Takdir Ilahi menentukan Habib Adam
alias Teuku Don Zulfahri meninggal relatif muda, 40 tahun. Kematiannya
tragis, mati ditembak dengan dua peluru ketika makan siang di sebuah
restoran kawasan Ampang, Kuala Lumpur, Kamis (1/6). Ironisnya lagi,
meninggalnya Sekjen Majelis Pemerintahan Gerakan Aceh Merdeka (MP
GAM) ini hanya berselang 11,5 jam dari masa berlaku efektifnya jeda
kemanusiaan di Aceh, pukul 00.00 WIB, Jumat (2/6).
Komandan Operasi Angkatan GAM Wilayah
Aceh Rayeuk menyatakan sangat bersedih atas kematian Teuku Don yang
ditembak dua pria bersenjata. "Kami memanjatkan doa semoga almarhum
mendapat tempat yang mulia di sisi Allah. Kepada keluarga beliau kami
harapkan bersabar dan tabah," kata Ayah Muni melalui telepon kepada
Kontras, Jumat lalu. Bagaimanapun, menurut Ayah Muni, Teuku Don adalah
orang Aceh. Oleh karena itu, rasanya tak mungkin kalau AGAM yang melakukan
pembunuhan tersebut, katanya. Pernyataan itu dikemukakan AGAM berkaitan
dengan tudingan Pimpinan MP GAM Dr Husaini Hasan di Swedia bahwa kelompok
AGAM berada di balik peristiwa terbunuhnya Teuku Don. Karena pernyataannya
itu, Dr Husaini diperingatkan Tgk Darwis Djeunib seharusnya jangan
sembarang menuduh, karena almarhum sendiri pernah merasa tak aman
di Malaysia dari kejaran aparat keamanan. "Jadi, kematian beliau tak
ada sangkut-pautnya dengan AGAM, walaupun dia berseberangan misi dengan
kami," ujar Komandan Operasi AGAM Wilayah Batee Iliek itu. Ia juga
sangat menyesalkan tragedi pembunuhan tersebut. "Selama menjabat Sekjen
MP GAM, Teuku Don memang berseberangan dengan AGAM dalam perjuangan
memerdekakan Atjeh. Namun, kami tak sampai hati melakukan perbuatan
terkutuk seperti itu," tulisnya kepada Kontras, Jumat malam.
AGAM Wilayah Batee Iliek, menurut Darwis,
sudah beberapa kali mengingatkan Teuku Don lewat surat pribadi maupun
media cetak mengenai kegiatan organisasinya yang telah menyimpangi
kehendak bangsa Atjeh. Begitupun, AGAM tak berniat menyakitinya apalagi
sampai membunuhnya."Barangkali, ada pihak tertentu memanfaatkan situasi
itu sehingga AGAM terpojok dan seolah-olah perlakuan kelompok kami
sangatlah kejam," katanya kepada Kontras. Menurut Tgk Darwis, GAM
punya cara sendiri yang lebih bijaksana dalam "mengadili" Teuku Don,
yakni, "Akan kami ajukan seluruh jajaran MP GAM ke hadapan Mahkamah
Bangsa Atjeh setelah bangsa Atjeh memperoleh kemerdekaan penuh nanti."
Tapi belum sampai "niat" itu kesampaian, Teuku Don sudah berpulang.
Dan, menurut Nashruddin bin Ahmad, GAM tidak dibikin solid oleh keberadaan
Teuko Don. Sebaliknya, tak pula dibikin susah dengan ketiadaan dia.
"Ada atau tanpa dia, tak ada pengaruh sedikit pun terhadap GAM, juga
terhadap mulus-tidaknya implementasi jeda kemanusiaan di Aceh," kata
Ketua Delegasi GAM untuk Komite Modalitas Keamanan menjawab Kontras,
Jumat. Boleh jadi, kematian Sekjen MP GAM yang tadinya pengusaha murni
ini, terkait dengan aspek politik. Atau justru, hanya kriminal murni.
Menunggu, motif pembunuhannya diungkap
oleh Polisi Malaysia, Kontras memuat lengkap pengakuan Teuku Don seputar
keterlibatannya di GAM. Yang unik, dia sendiri tak pernah merasa menjabat
Sekjen MP GAM.
Naskah ini, dia e-mail-kan hampir sebulan lalu berserta fotonya.
