|
PEREBUTAN KUASA DALAM GAM Diantara Bandit, Fanatik dan Demokrat Oleh: Teuku Don Zulfahri "Cita-cita bangsa Aceh untuk menentukan nasib sendiri lewat Referendum yang dibawa oleh mahasiswa dan didukung oleh ulama nampaknya berada diambang kegagalan akibat adanya perebutan kuasa di dalam tubuh GAM. Perebutan kuasa diantara bandit-bandit, fanatik dan demokrat ini pasti akan menjadi punca kegagalan Aceh berdiri sendiri, bebas dari Republik Indonesia" Pandangan pribadi Teuku Don Zulfahri Sehari selepas ulang tahun GAM yang ke 23, tepatnya pada tanggal 5 Disember malam, saya memimpin satu rapat khusus Majelis Pemerintahan GAM di Shah Alam, Malaysia. Posisi saya sebagai wakil salah seorang anggota Majelis yang pada saat itu sedang bertugas di Aceh melayakkan saya memimpin rapat tersebut. Dalam laporan saya kepada Majelis atas nama Sekjen GAM dan Kepala Sekretariat Majelis, saya bentangkan semua pencapaian-pencapaian dan kegagalan-kegagalan GAM selama 9 bulan terakhir ini baik yang dibawah komando Majelis maupun dibawah komando warga Singapura ataupun yang dikomando lansung oleh Hasan Tiro dan kaum kerabatnya. Pencapaian GAM yang membanggakan adalah berhasil membangun kekuatan yang menakutkan RI serta berhasil membendung meletusnya perang ‘premature; menjelang 4 Disember, manakala kegagalan besar GAM adalah membawa penderitaan kepada rakyat Aceh dengan propaganda dan penipuan serta pengurasan dana rakyat yang keterlaluan. Saya juga mengingatkan mereka bahwa hingga saat ini belum ada satu negarapun yang mendukung GAM. Saya mengimbas kembali kepada Majelis tentang tujuan dan maksud pembentukan Majelis Pemerintahan (MP GAM) pada bulan Maret 1999 yang lalu. MP GAM yang dibentuk tak kala GAM tertidur dan porak poranda itu, saya bilang, sudah memainkan peranannya dengan sempurna untuk kepentingan bansa Aceh. Saya bilang, kalau dulu GAM ini berpecah 100 sekarang menjadi dua atau tiga, kalau dulu bandit-bandit dalam GAM hanya tahu memeras rakyat untuk kepentingan pribadi, sekarang mereka sudah terpaksa beli senjata akibat kemarahan rakyat. Kalau dulu fanatik GAM membenci ulama dan cendikiawan sekarang sudah berbeda, kalau dulu GAM dipandang hina sekarang sudah mulai dihormati dan macam macam lagi hal-hal yang positif telah terjadi kepada GAM selama 9 bulan terkahir ini. Saya bilang, sekarang sudah waktunya Majelis ini kita pertimbangkan fungsinya. Apalagi Majelis yang disingkatkan dengan MP GAM telah difitnah begitu kuat oleh bandit bandit dan fanatik dalam tubuh GAM. Saya bilang, rakyat sudah termakan dengan fitnah tersebut dan rakyat akan hanya menyadari apabila mereka terjaga dari mimpi ini tanpa pembelaan dari siapapun, sekarang rakyat Aceh sudah gila, mereka percaya dongeng yang dibawa oleh fanatik yang menjanjikan Aceh besok akan merdeka. Rakyat percaya bahwa Hasan Tiro keturunan Raja Aceh dan bandit warga Singapura adalah Perdana Menteri Negara Aceh Sumatra Merdeka. Saya bilang, fungsi kita menyadarkan bangsa Aceh untuk membuka mata menentang RI sudah selesai walaupun efek sampingannya rakyat telah dipergunakan dan dipermainkan oleh bandit-bandit dan fanatik dalam tubuh GAM itu sendiri. Saya bilang rakyat sekarang sudah bersatu menentang RI, hanya GAM saja yang masih dibaluti dengan kekotoran dan kekufuran. Yang pa! ling menakutkan, saya bilang, sekarang sudah terjadi perang sesama sendiri di lapangan. Padahal musuh utama kita adalah TNI dan RI. Semua anggota Majelis terdiam, mereka