From: "Teuku Don Zulfahri" arwah_teukudon@hotmail.com

To: arwah_teukudon@hotmail.com, serambimekkah@egroups.com, jafar_siddiq@yahoo.com, acehforum@aol.com, rucell@yahoo.com, acehkronika@email.com, psagam@yahoo.com, yusuf.daud@telia.com, acheen48@hotmail.com, ruseb@algonet.se, teungku@yahoo.com, gorby@pinto.unsyiah.ac.id, kipp@aceh.wasantara.net.id, koalisi-ham@aceh.wasantara.net.id, abdurrauf.syahbuddin@swipnet.se, djuli@pc.jaring.my, seramoukeu@yahoo.com, sira.referendum@mailcity.com, tertindas@yahoo.com, artp8499@nus.edu.sg, somaka@rad.net.id, santri99@hotmail.com, datuberu@hotmail.com, wkpeng@pc.jaring.my, zee_arifin@hotmail.com, jajata_99@yahoo.com, serambi@indomedia.com CC: waspada@indosat.net.id, info@komnas.go.id, tapol@gn.apc.org, joness@hrw.org, IndoNews@Indo-News.com, refatin@hotmail.com, bakriadi@indomedia.com, apakabar@saltmine.radix.net, nyala@swipnet.se, auliaandri@yahoo.com, si_gam@yahoo.com, indonesian@bbc.co.uk, redaksi@mediaindonesia.co.id, benteng412@aol.com, helpdesk@bernama.com, antara@rad.net.id, redaksi@detik.com, redaksi@rakyatmerdeka.com, jakarta.newsroom@reuters.com, redaksi@suratkabar.com, don@jawapos.co.id, afpjkt@uninet.net.id, redkontras@yahoo.com

Subject: Kenapa saya musti dibunuh ? (4)

Date: Wed, 07 Jun 2000 18:14:37 GMT

 

Tabloid Kontras

No. 88 Tahun II, 7-13 Juni 2000

Laput

(In Memoriam) Teuku Don Zulfahri:

Saya tak Begitu Disukai

 

PENGANTAR:

Takdir Ilahi menentukan Habib Adam alias Teuku Don Zulfahri meninggal relatif muda, 40 tahun. Kematiannya tragis, mati ditembak dengan dua peluru ketika makan siang di sebuah restoran kawasan Ampang, Kuala Lumpur, Kamis (1/6). Ironisnya lagi, meninggalnya Sekjen Majelis Pemerintahan Gerakan Aceh Merdeka (MP GAM) ini hanya berselang 11,5 jam dari masa berlaku efektifnya jeda kemanusiaan di Aceh, pukul 00.00 WIB, Jumat (2/6).

Komandan Operasi Angkatan GAM Wilayah Aceh Rayeuk menyatakan sangat bersedih atas kematian Teuku Don yang ditembak dua pria bersenjata. "Kami memanjatkan doa semoga almarhum mendapat tempat yang mulia di sisi Allah. Kepada keluarga beliau kami harapkan bersabar dan tabah," kata Ayah Muni melalui telepon kepada Kontras, Jumat lalu. Bagaimanapun, menurut Ayah Muni, Teuku Don adalah orang Aceh. Oleh karena itu, rasanya tak mungkin kalau AGAM yang melakukan pembunuhan tersebut, katanya. Pernyataan itu dikemukakan AGAM berkaitan dengan tudingan Pimpinan MP GAM Dr Husaini Hasan di Swedia bahwa kelompok AGAM berada di balik peristiwa terbunuhnya Teuku Don. Karena pernyataannya itu, Dr Husaini diperingatkan Tgk Darwis Djeunib seharusnya jangan sembarang menuduh, karena almarhum sendiri pernah merasa tak aman di Malaysia dari kejaran aparat keamanan. "Jadi, kematian beliau tak ada sangkut-pautnya dengan AGAM, walaupun dia berseberangan misi dengan kami," ujar Komandan Operasi AGAM Wilayah Batee Iliek itu. Ia juga sangat menyesalkan tragedi pembunuhan tersebut. "Selama menjabat Sekjen MP GAM, Teuku Don memang berseberangan dengan AGAM dalam perjuangan memerdekakan Atjeh. Namun, kami tak sampai hati melakukan perbuatan terkutuk seperti itu," tulisnya kepada Kontras, Jumat malam.

