalam
segala hal.
Akal adalah anugrah yang luar biasa, dan dengan benda ini manusia
diangkat menjadi khalifah di bumi setelah sebelumnya gunung
menolak, akal yang memulyakan manusia daripada hewan namun dengan
akal ini pula manusia terpuruk lebih hina daripada hewan. Karakter
ilmu informatika yang bersumber dari negara-negara Barat yang
notabene sekuler, 'ma lillah lillah wa ma liqaisir liqaisir',
urusan yang berhubungan dengan Allah adalah urusan Allah sedang
urusan yang berhubungan dengan urusan manusia ialah milik manusia,
sangat membahayakan pemikiran kaum muslimin yang pada hari ini
telah tertimpa penyakit 'fitnah syahwat' (fitnah kebebasan mengumbar
hawa nafsu) dan 'fitnah syubhat' (fitnah kerancuan pemikiran
dalam memahami agama). Dampak yang sangat jelas yang sering
terlihat adalah rasa sombong, riya`, sum`ah bahkan sering terjadi
menghina Allah dan rasul baik secara sadar maupun tidak sadar.
Teknologi dengan segala literatur referensi Barat memaksa kita
untuk memaksimalkan kemampuan akal tanpa melibatkan sang Pencipta
akal sedikitpun. Betapa banyaknya programer muslimin lupa ketika
ia mengetikkan:
#!/usr/share/python
a=10
b=5
hasil = a * b
print “hasil ”, hasil
sebuah
program untuk perkalian kemudian ia eksekusi
./python kali.py
hasil 50
Dan
program sesuai dengan yang ia kehendaki namun lupa.....Lupa
Allahlah yang mengizinkan program tersebut berjalan dengan baik,
bila Allah berkehendak tidak mengizinkan maka program tersebut
tak mungkin akan berhasil walaupun alqoritma dan sintak tak
ada kesalahan “KepunyaaNyalah kerajaan langit dan bumi,
Dia menghidupkan dan mematikan dan Dia Maha Kuasa atas segala-galanya”
(Al Hadid 2).
Inilah akal manusia, manusia dapat beribadah dengan baik bila
akalnya baik namun manusia hancur juga karena akalnya. Allah
menjuluki kaum Nasrani dengan 'dholal' sesat sebab mereka mengadakan
peribadahan dengan kebodohannya dan Allah menjuluki kaum Yahudi
dengan 'maghdub' dimurkai sebab mereka mengetahui kebenaran
tetapi menentang dan melawan Allah dengan anugrah modal kemampuan
akal mereka yang rata-rata cerdas. Akibat over action penggunaan
akal, penilaian positif dan negatif dinilai dengan pertimbangan
akal, bahkan agamapun ditimbang dengan akal. Syariah seperti
shalat, haji, zakat, jihad, muamalat, tata negara sebagai bagian
dari fiqh ibadah diberlakukan sesuai kehendak akal. Kaedah-kaedah
aqidah semacam iman, islam, tauhid, syirik juga diputuskan dengan
akal. Lalu muncullah berbagai macam koreksi, pandangan, pemikiran,
kritisan, pembaharuan, transformasi menurut hawa nafsu, ujungnya
manusia menggugat Penciptanya.
Suatu saat terjadi dialog antara seorang ilmuwan muslim Mahmud
Abu Rayah dengan para ulama Al Azhar. Mahmud Abu Rayah bertanya,"
Apa pendapat kalian tentang Thomas Alfa Edison, si penemu lampu
pijar ?" Mereka menjawab," Akan masuk neraka."
Maka Mahmud Abu Rayah menggugat," Apakah setelah ia menerangi
dunia seluruhnya, sampai masjid dan rumah kalian, ia tetap masuk
neraka?" Para ulama menjawab," Ya, sekalipun ia berjasa
seperti itu, karena ia tak mengucapkan syahadatain." Mahmud
Abu Rayah menggugat lagi," Kalau orang-orang dan tokoh-tokoh
ternama dunia yang telah mencurahkan hidupnya untuk kesejahteraan
umat manusia menurut kalian secara syar'I tak mungkin masuk
surga, maka secara akal bukankah mungkin mereka masuk surga
dengan rahmat Allah dengan besarnya jasa mereka itu?"
Mirip dengan kisah ini adalah Fahmi Huwaidi yang menulis dalam
majalah Al Araby edisi Rabiul Awal 1401 H dengan judul Al muslimun
wa al akhorun. Ia menggugat seorang khathib Jum'at yang menyatakan
umat Islam sebaik-baik umat yang dikelurkan untuk umat manusia
(dinyatakan Allah dalam QS. Ali Imran :110]) dan khathib itu
membaca doa yang mendoakan agar orang-orang kafir dicerai beraikan
oleh Allah dan dilaknat. Fahmi Huwaidi menceritakan," Saya
duduk di shaf pertama dalam masjid dengan karpet halus made
in Jerman Barat, dibawah AC made in Amerika, diterangi lampu-lampu
made in Hongaria, sementara suara khathib menggaung melalui
pengeras suara made in Belanda. Ketika syaikh itu turun dari
mimbar, saya segera mendekatinya untuk memegang tangannya yang
dibalut kain dari Inggris dan sorban dari sutra Jepang Tangannya
dilingkari jam Zodiak made in Swis, sementara di samping mimbar
ada sepatu mengkilap hitam made in Italia."