sedih. Mungkin sedih memikirkan GAM yang mereka dirikan bersama-sama Hasan Tiro pada tahun 1979 ini sudah jauh lari dan terpeleset dari jalan sebenarnya dalam memperjuangkan cita cita bangsa Aceh, atau mereka sedih nama baik mereka tercemar dan terhina akibat difitnah golongan bandit dan fanatik tadi. Mungkin juga mereka pilu memikirkan tentang pengikut mereka yang diburu dan dibunuh oleh pengikut bandit dan fanatik tersdebut. Entahlah, sayapun tidak pasti. Lima belas menit kemudian tokoh paling senior, Teungku Daud Husin @ Daud Paneuk bersuara " Apakah kita akan membiarkan mereka menghancurkan masa depan bangsa Aceh?" Kemarahan beliau ini disambut langsung oleh Teungku Idris Machmud "Saya tidak setuju mebiarkan durjana merajalela dalam tubuh GAM, saya masuk penjara berbelas tahun bukan untuk golongan fanatik dan bandit, saya sanggup menderita berpuluh tahun karena saya yakin pada cita-cita asal Angkatan Aceh Merdeka, kita harus menentang mereka ini!"Seperti biasa Teungku Idris tokoh Peureulak ini orangnya keras dan tidak ada basa basi. Lalu seorang tokoh demokrat yang paling liberal, Dr Husaini Hasan berkata " Apa maksud Teuku Don? Apakah Teuku Don mengusulkan MP GAM ini dibubarkan? Kalau itu maksud Teuku Don, saya tidak setuju!" Semua anggota Majelis yang lain seramai 10 orang (tidak termasuk tokoh yang saya wakili) mengeluarkan pendapat bernada yang sama dengan ketiga-tiga tokoh tersebut. Mereka nampaknya sepakat bahwa keonaran, kejahilan, kejatahan dan fanatisme serta propaganda kosong mesti ditentang habis habisan walaupun nyawa berpisah dari badan. Mereka bertekat bahwa rakyat Aceh wajib disadarkan dari mimpi-mimpi bohong. Mereka mau Aceh ini merdeka dengan kenyataan dan logika, bukan dengan mimpi dan propaganda. Sebagai orang luar yang hanya menyumbang tenaga karena diminta oleh Majelis sendiri dan posisi saya sebagai Sekjen GAM adalah dibawah kekuasaan Majelis, maka saya terpaksa akur-akur saja apapun keputusan mereka. Lagipun keputusan mereka itu ada logikanya saya kira. Sampai kapan rakyat Aceh harus dibiarkan tertipu begini. Saya sebagai corong Majelis menyuarakan keputusan dan kebijakan kepada umum wajib menjalankan tugas-tugas yang diarahkan Majelis. Walaupun diluar sana kebanyakan orang menganggap saya mendalangi dan berkuasa dalam MP GAM sehingga pribadi saya difitnah, keluarga saya diancam dengan bermacam rupa oleh pengikut bandit-bandit dan fanatik yang saya sebutkan tadi, saya terpaksa pasrah menerimanya karena saya sudah berjanji kepada senior senior GAM ini bahwa saya tidak akan mundur sehingga Aceh betul betul bebas dan merdeka dari republik Indonesia. Saya sudah siap mengabdi, bukan hanya kepada GAM tetapi kepada bangsa saya, bangsa Aceh. Setelah 9 bulan saya mengabdi diri kepada GAM maka saya tidak heran lagi kalau sekarang ini setiap hari saya menerima laporan dari Panglima Pengatur Strategi dan kawan kawan bahwa di Aceh bahwa para pengikut bandit dan fanatik sedang memburu pengikut MP GAM. Mereka menganggap MP GAM musuh nomor satu dan TNI musuh nomor dua. Mereka sanggup membunuh kawan dan saudara sendiri. Sebenanrnya mereka itu tidak bersalah, mereka hanya menuruti arahan bos-bos Bandit dan bos-bos Fanatik. Mereka telah diyakini oleh bos-bos mereka tersebut bahwa MP GAM ini pengkhianat, bahwa MP GAM ciptaan RI dan bermacam lagi fitnah dan propaganda yang menyesatkan. Padahal yang sebetulnya para bos mereka itu sedang ketakutan, ketakutan GAM akan menjadi