AGAM Wilayah Batee Iliek, menurut Darwis, sudah beberapa kali mengingatkan Teuku Don lewat surat pribadi maupun media cetak mengenai kegiatan organisasinya yang telah menyimpangi kehendak bangsa Atjeh. Begitupun, AGAM tak berniat menyakitinya apalagi sampai membunuhnya."Barangkali, ada pihak tertentu memanfaatkan situasi itu sehingga AGAM terpojok dan seolah-olah perlakuan kelompok kami sangatlah kejam," katanya kepada Kontras. Menurut Tgk Darwis, GAM punya cara sendiri yang lebih bijaksana dalam "mengadili" Teuku Don, yakni, "Akan kami ajukan seluruh jajaran MP GAM ke hadapan Mahkamah Bangsa Atjeh setelah bangsa Atjeh memperoleh kemerdekaan penuh nanti." Tapi belum sampai "niat" itu kesampaian, Teuku Don sudah berpulang. Dan, menurut Nashruddin bin Ahmad, GAM tidak dibikin solid oleh keberadaan Teuko Don. Sebaliknya, tak pula dibikin susah dengan ketiadaan dia. "Ada atau tanpa dia, tak ada pengaruh sedikit pun terhadap GAM, juga terhadap mulus-tidaknya implementasi jeda kemanusiaan di Aceh," kata Ketua Delegasi GAM untuk Komite Modalitas Keamanan menjawab Kontras, Jumat. Boleh jadi, kematian Sekjen MP GAM yang tadinya pengusaha murni ini, terkait dengan aspek politik. Atau justru, hanya kriminal murni.

Menunggu, motif pembunuhannya diungkap oleh Polisi Malaysia, Kontras memuat lengkap pengakuan Teuku Don seputar keterlibatannya di GAM. Yang unik, dia sendiri tak pernah merasa menjabat Sekjen MP GAM.

Naskah ini, dia e-mail-kan hampir sebulan lalu berserta fotonya. Dan kini, di saat jeda kemanusiaan efektif berlaku di Aceh, dan di saat yang bersangkutan sudah mendahului kita, inilah waktu yang tepat memprofilkannya meski hanya tinggal kenangan (in memoriam).

KETIKA Redaksi Tabloid Kontras meminta saya memaparkan kisah pribadi saya untuk disiarkan agar rakyat Aceh mengenal saya dari dekat, angsung saja saya bingung. Soalnya, saya tak biasa memperkenalkan diri sendiri kepada publik. Toh yang menilai diri kita tentunya orang lain yang dekat dengan kita. Maka rasanya, saya agak kaku memenuhi permintaan ini. Apalagi saya pribadi tak punya cita-cita menjadi pemimpin atau tokoh. Itulah sebabnya makin susah bagi saya mempromosikan diri sendiri. Cuma, saya terpancing dengan tuduhan liar pihak-pihak tertentu yang menuding saya ini sebagai intelijen Indonesia, ditambah pengakuan anggota GAM di lapangan yang tak pernah kenal dengan saya. Makanya, saya terpaksa memenuhi kehendak Kontras.

Bagi saya, ini merupakan peluang untuk menjelaskan kepada rakyat Aceh bahwa tudingan liar itu adalah salah. Malah, orang yang menuduh itu sendiri mungkin anak asuhan dan bentukan TNI/RI Orde Baru. Dengan menyanggupi permintaan Kontras ini saya berharap bisa menerangkan mengapa mereka yang sekarang bersorak-sorai di lapangan tak pernah bertemu dan kenal dengan saya sewaktu mereka di Malaysia. Kemunculan saya dalam GAM memang memeranjatkan banyak pihak. Malah Pak Syamsuddin Mahmud (Gubernur Aceh, red) sendiri terperanjat ketika mendapat kabar bahwa saya sudah menjadi Sekjen GAM.