Menurut akal Mahmud Abu Rayah dan Fahmi Huwaidi, kemajuan industri
dan teknologi mereka sudah cukup untuk memberi syafa'at bagi
orang-orang kafir di hari kiamat nanti. Ia berpikir pencipta
istana megah Kisra, filsafat orang-orang Yuani Kuno, Einsten
dengan nuklirya, Dolby dengan stereonya, Jacob Vehicle dengan
sistem remnya, Linus Torvald dengan Linuxnya, dst cukup untuk
menjamin tiket ke surga, tak peduli mereka berbuat syirik dan
kufur. Suatu pemikiran yang menurut mereka adil, moderat dan
masuk akal namun secara aqidah sangat rusak dan menyesatkan.
Inilah pemikiran para ilmuwan Dr. Muhammad Imarah, Fahmi Huwaidi,
DR. Mahmud Abu Rayah, DR. Abdul Aziz Kamil dan Said Asymawi
berdasar ayat “Sesungguhnya orang-orang mukmin orang-orang
Yahudi, nasrani dan orang-orang shabiin, yang benar-benar beriman
pada Allah dan hari akherat serta mengerjakan perbuatan yang
baik, mereka akan memperoleh pahala dari Tuhannya, dan mereka
tidak akan merasa ketakutan dan berduka cita” (2:62).
Banyak lagi intelektual muslim yang over dalam berintelek dan
membabat uluhiyah Allah. Contoh-contoh perkataan para penyembah
akal yang telah terkontaminasi Barat yang llain diantaranya:
1. NurCholis Madjid:
a. “Amerika pembangunannya pesat, tanpa teriak-teriak
Taqwa!". (Anatomi Budak- budak Kuffar VIII dan Paramadina.Com
sub.Tokoh. Up date:2/2/'02)
b. “Jilbab itu hanyalah simbolisme saja tidak ada urusannya
dengan masalah menjalankan syari'ah”
2. Ahmad Wahib:
a. “Islam itu adalah statis, agama itu tidak mampu meresapi
masalah-masalah dunia, agama Islam yang kita fahami adalah agam
Sekularistik, agama untuk orang awwam yang kurang berfikir,
agama sudah mati, Islam merupakan nafas pribadi, akan tercipta
berjuta-juta agama dan madzhab"
b. “Nabi muhammad pelaku sekularisasi atas hadist, Karl
Mark dan Fredrirck Engels lebih hebat dari utusan Tuhan tersebut
(nabi Muhammad saw), dan saya merindukan nabi yang lain yang
dapat berbicara dalam level Internasional”
c. “Al-Qur'an banyak ayat-ayatnya yang tidak dipakai lagi,
al Qur'an merupakan Sekulerisasai ajaran Islam di zaman Nabi,
kembali ke al Qur'an akan menimbulkan anti kebudayaan, al Qur'an
bukan sumber ajaran tuhan!”
d. “Tuhan beberapa ajaran-Nya jelek, dan beberapa ajaran
manusia jauh lebih baik, Tuhan kalau yang dimasjid dan di langgar
tidak lebih mulia dari hantu yang menakutkan dengan neraka ditangan
kanan-Nya dan pecut ditangan Kiri-Nya”. (Pergolakan Pemikiran
Islam, Abdul Wahib)
3. Ulil Abshor Abdalla :
a. "Menurut saya beragama searah 360 derajat/kaffah itu
tidak sehat dilihat dari pelbagai segi,..Ambillah contoh, kalau
kita mau hidup beragama (ber-Islam) secara kaffah maka konsekwensinya
adalah :boleh jadi seluruh industri-industri hiburan modern
sekarang harus dihentikan. Kita tidak bisa lagi menikmati film-film
Holywood. Padahal, industri hiburan menempati kedudukan yang
sangat penting dalam zaman modern."
b. "…. Islam liberal bisa menerima bentuk negara
Sekuler yang lebih unggul dari negara ala kaum fundamentalis…
sebab negara Sekuler bisa menampung energi kesalehan dan energi
kemaksiatan”
4. A.Rumadi,IAIN Jakarta :" Soal agama 'kaffah' menurut
saya, argumentasi konvensional sudah tidak bisa dipertahankan
lagi. Pemahaman Islam sebagai agama yang 'serba meliputi', menyeluruh
dan seterusnya merupakan akal-akalan 'misionaris' Islam untuk
menyedot pendukung. ke-kafah-an seolah identik dengan jaminan
keselamatan seorang hanya dengan memeluk agama itu cukup dengan
mengucapkan 'syahadat'”.
5. Lutfi Asysyaukani. :"….jadi 'kaffah' itu saya
kira tak ada hubungannya dengan 'berislam secara total' seperti
selama ini dipahami, tapi hanyalah pesan untuk menghindari sinkretisme.”
