|
Sebuah Hadits
Nabi Muhammad SAW
Di bawah
ini sebuah hadits nabi Muhammad SAW yang diceritakan kembali dari
buku Imam Ghazali
berjudul 'Ihya Ulumuddin'.
"Tujuh Langit, Malaikat dan
Amal Sang Hamba ", dari Ihya Ulumuddin oleh
Al-Ghazali r.a :
Dari Ibnu Mubarak dan
Khalid bin Ma'dan, mereka bertanya kepada Mu'adz bin Jabal, "Mohon
ceritakan kepada kami sebuah hadits yang telah Rasulullah ajarkan
kepadamu, yang telah engkau hafalkan dan selalu engkau ingat-ingat karena
begitu kerasnya hadits tersebut namun begitu halus serta
dalamnya
makna ungkapannya. Hadits manakah
yang engkau anggap sebagai hadits
terpenting?" Mu'adz menjawab,
"Baiklah, akan aku ceritakan...". Tiba-tiba Mu'adz menangis tersedu-sedu.
Lama sekali tangisannya itu, hingga beberapa saat kemudian baru terdiam.
Beliau kemudian berkata, "Sungguh aku rindu sekali kepada Rasulullah.
Ingin sekali aku bersua kembali dengan beliau...".
Kemudian Mu'adz melanjutkan: Suatu hari ketika aku menghadap
Rasulullah SAW, saat itu beliau tengah menunggangi untanya.
Nabi kemudian menyuruhku untuk turut naik bersama
beliau di belakangnya. Aku pun menaiki unta
tersebut di belakang
beliau. Kemudian aku melihat
Rasulullah menengadah ke langit dan bersabda, "Segala kesyukuran hanyalah
diperuntukkan bagi Allah yang telah menetapkan
kepada setiap ciptaan-Nya apa-apa
yang Dia kehendaki. Wahai Mu'adz....! Labbaik, wahai penghulu para
rasul....! Akan aku ceritakan kepadamu sebuah kisah, yang apabila engkau
menjaganya
baik-baik, maka hal itu akan
memberikan manfaat bagimu. Namun sebaliknya, apabila engkau
mengabaikannya, maka terputuslah hujjahmu di sisi Allah
Azza
wa Jalla....! Wahai Mu'adz...! Sesungguhnya Allah Yang
Maha Memberkati dan Mahatinggi
telah menciptakan tujuh
malaikat sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.
Pada setiap langit terdapat satu
malaikat penjaga pintunya, dan menjadikan
penjaga dari tiap pintu tersebut satu malaikat yang
kadarnya
disesuaikan dengan keagungan dari tiap tingkatan
langitnya.
Suatu hari naiklah
malaikat Hafadzah dengan amalan seorang hamba yang amalan tersebut
memancarkan cahaya dan bersinar bagaikan matahari. Hingga
sampailah amalan tersebut ke langit dunia (as-samaa'I
d-dunya) yaitu sampai ke dalam jiwanya. Malaikat Hafadzah kemudian
memperbanyak amal tersebut dan
mensucikannya.
Namun tatkala sampai pada pintu langit pertama, tiba-tiba
malaikat penjaga pintu tersebut berkata, "Tamparlah wajah pemilik amal ini
dengan amalannya
tersebut!! Aku adalah pemilik
ghibah... Rabb Pemeliharaku memerintahkan
kepadaku untuk mencegah setiap hamba
yang telah berbuat ghibah di antara
manusia (yaitu membicarakan hal-hal
yang berkaitan dengan orang lain yang apabila
orang itu mengetahuinya, dia tidak suka mendengarnya)
untuk dapat melewati pintu langit pertama ini....!"
Kemudian keesokan harinya malaikat Hafadzah naik ke langit
beserta amal shalih seorang hamba lainnya. Amal tersebut bercahaya yang
cahayanya terus
diperbanyak oleh Hafadzah dan
disucikannya, hingga akhirnya dapat menembus
ke langit kedua. Namun malaikat
penjaga pintu langit kedua tiba-tiba
berkata, "Berhenti kalian...!
Tamparlah wajah pemilik amal tersebut dengan
amalannya itu! Sesungguhnya dia beramal namun dibalik
amalannya itu dia menginginkan penampilan duniawi belaka ('aradla
d-dunya). Rabb Pemeliharaku
memerintahkan kepadaku untuk tidak membiarkan amalan si
hamba yang berbuat itu melewati langit dua ini menuju langit berikutnya!"
Mendengar itu semua, para malaikat pun melaknati si hamba tersebut hingga
petang harinya.
