Siaran Pers

Sekjen GAM, 31 Januri 2000

TIDAK ADA GENCATAN SENJATA, GAM TIDAK AKAN MINTA MAAF.

Menanggapi berbagai berita pesong akhir-akhir ini tentang akan berlakunya gencatan senjata antara AGAM dan TNI/Polri serta penghinaan Syarifuddin Tippe yang menyuruh GAM menyerahkan senjata serta minta maaf ditambah lagi dengan terjadinya pertemuan antara Tengku Hasan Tiro dengan Dubes RI di Jenewa pada 27 Januari 2000, maka saya sebagai Sekretaris Jenderal GAM (bukan Sekjen MP GAM) menyatakan sebagai berikut:

1. Tidak ada dan tidak mungkin akan ada gencatan senjata di Aceh kecuali perundingan tingkat tinggi diadakan lebi dulu. Kalau ada suara-suara sumbang yang mengklaim dirinya sebagai Jurubicara AGAM yang setuju kepada gencatan senjata tersebut, maka jelas sekali orang-orang tersebut adalah gembong TNI sendiri yang selama ini bersembunyi di dalam GAM.

2. Tidak ada dan tidak mungkin siapapun dari GAM untuk menyerahkan senjata dan meminta maaf kepada TNI/Polri, sebaliknya TNI/Polri yang perlu minta maaf kepada bangsa Aceh dan angkat kaki dari Aceh.

Saya juga sangat menyesalkan sikap Tengku Hasan Tiro yang tiba-tiba berubah arah dengan tindakannya terakhir (27/1/2000) datang ke Jenewa bersama-sama Malik Mahmud dan Zaini Abdullah berjumpa dengan Dubes RI. Tindakan beliau ini membuktikan bahwa beliau tidak layak lagi memimpin perjuangan bangsa Aceh. Kenapa setelah 23 tahun dan setelah sekian banyak nyawa terkorban sia-sia Tengku Hasan seolah-olah menyerah diri kepada RI lewat seorang Dubes?

Perlu saya perjelaskan kembali bahwa perjuangan bangsa Aceh ini bukan barangan dagangan yang bisa diperjual belikan. Prinsip GAM yang juga merupakan prinsip bangsa Aceh adalah jelas bahwa RI wajib keluar dari bumi Aceh dan Aceh adalah sebuah negara merdeka. Berdasarkan prinsip inilah yang menggerakkan hati saya menerima tugas dalam tonggak perjuangan bangsa Aceh ini. Kalau prinsip ini nyatanya sekarang sudah berubah, maka saya akan melepaskan jabatan saya.

Dengan dengan ini sebagai Sekjen GAM saya tegaskan, kalau terjadinya perjanjian gencatan senjata antara AGAM dengan TNI/Polri di bumi Aceh, maka rakyat Aceh harus sadar bahwa kelompok yang menamakan mewakili AGAM tersebut adalah pengkhianat bangsa Aceh, bukan AGAM murni. Mereka yang selama ini anda anggap sebagai pahlawan sesungguhnya bekerja untuk TNI sejak tahun 1985. Mereka inilah yang saya sebut sebagai Bandit. Lebih parah lagi mereka berhasil mengontrol dan menggunakankan golongan Fanatik sejak awal lagi, mungkin sekarang para fanatik kepada Tengku Hasan perlu sadar bahwa mereka sedang diperdagangkan.

Sekali lagi saya tegaskan, tidak ada gencatan atau penyerahan senjata di Aceh. Bangsa Aceh tidak perlu gencatan dan penyerahan senjata karena senjata kami adalah untuk melindungi rakyat dari penjajah dan bandit. Adalah sangat aneh kalau tiba-tiba AGAM seolah-olah menyerah dan Tengku Hasan juga mengadap seorang Dubes musuh sedangkan pengorbanan rakyat Aceh sekarang sudah begitu dahsyat dan tidak memungkinkan untuk kita mundur walaupun selangkah. Memang, kita siap berunding/dialog tetapi semuanya ada prosudur dan ketentuan. Ini perjuangan mendaulatkan sebuah negara dan bangsa, bukan permainan peibadi.

Hentikan mencari keuntungan dengan nyawa bangsa Aceh!

Teuku Don Zulfahri

Sekjen GAM (bukan Sekjen MPGAM)

Tel: +60162705455 EMAIL: , __________________________________________________