6. Thoha Husin "… Ambillah Barat, yang manis dan
yang pahit, yang baik dan yang buruk “.(Anatomi Budak-Budak
Kufar 47)
7. Munawir Sadzali :
a. " …..Hanya dengan mengirim sarjana-sarjana IAIN
ke Barat untuk mendalami Islam, maka Islam di Indonesia akan
maju.” ( Anatomi Budak-Budak Kufar 47)
b. " ….Hukum waris harus diganti karena sudah tidak
relevan lagi dengan kemajuan zaman.” (Islam liberal,sekuleris
berkedok Muslim. Website.hidayatullah.com edisi Februari. Update
:9/2/'02)
8. Mustafa Kamal: “Sesungguhnya gagasan yang ingin diyakinkan
oleh agam-agama yang ada sekarang (Islam) bahwa Allah yang Maha
Esa dan bahwa Allah yang menciptakan jagad alam ini. Namun dalam
perkembangannya, dunia ilmu pengetahuan sedikit demi sedikit
mulai menyimpulkan bahwa gagasan tersebut salah. Di dunia ini
tidak ada yang bernama Allah dan pemikiran tidak adanya Allah
ini telah berkembang luas dikalangan pemikir (Wajah Dunia Islam,
317)
Mereka semua ini merupakan manusia-manusia keblinger dalam mempergunakan
otak, walaupun semua pemilik perkataan ini bukanlah ilmuwan
informatika namun mereka adalah contoh orang-orang yang telah
termakan konsep pemikiran kufar yang selalu menalar segala sesuatunya
dengan akal. Dan bila kita mau menilik para pakar, dosen ataupun
pelajar iinformatika ataupun ilmu teknologi lainnya, sungguh
sangat mudah kita dapatkan perkataan-perkataan tak jauh seperti
ini yang dalam aqidah Islam dikatagorikan telah menghina Allah,
rasul dan agama
C.
Medan yang bukan garapan akal.
Islam adalah agama yang yang paling sempurna menghargai akal,
Islam adalah agama wahyu dan akal. Wahyu mempunyai kedudukan
tersendiri, begitu juga akal. Islam menghargai akal dan menempatkannya
pada tempat yang layak, sesuai fitrah manusia dan fungsi akal
itu sendiri. Bila kita membuka Al Qur’an dan As Sunah,
kita akan menemukan betapa tingginya penghargaan Islam terhadap
akal:
1. Allah tidak berbicara kecuali dengan orang-orang yang berakal
yang mahu memahami syariat dan dien Allah, ” Dan sebagai
peringatan bagi orang-orang yang berakal.” (12:111,29:35,2:269).
2. Beban agama hanya diberikan pada mukalaf, yaitu dewasa dan
berakal.
3. Allah mencela orang-orang yang tidak memanfaaatkan akalnya,sebagaimana
penyesalan penduduk neraka,” Dan mereka berkata, 'Seandainya
kami dulu mendengar atau berakal (memikirkan) tentulah kami
tidak menjadi penduduk neraka Sa’ir (yang menyala-nyala).”
(QS. Al Mulk :10).
4. Allah memuji pekerjaan-pekerjaan akal, yaitu tadabur, tafakur
dan lain sebagainya. Allah berfirman,” Apakah mereka tidak
mentadaburi Al Qur’an.” [QS. AN Nisa’ :82].
Juga firman-Nya,” Supaya kalian berfikir.” Juga
firman-Nya,” Maka apakah kalian tidak berakal (berfikir)?”.
5. Al Qur’an memuat banyak ayat yang berbicara kepada
manusia sesuai akal penalaran dan logika. Allah berfirman,”
Kalaulah Al Qur’an itu berasal dari selain Allah tentulah
mereka akan mendapati banyak perselisihan dalam Al Qur’an.”
(QS. AN Nisa’ :82). ” Kalau di langit dan bumi itu
ada banyak tuhan tentulah keduanya telah rusak.” .”
Apakah mereka diciptakan dari barang yang tidak ada ataukah
mereka menciptakan diri mereka sendiri?”
6. Allah mencela taklid buta (asal ikut pendapat orang tanpa
dasar yang jelas) yang merupakan penghalang bekerjanya akal.
Allah berfirman,“ Dan jika dikatakan kepada mereka ikutilah
apa yang diturunkan Allah mereka mengatakan,”Kami akan
mengikuti apa yang kami dapatkan dari orang-orang tua kami .
(apakah mereka akan mengikuti bapak-bapak mereka) sekalipun
mereka tidak berakal sedikitpun dan tidak mendapat petunjuk
?” (QS. Al Baqarah :170)
7.
Allah memuji hamba-Nya yang menggunakan akalnya untuk mencari
dan mengikuti kebenaran. “ Maka berilah kabar gembira
hamba-hamba-Ku. Yaitu orang-orang yang mendengarkan perkataan
dan mengikuti yang paling baik. Mereka itulah orang-orang yang
diberi hidayah Allah dan mereka itulah orang-orang yang berakal.”
8.
Allah menunjukkan hal-hal yang menjadi bidang garap pekerjaan
akal. Seperti disebutkan dalam ayat,” Apakah mereka tidak
melihat langit yang berada di atas mereka, bagaimana Kami membangunnya
dan menghiasinya tanpa ada …” [QS. Qaaf:].
9. Allah menunjukkan hal-hal yang berada diluar jangkauan akal
manusia dan akal tidak boleh ikut bermain di dalamnya. Firman
Allah,”Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah,”
Ruh itu termasuk urusan Allah saja dan kalian tidak diberi ilmu
kecuali sedikit.”
10. Anjuran untuk menggunakan qiyas yang benar. Seperti firman
Allah,”Maka ambilah pelajaran wahai orang-orang yang mempunyai
bashirah.” (Al Madkhal Li Dirasati al Aqidah al Islamiyah
hal. 40-42, Manhaju al Istidlal ‘Ala Masaili al I’tiqad
‘Inda Ahli Sunah wal Jama’ah 1/168-173).
