|
DUA PERISTIWA AWAL TAHUN 2000 YANG MEMALUKAN BANGSA ACEH: WALI NEGARA DISERET KE JENEWA MENGHADAP DUBES RI DAN PANGLIMA AGAM KE JAKARTA JUMPA SIAPA? Sebelum terbentuknya Majelis Pemerintahan (MP) dalam tubuh GAM yang mendeklarasi diri sebagai pimpinan kolektif tertinggi Gerakan Aceh Merdeka, aktifitas GAM di Aceh terbatas hanya soal kompanye, pidato sana-sini tak ubah bagaikan ada pesta dan pementasan 'sandiwara'. Dalam waktu yang sama kehadiran masyarakat yang membludak menonton 'sandiwara' tersebut dipergunakan oleh Bandit dan Provokator untuk mengutip dana yang kononnya untuk perjuangan. Sehingga beberapa malapetaka yang mengorbankan jiwa rakyat tak berdosa seperti Peristiwa Idi Cut berpunca dari pementasan 'sandiwara' tersebut. Waktu itu tidak ada senjata di tangan GAM di Aceh, kalaupun ada terbatas beberapa laras saja. Setelah terbentuknya MP, maka GAM yang dulunya pecah seratus menjadi dua puak besar. Puak pertama yang sudah sekian lama "menguruskan" GAM bagaikan harta pribadinya dikomandokan oleh Malik Mahmud warga Singapura. Manakala puak kedua adalah adalah puak baru, yaitu Puak MP yang dikomandokan oleh 11 orang senior GAM. Maka bermulalah perlumbaan antara puak demi menunjukkan kekuatan kepada rakyat Aceh. Kedua-dua puak pada awalnya sama-sama menghantam RI/TNI dengan cara masing-masing untuk mengambil hati rakyat Aceh dan untuk menunjukan jati dirinya. Puak Malik yang sememangnya kekurangan tenaga profesional untuk berperang saraf dengan RI telah menggunakan sebagian kecil dana, yang asalnya dikuras untuk pribadinya, untuk membeli senjata sehingga kita lihat beberapa bulan kemudian AGAM menjadi pasukan perang bangsa Aceh yang seolah-olah tidak mungkin dikalahkan. Manakala MP yang sarat dengan tenaga profesional menggempur RI lewat perang saraf, baik menggunakan inte! rnet ataupun media, dalam waktu yang sama pasukan bersenjata puak ini menyusup kedalam inti pasukan Puak Malik sebagai persediaan mengambil alih kuasa apabila waktunya tiba. Puak Malik ternyata tidak bisa menerima keberhasilan Puak MP dalam bidang perang saraf dan diplomasi dengan RI, maka mereka mulai mencipta fitnah. Mereka mencipta dan menyebarkan fitnah kononnya Puak MP adalah puak yang cenderung kepada otonomi, malah pada satu waktu mereka hampir berhasil menipu rakyat dengan dakyah bahwa Puak MP ini adalah ciptaan RI. Akibat ulah Puak Malik ini, maka Puak MP membalas dan terus membalas, tentunya setelah lama bersabar dan setelah sekian kali memberi kesempatan untuk Puak Malik menghentikan kecemburuannya. Maka terjadilah perang dalam berbagai bentuk antara puak-puak tersebut sehingga bagi Puak Malik mendoktrinkan pengikutnya bahwa musuh nomor satu mereka adalah MP, nomor dua baru RI. Untuk mengasntisipasi kelebihan Puak MP dalam berdiplomasi dan perang saraf dengan RI, puak Malik tidak kehilangan akal. Mereka menggunakan ketokohan Hasan Tiro sebagai benteng sehingga semua fanatik-fanatik Hasan Tiro ditunggangi menjadi pendu! kung Malik tanpa sadar. Malik juga mendapat bantuan dari kawan-kawan lama dan iparnya yang agak berpendidikan