milik rakyat dan dipimpn oleh ulama dan golongan demokrat. Mereka mau GAM ini jadi milik pribadi dengan tujuan yang berbeda-beda walaupun kedua kelompok tersebut bekerjasama. Kalau para bandit menggunakan GAM untuk memperkayakan diri, gol! ongan fanatik pula menggunakannya untuk kaum keluarga mereka yang kononnya keturunan Raja. Sungguh menyesatkan! BERSAMBUNG…Ciri-ciri Bandit, Ciri-ciri Fanatik dan Ciri-ciri Demokrat Sambungan: PERBUTAN KUASA DALAM GAM-Diantara Bandit, Fanatik dan Demokrat. Reaksi pertama yang saya terima setelah saya sebarkan tulisan saya terbaru berjudul seperti diatas tersebut datang dari dr Husaini Hasan sendiri. Beliau yang saya katagorikan sebagai Tokoh Demokrat terperanjat dan menggelabah disebabkan tulisan saya tersebut. Berikut adalah isi email beliau kepada saya: Date: Mon, 20 Dec 1999 23:53:06 +0100 From: "Adam Halimoson" To: "Teuku Don Zulfahri" Hai Teuku Don, Pakon lagèë njoë ka? Pakon neumarit lagèë njoë. Lôn piké negative effect djih bak rakjat geutanjoë.Rakjat geutanjoë ka bingong meutamah sèwè ladju. Lôn hana lôn djak seunoh kuasa, sabab tudjuan lôn lôn peubuët njoë kon keu pèng dan kon keu pangkat njan ka sép na sigohlom lôn ék u glé. Hai sjèëdara meutuah neusaba dilèë bèk neupuka bandum pruët-pruët èk geutanjoë bandum. Njang malèë kon awaknjan mantong, meutapi malèë geutanjoë bandum bangsa Atjèh. Djipiké lé gob njankeuh meunan bandum biëk Atjèh, djimeukab sabékeudroëdjih hana djitu'oh djimeuhubông sabé keudroëdjih, uncivilize keubit. Meukeusud Lôn djeuët ta peutrang buët brôk awaknjan tapi bèk dalam internet atawa dalam surat haba lagèënjoë, djikhém musôhteuh. Djeuët ta peutrang bak awak droëteuh, ulama, mahasiswa ´dan rakjat Atjèh. Alah hai Teuku Don.------dr. Husaini---- Nah, anda lihat sendiri kejujuran dan kebaikan hati pejuang sejati bangsa Aceh seperti dr Husaini ini. Walaupun beliau dihina dan difitnah oleh gerombolan Bandit dan Fanatik, tetapi beliau masih bersikap mementingkan perpaduan dan mempertahankan maruah bangsa Aceh. Inilah yang saya panggil Tokoh Demokrat dan Tokoh Pejuang Sejati. Tidak pernah mementingakan diri sendiri. Seperti yang saya janjikan, hari ini saya akan mengupas tentang CIRI-CIRI BANDIT. Tetapi mengingat dan menghormati pandangan dr Husaini maka saya terpaksa robah sedikit niat awal saya. Namun untuk tidak menghampakan anda semua, bersama ini saya turunkan sebuah wawancara dengan Harian KOMPAS beberapa bulan lewat. Wawancara ini tidak disiarkan oleh Kompas, mungkin mereka ada pertimbangan lain seperti "tidak mau terlibat dalam meluruskan kebengkokan masa depan bangsa Aceh' ataupun mereka takut kepentingan mereka di Aceh di ganggu oleh Bandit-bandit ini. Wawancara ini berlangsung pada saat pengeboman rumah Syamsul Kahar di Banda Aceh. Sebagimana dimaklumi, Sdra Syamsul Kahar adalah Redaksi KOMPAS di Aceh. Wawancara dengan Wartawan Kompas beberapa bulan yang lalu (belum disiarkan-mungkin Kompas takut kantornya dibakar oleh Bandit-bandit dan Fanatik): Ass wr wb.