Subject: Siapa Yg Membunuh Saya? (4)

Date: Wed, 07 Jun 2000 = 18:25:33=20 GMT

From: "Teuku Don Zulfahri" arwah_teukudon@hotmail.com
To: apakabar@radix.net

GAM Ancam Bubar LSM-LSM Aceh Termasuk HUDA dan Taliban

TEMPO Interaktif, Banda-aceh: Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menolak segala bentuk musyawarah dan kongres untuk menyelesaikan semua konflik di Aceh. Pertikaian yang terjadi, menurut mereka, adalah antar dua negara. Karena itu, penyelesaiannya hanya bisa dilakukan di tingkat negara. Anggota masyarakat ataupun komponen-komponen bangsa yang lain tidak perlu dilibatkan.

Kepada TEMPO Interaktif, Senin (20/3) malam, juru bicara Gerakan Aceh Merdeka Tgk Ismail Sahputra, menegaskan bahwa pertikaian di Aceh adalah antara negara Aceh-Sumatra dengan Indonesia-Djawa. Pertikaian itu, katanya, mengakibatkan terjadinya peperangan antara Angkatan Acheh Merdeka dengan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (TNI/POLRI).

"Tidak perlu ada lagi campur tangan organisasi-organisasi lain kecuali badan PBB atau salah satu negara-negara Eropa dan Amerika sebagai penengah," ujar Ismail.

Organisasi-organisasi yang ada di Aceh sekarang, menurut Ismail, hanya bisa dikatakan komponen masyarakat, bukan mewakili negara Acheh-Sumatra. Komponen-komponen masyarakat ini semua harus tunduk kepada negara. "Karena itu, semua komponan masyarakat yang ada di Acheh, mulai sekarang harus tunduk kepada negara Acheh-Sumatra, kalau tidak semua komponan tersebut harus dibubarkan dengan serta merta sebelum tindakan kami ambil, termasuk Taliban dan Huda (HUDA=Himpunan Ulama Dayah Aceh -red)," tegas Ismail.

Negara Acheh-Sumatra di Aceh, tambahnya, adalah sah dari semua sisi hukum, mulai dari hukum Allah, hukum bangsa Aceh dan hukum internasional, kecuali hukum Indonesia. Indonesia adalah penjahat internasional karena menjajah bangsa lain. Satu-satunya cara menyelesaikan masalah Aceh -- selain perang -- adalah perundingan. "Pihak Aceh cukup diwakili oleh negara Acheh-Sumatra, dan orang yang akan mewakilinya, itu tunduk kepada pucuk pimpinan Negara Acheh-Sumatra, Yang Mulia Dr. Tengku Hasan Muhammad di Tiro," kata Ismail.

Ismail Sahputra juga memaparkan tanggung jawab dan tugas masing-masing komponen Negara Acheh-Sumatra. "Seperti halnya Indonesia, kita juga mempunyai struktur pemerintahan yang kompleks dan kukuh, semua persoalan yang bersangkutan ada petugasnya masing-massing," jelas Ismail.

Untuk keperluan diplomasi, GAM sudah membentuk kementrian luar negeri. Untuk soal domestik, ada kementrian dalam negeri, soal keamanan ada kepolisian, soal pertahanan ada panglimanya, di wilayah-wilayah ada panglima wilajahnya. "Yang harus diketahui, dalam urusan pertahanan tidak boleh mencampuri urusan diplomasi dan pemerintahan. Karena kita membedakan pemerintah sipil dan urusan militer," Ismail mengingatkan.

Ismail menghimbau agar semua pemimpin organisasi politik yang ada di Aceh membubarkan organisasinya dan kembali bernaung di bawah payung Negara Acheh-Sumatra.

"Mari kita saling tuntun guna menyelesaikan masaalah Aceh demi masa depan Negara Acheh-Sumatra," himbaunya (ama)

21-3-2000 ----- End of forwarded message from Teuku Don Zulfahri -----