Konsep Islam telah begitu teliti dalam mengatur seluruh kehidupan
manusia sampaipun pengaturan akan batasan-batasan akal dalam
mengeksplorasikan ide-idenya dan riset. Para ulama telah menjelaskan
rambu-rambu yang akal tidak boleh mencampurinya sebagai berikut:
1. Mughayabat (hal-hal yang ghaib). Urusan keghaiban merupakan
urusan Allah, kewajiban manusia hanyalah mengimaninya saja.
2. Qath'iyah. Hukum-hukum yang telah ditentukan oleh nash secara
tegas di dalam Al Qur'an dan As Sunah. Tugas akal hanyalah memerintahkan
hati untuk menyerah, tunduk iman kemudian mengamalkannya. Karena
itu akal seorang muslim tak akan membantah kenapa sholat Maghrib
tiga raka'at, sholat Isya' empat raka'at sementara sholat shubuh
hanya dua raka'at. Ia tak akan membantah kenapa bagian warisan
bagi anak laki-laki dua kali lipat bagian anak perempuan, kenapa
perempuan diharamkan menjadi kepala negara, kenapa jilbab diwajibkan
bagi wanita baligh, kenapa perempuan harus bersama mahramnya
ketika bepergian, kenapa Islam mensyariatkan jihad padahal jihad
membawa konsekuensi hilangnya nyawa dan rusaknya harta benda
serta teknologi, kenapa ada syariat rajam atau potong tangan
dan kenapa-kenapa lainnya.
3. Arkan (rukun-rukun). Rukun iman yang enam, rukun Islam yang
lima tak bisa dimodifikasi dengan akal. Semuanya baku ditetapkan
Allah, harus diimani dan dilaksanakan dengan penuh kerelaan
ataupun terpaksa. Hari ini banyak sekali para cendekiawan merusak
dan menghancurkan rukun-rukun yang paten ini. Dr. Husain Ahmad
Amin diikuti Dr. Harun Nasution menulis dalam buku-bukunya atas
sikapnya yang menolak iman kepada takdir dengan alasan: iman
pada taqdir merupakan aqidah orang badui (suku terpencil/terasing/primitif).
Ia menulis," Kehidupan orang-orang badui bersandar hampir
secara totalitas kepada air dan rumput Mereka mendapati hujan
itu keselamatan sedang kekeringan itu kehancuran.. keduanya
sama sekali bukan dari usahanya, ia tak punya kemampuan untuk
itu (mendatangkan hujan dan rumput)…Inilah aqidah badui...yang
berpindah ke dalam Islam setelah ide tentang Allah menempati
ide tentang daharu (perjalanan waktu adalah pengatur segala
yang ada di alam semesta). (Asatirul Mu'ashirin hal. 144, dari
Basyuni hal. 64).
4. Mutasyabihat. Ayat-ayat yang hanya Allah saja yang mengetahui
maknanya, seperti rahasia alam ghaib, surga dan neraka, waktu
terjadinya kiamat dan lain sbagaianya. Termasuk ayat mutasyabihat
adalah ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat
ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali setelah diselidiki
secara mendalam. (Mabahits fi Ulumil Qur'an, Manna' Qathan).
Dalam ayat-ayat seperti ini, akal sama sekali tidak boleh berijtihad.
Akal harus menerima wahyu dengan sepenuh hati, tanpa membantah
sedikitpun. Akal harus menyatakan,"Kami mengimaninya, semuanya
itu dari sisi Rabb Kami." (QS. Ali Imran :7).
5. Dzat Allah Ta'ala. Islam telah mengajarkan sikap yang benar
dalam menetapkan setiap nash yang menyatakan 'asma wa sifat'
nama dan sifat Allah, tanpa melakukan 'ta'wil' mencari makna
selain makna yang dhahir dari nash tersebut, 'tasybih' penyerupaan,
maupun 'ta'thil' meniadakan dan tidak mengakui, demikianlah
keterangan Imam Malik. Hal ini bukan untuk membatasi akal, namun
sebagai sikap mengakui kelemahan akal.
6. Hakimiyah. Hak membuat UU di tangan Allah merupakan salah
satu pokok aqidah yang tidak bisa ditawar lagi. Akal manusia
tak bisa membantahnya, karena Allah yang menciptakan alam semesta,
Allah pula yang mampu menentukan aturan yang cocok sejak awal
penciptaan sampai hari kiamat nanti. Dengan demikian, 'tathbiqus
syariah' penerapan syariat islam merupakan pengakuan akan keterbatasan
akal manusia, sekaligus pengakuan rububiyah dan uluhiyah Allah.
D.