- Berbagai informasi yang berkembang selama ini menyebutkan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pecah paling kurang dalam dua faksi. Yaitu faksi dr Husaini Hasan Cs (bergaris lunak), dan faksi dr Zaini Abdullah Cs (bergaris keras/radikal). Kondisi begini memunculkan celah paling rawan. Indonesia dapat menggunakan celah ini untuk masuk dan memprovokasi GAM, sehingga kemudian tidak mengherankan di lapangan ditemukan adanya GAM murni dan yang gadungan. Sama-sama menggunakan "baju" GAM, tetapi missinya lain. Yang ingin ditanyakan: Sejauh mana kebenaran informasi tersebut? Jawaban: Walaupun sudah bekali kali saya coba menutupi masaalah sebenarnya dalam GAM ini tetapi ada pula ‘okmun’ lain dari GAM yang malah bangga menyatakan GAM sudah pecah. Usaha saya menyembunyikan hiruk pikuk dalaman GAM ini bertujuan untuk menyatu-padukan kembali anggota anggota dan pengikut GAM demi masa depan perjuangan bangsa Aceh, namun apakan daya usaha tersebut menjadi sia sia dan sekarang GAM bukan hanya telah dibogelkan, malah bulu-bulu bagian sulitnya ikut dicukuri sekalian seperti dalam Majalah GAMMA baru baru ini. Kedaan ini hanya menguntungkan pihak musuh, manakala bangsa Aceh bertambah bingung sehingga banyak yang terkorban sia-sia serta kemungkinan Aceh untuk bebas dari RI dalam waktu singkat menjadi bertambah kabur sekali. Yah, kalau organnisasi yang memperjuangkan kemerdekaan Aceh seperti GAM ini sudah "diketuai" atau "diurus" oleh orang orang yang bisa dianggap sesat maka apa hasilnya nanti bukan sesat juga ? Saya sedih sekali, saya tinggalkan! semua business saya untuk membantu memperbetul tonggak perjuangan bangsa Aceh (GAM) yang sememangnya saya tahu sejak awal kewujudannya dipenuhi dengan anasir anasir kotor dan tonggang-langgang serta sarat dengan propaganda bernilai dibawah nol. Yang menjadi korban dan menderita adalah rakyat Aceh, mereka yang mengaku pemimpin ini enak-enak saja hidupnya dengan wang yang diperas dari rakyat atas alasan untuk beli senjata. Kalau saya pikir pikir sikap "pemimpin" GAM ini lebih buruk dari penjajah. Walaupun demikian, perpecahan dalam GAM ini bukan seperti yang diheboh-hebohkan yang menyatakan dr Zaini Abdullah punya satu fraksi dan dr Husaini Hasan pula dengan fraksi lain. Itu semua tidak benar, yang sebetulnya pertelingkahan antara individu dalam GAM sudah lama terjadi akibat masing masing ada kepentingan pribadi dan malahan ada yang berpunca dari hal hal yang kecil sekali, seperti masaalah tersingkirnya dr Husaini pada tahun 1985 yang berpunca dari hanya sola pindah rumah Wali Negara, sehingga akibatnya perjalanan dan aktifitas GAM telah lama menjadi tidak karuan. Sedangkan bangsa Aceh sangat mengharapkan GAM ini menjadi pembela mereka dan rakyat pula percaya bahwa GAM itu hebat sekali, padahal isinya kosong penuh dengan pembohongan. Memang kurang ajar saya terpaksa membocorkan rahasia begini, tetapi kalau bertambah lama saya tutupi akibatnya bangsa Aceh semuanya mati dalam mimpi. Walaupun itu "syahid" namanya tetapi arti dan penyelesaian masa depan ! untuk bangsa Aceh tidak ada kalau tonggak perjuangan ini tidak dibetulkan dari pucuk hingga ke akarnya. Ide dasar atau usaha-usaha memperbetul GAM ini sebenarnya datang dari tentra GAM sendiri lepasan Lybia pentolan pertama atau terkenal dengan Angkatan 42. Tujuh (7) orang anak muda tersebut suatu hari pada bulan Februari 1999 mendatangi saya dan meminta pandangan serta bantuan. Mereka menceritakan semua masaalah dalaman GAM yang dipenuhi dengan orang orang jahil/jahat yang menggunakan GAM untuk kepentingan pribadi. Sememangnya mereka semua ini saya kenal baik sebab sebagai pengusaha Aceh di Malaysia sudah menjadi kebiasaan anak-anak Aceh mendatangi saya untuk meminta pandangan. Tentu saja saya tidak terkejut dengan cerita mereka karena saya sendiri sudah mendengar isu-isu dari awal lagi bahwa GAM dikendalikan oleh ‘okmum okmum’ yang