BACK

Pramoedya Ananta Toer
Saya tutup buku dengan kekuasaan. Mereka selalu bilang, kami tutup buku dengan napol/tapol, nah saya juga bilang begitu, tutup buku dengan kekuasaan.

I closed the book on power. They always say, we have closed the book on political convicts/prisoners, so I say the same, close the book on power.

(Suara Independen no.3/I: August 1995)

"Kamu jangan takut untuk maju dan bicarakan ide-ide kamu. Sekali kamu takut, kamu kalah."

"Be not afraid to go forward and speak out for your ideas. Once you are afraid, you are defeated."

(Pak Pram's word to A.D. Ticoalu; NYC, 1999)

Saya pribadi hanya berpihak kepada KEBENARAN, KEADILAN, KEMANUSIAAN. Itu yang pernah saya katakan "Pramisme"

I personally only take side in TRUTH, JUSTICE, HUMANITY. That is what I have called "Pramism".

(A personal remark to A.D. Ticoalu)

"Ya, Ma, kita sudah melawan, Ma, biarpun hanya dengan mulut."

"Yes, Ma, we fought back, Ma, even though only with our mouths."]

(Anak Semua Bangsa - Pg. 353)

Brian May:

    "Apakah bapak komunis?"

    "Are you a communist?"

Pramoedya:

    Saya adalah saya. Saya tidak memiliki pandangan politik yang pasti. Saya tidak memiliki pendidikan politik. Saya seorang humanis. Saya memang dulu anggota Lekra tetapi itu bukan organisasi komunis...

    "I am is what I am. I have no clear political ideas. I have no political education. I am a humanist. I was a member of Lekra, but that is not a communist organization..."

(Interview with Brian May and other reportes, Buru Island, 1973.)

"Maaf, atas nama pengalaman."

"My apologies, in the name of experience."

("Maaf, atas nama pengalaman," Kabar Seberang 23 (1992): 1-9.)

Deposuit Potentes de Sede et Exaltavit Humiles

He has brought down the mighty from their thrones and raised up the lowly

(Rumah Kaca - House of Glass)

Keadaan seluruh dunia berubah. Sekarang apa? Negara-negara komunis pun mengakomodasi kapitalisme. Perang Dingin tidak ada lagi. Saya sendiri tetap seperti dahulu, menentang ketidakadilan dan penindasan. Bukan sekadar menentang, tetapi melawan! Melawan pelecehan kemanusiaan. Saya tidak berubah.

The world’s condition has changed. What now? Even communist countries accommodate capitalism. There is no more Cold War. Just like in the past, I personally against injustice and oppression. Not just against, but fight! Fight the molestation of humanity. I have never changed.

(Nama Saya Tidak Pernah Kotor. Jawa Pos, 18 April 1999)

"Pokoknya berani. Kalau ngak berani, ngak menulis saya itu."

"The point is, be brave. If I wasn't brave, I wouldn't be able to write."

(Pak Pram's word to A.D. Ticoalu. Jakarta, Indonesia., 2000)

Saya ini kagum kepada Bung Karno. Ia sanggup melahirkan nation, bukan bangsa, tanpa meneteskan darah. Mungkin dia satu-satunya, atau paling tidak satu di antara yang sangat sedikit. Kelahiran nation itu biasanya, dimana saja, mandi darah.

I admire Bung Karno. He was capable of creating a "nation," not a "bangsa," without shedding blood. He may be the only one, or at most one of a very few. The birth of a nation usually, wherever it happens, is a bloodbath.

(Suara Independen no.3/I: August 1995)

President Soekarno

Karena sejumlah kejadian cocok dengan kesimpulan, kadang aku cenderung untuk menilainya sebagai rumus. Tapi kemudian kuperlunak menjadi: apa yang terucapkan sebagai X adalah minus X.

Because a number of events fit my conclusion, I was sometimes inclined to consider it a formula. But later I softened it to: what is stated as x is minus x.

(Maaf Atas Nama Pengalaman: Jakarta, November 1991)

Stop! Rasialisme anti minoritas apa pun harus tak terjadi lagi di Indonesia. Sungguh suatu aib yang memalukan. Dalam lebih setengah abad dan ber-Pancasila, bisa terjadi kebiadaban ini kalau bukan karena hipokrisi pada kekuasaan.

Stop! Anti-minority racialism in any form should no longer happen in Indonesia. What a shamefull tragedy. In more than half a decade and within the Pancasilaism, could happened this barbaric act, if not caused by hypocrisy in the power.

(Rasialisme Anti-Tiong Hoa dan Percobaan Menjawabnya: 22 Oktober 1998)

Question:

    Apakah Anda dikenal oleh kawan-kawan itu sebagai pencerita?

    Are you known by friends as the story teller?

Pramoedya:

    Oh, tidak. Praktis tidak begitu. Saya menulis saja. Tetapi waktu itu keadaan sedang genting karena ada 11 tahanan politik dibunuh. Karena keadaan yang mencekam itu, saya bercerita untuk mengendurkan ketegangan dan juga untuk menunjukkan: “Lihat Nyai Ontosoroh, dia perempuan, seorang diri melawan kekuasaan kolonial. Kalian lelaki, masa musibah begitu saja bisa turun morilnya”. Dan ternyata berhasil.

    Oh, no. Practically not so. I just wrote. But that time the situation was crucial because there were 11 political prisoners killed. In that horrific condition, I told stories to loosen up the stressful situation and to show: “Look at Nyai Ontosoroh, she is a woman, alone she fought against the colonial power. You are all men, just a slight incident like that could degraded your moral”. And it worked.