Kawan-kawan saya, pada awalnya semua tidak percaya. Tetapi sekarang, saya pikir, mereka sudah seharusnya menerima hakikat yang sesungguhnya dan kebanyakan mereka mendukung saya sejauh perjuangan saya untuk kepentingan bangsa Aceh, kata mereka.

Berikut ini adalah nukilan kisah itu, dan saya tulis hanya untuk Kontras:

Terlibat dengan GAM

Awal keterlibatan saya dengan GAM sebenarnya kebetulan saja. Saya tak pernah rencanakan. Saya juga tak pernah minta menjadi Sekjen GAM. Malah, saya tak pernah baiat kepada Hasan Tiro. Saya tak percaya semua baiat-baiatan itu. Saya hanya baiat kepada Allah SWT, bukan kepada manusia. Namun, saya punya janji dengan manusia. Saya telah berjanji kepada senior-senior GAM dan kepada ulama Aceh bahwa setiap saat segala tindakan saya mestilah untuk kepentingan dan demi bangsa Aceh.

Pada 7 Februari 1999 siang saya ditelepon sahabat yang juga pengusaha seperti saya. Katanya, ada beberapa anggota GAM angkatan I lepasan Libya ingin bertemu. Walaupun saya tak menolak, tapi dalam hati saya bertanya, "Apa gerangan yang mereka inginkan dari saya?" Soalnya sudah hampir 20 tahun bermukim di Malaysia, baru kali ini ada anggota GAM ingin bertemu saya. Sebenarnya, saya tak dekat dengan GAM sejak awal. Mereka pun tak pernah mengajak saya bergabung. Malah ramai yang melarang. Saya juga punya kehidupan tersendiri yang berasingan dengan orang-orang Aceh yang kebanyakannya berpusat di Cow Kit, Kuala Lumpur. Singkat cerita, malamnya saya datang bertemu mereka di sebuah hotel berbintang lima di pusat kota Kuala Lumpur. Sahabat saya rupanya sudah mem-booking satu meja besar khusus untuk kami bisa makan malam bersama. Kebanyakan yang hadir terdiri dari adik-adik saya dalam dunia dagang dan saya kenal mereka sebagai pedagang rokok, pedagang kelontong, dan sebagainya. Sebelum ini saya tak tahu mereka adalah anggota GAM lepasan Libya angkatan I, walaupun ada yang kenal baik dengan saya, tetapi mereka tak pernah bercerita tentang GAM kepada saya.

Berawal dari pertemuan dengan enam anggota GAM inilah saya terlibat dengan GAM hingga sekarang. Berikut saya lampirkan rumusan hasil pertemuan tersebut:

Kuala Lumpur, 08/02/1999

Pertemuan ini adalah kelompok kecil atau wakil dari Angkatan 42 GAM di Hotel Sheraton yang dihadiri orang-orang pilihan. Pertemuan itu dilaksanakan Daud Agam, Jaafar Ulee Gle, dan kawan-kawan. Tamu khusus adalah Teuku Don Zulfahri.

Hasilnya antara lain:

1) Mereka yang hadir setuju menghilangkan friksi di antara anggota GAM. Jika itu terjadi, mereka sepakat tidak meresponnya, tapi berusaha meredakannya dengan semangat persatuan,

2) Semua yang hadir sepakat melanjutkan tujuan dan fungsi utama gerakan di bawah bendera GAM. Ini penting karena gerakan sudah mulai diperhitungkan di dunia luar. Tetapi,implemetasi tujuan gerakan harus disesuaikan dengan situasi,

3) Semua sepakat bahwa dewan eksekutif harus dibentuk untuk memimpin dan mempertimbangkan inisiatif daripada fungsi dan tujuan gerakan. Tidak ada pemimpin utama dipilih untuk mengurangi kepemimpinan dan konfrontasi dengan Swedia dan fraksi lain. Dewan eksekutif berfungsi sebagai pemimpin utama gerakan,