tidak betul sehingga saya sendiri menjauhkan diri dari GAM sejak awal lagi. Hasil dari pertemuan saya dengan 7 orang tentra GAM tersebut, timbul ide untuk mengadakan rapat dan memanggil (mengundang) semua tokoh-tokoh GAM yang ada di Malaysia untuk berbincang dan mencari jalan meluruskan kembali perjuangan GAM demi masa depan bangsa Aceh dan untuk bisa mengambil kesempatan mendobrak RI dalam keadaan RI yang lemah setelah tumbangnya rezim Soeharto pada tahun 1998. Dari sinilah datangnya ide pembentukan Majelis Pemerintahan . Setelah beberapa kali rapat dengan melibatkan tokoh-tokoh pejuang seperti Tkg Idris Mahmud, Tgk Muhammad Mahmud dll, mereka membawa hasilnya kepada saya namun saya tolak hasil tersebut karena saya merasakan belum semua pihak diwakili. Maka pada tanggal 7 Maret 1999 satu rapat pleno besar dibuat di PWTC Kuala Lumpur yang saya sendiri hadir sama. Dalam rapat tersebut yang berlansung dari pagi hingga malam yang dihadiri oleh semua tokoh-tokoh pejuang dan tantra termasuk ulama dari GAM, diputuskan supaya pimpinan GAM harus dibuat secara kolektif, maksudnya enggak bisa lagi satu orang saja yang memimpin GAM karena terbukti telah terjadi berbagai penyelewengan dimasa lampau. Alasan lain yang kuat adalah untuk mengantisipasi keadaan kesehatan Wali Negara (Hasan Tiro) yang sudah sekian tahun sakit-sakitan. Pada saat itu dibentuk satu Badan Formatur yang tugasnya meneliti dan memilih tokoh-tokoh untuk dudu! k dalam Majelis Pemerintahan, sedangkan saya sendiri pada waktu tidak punya fungsi apa apa selain mengeluarkan biaya keperluan ini dan itu. Nah, disinilah bermulanya satu sejarah baru GAM. Kalau dulu suara GAM enggak pernah kedengaran, maka sejak hari itu para staff Majelis Pemerintahan mulai bersuara di koran-koran dan berbagai media masa. Salah satu program yang diputuskan Majelis adalah memperbaiki dan membersihkan imej GAM kepada dunia supaya GAM bisa diterima oleh dunia internasional. Sekretariat Majelis juga ditugaskan untuk mencari dan mempublikasikan kelemahan kelemahan RI dan TNI. Ternyata begitu banyak kelemahan RI yang perlu di "expose" ke mata dunia. Rupa-rupanya usaha memperbaiki GAM ini tidak disenangi oleh sebagian oknum yang sudah biasa bersenang lenang dengan menggunakan GAM sebagai businessnya. Disinilah mulai timbul fraksi dan pergolakan besar sehingga dilapangan sekarang kita bisa lihat banyak tokoh dan nama disebut dengan bermacam pangkat yang tidak pernah wujud. Malahan ada yang menuduh saya menerima wang dari RI untuk menghancurkan GAM. Mereka ini sebenarnya telah dibodohi dan ditunggangi oleh "pimpinan" GAM yang jahat itu. Beliau inilah yang di gembar gembur sebagai PM Aceh, namanya Khila Bin Mahmood @ Malik Haytar Bin Mamood, warga Singapura keturunan Aceh dan berstatus penganggur alias enggak penah kerja dan hidup dengan hasil penipuan terhadap anak anak Aceh di Malaya sejak tahun 1985 dan akhir akhir ini menjadi toke yang memerintah pengutipan dana secara besar besaran di Aceh dengan alasan untuk beli senjata padahal semuanya bohong. Dia pikir orang Aceh semuanya bodoh dan menerima dia jad! i PM. Jadi, dengan penjelasan singkat ini anda bisa melihat bahwa dalam GAM tidak ada fraksi Husaini dan tidak ada fraksi Zaini. Cuman karena dr Husaini orangnya memang cintakan Aceh, berpengetahuannya luas tentang perjuangan bangsa Aceh dan rajin bekerja makanya beliau juga dipilih menganggotai Majelis Pemerintahan sedangkan dr Zaini terkenal pemalas