SAYA AKAN TERUS MENULIS DAN MEMBONGKAR APA YANG BENAR. SAYA AKAN TERUS MENENTANG KEONARAN-KEONARAN. SAYA AKAN TERUS BERBUAT APA YANG SAYA PIKIR BETUL DEMI MENYELAMATKAN BANGSA ACEH DAN TIDAK ADA MANUSIA YANG BISA MENGHALANG SAYA KECUALI ALLAH SWT. SECEBIS KUMANPUN CERITA DAN PENGALAMAN SAYA SELAMA BERADA DALAM TUBUH GAM AKAN SAYA CERITAKAN KEPADA UMUM. SIAPAPUN ANDA YANG INGIN MENGKRITIK, SILAKAN! TETAPI MAKE SURE ANDA PUNYA ALASAN DAN BUKTI-BUKTI YANG CUKUP UNTUK MENENTANG HUJJAH DAN CERITA SAYA TERSEBUT. KALAU SEKADAR TAU MAKI HAMUN DAN TOHMAHAN, BAIKNYA TIDAK USAH SAJA. SIMPAN SAJA TENAGA ANDA. ANDA YANG PUNYA MASALAH PRIBADI DENGAN SAYA, SILAKAN TELPUN SAYA LANGSUNG DI +60162705455.

TERIMA KASIH

Sambungan Kisah PEREBUTAN KUASA DALAM GAM

GOLONGAN FANATIK DALAM GAM:

Si Bodoh Membodohi Si Pandai, Mereka Mencipta dan Membawa Malapetaka.

Oleh: Teuku Don Zulfahri

Pada tanggal 31 Januari 2000, Nikoya-FM menyiarkan berita bantahan Yusra Habib Abdul Gani yang jadi pengungsi di Denmark setelah diusir oleh pemerintah Malaysia pada tahun 1997 dan disifatkan sebagai ‘Tengku’ oleh radio tersebut. Bantahan ‘Tengku Gayo’ ini ialah tentang tersebarnya berita adanya pertemuan (rundingan) diantara Tengku Hasan Muhammad di Tiro dengan Dubes RI di Jenewa pda hari Khamis tanggal 27 Januari 2000. Menurut ‘Tengku di Gayo’ ini; "tidak benar ASLNF telah mengadakan rundingan dengan pihak Indonesia di Geneva. Tengku Hasan di Tiro memang sedang membuat lawatan ke berbagai negara, seperti telah beliau katakan dalam wawancaranya dengan media cetak lokal di Aceh belum lama ini. Akan tetapi tidak ada rundingan dengan pihak Indonesia. Apa yang diberitakan oleh detik.com Jakarta, baru-baru ini adalah tidak benar." Judul berita tersebut adalah HASAN TIRO TIDAK PERNAH TEMUI DUBES RI DI GENEVA.

Berderau darah saya membaca berita tersebut. Sampai kapan para fanatik ini akan berhenti menipu bangsa Aceh? Sampai kapan manusia manusia bodoh ini akan terus mempermainkan dan berdansa diatas mayat bangsa Aceh? Nyatanya beberapa hari kemudian Gus Dur sendiri mengkonfirmasi bahwa dia menghantar Dubesnya berunding dengan Hasan Tiro.

Seminggu sebelum tanggal 27 Januari 2000, saya mendapat telpun dari LSM yang menjadi mediator pertemuan yang waktu itu masih direncanakan. Saya, dr Husaini dan M Yusuf Daud diundang untuk hadir sama-sama dalam pertemuan tersebut sebagai wakil Majelis Pemerintahan GAM. Sedangkan yang akan hadir bersama-sama Hasan Tiro adalah Zaini Abdullah dan Malik Mahmud (Kepala Bandit GAM). Saya diberikan informasi lengkap tentang jadual dan maksud perundingan. Setelah mempertimbangkan baik dan buruknya, saya mengambil keputusan untuk menolak undangan LSM ini karena pertemuan dengan Dubes RI bukanlah suatu yang saya harapkan dan tentunya tidak akan membawa hasil atau mementum apapun kepada perjuangan kita. Saya berpendapat, forum "perundingan" lebih sesuai dihadiri oleh LSM-LSM Aceh. Untuk GAM, kalau hanya berunding dengan seorang Dubes dan dimediatori hanya oleh sebuah LSM, maka saya pikir GAM sudah tidak punya prinsip. Menghargai posisi saya sebagai Sekjen GAM, saya meno! lak untuk hadir.