4) Dewan eksekutif akan membangun jaringan langsung dengan Musyawarah Besar Rakyat Aceh yang akan segera dilaksanakan di Aceh dengan menghadirkan seluruh elemen masyarakat di Aceh dan organisasi prokemerdekaan lainnya di Aceh. Tujuan utama gerakan sekarang adalah mempertahankan keputusan rakyat Aceh bahwa agresi militer oleh Jakarta harus dihentikan. Rakyat Aceh harus bersatu. Kita harus membuktikan kepada Jakarta dan dunia luar bahwa pendekatan militer sudah cukup,

5) Juga disetujui bahwa hari dan pertemuan lain harus dilaksakana dalam waktu satu pekan dan dihadiri oleh seluruh wakil dari setiap wilayah di Aceh, meliputi: a) anggota dewan eksekutif dan penasihat, b) sumber senjata dan amunisi, keuangan, dan pembelian, c) tanggung jawab komandan di lapangan setiap wilayah, d) prosedur kerja, dan e) masalah-masalah terkait lainnya.

6) Teuku Don Zulfahri disetujui membuat perencanaan restrukturisasi seluruh gerakan. Pertemuan berakhir pukul 12:00 tengah malam. Kemudian, saya membuat dasar-dasar dan kesimpulan baru sebagai lanjutan perjuangan GAM dalam bahasa Melayu seperti di bawah ini:

Lanjutan Perjuangan GAM

- Melihat perkembangan mutakhir di Indonesia dan sikap bangsa Aceh, baik yang di Aceh maupun di tempat lain yang begitu berani akhir-akhir ini mengatakan maju ke depan menentang RI secara terang- terangan,- mengingat penderitaan rakyat Aceh yang tak berdosa berjatuhan menjadi korban serta sikap Indonesia yang tak pernah berubah terhadap Aceh, malah bertambah brutal, - menyadari ketergantungan dan keyakinan rakyat Aceh terhadap GAM sebagai tulang belakang pembela bangsa dari sudut ketentaraan belum menjadi nyata, - mengetahui dan pengalaman membuktikan tak adanya tindakan yang sesuai dan patut yang dilakukan pimpinan GAM yang ada sekarang untuk membuktikan keberadaan dan fungsinya, sebaliknya hanya menampakkan lebih banyak buruk daripada baiknya, - memperhatikan perpecahan yang terjadi di kalangan anggota GAM yang begitu meruncing,

Maka seharusnya:

1) GAM mesti menjadi tulang belakang pendukung keinginan rakyat Aceh dewasa ini,

2) GAM harus menjadi inti utama pembela dan pertahanan yang sebenarnya kepada rakyat Aceh,

3) GAM harus membuktikan keberadaannya dan memenuhi harapan rakyat Aceh,

4) Mesti ada kumpulan penggerak utama yang ikhlas menggerakkan kembali GAM ini dan meletakkan GAM pada posisi di mana semestinya berada, sebagai pembela bangsa, dan

5) Langkah-langkah awal untuk mencapai cita-cita bangsa dan menuntaskan perpecahan di kalangan anggota dan masyarakat yang disebut ini adalah dengan menyatukan anggota gerakan dengan cara memaafkan kesilapan yang lalu dan membuka lembaran baru sesama kita, baik sesama anggota maupun antara anggota dan masyarakat nonanggota.

Usul jalan keluar:

Gerakan Aceh Merdeka mesti dan wajib diaktifkan secepat mungkin dengan cara:

1) Menggembleng kembali dan menyatukan semua anggota secara berperingkat. Menanamkan semangat baru dan mempersiapkan mental anggota melalui kebenaran dan kepastian serta memperbaiki kesilapan pimpinan terdahulu dengan sistem yang lebih transparan dan jelas. Menjadikan posisi anggota siap terjun dan tempur kapan saja,

2) Menyusun kembali sistem pemerintahan gerakan menjadi lebih nyata dan praktis,

3) Mempersiapkan logistik dan persenjataan dalam posisi siap tempur di Aceh,

4) Mencipta satu imej baru gerakan kepada masyarakat Aceh dan seluruh dunia.