sejak dihutan dulu (tahun 1976) dan buta tentang perjuangan makanya beliau itu dianggap tidak layak. Makanya dr Zaini bersama konconya menentang MP GAM ini. Keadaan di Aceh bertambah parah adalah disebabkan aktifitas dan tindakan Malik Mahmud dengan kawan kawannya termasuk Ismail Syahputra (merampok bank BCA Lhokseumawe atas perintah Malik Mahmud) dan Zakaria Saman (otak tokoh perencana penipuan sejak sebelum berangkat ke Lybia). Dalam usahanya menentang Majelis Pemerintahan. Malik Cs ini dibantu pula oleh kelompok baru yang marah kepada Majelis yaitu kelompok Zaini cs, maka bertambah banyak masaalah. Mereka (Malik, Ismail dan Zakaria) rupa rupanya juga punya kerjasama dengan TNI sehingga menjustufikasikan kemunculan orang orang baru di Aceh dengan ‘baju’ GAM. Jumlah mereka yang dikelola TNI adalah 300 orang dan bukan semua orang Aceh tetapi mereka pandai berbahasa Aceh karena memang dipersiapkan sejak zaman Soeharto dulu dibawah pimpinan Prabowo. Propaganda dan pengaruh Malik Mamud Cs sempat dipercayai oleh anggota-anggota dilapangan dan rakyat Aceh sendiri. Tetapi setelah sekian bulan berlalu dan wang bermilya! r rupiah disetor kepada Malik ternyata senjata yang dijanjikan tidak muncul mucul, maka datanglah perwakilan-perwakilan termasuk orang tua (ulama) dari Aceh menuntut.Tentu saja Malik menyembunyikan diri, enggak mau jumpa dengan perwakilan-perwakilan dari Aceh ini, yang dilepaskan untuk mengahadapi tokoh-tokoh dari Aceh adalah anak anak muda gerombolan ganster/preman GAM yang hanya tahu main pukul dan tidak berpendidikan langsung. Akibatnya para utusan ini kecewa dan merasa dipermainkan. Yang sebenarnya memang tujuan Malik untuk mempermainkan bangsa Aceh, bukti yang terkumpul sejak tahun 1985 sudah bisa dijadikan buku setebal 500 lembar. Yang jelasnya beberapa peristiwa pembunuhan kejam terhadap rakyat Aceh di Kuala Lumpur juga atas arahan Malik Mahmud karena orang ini terlalau banyak mempersoalkan aktifitasnya, makanya hingga sekarang ini Malik tidak bisa masuk ke Malaysia. Setelah saya melibatkan diri barulah keadaan agak reda sedikit, mungkin mereka takut sebab mereka pikir ! saya rapat dengan pemerintah Malaysia. Perjanjian antara Malik dan TNI mensyaratkan Malik Cs dibenarkan memeras wang dari rakyat dan perusahaan perusahaan seperti Mobil Oil dll sedangkan TNI harus bisa memperkuat cengkamannya terhadap Aceh sehingga ide reformasi yang melahirkan seruan Referendum oleh mahasiswa bisa dihapus atau dikikis secara paksa dari hati rakyat Aceh. Jadi, kalau anda teliti penjelasan saya ini maka anda akan temui bahwa sebenarnya GAM tidak pecah, cuman dimasuki dan didominasi anasir jahat dan kotor sejak awal lagi. Anasir anasir inilah yang harus dibersihkan kalau kita masih sayang kepada bangsa Aceh dan kalau GAM ini betul betul ingin dijadikan milik bangsa Aceh selama lamanya. 2. Bagaimana GAM terutama MP GAM menyikapi hal ini sehingga garis perjuangan GAM tetap berada di jalan yang telah disepakati sejak lama. Jawaban: Untuk mecapai cita cita asal GAM yang murni yang dicetuskan oleh Dr Tengku Hasan Muhamad di Tiro dan kawan-kawannya ( Tgk. Daud Paneuk, dr Husaini Hasan, Allmarhum dr Mukhtar dal lain lain) maka kita tidak punya pilihan selain membersihkan GAM dari segala anasir kotor tersebut tadi. Kita musti jadikan GAM ini milik bangsa Aceh sepenuhnya, bukan milik pribadi pihak pihak tertentu. Para Ulama harus turun tangan dan mengambil alih pimpinan GAM. Kalau tidak