| |
Dongeng Natal Pertama:
KISAH BURUNG BEO
(Cuplikan)
[…]Bunga-bunga
cempaka kuning itu mulai berceritera. Raden ayu ini sebenarnya
tidak semuda seperti terkesan oleh tata riasnya. Ia salah
seorang istri sunan Solo yang sudah meninggal dunia. Remaja
putra yang menunggang kuda itu baru dilahirkannya setelah
sang susuhunan meninggal. Sang raden ayu menginginkan
putranyalah yang menggantikan ayahnya menjadi sunan. Keinginannya
tidak terkabul karena putra seorang istri lain dipilih
menjadi pengganti ayahnya; pangeran itu dilahirkan sewaktu
sang sunan masih hidup. Sampai kemarin sang raden ayu
ini tinggal dengan tenang di kota kesunanan Solo. Kemarin,
setelah putranya dipermaklumkan sebagai lelaki yang sudah
dewasa, sang raden ayu beserta putranya pergi melarikan
diri ke tempat para pendukung mereka, yaitu orang-orang
yang menganggap pangeran inilah yang seharusnya menggantikan
almarhum raja mereka.
"Namun,
raden ayu ini tidak akan berhasil", demikianlah pendapat
bunga-bunga itu, "lihat gumpalan debu sana, jaraknya tiga
mil dari pohon terakhir di pinggir jalan ini! Barisan
penjaga keamanan pribadi sunan sudah datang menyusul untuk
menangkap dan menggiring keduanya, baik ibu maupun putranya,
kembali ke Solo. Di sana mereka berdua akan dimasukkan
penjara atas tuduhan menghasut pemberontakan."
"Akan
tetapi raden ayu tidak akan membiarkan dirinya ditangkap.
Lihatlah senjata yang terselip di kainnya; di Jawa senjata
itu disebut 'keris'. Dengan keris itu ia akan membunuh
puteranya, lalu dirinya sendiri, tetapi ia tidak akan
membiarkan dirinya ditawan." […]
Catatan: teks asli cuplikan karya Max Dauthendey
Erste heilige Nacht: Geschichte des Beovogels
dapat dibaca dalam link Research/Colonial Immages
www.vifu.de/user/Korah
|