Malaikat Hafadzah lainnya naik bersama amalan sang hamba
yang nampak indah, yang di dalamnya terdapat shadaqah, shaum-shaumnya
serta perbuatan baiknya
yang melimpah. Malaikat Hafadzah pun
memperbanyak amal tersebut dan
mensucikannya hingga akhirnya dapat
menembus langit pertama dan kedua. Namun ketika sampai di pintu langit
ketiga, tiba-tiba malaikat penjaga
pintu langit tersebut berkata,
"Berhentilah kalian...! Tamparkanlah wajah pemilik amalan tersebut dengan
amalan-amalannya itu! Aku adalah penjaga
al-Kibr (sifat takabur). Rabb
Pemeliharaku memerintahkan kepadaku untuk
tidak membiarkan amalannya
melewatiku, karena selama ini dia selalu bertakabur di hadapan manusia
ketika berkumpul dalam setiap majelis
pertemuan
mereka...."
Malaikat Hafadzah
lainnya naik ke langit demi langit dengan membawa amalan seorang hamba
yang tampak berkilauan bagaikan kerlip bintang gemintang
dan
planet. Suaranya tampak bergema dan tasbihnya bergaung
disebabkan oleh
ibadah shaum, shalat,
haji dan umrah, hingga tampak menembus tiga langit
pertama dan sampai ke pintu langit
keempat. Namun malaikat penjaga pintu
tersebut berkata, "Berhentilah
kalian...! Dan tamparkan dengan
amalan-amalan tersebut ke wajah
pemiliknya..! Aku adalah malaikat penjaga
sifat 'ujub (takjub akan keadaan jiwanya sendiri).
Rabb Pemeliharaku
memerintahkan kepadaku agar ridak membiarkan amalannya
melewatiku hingga menembus langit sesudahku. Dia selalu memasukkan unsur
'ujub di dalam
jiwanya ketika melakukan suatu
perbuatan...!"
Malaikat Hafadzah
lainnya naik bersama amalan seorang hamba yang diiring bagaikan iringan
pengantin wanita menuju suaminya. Hingga sampailah amalan
tersebut menembus langit
kelima dengan amalannya yang baik berupa jihad,
haji dan umrah. Amalan tersebut memiliki cahaya bagaikan
sinar matahari. Namun sesampainya di pintu langit kelima tersebut,
berkatalah sang malaikat
penjaga pintu, "Saya adalah pemilik
sifat hasad (dengki / iri). Dia telah berbuat
dengki / iri kepada manusia ketika mereka diberi karunia
oleh Allah. Dia marah terhadap apa-apa yang telah Allah ridlai dalam
ketetapan-Nya. Rabb
Pemeliharaku memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amal
tersebut melewatiku menunju langit berikutnya...!"
Malaikat Hafadzah lainnya naik dengan amalan seorang hamba
berupa wudlu
yang sempurna, shalat yang
banyak, shaum-shaumnya, haji dan umrah, hingga
sampailah ke langit yang keenam.
Namun malaikat penjaga pintu langit keenam
berkata, "Saya adalah pemilik ar-rahman (kasih sayang).
Tamparkanlah amalan si hamba tersebut ke wajah pemilikinya. Dia tidak
memilki sifat rahmaniah
sama sekali di hadapan manusia. Dia
malah merasa senang ketika melihat
musibah menimpa hamba lainnya. Rabb Pemeliharaku
memerintahkanku untuk
tidak membiarkan amalannya
melewatiku menuju langit berikutnya...!"
Naiklah malaikat Hafadzah lainnya bersama amalan seorang
hamba berupa
nafkah yang berlimpah, shaum, shalat, jihad dan sifat wara'
(berhati-hati
dalam beramal). Amalan
tersebut bergemuruh bagaikan guntur dan bersinar
bagaikan kilatan petir. Namun ketika
sampai pada langit yang
ketujuh, berhentilah amalan tersebut
di hadapan malaikat penjaga pintunya.
Malaikat itu berkata, "Saya adalah pemilik sebutan
(adz-dzikru) atau sum'ah (mencintai kemasyhuran) di antara manusia.
Sesungguhnya pemilik amal ini
berbuat sesuatu karena
menginginkan sebutan kebaikan amal perbuatannya di
dalam setiap pertemuan. Ingin
disanjung di antara kawan-kawannya dan mendapatkan kehormatan di antara
para pembesar. Rabb Pemeliharaku
memerintahkan aku untuk tidak
membiarkan amalannya menembus melewati pintu
langit ini menuju langit sesudahnya. Dan setiap amal
yang tidak
diperuntukkan bagi Allah ta'ala secara ikhlas, maka
dia telah berbuat
riya', dan Allah Azza wa Jalla tidak menerima amalan
seseorang yang
diiringi dengan riya'
tersebut....!'
