detikcom, Kamis, 24/03/2005 15:29 WIB
Kucing-kucingan dengan Polisi, Pelaku Bom Ambon Terlatih
Reporter: M Hanafi Holle
detikcom - Ambon , Aksi teror bom yang melanda kota Ambon secara beruntun
dalam sebulan ini dilakukan orang yang sangat terlatih. "Pelakunya sangat terlatih
dan profesional. Saya yakin itu," kata Kapolda Maluku Brigjen Pol Adityawarman
kepada pers di ruang Pratama Mapolda Maluku, Jl. Rijali Ambon, Kamis (24/3/2005).
Upaya pengejaran dan pencarian pelaku akan terus dilakukan. Menurut Kapolda,
kasus peledakan bom di desa Lateri dan desa Batu Merah bermotif sama.
"Pelakunya juga sama," kata dia. Saat ini, kata Kapolda, pelaku sengaja main
kucing-kucingan dengan aparat keamanan.
Hasil analisis Polda Maluku, kata Kapolda, si pelaku menentukan target lokasi yang
terpilih. "Ini dilakukan agar si pelaku mengharapkan ada reaksi balik dari masyarakat
yang tidak puas. Pada akhirnya kondisi akan kembali runyam. Ini motifnya," kata
Kapolda.
Diungkapkan juga, jenis ledakan pada dua lokasi tersebut sama, yaitu dari granat
nenas. Hanya saja, lanjut Kapolda, granat yang meledak di desa Lateri sudah sangat
lama tidak digunakan. "Saya juga heran. Kok bisa meledak. Padahal setelah diteliti
dari hasil olah TKP, jenis granat itu sudah sangat lama," bebernya. Sementara granat
yang dilemparkan di desa Batu Merah dan melukai lima orang warga, masih bagus.
Dari pemeriksaan 15 saksi, Kapolda Adityawarmana mengatakan, sementara ini
ciri-ciri pelaku baru dikenal dari postur tubuh dan tinggi badan. Salah satu pelaku
bukan orang Ambon. "Postur dan tinggi badan sudah kami ketahui, hanya saja bagian
depan pelaku masih kami selidiki. Salah satunya dipastikan bukan orang Ambon,"
bebernya lagi.
Orang itu, lanjut Kapolda, sudah biasa bolak-balik kota Ambon. "Saya hafal benar
orang itu," tandas Kapolda.
Terkait kasus penembakan kapal cepat Lai-Lai diperairan Buru dan Villa Karaoke,
Kapolda mengungkapkan, pihaknya belum dapat mengetahui pelaku penembakan.
Hanya saja khusus untuk Lai-Lai, hasil olah TKP menemukan 23 butir amunisi
senjata SS1 dan tujuh butir senjata AK47. "Hal ini juga dilakukan orang terlatih.
Bagaimana tidak, saat kapal bergerak, si pelaku penembak bisa melepaskan
tembakan tepat sasaran. Padahal saat itu gelombang," ujar Kapolda.
Intelijen Lemah
Terkait aksi teror tersebut, mantan ketua tim 19 penyelesaian konflik Maluku, Letjen
(Purn) Suedi Marasabessy kepada detikcom dan Tempo di Masohi belum lama ini
mengakui adanya kelemahan satuan intelijen di Maluku. "Intelijen di Maluku mesti
berbenah diri. Saya akan sampaikan soal ini kepada pimpinan Intelijen di Jakarta,"
kata Marasabessy.
Hal yang sama diutarakan anggota DPRD Maluku, Kutni Tuhepaly. Kepada detikcom,
Tuhepaly menyatakan, rentetan kasus yang terjadi belakangan ini merupakan pola
lama yang dimainkan kembali. Untuk itu, sudah seharusnya satuan intelijen di
Maluku sudah mengetahui pola-pola ini.
Dia juga heran, secara geografis luas wilayah daratan kota Ambon masih di bawah
luas pulau Jawa. Namun pelaku peledakan bom di Jawa cepat sekali ditangkap
daripada di Ambon. "Ambon ini hanya pulau secuil. Kok sulit ditangkap," katanya
kecewa.
Menyikapi soal ini, Kapolda mengakui secara kuantitas personel intelijen di Maluku
masih dirasakan kurang. Hal ini juga tidak didukung kurang optimalnya personel
intelijen di bawah kendalinya. Kendati begitu, Kapolda menegaskan, satuan intelijen
di bawah kendalinya selalu melalukan koordinasi dengan satuan intelijen lainnya di
Maluku. "Jadi jangan berpikir kita tidak serius menangani kasus-kasus ini," ujar
Kapolda.
Pada kesempatan itu Kapolda juga mengimbau kepada masyarakat untuk tidak
terpancing dengan segala bentuk provokasi yang dimainkan oleh individu maupun
kelompok yang ingin mengacaukan kembali situasi Maluku khususnya kota Ambon.
Dia juga meminta masyarakat untuk tetap awas. Karena bentuk provokasi yang
tengah dilakukan bermacam-macam bentuknya.
Ditemui di tempat terpisah, Pangdam XVI Pattimura Brigjen TNI Syarifudin Summah
mengakui, hingga kini pihaknya pun sulit menangkap pelaku teror di Maluku. padahal,
dirinya sudah menginstruksikan jajarannya untuk melakukan pengawasan keamanan
secara ketat. "Pelaku sangat lihai dan sepertinya pelaku mempraktekan operasi
jarum dalam karung. Artinya sulit ditebak," kata dia.(asy)
Baca juga:
Wisma Nestle Aman, Gegana Tak Temukan Jejak Bom
Antisipasi 23 WNI dari Filipina, Polri Perketat Perbatasan
Pengancam Bom Wisma Nestle Mengaku dari JI
Dicari, 23 WNI yang Kursus Rakit Bom di Filipina Selatan
© 2005 detikcom, All Rights Reserved.
|