Dan kini, di saat jeda kemanusiaan efektif berlaku di Aceh, dan di
saat yang bersangkutan sudah mendahului kita, inilah waktu yang tepat
memprofilkannya meski hanya tinggal kenangan (in memoriam).
KETIKA Redaksi Tabloid Kontras meminta
saya memaparkan kisah pribadi saya untuk disiarkan agar rakyat Aceh
mengenal saya dari dekat, angsung saja saya bingung. Soalnya, saya
tak biasa memperkenalkan diri sendiri kepada publik. Toh yang menilai
diri kita tentunya orang lain yang dekat dengan kita. Maka rasanya,
saya agak kaku memenuhi permintaan ini. Apalagi saya pribadi tak punya
cita-cita menjadi pemimpin atau tokoh. Itulah sebabnya makin susah
bagi saya mempromosikan diri sendiri. Cuma, saya terpancing dengan
tuduhan liar pihak-pihak tertentu yang menuding saya ini sebagai intelijen
Indonesia, ditambah pengakuan anggota GAM di lapangan yang tak pernah
kenal dengan saya. Makanya, saya terpaksa memenuhi kehendak Kontras.
Bagi saya, ini merupakan peluang untuk
menjelaskan kepada rakyat Aceh bahwa tudingan liar itu adalah salah.
Malah, orang yang menuduh itu sendiri mungkin anak asuhan dan bentukan
TNI/RI Orde Baru. Dengan menyanggupi permintaan Kontras ini saya berharap
bisa menerangkan mengapa mereka yang sekarang bersorak-sorai di lapangan
tak pernah bertemu dan kenal dengan saya sewaktu mereka di Malaysia.
Kemunculan saya dalam GAM memang memeranjatkan banyak pihak. Malah
Pak Syamsuddin Mahmud (Gubernur Aceh, red) sendiri terperanjat ketika
mendapat kabar bahwa saya sudah menjadi Sekjen GAM.
Kawan-kawan saya, pada awalnya semua
tidak percaya. Tetapi sekarang, saya pikir, mereka sudah seharusnya
menerima hakikat yang sesungguhnya dan kebanyakan mereka mendukung
saya sejauh perjuangan saya untuk kepentingan bangsa Aceh, kata mereka.
Berikut ini adalah nukilan kisah itu,
dan saya tulis hanya untuk Kontras:
Terlibat dengan GAM
Awal keterlibatan saya dengan GAM sebenarnya
kebetulan saja. Saya tak pernah rencanakan. Saya juga tak pernah minta
menjadi Sekjen GAM. Malah, saya tak pernah baiat kepada Hasan Tiro.
Saya tak percaya semua baiat-baiatan itu. Saya hanya baiat kepada
Allah SWT, bukan kepada manusia. Namun, saya punya janji dengan manusia.
Saya telah berjanji kepada senior-senior GAM dan kepada ulama Aceh
bahwa setiap saat segala tindakan saya mestilah untuk kepentingan
dan demi bangsa Aceh.
Pada 7 Februari 1999 siang saya ditelepon
sahabat yang juga pengusaha seperti saya. Katanya, ada beberapa anggota
GAM angkatan I lepasan Libya ingin bertemu. Walaupun saya tak menolak,
tapi dalam hati saya bertanya, "Apa gerangan yang mereka inginkan
dari saya?" Soalnya sudah hampir 20 tahun bermukim di Malaysia, baru
kali ini ada anggota GAM ingin bertemu saya. Sebenarnya, saya tak
dekat dengan GAM sejak awal. Mereka pun tak pernah mengajak saya bergabung.
Malah ramai yang melarang. Saya juga punya kehidupan tersendiri yang
berasingan dengan orang-orang Aceh yang kebanyakannya berpusat di
Cow Kit, Kuala Lumpur. Singkat cerita, malamnya saya datang bertemu
mereka di sebuah hotel berbintang lima di pusat kota Kuala Lumpur.
Sahabat saya rupanya sudah mem-booking satu meja besar khusus untuk
kami bisa makan malam bersama. Kebanyakan yang hadir terdiri dari
adik-adik saya dalam dunia dagang dan saya kenal mereka sebagai pedagang
rokok, pedagang kelontong, dan sebagainya. Sebelum ini saya tak tahu
mereka adalah anggota GAM lepasan Libya angkatan I, walaupun ada yang
kenal baik dengan saya, tetapi mereka tak pernah bercerita tentang
GAM kepada saya.
