|
MASLAHAH DAKWAH
Penulis
: Syeikh Al-Mujahid Abu Muhammad Al-Maqdisi
Source : Ad-Dimukratiyah Dinun Bab Syubhat ke 5
Alih Bahasa: Izzi Arsadana
Mereka
berkata: “Sesungguhnya turut serta dalam Majlis Perwakilan
Rakyat / Dewan membuahkan maslahat yang tidak sedikit”.
Bahkan mereka menyangka bahwa majlis dan dewan rakyat tersebut
asal hukumnya adalah maslahah mursalah (maslahah mursalah adalah
salaha satu sumber pengambilan hokum Islam yang diperselisihkan
ulama dalam menggunakannya –pent), mereka berkata: “Ini
suatu dakwah kepada Allah, suatu perkataan kebenaran”,
atau “Dapat mengubah beberapa kemungkaran serta dapat
meringankan tekanan pada dakwah serta da’i…”
atau “Bila kita meninggalkan parlemen ini maka kursi-kursi
itu akan dipenuhi oleh Nasrani dan Komunis serta golongan sesat
lainnya….”, yang lainnya menyeru dengan lantang:
“Parlemen adalah cara paling maslahah dalam menerapkan
syareat Allah dan menegakkan dien-Nya” serta banyak lagi
statemen-statemen sejenis yang mengalir dari hawa nafsu tanpa
nash…seluruhnya beralasan pada maslahah…
Kami
mengajukan pertanyaan:
Siapakah
yang paling berhak menentukan suatu maslahat dien dan hamba?
Allah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui ataukah kalian dengan
pendapat istihsanat dan istislahat??
Bila
mereka menjawab: “Kami lah yang menentukan”.
Maka
jawaban kami:
Jika
demikian bagi kalian agama kalian dan bagi kami agama kami.
Kamai tidak menyembah apa yang kalian ibadahi dan kalian tak
pula menyembah apa yang kami ibadahi….Sebab Allah azza
wa jalla berfirman: “Tiadalah Kami alpakan sedikitpun
di dalam Al-Kitab” (Al-An’am 38)
Allah
pun berfirman menginkari para pemuja demokrasi dan kaum yang
sejenis mereka dengan firman-Nya: “Apakah manusia itu
mengira dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawab?)”.
(Al-Kiamat: 36)
“Maka
apakah kamu mengira, bahwa sesungguhanya Kami menciptakan kamu
secara main-main saja?” (Al-Mukminun: 115)
Inilah
dien kami dan milah kami…..Sedangkan dien demokrasi dan
milahnya mencampakkan ayat-ayat muhkamat ini, sebab status manusia
di mata mereka sebagai pembuat syareat untuk dirinya sendiri….Mereka
berseru: “Tepat, manusia telah meninggalkan pertanggung
jawaban kepada Allah, dan manusialah secara mutlak dan merdeka
menentukan, menetapkan, membuat hokum atau mengamandemen suatu
produk hokum dan UU…..
“Ah
(celakalah) kamu beserta apa yang kamu sembah selain Allah.
Maka apakah kamu tidak memahami?” (Al-Anbiya: 67)
Dan
bila mereka menjawab: “Allah lah satu-satu dzat yang berhak
menentukan dan menetapkan maslahat dengan kadar yang paling
baik, karena Dialah yang menciptakan makhluk dan Dia pula yang
paling paham tentang maslahat mereka, “Apakah Alah yang
menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan kamu
rahasiakan?) dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui”.
(Al-Mulk: 14)
Maka
kami bertanya: Lalu maslahat apakah yang paling agung yang telah
Allah tetapkan dan tentukan dalam Kitab-Nya serta diutusnya
para rasul utnuk diwahyukan kitab pada mereka serta disyareatkannya
jihad dan isytihad (untuk mati syahid) agar daulah islamiyah
terwujud di muka bumi wahai para penyeru penegakkan khilafah??!!
Jika
mereka berkhotbah mengenai maslahat namun maslahat yang dimaksud
tersebut melenceng dari makna asli kaedah-kaedah ushul yang
ditentukan.....
Kami
katakan: Buanglah kebodohan kalian, duduklah dengan tenang,
belajarlah dasar-dasar dien, belajarlah tentang makna La ilaha
illallah, yang dakwah, jihad , isytihad tak akan diterima bila
tidak mengaplikasikan dan memahi maknanya.
Jika
mereka menjawab: “Maslahat yang paling agung adalah; memurnikan
tauhidullah ta’ala dan menjauhi dari unsur-unsur yang
menyelishi, berlawanan dari syirik dan tandingan (tandid).
