MINBAR AT TAUHID DAN AL JIHAD
Home | Aqidah | Fiqh | Jihad | Bahst | Syair    
   
 

Hani

Oleh: Izzi Arsadana

Aku lihat menyendiri, isaknya pedih maka aku turut menangis
Hatiku tergetar bak dalam suatu tawanan
Dalam wanginya umurku di perjalanan masa antara tua dan balita
Isaknya terpedih asa tiada harap sepertinya panah telah menancap tajam dalam jantung
Aku mendekat dengan lembut dan mesra tentang derita apakah yang kau rasa
“Siapa namamu nak?”
“Namaku akan sangat mengherankanmu, aku Hani”, jawabnya
“Wahai paman, bila kau mau aku punya kisah menakjubkan.
Itupun jika kamu mau mendengar, mendekatlah padaku.
Wahai paman aku sebatang dahan tanpa daun dan batang
Dipatahkan dengan kasar dan kejam
Aku kehilangan ruhku, ibu dan ayahku tersayang
Keluargaku, yang mengasihiku serta jiran”
Ku usap air mata yang menitik lalu kukatakan lirih
Kudengar semua kisahmu, terimalah usulan dan hasratku
Anakku, lukamu dalam qolbuku tak mungkin pupus selamanya
Jangan berputus asa, kau tak hidup dalam kesendirian
Kami semua bagimu ayah penuh cinta
Seluruh istri dari kami ibunda penuh kerinduan
“Jazakumullah paman, tapi bagaiamana aku akan menjadikan kalian waliku
sedang paman hanya melihatku dari balik monitor
sekejap,
lalu berpaling.
Jazakumullah paman, inilah tanah dan reruntuhan; ibuku
Langit dan awan; ayahku
splinter roket, empty charge, backblast; jiran dan teman permainanku
Paman, bila sungguh engkau nak mengangkatku anak
Doamu kupinta di witirmu, subuhmu, hujanmu, jum`atmu, ngoprekmu, hari-harimu..”

Maret 2004