Berawal dari pertemuan dengan enam anggota
GAM inilah saya terlibat dengan GAM hingga sekarang. Berikut saya
lampirkan rumusan hasil pertemuan tersebut:
Kuala Lumpur, 08/02/1999
Pertemuan ini adalah kelompok kecil
atau wakil dari Angkatan 42 GAM di Hotel Sheraton yang dihadiri orang-orang
pilihan. Pertemuan itu dilaksanakan Daud Agam, Jaafar Ulee Gle, dan
kawan-kawan. Tamu khusus adalah Teuku Don Zulfahri.
Hasilnya antara lain:
1) Mereka yang hadir setuju menghilangkan friksi di antara
anggota GAM. Jika itu terjadi, mereka sepakat tidak meresponnya, tapi
berusaha meredakannya dengan semangat persatuan,
2) Semua yang hadir sepakat melanjutkan tujuan dan fungsi
utama gerakan di bawah bendera GAM. Ini penting karena gerakan sudah
mulai diperhitungkan di dunia luar. Tetapi,implemetasi tujuan gerakan
harus disesuaikan dengan situasi,
3) Semua sepakat bahwa dewan eksekutif harus dibentuk untuk
memimpin dan mempertimbangkan inisiatif daripada fungsi dan tujuan
gerakan. Tidak ada pemimpin utama dipilih untuk mengurangi kepemimpinan
dan konfrontasi dengan Swedia dan fraksi lain. Dewan eksekutif berfungsi
sebagai pemimpin utama gerakan,
4) Dewan eksekutif akan membangun jaringan langsung dengan
Musyawarah Besar Rakyat Aceh yang akan segera dilaksanakan di Aceh
dengan menghadirkan seluruh elemen masyarakat di Aceh dan organisasi
prokemerdekaan lainnya di Aceh. Tujuan utama gerakan sekarang adalah
mempertahankan keputusan rakyat Aceh bahwa agresi militer oleh Jakarta
harus dihentikan. Rakyat Aceh harus bersatu. Kita harus membuktikan
kepada Jakarta dan dunia luar bahwa pendekatan militer sudah cukup,
5) Juga disetujui bahwa hari dan pertemuan lain harus dilaksakana
dalam waktu satu pekan dan dihadiri oleh seluruh wakil dari setiap
wilayah di Aceh, meliputi: a) anggota dewan eksekutif dan penasihat,
b) sumber senjata dan amunisi, keuangan, dan pembelian, c) tanggung
jawab komandan di lapangan setiap wilayah, d) prosedur kerja, dan
e) masalah-masalah terkait lainnya.
6) Teuku Don Zulfahri disetujui membuat perencanaan restrukturisasi
seluruh gerakan. Pertemuan berakhir pukul 12:00 tengah malam. Kemudian,
saya membuat dasar-dasar dan kesimpulan baru sebagai lanjutan perjuangan
GAM dalam bahasa Melayu seperti di bawah ini:
Lanjutan Perjuangan GAM
- Melihat perkembangan mutakhir di Indonesia
dan sikap bangsa Aceh, baik yang di Aceh maupun di tempat lain yang
begitu berani akhir-akhir ini mengatakan maju ke depan menentang RI
secara terang- terangan,- mengingat penderitaan rakyat Aceh yang tak
berdosa berjatuhan menjadi korban serta sikap Indonesia yang tak pernah
berubah terhadap Aceh, malah bertambah brutal, - menyadari ketergantungan
dan keyakinan rakyat Aceh terhadap GAM sebagai tulang belakang pembela
bangsa dari sudut ketentaraan belum menjadi nyata, - mengetahui dan
pengalaman membuktikan tak adanya tindakan yang sesuai dan patut yang
dilakukan pimpinan GAM yang ada sekarang untuk membuktikan keberadaan
dan fungsinya, sebaliknya hanya menampakkan lebih banyak buruk daripada
baiknya, - memperhatikan perpecahan yang terjadi di kalangan anggota
GAM yang begitu meruncing,
Maka seharusnya:
1) GAM mesti menjadi tulang belakang pendukung keinginan rakyat
Aceh dewasa ini,
2) GAM harus menjadi inti utama pembela dan pertahanan yang
sebenarnya kepada rakyat Aceh,
3) GAM harus membuktikan keberadaannya dan memenuhi harapan
rakyat Aceh,
4) Mesti ada kumpulan penggerak utama yang ikhlas menggerakkan
kembali GAM ini dan meletakkan GAM pada posisi di mana semestinya
berada, sebagai pembela bangsa, dan
5) Langkah-langkah awal untuk mencapai cita-cita bangsa dan
menuntaskan perpecahan di kalangan anggota dan masyarakat yang disebut
ini adalah dengan menyatukan anggota gerakan dengan cara memaafkan
kesilapan yang lalu dan membuka lembaran baru sesama kita, baik sesama
anggota maupun antara anggota dan masyarakat nonanggota.