Problem Solving
Agar akal tidak menyeleweng terpengaruh karakter konsep penyebaran
teknologi Barat yang memisahkan Uluhiyatullah, perlu dibangun
suatu benteng yang kokoh dan kontinyu untuk memfilter agar pemahaman
agama ilmuwan atau calon ilmuwan muslimin selamat. Kaum muslimin
harus mengerti fungsi akal sebagaimana di terangkan oleh Ibnu
Taimiyah:
“Akal adalah syarat untuk mengetahui ilmu-ilmu dan sempurna
serta baiknya pekerjaan. Dengannya ilmu suatu amalan yang dikerjakan
menjadi sempurna, namun ia tidak berdiri sendiri, ia hanyalah
instink dalam jiwa dan kekuatan (potensi) dalam jiwa. Kedudukannya
bagaikan kekuatan memandang dalam mata. Jika ia bertemu dengan
cahaya iman dan Al qur’an maka ia bagaikan cahaya mata
jika bertemu dengan cahaya matahari dan api. Namun kala akal
sendirian, ia tak akan bisa melihat apa yang ia tak sanggup
meraihnya. Jika tak ada secara keseluruhan (iman, Al Qur’an
dan akal), seluruh perkataan dan perbuatan menjadi ‘umuran
hayawaniyah’ nafsu kebinatangan semata, kadang ada rasa
cinta, perasaan dan rindu seperti dalam diri binatang. Tanpa
adanya akal, manusia (sangat lemah), sedang perkataan yang bertentangan
dengan akal adalah batil..” (Majmu’ Fatawa 3/338-39).
Dr. Abdullah Abdul Muhsin At Turki dan Syu’aib Al-Arnauth
juga mewanti-wanti, ” Akal adalah salah satu wasilah yang
terbatas dari sekian wasilah untuk mencapai pengetahuan. Akal
tak bisa mengetahui selain hal-hal yang terindrai secara yakin,
dan bisa mengetahui hal-hal ghaib secara tashawur (pemahaman)
saja, bukan secara yakin. Ahlu sunah beriman dengan cara mengitsbatkan
apa yang dikhabarkan oleh nash tentang hal-hal ghaib dan membenarkannya,
tanpa membahas lagi kaifiyahnya (bagaimananya) karena hal itu
bukan kemampauan akal.” (Syarhu Aqidah Thahawiyah hal.
25)
Ibnu Khaldun juga berkata,” Hanya saja anda jangan berambisi
menimbang dengan akal masalah tauhid, akhirat, hakekat nubuwah,
hakekat sifat-sifat Ilahiyah dan setiap hal yang diluar kemampuannya,
karena berarti ambisi yang mustahil. Permisalannya bagaikan
seorang melihat timbangan emas, lalu berambisi menimbang gunung-gunung
dengan timbangan itu. Bukannya timbangannya yang tak benar,
namun akalnya yang tak mampu…” (Syarhu Aqidah Thahawiyah
hal. 26)
Benteng selanjutnya adalah memahami karakter akal seorang muslim
seperti yang diungkap oleh Dr. Abdus Salam Al Basyuni :
Pertama. Akal muslim.
Maknanya
akal yang benar-benar tunduk kepada ketentuan Allah Ta’ala.
Ia mengerti betul medan mana saja yang harus digeluti dan medan
mana yang ia tidak boleh turut campur di dalamnya. Akal muslim
berarti akal yang beragama bukan akal seorang atheis. Dalam
medan yang dilarang bergerak, ia berhenti dan menyerahkan diri
sepenuhnya kepada nash secara sempurna karena ia menyadari memang
ada medan yang di luar kemampuan dan jangkauannya. Setelah meneliti,
akal menyadari bahwa syar’I tak mungkin memerintahkan
hal yang membawa kemudharatan bagi manusia. Akal menyadari antara
hati dan akal beredar di orbit yang sama, tak mungkin keduanya
bertabrakan atau saling menghancurkan. Akal dan hati laksana
bulan dan planet. Akal mengikuti hati yang dibimbing wahyu,
sebagaimana bulan beredar mengelilingi planet.
Dalam medan yang diperbolehkan, akal bekerja mengerahkan segenap
kemampuannya untuk berdaya upaya bagi kesejahteraan manusia,
dengan satu syarat tidak keluar atau menentang wahyu. Dalam
medan yang dibolehkan bergerak inilah, akal benar-benar bermanfaaat
melahirkan berbagai kemajuan fisik yang membawa kesejahteraan
hidup manusia. Akal menjadi awal dari perbagai penemuan dan
kemajuan di bidang industri, iptek, kesehatan dan bidang kehidupan
lainanya.
Ustadz Muhammad Qutb menjelaskan hubungan akal dengan wahyu
dengan jelas. Kata beliau, ” Jadi wahyu dan akal bukanlah
dua hal yang seimbang (serupa, setara dan sama). Tapi yang pertama
(wahyu) lebih besar dan lebih sempurna dari yang kedua. Yang
pertama datang untuk menjadi pokok bagi yang kedua dan mizan
(neraca timbangan) untuk menguji konsep dan pemahaman yang kedua
(akal) dan membenarkan kekurangan dan penyelewengan yang kedua.
Antara keduaaya ---tak diragukan lagi --- memang ada kesesuaian
namun atas dasar ini (sama-sama bekerja demi kemaslahatan manusia
namun wahyu mengendalikan dan mengawasi akal---pent), bukan
atas dasar menganggap keduanya sebagai dua hal sebanding.”
Dari sini akal seorang muslim adalah akal ghoibi, dalam artian
ia mengimani hal-hal yang ghoib dan mu’jizat-mu’jizat
yang telah ditetapkan Alalh sekalipun tak bisa dicerna akal
sehat. Hal-hal yang ghaib dan mu’jizat para nabi memang
seratus persen dari Allah, karena itu para nabi sendiri mendatangkan
mu’jizat itu bukan atas kemauan mereka sendiri, namun
sekali lagi atas kehedak Allah ” Katakanlah Maha Suci
Rabbku. Bukankah aku tak lain hanyalah seorang manusia biasa
dan seorang rasul.” (*QS. Al Isra’ :93)
Kedua.