GAM akan hancur dan bangsa Aceh akan pupus. Majelis Pemerintahan itu hanya bersifat sementara yang berfungsi sebagai pimpinan sebelum pemimpin baru yang sesuai muncul. Tentang Wali Negara tidak perlu kita persoalkan lagi, beliau sakit dan sudah tidak mampu menjalankan tugas kenegaraan sejak bertahun tahun yang lalu. Beliau bukan hanya sakit fisik tetapi juga mental. Enggak perlu saya cerita panjang, anda nilai sendiri isi wawancaranya akhir akhir ini baik FEER maupun dengan TV2 Swedia. Apapun ceritanya be! liau tetap tokoh pencipta GAM dan tetap akan memimpin GAM walaupun hanya sebagai simbol selama beliau masih bernafas. 3. Dalam berbagai perjuangan seperti Bangsa Timor, Moro, dan lain-lain, pemimpin mereka tampil memberikan berbagai penjelasan. Tetapi dalam halnya Aceh, Hasan Tiro tak pernah muncul (secara fisik) memberikan berbagai pernyataann kepada rakyat. Yang muncul justru tokoh-tokoh nomor sekian, dengan pernyataan yang berbeda. Misalnya, pernyataan Ismail Syahputra, Abdullah Syafii, Maulida, Darwis Djeunieb, dll yang justru tak seragam dan akan lebih memperkeruh suasana. Apakah tak ada satu komando dalam hal ini? Jawaban: Bagaimana Wali bisa muncul memberikan penjelasan sedangkan beliau sakit fisik dan mental ?! Malahan sejak 2 tahun yang lalu beliau dikurung (disandera) oleh dr Zaini dan konco konconya. Anda tanya saja sama Abdullah Yahya (Asst II PEMDA) dan Tgk Darul Kamal, mereka berdua ini dipertemukan dengan Wali sewaktu Noernikmat Cs ke Swedia baru baru ini. Ini lagi satu rahasia, tapi sampai kapan kita mahu merahasiakannya. Rakyat Aceh mati terus. 4. Siapa sebenarnya Malik Mahmud? Sejumlah orang menyebut dia makelar senjata yang juga memasok senjata untuk pasukan Indonesia. Benarkah ia PM Aceh atau orang kedua setelah Hasan Tiro? Bagaimana hubungannya dengan MPGAM? Jawaban: Seperti yang saya sebutkan tadi, Malik Mahmud ini nama betulnya Khila Bin Mahmood @ Malik Haytar Bin Mahmood. Beliau ini warga Singapura dan adik beradik serta saudara maranya ada yang di Jakarta dan ada di Malaysia. Isteri seorang tokoh Aceh Sepakat Malaysia adalah salah seorang adik kandung beliau. Pada awal kepulangan Wali ke Asia dulu pada tahun 70an, Malik ini menjadi tukang tenteng tas Wali di Singapura. Profesi harian beliau waktu itu adalah penyeludup barang barang dagangan antara Indonesia, Singapura dan Malaysia. Menurut Daud Paneuk, Malik ini juga pernah menyeludup ganja dari Aceh ke Pulau Pinang. Pada waktu pembentukan Kabinet Negara Aceh I, Wali Neugara Atjeh melantik Malik sebagai wakil tetap ke PBB. Satu posisi yang sebenarnya tidak ada fungsi langsung sebab PBB sendiri hingga hari ini belum menerima Aceh sebagai sebuah negara. Kemudian apabila Wali meninggalkan Aceh dan lari ke Eropah diikuti oleh tokoh tokoh lainnya seperti dr Husani, Daud Peneuk dan dr Zaini dan kemudian dengan syahidnya tokoh tokoh penting pimpinan GAM seperti dr Mukhtar Hasbi, dll maka tinggallah Malik Mahmud berkuasa karena hanya dia yang masih bisa bergerak dan paling hampir dengan Aceh sedangkan di Malaysia belum ada tokoh tokoh yang mampu memimpin GAM. Sewaktu pengantaran kader pertama untuk dilatih di Lybia pada tahun 1986, dengan sebab tidak ada orang lain maka Malik jugalah yang menjadi penghubung di Singapura. Dia mendapat wang komisi agen dari Wali atas setiap kader yang lewat ke Libya. Kesibukan Wali dan Panglima di Libya sehingga tahun 1990 menyebabkan Malik terus berkuasa keatas tentara dan