Usul jalan keluar:
Gerakan Aceh Merdeka mesti dan wajib
diaktifkan secepat mungkin dengan cara:
1) Menggembleng kembali dan menyatukan semua anggota secara
berperingkat. Menanamkan semangat baru dan mempersiapkan mental anggota
melalui kebenaran dan kepastian serta memperbaiki kesilapan pimpinan
terdahulu dengan sistem yang lebih transparan dan jelas. Menjadikan
posisi anggota siap terjun dan tempur kapan saja,
2) Menyusun kembali sistem pemerintahan gerakan menjadi lebih
nyata dan praktis,
3) Mempersiapkan logistik dan persenjataan dalam posisi siap
tempur di Aceh,
4) Mencipta satu imej baru gerakan kepada masyarakat Aceh
dan seluruh dunia.
Usul penting:
1) Lanjutan Perjuangan GAM ini tak boleh ada pemimpin tunggal
yang punya kuasa eksekutif demi menghindari penyalahgunaan kuasa untuk
kepentingan pribadi dan memastikan aktivitas gerakan ini nanti hanya
untuk kepentingan rakyat Aceh,
2) Lanjutan perjuangan ini mesti dipimpin oleh satu badan
khusus yang beranggotakan anggota gerakan, ulama, dan cerdik-pandai
sebagai Badan Pemerintahan Tertinggi GAM,
3) Semua anggota dan siapapun yang terlibat dalam usaha melanjutkan
perjuangan ini mestilah berjanji dan bersumpah bahwa keterlibatannya
semata-mata hanya untuk kepentingan rakyat Aceh. Tidak ada kepentingan
pribadi dan mengharapkan pangkat atau balasan. Tak ada yang lebih
penting selain kepentingan hak rakyat Aceh di Aceh.
Perlu saya jelaskan bahwa situasi di
Aceh pada Februari 1999 belum ada Panglima AGAM, belum ada Jurubicara
AGAM, belum ada panglima wilayah ini atau wilayah itu. Yang ada hanyalah
'penceramah-penceramah' GAM yang berkhutbah ke sana-kemari untuk menarik
simpati dan memprovokasi rakyat, sehingga sempat terjadi insiden yang
memilukan seperti Peristiwa Idi Cut.
Dalam waktu yang sama, yang serius
memperjuangkan keadilan dan hak-hak rakyat hanyalah para mahasiswa
dan pegiat LSM yang terbangun akibat gelombang reformasi di Indonesia.
Kembali tentang program lanjutan perjuangan GAM, setelah beberapa
kali diadakan rapat, akhirnya terbentuklah Panitia Pelaksana Rapat
Pleno. Secara tak sadar, semua keputusan penting ternyata dibebankan
ke saya, di samping saya juga yang menanggung segala biayanya. Akibat
terlibat di GAM, saya sudah mulai lupa tentang business saya. Dalam
satu minggu, paling-paling cuma satu hari saya masuk kantor. Jadwal
harian saya sudah mereka atur dan saya dibawa berjumpa dengan hampir
semua anggota GAM di Malaysia, khususnya para senior dan sesepuh GAM.
Secara tak sadar, saya sudah terlibat dengan GAM.
Pada 7 Maret 1999 panitia yang diketuai
oleh Teungku Idris Mahmud (abang kandung almarhum Dr Zubir) sepakat
mengadakan sidang pleno GAM di Kuala Lumpur. Saya dan sahabat saya
yang menelepon saya tadi yang akhirnya menanggung segala biaya dan
menjamin keamanan sidang tersebut.Tak kurang dari 90 tokoh kuat GAM,
termasuk yang bermusuhan sesama sendiri, telah diundang menghadiri
pertemuan tersebut. Sayangnya, disebabkan tempat pertemuan tersebut
dibuat oleh sponsor di tempat yang begitu besar dan bertaraf dunia
telah menyebabkan hampir separuh tokoh GAM tersesat dan tak sampai
ke tempat pertemuan. Malah ada yang salah tempat parkir dan kehilangan
mobil. Walau bagaimanapun, ini satu pengalaman baru bagi tokoh-tokoh
tersebut dan satu perubahan baru kepada GAM dalam usaha memperkuat
diri mencapai cita-cita Wali Negara Aceh Sumatra Dr Teungku Hasan
Muhammad di Tiro yang dicetuskan tahun 1976.