Akal Ushuli Salafy.
Artinya
akal yang benar-benar mengakui dasar-dasar dan pokok-pokok sumber
ajaran Islam :
a. Mengakui dan menagimani Al Qur’an Al Karim, berikut
'muhkam' hukum yang jelas dan 'mutasyabihnya' tersamar, 'qath’i
dilalah' dalil yang baku dan 'dhoni’ dialahnya' dugaan.
b. Menghormati dan berkhidmat kepada sunah nabawiyah, menerima
yang sunah yang shahih yang diterima oleh umat setelah diperiksa
oleh para pakar hadits melalui kaidah-kaidah 'musthalah hadits'
. Akal seorang muslim selalu menerima setiap hadits yang shahih,
tanpa membuat dikotomi hadits ahad, hadits mutawatir, hadits
masalah hukum, hadits masalah aqidah dst seperti dilakukan oleh
kaum Mu’tazilah.
c. Mengakui ijma’ (kesepakatan) dan mencari hal-hal yang
telah menjadi ijma’ para ulama. Manakala suatu masalah
telah menjadi ijma’, akal tak boleh mencari-cari celah
untuk menemukan pendapat yang lain.
d. Mengakui qiyas shahih sebagai dasar keempat bagi ijtihad.
Qiyas yang shahih akan membimbing akal menuju kesesuaian ajaran
Islam dengan berbagai perkembangan zaman, pun ijtihad ini yang
menentukan adalah para ulama yang memiliki kemampuan untuk berijtihad
bukan ijtihad made in sendiri.
Karena
itu akal seorang muslim menolak berbagai pemikiran yang merusak
keempat dasar Islam ini. Akal menolak :
a. Orang-orang yang meragukan Al Qur’an baik seluruhnya,
sebagiannya atau meski satu huruf sekalipun. Karena itu kita
menolak anggapan dan tuduhan bohong yang mengatakan ada mushaf
lain selain Al Qur’an yang lebh lengkap seperti pendapat
Rafidzah, atau yang mengatakan Al Qur’an adalah kisah
fiktif biasa layaknya novel picisan seperti yang dikatakan Thoha
Husain dalam buku Al Syi’ru al Jahili’ atau yang
meragukan adanya Nabi Ibrahim seperti dikatakan oleh Muhammad
Ahmad Khalfullah dalam disertasinya, Al Qashash al Fanni fi
al Qur’anil Karim. Sebagaimana kita juga menolak orang-orang
yang memasukkan teori-teori impor dari orang kafir untuk memahamai
Al Qur’an seperti teori materialistik, sosialisme dst.
b. Menolak orang-orang yang mengingkari as sunah, yang menyerang
dan menghujat manhaj (metode) penulisan hadits, para perawi-nya,
mukharijnya, kaedah mustholah hadits dst.
c. Menolak orang-orang yang hanya menerima sunah bila sesuai
dengan kepentingan pribadi maupun kelompok, namun menolaknya
manakala tidak memberi keuntungan kepadanya, sebagaimana disebutkan
Allah dalam QS. An Nur : 47-50 “Mereka berkata: 'Kami
beriman pada Allah dan rasul'. Tetapi setelah itu sebagian mereka
ada yang berpaling. Sebenarnya mereka itu bukanlah orang-orang
yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan
rasulNya, supaya ia dapat mengadili perkara di antara mereka,
ada segolongan diantara mereka yang menolak untuk datang. Tetapi
kalau putusan hukum akan menguntungkan mereka, mereka datang
dengan patuh memenuhi panggilan rasul itu”.
d. Menolak orang-orang yang tidak menerima dan mengingkari qiyas,
karena qiyas seperti disebut oleh imam Al Asnawi adalah 'qoidatu
al ijtihad wa al mushil ila al ahkam allati laa hasro laha'
kaedah ijtihad dan hal yang menghasilkan keputusan-keputusan
hukum yang jauh tak terbatas.
Selain
empat dasar ini, akal seorang muslim juga menerapkan kaedah-kaedah
yang telah disepakati untuk melakukan ijtihad seperti ushul
fiqh, ilmu tentang waqi’ (kondisi), ilmu tentang bahasa
arab [Nahwu, Sharaf, Balaghah dll], ilmu tentang asbabun nuzul
(sebab-sebab turunnya ayat), nasikh dan mansukh (ayat-ayat yang
menghapus dan terhapus) dll.
Ketiga. Akal Mubdi’ Mutathowir.
Artinya akal yang senantiasa bekerja, menolak kejumudan (stagnan)
dan statis, menolak sikap taklid (ikut-ikutan tanpa mengerti
landasannya). “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang
kami menganut suatu agama, dan kami akan mengikuti saja jejak
mereka” (QS. Zukhruf :22-24). Islam memberi kekebasan
akal untuk bekerja ---selama bukan dalam masalah mutasyabihat,
qath’iyah dam hal-hal ghoib—dengan menggariskan
beberapa rambu-rambu utama, sebagaimana disebut oleh Dr.Mahmud
Hamdi Zaqzuq dalam bukunya Daurul Islam fi Tathowuri al Fikr
al Falsafi:
a. Menolak taqlid buta, tapi harus mempunyai tujuan dan manhaj
yang jelas.
b. Memberantas pemikiran khurafat, perdukunan dan sihir yang
dibangun di atas dasar dugaan belaka dan kebohongan.