Usul penting:

1) Lanjutan Perjuangan GAM ini tak boleh ada pemimpin tunggal yang punya kuasa eksekutif demi menghindari penyalahgunaan kuasa untuk kepentingan pribadi dan memastikan aktivitas gerakan ini nanti hanya untuk kepentingan rakyat Aceh,

2) Lanjutan perjuangan ini mesti dipimpin oleh satu badan khusus yang beranggotakan anggota gerakan, ulama, dan cerdik-pandai sebagai Badan Pemerintahan Tertinggi GAM,

3) Semua anggota dan siapapun yang terlibat dalam usaha melanjutkan perjuangan ini mestilah berjanji dan bersumpah bahwa keterlibatannya semata-mata hanya untuk kepentingan rakyat Aceh. Tidak ada kepentingan pribadi dan mengharapkan pangkat atau balasan. Tak ada yang lebih penting selain kepentingan hak rakyat Aceh di Aceh.

Perlu saya jelaskan bahwa situasi di Aceh pada Februari 1999 belum ada Panglima AGAM, belum ada Jurubicara AGAM, belum ada panglima wilayah ini atau wilayah itu. Yang ada hanyalah 'penceramah-penceramah' GAM yang berkhutbah ke sana-kemari untuk menarik simpati dan memprovokasi rakyat, sehingga sempat terjadi insiden yang memilukan seperti Peristiwa Idi Cut.

Dalam waktu yang sama, yang serius memperjuangkan keadilan dan hak-hak rakyat hanyalah para mahasiswa dan pegiat LSM yang terbangun akibat gelombang reformasi di Indonesia. Kembali tentang program lanjutan perjuangan GAM, setelah beberapa kali diadakan rapat, akhirnya terbentuklah Panitia Pelaksana Rapat Pleno. Secara tak sadar, semua keputusan penting ternyata dibebankan ke saya, di samping saya juga yang menanggung segala biayanya. Akibat terlibat di GAM, saya sudah mulai lupa tentang business saya. Dalam satu minggu, paling-paling cuma satu hari saya masuk kantor. Jadwal harian saya sudah mereka atur dan saya dibawa berjumpa dengan hampir semua anggota GAM di Malaysia, khususnya para senior dan sesepuh GAM. Secara tak sadar, saya sudah terlibat dengan GAM.

Pada 7 Maret 1999 panitia yang diketuai oleh Teungku Idris Mahmud (abang kandung almarhum Dr Zubir) sepakat mengadakan sidang pleno GAM di Kuala Lumpur. Saya dan sahabat saya yang menelepon saya tadi yang akhirnya menanggung segala biaya dan menjamin keamanan sidang tersebut.Tak kurang dari 90 tokoh kuat GAM, termasuk yang bermusuhan sesama sendiri, telah diundang menghadiri pertemuan tersebut. Sayangnya, disebabkan tempat pertemuan tersebut dibuat oleh sponsor di tempat yang begitu besar dan bertaraf dunia telah menyebabkan hampir separuh tokoh GAM tersesat dan tak sampai ke tempat pertemuan. Malah ada yang salah tempat parkir dan kehilangan mobil. Walau bagaimanapun, ini satu pengalaman baru bagi tokoh-tokoh tersebut dan satu perubahan baru kepada GAM dalam usaha memperkuat diri mencapai cita-cita Wali Negara Aceh Sumatra Dr Teungku Hasan Muhammad di Tiro yang dicetuskan tahun 1976.

Dalam sidang pleno tersebut telah diputuskan hal-hal baru yang sangat signifikan untuk perjuangan bangsa Aceh. Salah satunya membentuk badan formatur yang bertanggung jawab menyusun kembali barisan pimpinan GAM.