Dalam sidang pleno tersebut telah diputuskan
hal-hal baru yang sangat signifikan untuk perjuangan bangsa Aceh.
Salah satunya membentuk badan formatur yang bertanggung jawab menyusun
kembali barisan pimpinan GAM.
Cuplikannya:
"Kamoe tjok peuneutôih, ka kamoe piléh siblaih droë ulèë-ulèë peudjuang,
tantra, dan ulama njang bako-bako dan na ileumèë untôk geupimpin sitjara
meusigo Geurakan Atjèh Meurdéhka njoe, geuduëk bak saboh badan njang
meubôh nan Madjlis Peumeurintahan Geurakan Atjèh Meurdéhka (MP-GAM)
njang geumeulapôr lansông bak droë geuh Wali Neugara. Maka deungon
njoe, tugaih dan fungsi kamoe sibagoë formatur ka seuleusoë dan Badan
Formatur njoe ka teububar bak uroë njoe, 4 Zulhijjah 1419 H/22 Maret
1999. Kamoe bandum meudo’a seumoga anggeeta MP-GAM tetap lam lindôngan
dan peutunjok Po, beu-ék geupeuseulamat perdjuangan bansa njoe, beu-trôk
bak tjita-tjita. Kru Seumangat!
Badan Formatur.
Secara tak sadar, semua perencanaan
dan implimentasi Lanjutan Perjuangan GAM ini ternyata saya yang melaksanakan
setiap hari.Sehingga, dalam sidang pertama MP pada 18 April 1999 secara
resmi saya diangkat sebagai Sekjen GAM (bukan Sekjen MP GAM sebagaimana
dianggap kebanyakan orang. MP GAM tidak punya Sekjen karena ianya
bukan sebuah organisasi, melainkan hanya sebuah institusi dalam tubuh
GAM).
Maka, bermulalah satu episode baru
dalam kehidupan saya dengan tugas dan tanggung jawab mahabesar serta
berbagai larangan yang wajib saya patuhi. Yang paling menyusahkan
saya adalah semenjak itu saya tak bisa lagi menginjakkan kaki di Medan,
Jakarta, maupun Aceh seperti biasa. Kalau sebelumnya hampir setiap
minggu saya berkunjung ke Jakarta dan hampir setiap bulan saya pulang
ke Langsa atau Banda Aceh, maka sekarang saya sudah kehilangan semua
"kemewahan" tersebut. Tentunya saya sedih dan merasa sangat terikat,
malah sekarang ini saya menjadi buruan TNI ke mana saja saya pergi.
Di Malaysia sendiri terpaksa saya bersembunyi
dan tak bisa bergerak terlalu bebas. Untung saja saya punya banyak
kawan di Malaysia, kalau tidak tentunya saya sudah dibungkus TNI dan
dibawa pulang ke kandang mereka. Kesimpulannya, keterlibatan saya
dalam GAM bukan sesuatu yang saya rencanakan. Keterlibatan saya dalam
GAM bukan karena saya suka-suka sendiri. Keterlibatan saya dalam GAM
bermula awal 1999, makanya ramai anggota GAM yang sekarang ini berada
di lapangan tak kenal dan belum pernah bertemu saya. Mereka hanya
mendengar tentang saya dari fitnah-fitnah orang yang takut kehilangan
kuasa akibat kehadiran saya. Padahal, semua keberhasilan yang dinikmati
GAM dan perjuangan Aceh sekarang ini berpunca dari keterliban saya.
Makanya, sebagai orang Islam, kita jangan sembarang percaya kepada
omongan dan tuduhan orang tanpa fakta. Kita harus melihat dan menilai
lebih dulu yang menuduh itu siapa.
Yang penting sekali, keberadaan saya
dalam GAM bukan untuk seumur hidup seperti keberadaan Hasan Tiro.