("Yang Tidak Setuju, Ya minggir Saja". Tempo, 4 Mei 1999)

Mungkin ia merasa begitu pentingnya bagi Indonesia sehingga dalam usianya yang sudah lanjut merasa berkepentingan untuk mendirikan kebohongan terutama untuk menyudutkan saya. Pada hal dalam polemik-polemik tsb., saya hanya menggunakan hak saya sebagai warganegara merdeka untuk menyatakan pendapat. Dan saya sadari hak saya. Seperti sering kali saya katakan: kewarganegaraan saya peroleh dengan pergulatan bukan hadiah gratis.

Maybe he feels the importance for Indonesia, therefore in his advanced age he feels obliged to build lies, especially those to cornered me. In matter of the polemics, I only use my righ as a free citizen to express my oppinion. And I am aware of my rights. As I mentioned always: I gained my citizenship with strugle, not as a free gift.

(Surat Terbuka Pramoedya Ananta Toer kepada Keith Foulcher: Jakarta, 5 Maret 1985)

Dalam tahanan di RTM tahun 1960 saya mendapatkan kata baru dari dunia kriminal: brengsek. Sekarang saya dapat kata baru pula: di-aman-kan, yang berarti: dianiaya, sama sekali tidak punya sangkut-paut dengan aman dan keamanan. Sebelum itu saya punya patokan cadangan bila orang bicara denganku: ambil paling banyak 50% dari omongannya sebagai benar. Sekarang saya mendapatkan tambahan patokan: Kalau yang berkuasa bilang A, itu berarti minus A. Apa boleh buat, pengalaman yang mengajarkan.

In the military prison, the year of 1960, I learned a new word in the crime world: brengsek. Now I learned yet another word: put-into-safety, which means: oppression, absolutely have nothing to do with secure and security. Before that I have a standard when people talk to me: take the most 50% from his word as the truth. Now I have added another standard: If those who in power says A, that means minus A. What can I do, experience taught me so.

(Surat Terbuka Pramoedya Ananta Toer kepada Keith Foulcher: Jakarta, 5 Maret 1985)

“Tidak hanya nampak kuat saja; lebih dibutuhkan dari hanya tenaga untuk selamat. Diperlukan perlawanan, perlawanan mental demikian juga dengan perlawanan spiritual. Kekuatan belaka tidak cukup.”

"You can't just seem strong; it takes more than strength to survive. It took resistance, mental resistance as well as spiritual resistance. Strength was not enough."

(Unbowed and Only Slightly Bitter: An Indonesian Writer and Survivor Preaches Courage. April 26, 1999)

“Kenapa saya mesti takut? [Tulisan –tulisan ini] adalah bagian dari sejarah Indonesia. Mereka akan terlupakan jika tidak di tuliskan.

"Why should I be affraid? [These writings] are part of Indonesian history. They will be forgotten if not recorded.”

(Fighting Words Asiaweek, 24 April 1998)

Question:

    Dari sekian karya Anda meski-pun Anda tidak pernah membacanya kembali, mana yang paling anda sukai?

    From all your works, regardless whether you have re-read them, which one you like most?

Pramoedya:

    Sama saja. Semua itu anak-anak rohani saya. Masing-masing punya sejarahnya sendiri. Semua saya sayang.

    All the same. They are all my spiritual children. Each has its own history. I love them all.

("Yang Tidak Setuju, Ya minggir Saja": Tempo, 4 Mei 1999)

A.D. Ticoalu:

    "Orang-orang berkata bapak adalah seorang komunis, dan karena inilah karya2 bapak dilarang di Indonesia. Berhubung dengan adanya bapak disini, saya hendak bertanya, apakah bapak seorang komunis?

    "People have said that you are a communist, and this is why all your works are banned. With your presence here, I would like to ask you, are you a communist?"

Pramoedya:

    "Ya memang pemerintah Orde Baru telah mengangkat saya sebagai komunis. Dan, ini diperkuat oleh pers Orde Baru. Tuduhan itu sudah sejak masa Orde Lama. Tetapi kalau ditanyakan saya ini komunis nomor berapa saya ini di Indonesia....ngak ada yang bisa jawab. Komunis siapa yang membina saya? Saya tidak tahu."

    "Ya, true that the New Order have designated me as a communist. And, this was made even stronger by the New Order press. This acquisition has existed since the period of the Old Order. But when were asked which number was I as a communist in Indonesia.... no one could answer. Which communist that nurtured me? I have no idea."

(A personal remark to A.D. Ticoalu)

Saya bukan Nelson Mandela. ..... Saya sangat menghormati Mandela. Tapi saya bukan dia, dan tidak ingin menjadi dia.

I am not Nelson Mandela. ..... I realy do respect Mandela. But I am not he, and do not want to be him.

A remark made to Goenawan Mohamad's letter to Pramoedya (Tempo: No. 05/XXIX/3 - April 9, 2000)

Itu kalian (generasi muda) yang harus cuci piring semuanya. Jangan pura-pura bodoh kepada saya

It is you (young generation) that must wash all the dishes. Do not play stupid on me.

(Forum Keadilan: No. 50. March 26, 2000)

Pramoedya and Multatuli
Saya pegang ajaran Multatuli bahwa kewajiban manusia adalah menjadi manusia.

I hold the teaching of Multatuli that it is a human's duty to be a human.

(“Saya tidak Pernah Jadi Budak”: Tempo NO. 04/XXVIII/30 Mar - 5 Apr 1999)

BACK