c. Menekankan bahwa masing-masing individu mempunyai tanggung
jawab di hadapan Allah, sehingga manusia tak boleh asal ikut-ikutan
dengan orang. Di lain pihak, Islam menjadikan hifdhu akal (memelihara
akal) termasuk salah satu maqashidu syari’ah (tujuan diberlakukannya
syariah), dengan jalan mengharamkan segala hal yang merusak,
mengancam, dan mengekang akal sekalipun pelakunya manusia itu
sendiri.
d. Dengan aqidah tauhid, Islam membebaskan manusia dari ketakutan
kepada kekuasaan atas nama agama menuju keberanian menyuarakan
kebenaran sekalipun berisiko. Karena itu Rasulullah menyatakan,
termasuk jihad yang paling agung adalah menyuarakan kalimat
kebenaran di hadapan penguasa yang dzalim.
e. Dr. Abdu Salam Basyuni menambahkan satu hal lagi, yaitu Islam
tidak menyamakan antara seorang mujtahid dengan seorang muqalid
(pak panut, pak turut), antara seorang ‘akil (berakal)
dengan seorang ghafil (lalai). Islam meninggikan orang-orang
yang beriman dan beramal beberapa derajat di atas orang mukmin
biasa. Islam menghargai ilmu dan menyatakan keutamaannya, seperti
seluruh makhluk di alam sampai ikan di lautan ikut memintakan
ampun bagi pengajar kebaikan dan keutamaan-keutamaan lain.
Keempat.
Akal Bahatsah.
Artinya
Akal yang mencari dalil dan hujah. Karena itu Islam menantang
orang yang selalu asal berbicara tapi tak pernah mendatangkan
hujah syari seperti diungkap oleh Allah: “Dan mereka berkata:
‘Tidak akan masuk ke sorga kecuali orang Yahudi atau Nasrani’.
Itu hanya angan-angan kosong mereka belaka. ‘kemukakanlah
alasanmu jika kamu memang benar’” (2:111), dan “Bahkan
mereka masih mengambil tuhan-tuhan selain Dia. Katakanlah kepadanya:
‘Coba kemukakan dalil-dalil atas kebenaran ihak kalian!.
Sedang dalil-dalil dari pihakku inilah Al-Quran, yaitu kitab
yang diturunkan kepada orang-orang yang bersamaku dan kitab-kitab
yang dituurnkan sebelumku. Tetapi mayoritas mereka tidak mengenal
kebenaran karena itu mereka berpaling.” (21:24) dan (27:64).
Inilah manhaj ilmi yang benar, bukan layaknya para paranormal
dan “orang pintar” yang membangun persepsi dan mengeluaran
penyataan-pernyataan atas dasar dugaan dan bisikan setan, bukan
pula atas dasar penindasan dengan menamakan diri wakil Tuhan
seperti para pendeta gereja, bukan pula atas dasar teror istilah
sebagaimana ditempuh para rasionalist dan orientalis barat hari
ini. Akal juga mengakui, dalil yang dipakai harus dalil yang
shahih.
Kelima.
Akal Hiyadi (netral).
Artinya menerima kebenaran darimanapun datangnya, karena kebenaran
adalah hikmah yang hilang, di manapun kaum muslimin mendapatkannya
mereka lebih berhak memilikinya. Selain itu, sifat ini juga
berarti mengakui kesalahan. Bila pendapatnya salah, ia akan
menarik pendapat itu tanpa ada sikap arogansi sedikitpun. Begitu
juga bila tidak mengetahui tentang suatu masalah, ia akan jujur
mengatakan “saya tidak tahu”, sebagaimana selalu
dicontohkan para ulama salaf.
Keenam.
Akal Syumuli.
Artinya memandang seluruh aspek kehidupan dari kaca mata Islam
Akal seorang muslim bukanlah akal yang menerima sebagian wahyu
yang sesuai dengan hawa nafsunya namun menolak sebagian wahyu
yang bertentangan dengan hawa nafsunya. Akal seorang selalu
menerima wahyu secara totalitas, baik sesuai dengan hawa nafsu
maupun tidak. Akal seorang muslim juga selalu menyeimbangkan
antara ilmu dan amal, amalanya selalu membenarkan ilmunya.
Ketujuh.
Akal Marinun,
Artinya
akal yang bergerak dengan baik antara tsawabit (hal-hal yang
baku / qath’i) dan mutaghayirat (hal-hal yang dhani/nisbi/tidak
baku). Ada ajaran Islam yang qath’I yang tidak menerima
perubahan yaitu pokok-pokok aqidah, ibadah dan akhlak (juga
disebut dengan istilah tauqifiyah), namun ada juga ajaran Islam
yang bisa berubah sesuai perubahan tempat dan waktu tanpa merubah
esensinya, yang disebut dengan istilah masalah mutaghayirat.
Wujud dari sifat ini adalah :
a. Akal yang mengakui bahwa fatwa bisa berubah sesuai perubahan
waktu, ruang dan kondisi.
b. Akal yang bergerak antara dhahir nash dan qawaid syar’I
yang bersifat kuliyah.
c. Mengambil seluruh nash dalam seluruh masalah baru kemudian
menarik kesimpulan.