Kami
jawab: Masuk akalkah wahai orang yang punya akal! Kalian menghantamkan
maslahat agung ini dengan perbuatan kalian bersepakat dan bermufakat
pada para thagut atas dien lain (demokrasi) kemudian kalian
menerimanya, mengharamkan sesuatu tidak berdasar UU Allah kemudian
kalian mengekor pada tokoh-tokoh pembuat syareat menentang Allah
Al-Wahidul Qohhar.....?
Kalian
menubrukkan maslahat yang paling agung tentang penciptaan makhluk
yaitu tauhid dengan kafir kepda thagut......dengan pertimbangan
maslahat yang dipaksakan, diada-adakan, parsial, samar dan diboleh-bolehkan?
Timbangan
apa, akal macam apa, syareat mana, dan dien apa yang ridha dengan
semua hal ini kecuali dien demokrasi kafir?
Kok
bisa sih diantara kalian yakin atas sangkaan bahwa majlis dan
dewan perwakilan itu merupakan maslahat mursalah.... Padahal
para ulama mengartikan kaedah maslahat mursalah dengan “Ma
lam yasyhad laha syari’ bi ‘i’tibariha wa
la ilgha’” Suatu persolan yang tidak ditemukan dalam
syar’i . Apakah kalian menyangka bahwa syareat tidak menjabarkan
perihal syirik dan kufur, serta apakah syareat tidak membatalkan
dien selain dienul Islam...?
Terus...dakwah
macam apa yang kalian sangka bermaslahat, kebenaran mana yang
kalian telah potong dengan terjun dalam kancah majlis dan dewan
setelah kalian mengubur kaedah ushul dakwah islamiyah ? Apakah
dengan demikian ushul yang benar dari kaedah maslahah (tauhid)
dikorbankan karena kepentingan sepihak, parsial dan furu’
dari persoalan dien....?
Kemudian
dasar apakah yang kalian nyatakan dengan bergabungnya kalian
di parlemen mengenai dalil haramnya khamr?
Apakah
kalian akan berkata: dalilnya ada pada Allah dan rasul saw....
Bila
benar begitu, kalian dusta! Sebab jawaban ini tidak menggambarkan
sistem dien demokrasi dan UUD...Tidak diragukan lagi kalian
akan berkata: “Berdasar pada pasal dua dan ayat 24 serta
25 KUHP”, begitulah...dan pasal serta ayat lain dalam
syareat sesat kafir....Apakah ada setelah statemen ini yang
lebih kufur....Apakah ada dari orang-orang yang menyanjung konsep
ini tersisa tauhid?
“Apakah
kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah
beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang
diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim pada thagut,
padahal mereka telah diperintah mengingkari thagut itu. Dan
syetan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang
sejauh jauhnya”. (An-Nisa: 60)
Jawablah.....Apakah
mungkin menjalankan suatu UU dan syareat dalam sistem ini dengan
syareat lainnya yang menyelisihinya?
Tanggapilan
pertanyaan itu wahai pakar istislah.......
Sampaipun
pada syareat Islam, apakah kalain akan menegakkannya didalam
sistem ini...?
Tidakkkah
kalian mengetahui bahwa itu adalah sistem kufur dan keji....Karena
jika kalian sukses dengan rencana kalian menguasai dewan, maka
tidak akan terjadi pemerintahan berdasar syareat Allah, namun
yang terjadi adalah hukum UUD, dan hukum rakyat dan hukum mayoritas....Hukum
Allah tidak akan diungkit-ungkit kecuali hanya sebagai alasan
dan penghias.
Ketika
berserah diri pada dien demokrasi dan syareat UUD serta hukum
rakyat dan mayoritas...menjelmalah sebagai hukum thagut sekalipun
dalam beberapa hal bertepatan dengan hukum Allah. Allah berfirman:
“Sesungguhnya hukum itu hanyalah milik Allah”. Dan
Dia tidak berfirman: “Sesungguhnya hukum itu hanyalah
milik manusia”.
Allah
berfirman: “Dan hukumilah diantara kalian dengan apa yang
telah diturunkan Allah”. Dia tidak berfirman: “Dan
hukumilah diantara kalian dengan apa yang mirip diturunkan Allah”.
Allah juga tidak pernah berfirman: “Dan hukumilah diantara
kamu dengan UUD dan syareat buatan”. Inilah pernyataan
musyrikin para pemuja demokrasi dan UU buatan.
Bagamana
sekarang? Apakah kalain masih setia dengan sangkaan dan kelalaian
kalian tadi? Masihkah kalian lumuri muka kalian dengan pasir.......?
