Siap Berunding dengan RI

GAM:Itu Bukan untuk Sembah TNI

Reporter: Aulia Andri, 12/03/2000

detikcom - Banda Aceh, Rakyat Aceh menyadari adu senjata TNI dan GAM bukan langkah yang baik untuk menyelesaikan konflik. GAM pun menyatakan bersedia berunding dengan pemerintah RI. “Kesediaan itu bukan karena GAM menyembah TNI, tapi tuntutan rakyat Aceh,” kata Sekjen GAM Don Zulfahri.

Pernyataan Zulfahri itu disampaikan dalam dialog interaktif dengan Radio Nikoya FM Banda Aceh, Minggu (12/3/2000). Dialog dengan tema 'Mencari Alternatif Baru Peredaan Ketegangan Konflik Aceh' itu juga menghadirkan T Zainuddin M dari Tim 21.

Menurut Zainuddin, rakyat Aceh telah sepakat bahwa permasalahan di Aceh merupakan persoalan politik, oleh karenanya untuk mencari penyelesaian konflik di Aceh tersebut haruslah dengan cara politik yang demokratis, bukan dengan kekuatan senjata seperti yang diperagakan oleh TNI/Polri dan gerilyawan GAM selama ini.

“Sebab rakyat Aceh sangat menyadari bahwa mempergunakan senjata di era saat ini sudah tak relevan lagi dan tidak akan mampu menyelesaikan persoalan yang sesungguhnya,” kata Zainuddin.

Dijelaskan Zainuddin, fakta telah menunjukkan bahwa perjuangan hak dan martabat rakyat Aceh selama ini yang dilakukan melalui cara-cara yang demokratis, ternodai dengan kekerasan bersenjata, sehingga yang terjadi hanya menambah jumlah korban jiwa yang sia-sia," tambah Zainuddin.

Tengku Don Zulfahri melalui suratnya yang diterima redaksi Radio Nikoya-FM, Minggu (12/3/2000) menyatakan sikap jelasnya tentang kesediaan GAM untuk berunding dengan pemerintah RI.

“Kesedian GAM berdialog bukan bermakna kami selama ini khilaf dan sekarang sudah sadar, sebagaimana ajakan Danrem 012/Teuku Umar, perjuangan GAM tidak khilaf dan berdialog adalah untuk mencari solusi yang menguntungkan kedua belah pihak, bukan untuk menyembah TNI atau RI. Penyebab kesediaan GAM berdialog adalah sesusai dengan tuntutan rakyat Aceh yang menginginkan penyelesaian masalah Aceh lewat perundingan,” kata Zulfahri.

Jadi, tambah Zulfahri, dialog itu adalah untuk merealisasikan kehendak rakyat, bukan untuk memenuhi kehendak TNI atau RI. Selain itu, Zulfahri itu menuliskan, "tidak ada dan tak akan pernah ada anggota GAM yang menyerah dan mengaku setia kepada NKRI. Apa yang terjadi sekarang adalah rekayasa TNI memaksa rakyat menyerah beramai-ramai untuk menjatuhkan semangat bangsa Aceh.”

Untuk sementara, kata Zulfahri, TNI mungkin berhasil, tetapi mereka khilaf besar kalau jalan ini digunakan untuk 'menuntaskan' masalah Aceh dalam jangka panjang. Untuk menyelesaikan masalah Aceh secara tuntas memerlukan dialog antara tokoh-tokoh pilitik RI dengan rakyat Aceh serta disaksikan oleh dunia internasional.

Seperti diketahui, sepekan yang lalu, Presiden Gus Dur juga telah menyatakan kesiapannya untuk berdialog dengan komponen rakyat Aceh berserta dengan pemimpin Aceh Merdeka, Tengku Hasan M di Tiro.

Menurut pihak Atjeh Sumatra National Liberation Front (ASNLF) yang diwakili oleh Musanna Tengku Abdul Wahab di Salt Lake City, Amerika Serikat, pihaknya menyatakan tentang kesediaan Wali Negara Aceh Merdeka itu untuk berunding dengan pemerintah RI yang disaksikan oleh PBB atau negara ketiga yang netral. Disisi lain berbagai elemen rakyat Aceh terus menerus mendesak semua pihak yang bersenjata, baik TNI/Polri maupun gerilyawan GAM untuk segera melakukan gencatan senjata, untuk kemudian segera menuju ke meja perundingan. -------------------------------------------------------------------------------