Cuplikannya:

"Kamoe tjok peuneutôih, ka kamoe piléh siblaih droë ulèë-ulèë peudjuang, tantra, dan ulama njang bako-bako dan na ileumèë untôk geupimpin sitjara meusigo Geurakan Atjèh Meurdéhka njoe, geuduëk bak saboh badan njang meubôh nan Madjlis Peumeurintahan Geurakan Atjèh Meurdéhka (MP-GAM) njang geumeulapôr lansông bak droë geuh Wali Neugara. Maka deungon njoe, tugaih dan fungsi kamoe sibagoë formatur ka seuleusoë dan Badan Formatur njoe ka teububar bak uroë njoe, 4 Zulhijjah 1419 H/22 Maret 1999. Kamoe bandum meudo’a seumoga anggeeta MP-GAM tetap lam lindôngan dan peutunjok Po, beu-ék geupeuseulamat perdjuangan bansa njoe, beu-trôk bak tjita-tjita. Kru Seumangat!

Badan Formatur.

Secara tak sadar, semua perencanaan dan implimentasi Lanjutan Perjuangan GAM ini ternyata saya yang melaksanakan setiap hari.Sehingga, dalam sidang pertama MP pada 18 April 1999 secara resmi saya diangkat sebagai Sekjen GAM (bukan Sekjen MP GAM sebagaimana dianggap kebanyakan orang. MP GAM tidak punya Sekjen karena ianya bukan sebuah organisasi, melainkan hanya sebuah institusi dalam tubuh GAM).

Maka, bermulalah satu episode baru dalam kehidupan saya dengan tugas dan tanggung jawab mahabesar serta berbagai larangan yang wajib saya patuhi. Yang paling menyusahkan saya adalah semenjak itu saya tak bisa lagi menginjakkan kaki di Medan, Jakarta, maupun Aceh seperti biasa. Kalau sebelumnya hampir setiap minggu saya berkunjung ke Jakarta dan hampir setiap bulan saya pulang ke Langsa atau Banda Aceh, maka sekarang saya sudah kehilangan semua "kemewahan" tersebut. Tentunya saya sedih dan merasa sangat terikat, malah sekarang ini saya menjadi buruan TNI ke mana saja saya pergi.

Di Malaysia sendiri terpaksa saya bersembunyi dan tak bisa bergerak terlalu bebas. Untung saja saya punya banyak kawan di Malaysia, kalau tidak tentunya saya sudah dibungkus TNI dan dibawa pulang ke kandang mereka. Kesimpulannya, keterlibatan saya dalam GAM bukan sesuatu yang saya rencanakan. Keterlibatan saya dalam GAM bukan karena saya suka-suka sendiri. Keterlibatan saya dalam GAM bermula awal 1999, makanya ramai anggota GAM yang sekarang ini berada di lapangan tak kenal dan belum pernah bertemu saya. Mereka hanya mendengar tentang saya dari fitnah-fitnah orang yang takut kehilangan kuasa akibat kehadiran saya. Padahal, semua keberhasilan yang dinikmati GAM dan perjuangan Aceh sekarang ini berpunca dari keterliban saya. Makanya, sebagai orang Islam, kita jangan sembarang percaya kepada omongan dan tuduhan orang tanpa fakta. Kita harus melihat dan menilai lebih dulu yang menuduh itu siapa.

Yang penting sekali, keberadaan saya dalam GAM bukan untuk seumur hidup seperti keberadaan Hasan Tiro. Sekarang ini, saya dalam keadaan terpaksa berada dalam tubuh GAM untuk menunaikan janji-janji saya kepada senior-senior GAM. Saya terpaksa menjalankan tugas yang mahaberat ini untuk menunaikan janji-janji saya kepada ulama Aceh dan tokoh-tokoh Aceh yang sudah muak melihat tingkah TNI/Polri dan majikannya. Saya tak punya cita-cita menjadi pemimpin Aceh. Cita-cita saya hanya untuk mendalami segala macam ilmu berdasarkan Alquran. Ulôntuan keneuk djak beuët (mengaji) lom.