Tidakkah kalian melihat pengalaman-pengalaman orang-oprang yang
telah mengambil pendapat seperti kalaian....? Saksikanlah Al-Jazair,
itu Kuwait, disana Mesir dan banyak lagi.....Apakah kalian tidak
yakin bahwa lubang-lubang ini merupakan kekufuran, milah syirkiyah?
Tidakkah kalian berpikir bahwa Majlis ini dikendalikan oleh
thagut, dia dapat membuka (ramah atau reformis-pent) sekehendak
dia dan dia bisa menutup (otoriter) sekenanya . Mereka tidak
mungkin menerima suatu syareat yang bertentangan dengan UUD
thagut. Lalu mengapakah masih terus saja setia dalam sistem
kekafiran nyata ini (kufrun bawah)....hidup dibawah kehinaan
yang jelas....?
Kemudian
kalian menyangkal: Bagaimana mungkin kami akan mengosongkan
kursi-kursi ini dan menyerahkannya pada komunis atau nasrani
atau golongan lain? Lah...lah....
Allah
berfirman: Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera
menjadi kafir; sesungguhnya mereka tidak sekali kali dapat memberi
mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah berkehendak tidak akan
memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari
akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. [3.176]
Namun
bila memang kalian telah menyatu dan sependat terus dengan mereka,
silahkan bernikmat-nikmat dengan persekutuan ini....Berkumpulah
dengan kekufuran dan kesyirikan mereka terserah kamu. Tapi camkanlah,
bahwa aktifitas ini tidak akan lepas dari hukuman dunia...Allah
telah berfirman setelah menyeru agar waspada pada majlis-majlis
seprti ini, dan memerintahkan untuk menjauhi dan tidak duduk
bersama mereka dengan firmannya: “Sesungguhnya Allah mengumpulkan
orang-orang munafik dan kafir dalam jahannam semuanya”
Tidakkah
kalian yakin setelah ini bahwa itu merupakan kemusyrikan yang
jelas? Kufrun bwah?
Apakah
kalian tidak mengetahui bahwa itu dien bukan dien Allah? Milah
bukan milah tauhid?
Marilah
tengok Al-Kitab...jauhilah mereka, jauhilah milah mereka dan
ikutilah milah Ibrahim yang hanif dan bukanlah dia dari golongan
orang musyrikin. Berkatalah seperti cucu beliau Yusuf as sedang
dia lemah dalam penjara :
“Sesungguhnya
aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman
kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian. Dan
aku mengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Yakub.
Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu
apa pun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia
Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan
manusia itu tidak mensyukuri (Nya).” (Yusuf 37-38)
Ya
qoum....jauhilah para thagut dan majlisnya, anti loyalitaslah
kalian darinya, kafirilah mereka selama mereka tetap dalam kondisi
demikian.
Ini
adalah kebenaran yang jelas....cahaya yang terang...akan tetapi
kebanyakan manusia bodoh.
“Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiaptiap umat (untuk
menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut
itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi
petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang
telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka
bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang
mendustakan (rasulrasul).” (An-Nahl 36)
“Manakah
yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah
Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain
Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek
moyangmu membuatbuatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan
pun tentang namanama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah.
Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia.
Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
(Yusuf 39-40)
“Dan
berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami
dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari
mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah
Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi
sesalan bagi mereka; dan sekali kali mereka tidak akan ke luar
dari api neraka.” (Al-baqoroh: 167)
Menyirlah
dari mereka segera sekarang juga kemudin katakan kepada mereka
–jika kalian diatas milah Ibrahim dan jalan nabi-nabi
serta rasul-rasul – seperti yang kami lantunkan berikut:
Wahai
penyembah undang-undang buatan dan perpu-perpu hina
Wahai si empunya dien demokrasi
Wahai para tokoh-tokoh yang menetapkan syareat
Sesunggunya
kami berlepas diri dari kalian dan milah kalian
Kami mengkafirkan kalian dengan UUD kalian yang penuh kesyirikan
dan majlis-majlis perlemen sang berhala
Jadilah antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian abadi
Kecuali bila kalian beriman pada Allah dan tidak menyerikatkan-Nya
*
Syeikh Abu Muhammad Al-Maqdisi merupakan seorang ulama mujahid,
beliau hari ini dikurung dalam tahanan oleh pemerintah taghut
Yordan. Sufyan bin Uyainah berkata kepad Abdullah bin Mubarak:
“Bila kamu melihat manusia telah berselisih pendapat,
maka ikutlah kamu bersama mujahidin dan para ulama yang hidup
diperbatasan kancah jihad”.
|