pejuang pejuang Aceh yang tinggal di Malaysia dan tanpa disedari beliau sudah digelar Menteri Negara., satu posisi yang tidak pernah mendapat surat rasmi dari Wali hingga sekarang. Sehingga perintah perang tanpa persiapan pada tahun 1989 yang membawa DOM ke Aceh adalah datangnya dari Malik sendiri tanpa pengetahuan Wali. Jadi anda bayangkan sendiri sudah berapa ramai rakyat Aceh terkorban akibat ulah Khila Bin Mahmood ini. Sekarang ini, Malik menjadi makelar senjata. Tetapi jangan lupa, ini hanya gelaran saja karena dia sendiri mengaku begitu. Yang pastinya senjata yang dihantarnya ke Aceh belum pun 5% dari jumlah wang yang dia ambilnya. Mungkin gelaran yang tepat untuk dia sekarang ini adalah "Agen Senjata Penipu Bangsa Aceh" Partnernya yang ulang alik ke Thailand adalah Zakaria Saman yang punya isteri, anak anak dan memegang paspor (warga) Thailand. Yang lebih menyedihkan, saya mendapat informasi terbaru yang memebuktikan Malik sudah bekerjasama dengan Jakarta semenjak tahun 1985 sehingga ramai tentra GAM yang dilatih di Libya terdiri dari orang orang diantar Kopassus, termasuk Ismail Syahputra yang sekarang ini berpangkat Letnan Dua dalam Kopassus. 5. Dalam pengontrolan AGAM (sayap militer GAM), siapa sebenanya yang berperan? Sebab selama ini terlihat banyak sekali pihak yang dirugikan. Misalnya, lumpuhnya arus lalulintas, pembakaran mobil pengangkut koran, bahkan pengancaman terhadap wartawan. Ancaman mana sering dilakukan oleh kelompok AGAM yang menamakan diri semacam darwis Djeunieb, Maulida, dll. Jawaban: AGAM belum ada tampuk pimpinan. Sebagai contoh di Pidie ada sekian banyak pasukan yang masing masing dengan program dan cara sendiri tanpa komando. Cuman baiknya di Pidie adalah dengan adanya Tgk Abdullah Safie yang betul betul ikhlas dan pejuang sejati dan semata semata untuk kepentingan bangsa dengan prinsipnya yang tegas (walaupun beliau ini kadang-kadang terlalu fanatik kepada Hasan Tiro). Sedangkan Darwis yang mewakili batee Ileik juga tergolong sebagai pejuang GAM yang baik. Soal kasus mogok baru baru ini yang diperintahkan Darwis semuanya tidak terlepas dari salah satu cara GAM untuk memaksa TNI keluar dari Aceh. Masaalah pembakaran mobil, mengancam wartawan dan macam macam lagi, itu bukan kerja Darwis dan juga bukan kerja Maulida. Saya curiga keonaran itu semua dibuat dan dikendalikan oleh provokator TNI yang 300 orang saya sebutkan tadi. Tentu saja Ismail Syahputra punya peranan penting dalam hal ini, walaupun dia sering mengeluarkan pernyataan ! sebaliknya, itu hanya tak tik dia untuk menutupi siapa dia sebenarnya. 6. Kalau memang benar GAM pecah, bagaimana pola penyelesaiannya. Jawaban: Kalau anda cermati sekali lagi penjelasan saya, GAM sebenarnya tidak pecah tetapi tunggangi oleh anasir anasir kotor yang mementingkan pribadi mereka dan memihak kepada TNI. Tentu saja pola penyelesaiannya kita harus bersihkan itu semua. Rakyat sendiri harus berperan aktif. 7. Mana lebih dominan perjuangan lewat jalur diplomasi dibandingkan melalui militer yang telah dilakukan selama ini dan masa depan? Jawaban: Kedua duanya perlu dan musti berjalan seiring. Pakai mulut saja tanpa kekuatan, musuh tidak akan mendengar kita. Begitu juga, pakai senjata saja kalau kita enggak tau ngomong pun musuh enggak kan tahu apa yang kita maukan. --------------------------------------------------------------------------------------------------------------- ---------------------------------- |