Dan malaikat Hafadzah
lainnya naik beserta amalan seorang hamba berupa
shalat, zakat, shaum demi shaum, haji, umrah, akhlak yang
berbuahkan
hasanah, berdiam diri,
berdzikir kepada Allah Ta'ala, maka seluruh malaikat
di tujuh langit tersebut beriringan
menyertainya hingga terputuslah seluruh
hijab dalam menuju Allah Yang Maha Suci. Mereka
berhenti di hadapan ar-Rabb yang
Keagungan-Nya (sifat Jalal-Nya) bertajalli. Dan para
malaikat tersebut
menyaksikan amal sang hamba itu merupakan amal shalih yang
diikhlaskannya
hanya bagi Allah
Ta'ala.
Namun tanpa disangka
Allah berfirman, "Kalian adalah malaikat Hafadzah yang menjaga amal-amal
hamba-Ku, dan Aku adalah Sang Pengawas, yang memiliki
kemampuan dalam mengamati apa-apa
yang ada di dalam jiwanya. Sesungguhnya dengan amalannya itu, sebenarnya
dia tidak menginginkan Aku. Dia
menginginkan selain Aku...! Dia
tidak mengikhlaskan amalannya bagi-Ku. Dan
Aku Maha Mengetahui terhadap apa yang dia inginkan
dari amalannya tersebut. Laknatku bagi dia yang telah menipu makhluk
lainnya dan kalian semua, namun
Aku sama sekali tidak tertipu olehnya. Dan Aku adalah Yang
Maha Mengetahui
segala yang ghaib, Yang
memunculkan apa-apa yang tersimpan di dalam
kalbu-kalbu. Tidak ada satu pun di
hadapan-Ku yang tersembunyi, dan tidak
ada yang samar di hadapan-Ku terhadap segala yang
tersamar.....
Pengetahuan-Ku terhadap apa-apa yang telah terjadi
sama dengan
pengetahuan-Ku terhadap apa-apa yang belum terjadi.
Pengetahuan-Ku terhadap
apa-apa yang telah berlalu sama dengan pengetahuan-Ku
terhadap yang akan
datang. Dan pengetahuan-Ku
terhadap segala sesuatu yang awal sebagaimana
pengetahuan-Ku terhadap segala yang
akhir. Aku lebih mengetahui sesuatu
yang rahasia dan tersembunyi.
Bagaimana mungkin hamba-Ku menipu-Ku dengan
ilmunya. Sesungguhnya dia hanyalah menipu para makhluk
yang tidak memiliki
pengetahuan, dan Aku Maha Mengetahui segala yang ghaib.
Baginya laknat-Ku....!!"
Mendengar itu semua maka berkatalah para malaikat penjaga
tujuh langit
beserta tiga ribu pengiringnya, "Wahai Rabb Pemelihara
kami, baginya
laknat-Mu dan laknat kami".
Dan berkatalah seluruh petala langit, "Laknat
Allah baginya dan laknat mereka yang
melaknat buat sang hamba itu..!" Mendengar penuturan Rasulullah SAW
sedemikian rupa, tiba-tiba menangislah
Mu'adz Rahimahullah, dengan isak tangisnya yang cukup
keras... Lama baru
terdiam kemudian dia berkata dengan lirihnya,
"Wahai
Rasulullah......Bagaimana bisa aku selamat dari apa-apa
yang telah engkau
ceritakan
tadi...??"
Rasulullah bersabda, "Oleh karena itu wahai
Mu'adz.....Ikutilah Nabimu di
dalam sebuah
keyakinan...".
Dengan suara yang
bergetar Mu'adz berkata, "Engkau adalah Rasul Allah, dan
aku hanyalah seorang Mu'adz bin
Jabal....Bagaimana aku bisa selamat dan
lolos dari itu semua...??" Nabi yang
suci bersabda, "Baiklah wahai Mu'adz, apabila engkau merasa kurang
sempurna dalam melakukan semua amalanmu itu, maka cegahlah
lidahmu
dari ucapan ghibah dan fitnah
terhadap sesama manusia, khususnya terhadap
saudara-saudaramu yang sama-sama
memegang Al-Quran. Apabila engkau hendak
berbuat ghibah atau memfitnah orang lain, haruslah
ingat kepada
pertanggungjawaban jiwamu sendiri, sebagaimana engkau
telah mengetahui
bahwa dalam jiwamu pun penuh dengan aib-aib. Janganlah
engkau mensucikan
jiwamu dengan cara menjelek-jelekkan orang lain. Jangan
angkat derajat
jiwamu dengan cara menekan orang lain. Janganlah tenggelam
di dalam
memasuki urusan dunia sehingga hal itu dapat melupakan
urusan akhiratmu.