yang dulunya menjadi musuh ketat Aceh Merdeka. Walaupun begitu Puak MP tetap unggul sebab puak ini mendapat dukungan cendikiawan, ulama dan tokoh-tokoh Aceh yang belum sesat bersama RI. Keberadaan saya dalam Puak MP menjadikan puak ini bertambah kuat dan tidak mudah menyerah kalah. Puak Malik hampir-hampir kehilangan akal menghadapi Puak MP sehingga Malik mengeluarkan perintah bunuh ke lapangan. Malik dengan bantuan Pasukan Pencipta dan Pembawa Fitnahnya lalu mengeluarkan senarai orang orang yang wajib dibunuh, senarai nama orang-orang yang dihalalkan darahnya atas nama "Nanggroe Atjeh". Senarai Mati ini disebarkan seluruh Aceh, ditampal di pintu-pintu toko di Aceh. Siapa saja yang pulang dari Malaysia yang tidak membawa 'surat jalan' dari Malik akan dituduh orang MP dan biasanya berakhir dengan nyawa melayang, padahal orang tersebut tidak kenal seorang pun dengan pemimpin-pemimpin MP, jauh sekali terlibat dengan Puak MP. Mereka hanya rakyat biasa. Permusuhan antara Puak Malik dan Puak MP ini bertambah seru apabila pihak internasional mulai mengirim utusan untuk bertemu dengan pemimpin-pemimpin GAM. Pihak LSM internasional yang prihatin tentang krisis kemanusiaan di bumi Aceh menghulurkan tangan untuk membawa GAM ke meja perundingan dengan RI demi kemanusiaan. Usaha yang dimulai pada awal Nopember 1999 berakhir dengan terseretnya Wali Negara menghadap Dubes RI di Jenewa. Puncanya begini, sebagaimana perlumbaan yang terjadi sejak awal terbentuknya MP, Puak Malik kali ini merasa takut dikalahkan Puak MP diarena internasional. Untuk mendapat legalitas internasional, maka Puak Malik terpaksa menipu dan menyeret Wali Negara ke Jenewa. Pertemuan yang awalnya di jangkakan antara Gus Dur dengan Barisan Pimpinan GAM berakhir dengan pertemuan Hasan Tiro dengan Dubes RI. Yang sakitnya Hasan Tiro tidak tau bahwa dia akan dipertemukan dengan seorang Dubes musuh. Malik menjanjikan pertemuan dengan PBB kepada ! Hasan Tiro, bukan dengan RI. Apabila Hasan Tiro sampai di Jenewa dan menyadari dirinya berhadapan dengan Dubes musuh ketatnya (RI), maka berang dan marahlah Wali Negara kita sehingga sesampai di Lapangan Terbang Arlanda (Swedia) dalam perjalanan pulang ke Stockholm beliau berkata " Ka hantjo buet njoe, ka dji pap ma djih si Malik". Kemarahan Wali negara tidak sampai disitu, beliau terus mengomel menyesali tindakannya menyingkirkan rakan-rakan seperjuangan seperti Husaini Hasan dan Daud Paneuk. Seorang sahabat di Swedia menelpon saya dan berkata " Ka puléh pungo Wali geutanjoë lheuëh geuwoë dari Jenewa". Saya hanya terawa. Sementara di lapangan di Aceh, seorang tokoh yang bergelar Panglima AGAM tiba-tiba hilang. Kalau dulu setiap minggu mengadakan 'Press Conference" yang dihadiri berpuluh-puluh wartawan, sekarang tiba-tiba lenyap bagaikan terhentinya petir sehabis hujan. Tiga hari yang lalu, seorang sahabat yang menetap di Jakarta menelpun saya, katanya " Hai peuë na neuteupeuë, Panglima droëneuh na di Jakarta. Na geudjak u kantô Abdullah Putéh". Maka bertambah peninglah saya, Sang bit-bit ka hantjo buetnjoe! |