Pulang ke Aceh

Pada 3 November 1996, saya mendarat untuk pertama kali di Bandara Sultan Iskandarmuda, Banda Aceh, setelah merantau meninggalkan Aceh selama 16 tahun. Kepulangan saya ke Aceh sebagai pengusaha/investor atas undangan orang BKPMD Aceh yang kebetulan rekan sekelas saya di SMP. Saya bertemu kembali dengan rekan ini sewaktu Pemda Aceh menggelar pameran dagang di Kuala Lumpur pada medio 1996. Dari sinilah bermula kembali hubungan saya dengan bumi tumpah darah saya, sehingga saya menjadi terkenal dan menjalin persahabatan dengan kebanyakan birokrat dan pengusaha Aceh. Sehingga saya mendapat jalur hubungan dagang dengan keluarga Cendana sebelum tumbangnya mereka.

Berbagai program investasi saya bawa pulang ke Aceh, sehingga runtuhnya ekonomi Indonesia tahun 1998, semuanya terhenti. Alhamdulilllah, selama saya berbakti membawa investasi ke Aceh, umumnya semua pihak memberi kerjasama yang memuaskan tanpa perlu saya sogok (tanpa KKN). Saya pulang ke Aceh dengan cara saya, dengan budaya saya yang berlawanan dengan budaya RI, tetapi rakyat Aceh bisa menerimanya dan malahan menghargainya. Saya sangat bangga dilahirkan sebagai orang Aceh.

Sewaktu kecil

Saya dilahirkan dalam keluarga berada dan zaman kanak-kanak saya penuh kemanjaan dengan Abu Syik dan Nek. Sebagai cucu pertama dari keluarga seorang ketua kampung dan hartawan lokal, tentunya saya mendapat perhatian penuh dari sekeliling, baik dari saudara mara maupun masyarakat setempat. Terlalu panjang kalau saya beberkan kesemuanya kehidupan masa kecil saya. Singkatnya, saya mulai pendidikan di MIN, kelas tiga saya pindah ke SD. SMP saya di Aceh. Naik kelas dua SMA saya pindah ke Medan. Tamat SMA, saya ke Amerika. Pulang dari Amerika saya langsung menetap di Malaysia. Sejak di bangku MIN hingga SMA sewaktu di Aceh saya manyandang juara kelas dan sekolah.

Istri dan anak-anak

Cerita tentang istri dan anak-anak ini, kalau saya paparkan dari pertama hingga akhir bisa mengejutkan Anda semua. Namun, dari tiga orang istri yang saya miliki sekarang, bisa saya katakan yang paling setia dan mendukung saya setiap saat adalah istri yang keturunan Cina. Kita hidup ini tak perlu hipokrit, tak perlu bersembunyi dan berlindung di sebalik yang baik-baik saja. Walau bagaimanapun, yang paling menggembirakan saya adalah ketiga istri saya menjalin hubungan erat antara satu sama lain. Mereka tak pernah bertengkar dan tak bermusuhan. Insya Allah, kalau Aceh sudah merdeka nanti saya akan cari istri yang keempat di Bumi Aceh, itu pun kalau sempat dan diizinkan Allah.

Masa depan Aceh

Prinsip saya yang keras tentang masa depan Aceh wajib ditentukan oleh rakyat Aceh sendiri menjadikan saya kurang popular dan tak berapa disukai di kalangan AGAM. Walaupun saya menjabat sebagai Sekjen GAM, namun saya tak bisa dan tak mungkin menjalankan doktrin GAM yang memaksakan kehendak kepada rakyat dengan berbagai propaganda dan pemogongan. Saya tidak bisa menerima cara yang begitu. Saya juga tak berminat memperjuangkan atau mengagung-agungkan individu, seperti kebanyakan anggota GAM yang mengagungkan dan fanatik kepada Hasan Tiro atau kepada dr Husaini. Bagi saya, perjuangan GAM adalah untuk bangsa dan rakyat Aceh .