Dan janganlah engkau
berbisik-bisik dengan seseorang, padahal di sebelahmu
terdapat orang lain yang tidak
diikutsertakan. Jangan merasa dirimu agung
dan terhormat di hadapan manusia, karena hal itu akan
membuat habis
terputus nilai kebaikan-kebaikanmu di dunia dan
akhirat. Janganlah berbuat
keji di dalam majelis pertemuanmu sehingga akibatnya mereka
akan menjauhimu karena buruknya akhlakmu. Janganlah engkau ungkit-ungkit
kebaikanmu di
hadapan orang lain. Janganlah engkau robek orang-orang
dengan lidahmu yang akibatnya
engkau pun akan dirobek-robek oleh anjing-anjing Jahannam di akhirat kelak.
Mendengar penuturan Nabi sedemikian itu, Mu'adz kembali
bertanya dengan suaranya yang semakin lirih, "Wahai Rasulullah, Siapa
sebenarnya yang akan
mampu melakukan itu semua....??"
Nabi pun menjawab, "Wahai Mu'adz... sebenarnya apa-apa yang telah aku
paparkan tadi dengan
segala penjelasnnya serta cara-cara
menghindari bahayanya itu semua akan
sangat mudah bagi dia yang
dimudahkan oleh Allah Ta'ala.... Oleh karena itu
cukuplah bagimu mencintai sesama manusia, sebagaimana
engkau mencintai
jiwamu sendiri, dan engkau membenci mereka sebagaimana
jiwamu membencinya.
Dengan itu semua niscaya
engkau akan mampu dan selamat dalam
menempuhnya.....!!" Khalid bin
Ma'dan kemudian berkata bahwa Mu'adz bin Jabal sangat
sering
membaca hadits tersebut sebagaimana seringnya beliau
membaca Al-Quran, dan
sering mempelajarinya serta
menjaganya sebagaimana beliau mempelajari dan
menjaga Al-Quran di dalam majelis
pertemuannya.
Al-Ghazali r.a.
kemudian berkata, "Setelah kalian mendengar hadits
yang sedemikian luhur beritanya, sedemikian besar
bahayanya, atsarnya yang
sungguh menggetarkan, serasa akan terbang bila hati
mendengarnya serta
meresahkan akal dan menyempitkan dada yang kini penuh
dengan huru-hara yang
mencekam. Kalian harus
berlindung kepada Rabb-mu, Pemelihara Seru Sekalian
Alam. Berdiam diri di ujung sebuah
pintu taubat, mudah-mudahan kalbumu akan
dibuka oleh Allah dengan lemah lembut, merendahkan
diri dan berdoa,
menjerit dan menangis semalaman. Juga di siang hari bersama
orang-orang
yang merendahkan diri, yang
menjerit dan selalu berdoa kepada Allah Ta'ala.
Sebab itu semua adalah sebuah
persoalan besar dalam hidupmu yang kalian
tidak akan selamat darinya melainkan
disebabkan atas pertolongan dan rahmat
Allah Ta'ala semata. Dan tidak akan bisa selamat dari
tenggelamnya di
lautan ini kecuali dengan hadirnya hidayah, taufiq
serta inayah-Nya semata.
Bangunlah kalian dari lengahnya orang-orang yang lengah.
Urusan ini harus
benar-benar diperhatikan oleh
kalian. Lawanlah hawa nafsumu dalam tanjakan
yang menakutkan ini. Mudah-mudahan
kalian tidak akan celaka bersama
orang-orang yang celaka. Dan
mohonlah pertolongan hanya kepada Allah
Ta'ala, kapan saja dan dalam keadaan
bagaimanapun. Dialah yang Maha Menolong
dengan sebaik-baiknya dari Yang Paling Maha
Kasih.
Wa laa haula wa laa quwwata illa
billaah.......Semoga Allah menjaga kita untuk tidak beramal selain
untuk-Nya dan
mengampuni kesalahan-kesalahan kita.

Beberapa
Link Masalah Ke-Islam-an yang Bermanfaat


|