Sebulan sebelum itu (dalam bulan puasa) pegawai dari LSM yang berbasis di Jenewa tersebut datang ke Kuala Lumpur bertemu saya membawa ide perundingan yang semula direncanakan antara tokoh-tokoh GAM dengan Dus Dur mengambil kesempatan kunjungan Presiden RI retsebut ke Davos, Swiszerland. Sebelumnya pegawai yang sama sudah bertemu dengan Hasan Tiro di rumah flatnya di Swedia dan pegawai tersebut juga telah bertemu dengan Gus Dur, Alwi Shihap di Jakarta.

Sebelum saya lanjutkan, saya ingin menyatakan bahwa GAM menjanjung tinggi usaha LSM tersebut. Walaupun kepentingannya hanya menyangkut soal ‘to prevent humanatarian disaster’ tetapi mereka amat akomodatif dalam membantu bangsa Aceh membawa kasus kita ke dunia internasional. Pegawai-pegawai LSM ini juga membuat studi lengkap tentang kemelut di Aceh dan pernah bertemu serta berdialog dengan hampir semua boss-boss LSM dan gerakan sipil Aceh. LSM ini sudah mengemukakan rekomendasinya kepada RI tentang langkah-langkah yang mereka pikir perlu diambil oleh RI untuk menyelesaikan kasus Aceh yang mana saya dipahamkan menguntungkan bangsa Aceh.

Kenapa saya mulakan cerita saya dengan bantahan "Tengku di Gayo" ini? Karena ini adalah dongeng dan penipuan paling baru yang datang dari golongan fanatik dalam tubuh GAM. Dengan begitu ramai rakyat Aceh terkorban setiap hari, namun golongan fanantik ini yang bersekongkol dengan golongan Bandit pimpinan Malik Mahmud ternyata masih sanggup menipu, mencipta cerita bohong dan berdansa di atas mayat- mayat bangsa Aceh yang tidak berdosa. Apakah karena mereka menetap di kutub utara yang jauhnya beribu kilometer dari Aceh? Saya pikir tidak juga, sebagai contoh di Kuala Lumpur ada orang tua yang begitu fanatik kepada Hasan Tiro sehingga sampai sekarang ini dia percaya bahwa Hasan Tiro punya pesawat sendiri, punya rumah mewah di seluruh dunia dan setiap hari bertemu dan berbincang dengan diplomat dunia. Orang tua ini bernama "Abu Salim", berasal dari Perlak. Kerja hariannya mengeluarkan surat nikah ‘Negara Aceh Sumatra Merdeka’ dan "posisinya" adalah "Kadhi Negara A! ceh Sumatera". Setiap kali polisi Malaysia datang mengerebek atifitasnya, dia akan lari lintang pukang bersembunyi di kuburan berhari-hari di kampung tersebut (Selayang). Orang kuat yang bertetangga denganya diperkampungan rumah haram (kumuh) tersebut bernama Din Kepala. Kerja hariannya adalah sopir truck sayur, pernah latihan di Lybia tetapi tidak pernah pulang ke Aceh. Kedua mereka ini adalah diantara tokoh-tokoh kuat GAM (tokoh fanatik) di Kuala Lumpur. Terkadang saya tertawa sendiri kala mengenangkan tokoh-tokoh GAM yang ‘hebat-hebat’ ini dan mereka agaknya yang dIcalonkan oleh Hasan Tiro untuk memimpin bangsa Aceh nantinya, kalau sudah merdeka.

BERSAMBUNG………