Keteguhannya
nampak dalam sikap memegang tsawabit dan tauqifiyah, sementara
sikap keelastisannya dan kesesuaiannya dengan perkembangan zaman
nampak dalam sikap memegang mutaghayirat dalam beberapa masalah
yang berkembang sesuai perkembangan zaman. Dr. Abdu Salam Basyuni
menerangkan, “memegang teguh tasawabit sama sekali bukan
langkah mundur, statis ataupun kuno, namun berarti iqrar waqi’I
biadamiyati adamy dan rububiyati rabb (pengakuan realita kemanusiaan
manusia dan ketuhanan Rabb (Allah), dan ta’kid ‘ala
mahdudiyati al thaqah al mudrikah fi bani Insan (menguatkan/pengakuan
atas keterbatasan kemampuan akal).
Karena itu akal seorang muslim mengakui rukun iman yang enam,
mengakui tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Allah
semata, agama yang benar hanya Islam, rukun iman adalah syarat
diterimanya amal, dst. Semua ini tsawabit yang tak boleh dirubah
dan tak menerima pengembangan lagi.
Kedelapan.
Akal Musta’lin.
Artinya akal yang mempunyai kemuliaan dan harga diri. Akal seorang
muslim menolak segala sistem dan ide asing dari luar yang bertentangan
dengan Islam. Ia melihat jahiliyah yang hari ini menguasai dunia
namun tak terpengaruh dan tak terbuat terkagum-kagum olehnya.
Ia tak terkecoh oleh sistem kapitalisme, sosialisme, sekulerisme,
demokrasi, dan sistem-sistem jahiliyah lainnya. Setiap definisi
yang lahir dari produk pemikiran mempunyai sejarah dan ideologi
sendiri, seperti sosialisme, materialisme, kapitalisme, demokrasi,
sekulerisasi dst. Akal seorang muslim tidak memasukkan unsur-unsur
asing ini untuk mengkopi ulang Islam dengan cetakan baru yang
tak terdapat di dalamnya sama sekali ajaran Rasulullah. Salafus
Sholih telah mencontohkan hal ini, bagaimana Rob’i bin
Amir dengan keteguhan sikapnya membuat Rustum dan pasukan Persia
jatuh mental. Lihat pula Imam Ibnu Tamiyah dan Al Ghazali yang
menghantam filsafat Yunani dan Persia yang hari ini menggejala
di mana-mana.
Benteng yang terakhir adalah mengetahui bentuk-bentuk pelecehan
terhadap agama, Allah dan rasulnya serta resiko hukumannya dengan
harapan timbul rasa takut akan dan berhati-hati dalam semua
tindakan baik perkataan, perbuatan maupun pemikiran.
E.
Penutup
Betapa bahayanya suatu teknologi merubah pemahaman agama seorang
muslim, padahal teknologi tersebut milik Allah semata. Namun
karena Allah berkehendak hari ini teknologi dikuasakan atas
kaum kufar maka kaum muslimin dengan terpaksa terhina dengan
menuntut ilmu pada manusia-manusia yang tidak paham kalimat
syahadat yaitu; tercampurnya konsep jahiliyah dengan konsep
islam, terlebih lagi kondisi keilmuwan dien umat hari ini sangatlah
memperhatinkan terombang ambing dalam berbagai aneka ragam konsep
keislaman yang disuguhkan oleh akal-akal manusia. Lalu muslimpun
berpaling menyatakan ada yang terbaik daripada Islam. Hal ini
malahan berbalik daripada beberapa ilmuwan Barat yang mengakui
keunggulan konsep Islam, Bernard Shaw seorang filosof Inggris:
“Agama Muhammad telah menjadi tolak ukur yang tinggi karena
ia mengandung dinamika yang menakjubkan. Dan Islam adalah satu-satunya
agama yang memiliki sifat merubah seluruh fase kehidupan yang
berbeda-beda. Karenanya saya berpendapat, Muhammad harus diakui
sebagai penyelamat ummat manusia. Dan jika orang seperti Muhammad
memegang tampuk kepemimpinan dunia saat ini, maka ia akan berhasil
memecahkan seluruh problematika yang terjadi saat ini”.
(Tarbiyatul Aulad Fil Islam, Abdullah Nasih Ulwan). Wallahu
alm bishowab
Seluruh yang benar hanyalah milik Allah yang tiada Illah kecuali
Dia, dan kesalahan-kesalahan dalam tugas ini meliputi kesalahan
atau ketidak tepatan penterjemahan, kesalahan kutipan maupun
kesalahan memahami nash adalah dari saya dan setan, semoga Allah
mengampuni saya, Anda dan muslimin.
Bahan
Bacaan
1. Syarh Aqidah At-Thohawiyah, Izz bin Abdis Salam
2. Pendidikan Anak Dalam Islam, DR. Abdullah Nasih Ulwan
3. Majalah Hidayatullah
4. Majalah Sabili
5. Artikel Kedudukan Akal dalam Islam, Aslam
6. Majalah Media Dakwah
7. Ighatsatul Lahwan, Ibnul Qoyyim Al Jauziyah
8. Tsawabit wal Mutaghayirat, DR. Solah Showi
9. Syarh Aqidah Al-Wasithiyah Ibnu Taimiyah
10. Mabahist Fi Ulumil Quran, Mana` Qothon
11. Wajah Dunia Islam, Dr. Muh Sayyid Al Wakil
12. Sorimul Maslul, Syeikh Al-Maqdisi
13. Nawaqidul islam, Syeikh Muhammad Abdul Wahab
|