Max Dauthendey

 

 
 

Dongeng Natal Pertama:
KISAH BURUNG BEO
(Cuplikan)

[…]Bunga-bunga cempaka kuning itu mulai berceritera. Raden ayu ini sebenarnya tidak semuda seperti terkesan oleh tata riasnya. Ia salah seorang istri sunan Solo yang sudah meninggal dunia. Remaja putra yang menunggang kuda itu baru dilahirkannya setelah sang susuhunan meninggal. Sang raden ayu menginginkan putranyalah yang menggantikan ayahnya menjadi sunan. Keinginannya tidak terkabul karena putra seorang istri lain dipilih menjadi pengganti ayahnya; pangeran itu dilahirkan sewaktu sang sunan masih hidup. Sampai kemarin sang raden ayu ini tinggal dengan tenang di kota kesunanan Solo. Kemarin, setelah putranya dipermaklumkan sebagai lelaki yang sudah dewasa, sang raden ayu beserta putranya pergi melarikan diri ke tempat para pendukung mereka, yaitu orang-orang yang menganggap pangeran inilah yang seharusnya menggantikan almarhum raja mereka.
"Namun, raden ayu ini tidak akan berhasil", demikianlah pendapat bunga-bunga itu, "lihat gumpalan debu sana, jaraknya tiga mil dari pohon terakhir di pinggir jalan ini! Barisan penjaga keamanan pribadi sunan sudah datang menyusul untuk menangkap dan menggiring keduanya, baik ibu maupun putranya, kembali ke Solo. Di sana mereka berdua akan dimasukkan penjara atas tuduhan menghasut pemberontakan."
"Akan tetapi raden ayu tidak akan membiarkan dirinya ditangkap. Lihatlah senjata yang terselip di kainnya; di Jawa senjata itu disebut 'keris'. Dengan keris itu ia akan membunuh puteranya, lalu dirinya sendiri, tetapi ia tidak akan membiarkan dirinya ditawan." […]

Catatan: teks asli cuplikan karya Max Dauthendey
Erste heilige Nacht: Geschichte des Beovogels
dapat dibaca dalam link Research/Colonial Immages www.vifu.de/user/Korah