Sekarang ini, saya dalam keadaan terpaksa berada dalam tubuh GAM untuk
menunaikan janji-janji saya kepada senior-senior GAM. Saya terpaksa
menjalankan tugas yang mahaberat ini untuk menunaikan janji-janji
saya kepada ulama Aceh dan tokoh-tokoh Aceh yang sudah muak melihat
tingkah TNI/Polri dan majikannya. Saya tak punya cita-cita menjadi
pemimpin Aceh. Cita-cita saya hanya untuk mendalami segala macam ilmu
berdasarkan Alquran. Ulôntuan keneuk djak beuët (mengaji)
lom.
Pulang ke Aceh
Pada 3 November 1996, saya mendarat
untuk pertama kali di Bandara Sultan Iskandarmuda, Banda Aceh, setelah
merantau meninggalkan Aceh selama 16 tahun. Kepulangan saya ke Aceh
sebagai pengusaha/investor atas undangan orang BKPMD Aceh yang kebetulan
rekan sekelas saya di SMP. Saya bertemu kembali dengan rekan ini sewaktu
Pemda Aceh menggelar pameran dagang di Kuala Lumpur pada medio 1996.
Dari sinilah bermula kembali hubungan saya dengan bumi tumpah darah
saya, sehingga saya menjadi terkenal dan menjalin persahabatan dengan
kebanyakan birokrat dan pengusaha Aceh. Sehingga saya mendapat jalur
hubungan dagang dengan keluarga Cendana sebelum tumbangnya mereka.
Berbagai program investasi saya bawa
pulang ke Aceh, sehingga runtuhnya ekonomi Indonesia tahun 1998, semuanya
terhenti. Alhamdulilllah, selama saya berbakti membawa investasi ke
Aceh, umumnya semua pihak memberi kerjasama yang memuaskan tanpa perlu
saya sogok (tanpa KKN). Saya pulang ke Aceh dengan cara saya, dengan
budaya saya yang berlawanan dengan budaya RI, tetapi rakyat Aceh bisa
menerimanya dan malahan menghargainya. Saya sangat bangga dilahirkan
sebagai orang Aceh.
Sewaktu kecil
Saya dilahirkan dalam keluarga berada
dan zaman kanak-kanak saya penuh kemanjaan dengan Abu Syik dan Nek.
Sebagai cucu pertama dari keluarga seorang ketua kampung dan hartawan
lokal, tentunya saya mendapat perhatian penuh dari sekeliling, baik
dari saudara mara maupun masyarakat setempat. Terlalu panjang kalau
saya beberkan kesemuanya kehidupan masa kecil saya. Singkatnya, saya
mulai pendidikan di MIN, kelas tiga saya pindah ke SD. SMP saya di
Aceh. Naik kelas dua SMA saya pindah ke Medan. Tamat SMA, saya ke
Amerika. Pulang dari Amerika saya langsung menetap di Malaysia. Sejak
di bangku MIN hingga SMA sewaktu di Aceh saya manyandang juara kelas
dan sekolah.
Istri dan anak-anak
Cerita tentang istri dan anak-anak
ini, kalau saya paparkan dari pertama hingga akhir bisa mengejutkan
Anda semua. Namun, dari tiga orang istri yang saya miliki sekarang,
bisa saya katakan yang paling setia dan mendukung saya setiap saat
adalah istri yang keturunan Cina. Kita hidup ini tak perlu hipokrit,
tak perlu bersembunyi dan berlindung di sebalik yang baik-baik saja.
Walau bagaimanapun, yang paling menggembirakan saya adalah ketiga
istri saya menjalin hubungan erat antara satu sama lain. Mereka tak
pernah bertengkar dan tak bermusuhan. Insya Allah, kalau Aceh sudah
merdeka nanti saya akan cari istri yang keempat di Bumi Aceh, itu
pun kalau sempat dan diizinkan Allah.
Masa depan Aceh
Prinsip saya yang keras tentang masa
depan Aceh wajib ditentukan oleh rakyat Aceh sendiri menjadikan saya
kurang popular dan tak berapa disukai di kalangan AGAM. Walaupun saya
menjabat sebagai Sekjen GAM, namun saya tak bisa dan tak mungkin menjalankan
doktrin GAM yang memaksakan kehendak kepada rakyat dengan berbagai
propaganda dan pemogongan. Saya tidak bisa menerima cara yang begitu.
Saya juga tak berminat memperjuangkan atau mengagung-agungkan individu,
seperti kebanyakan anggota GAM yang mengagungkan dan fanatik kepada
Hasan Tiro atau kepada dr Husaini. Bagi saya, perjuangan GAM adalah
untuk bangsa dan rakyat Aceh .