KOMPAS, Rabu, 23 Maret 2005
Polri dan TNI Gelar Operasi Intelijen di Ambon
Jakarta, Kompas - Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Tentara Nasional
Indonesia menggelar operasi intelijen di Ambon pascaledakan bom yang
menyebabkan 19 orang luka-luka. Operasi intelijen tersebut dimaksudkan untuk
memburu para pelaku dan otak terjadinya kembali ledakan bom di Ambon.
Diduga, pelaku peledakan tersebut dilakukan olah satu atau dua orang saja, seperti
teror yang terjad di Poso.
"Di mana-mana, teror itu, satu atau dua orang bisa berbuat. Jadi yang dilakukan itu
operasi intelijen sama dengan yang terjadi di Poso kemarin itu. Ada bom-bom, begitu
diadakan operasi intelijen secara hebat, maka ditangkap kapten polisi sebagai otak
dan pemicunya," ujar Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam jumpa pers di Istana Wakil
Presiden, Jakarta, Selasa (22/3).
Hanya dalam selang waktu kurang dari lima jam dua ledakan mengguncang kota
Ambon awal pekan ini. Ledakan pertama terjadi Senin pukul 21.30 di kawasan
Ongkoliong, Batumerah, yang menyebabkan lima pemuda terluka karena terkena
serpihan granat. Kelima pemuda tersebut adalah adalah Is Haryanto (19), A Rafiq
Maba (20), Heri Purwanto (17), Rauf Kaplale (30), dan Suhendro (20). Mereka dirawat
di Rumah Sakit Al Fatah Ambon.
Berkaitan dengan kasus itu, 14 orang luka dihajar massa. Hal tersebut terjadi akibat
ada kesalahpahaman masyarakat. Mereka mengira ke-14 orang yang berada di dalam
angkutan umum itu adalah pelaku pelemparan granat yang meledak dan melukai lima
korban tadi.
Seluruh korban yang berada di dalam angkutan umum tersebut kemudian dirawat di
Rumah Sakit Bahayangkara Tantui.
Ke-14 korban tersebut adalah Markus Kelbulan (36), Kaleb Sim (15), Jemmy
Ayawaila (24), Mike Pattimahu (47), Marten Pelamonia (20), Stevi Toumahu (24), Roy
Sialessy (46), Ivon Sialessy (32), David (2), Nela Supusepa (30), Eda Lewakabessy
(25), Stevi Hatu (29), Brian Hatu (1), dan E Titiheru (54).
Hingga Selasa siang tinggal Nela Supusepa dan Marten Pelamonia yang masih
dirawat di rumah sakit.
Ledakan kedua terjadi Selasa dini hari pukul 01.40 di kawasan Urumessing. Tidak
ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
Pascaledakan suasana Kota Ambon Senin malam cukup tegang. Warga dari dua
komunitas di Ambon yang tinggal di luar lokasi kejadian berkumpul di sejumlah
tempat, seperti di Mardika, sekitar Citra, dan didepan Rumah Sakit Al Fatah.
Pengamanan di sekitar lokasi kejadian di Ongkoliong hingga ke daerah Tantui cukup
ketat. Setiap kendaraan dan orang yang menuju arah Tantui diperiksa aparat
keamanan. Ruas jalan sepanjang beberapa ratus meter tampak lengang setelah
sebelumnya terjadi kerumuman massa yang melakukan penyerangan terhadap
sebuah angkutan umum yang dikira masyarakat menjadi pelaku peledakan di
Ongkoliong.
Perintah
Perintah kepada pihak Polri dan TNI melakukan operasi intelijen di Ambon
dikeluarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam rapat mendadak yang
digelar setengah jam setelah ledakan bom Senin malam lalu. Dalam rapat di sela-sela
rapat kabinet terbatas khusus itu hadir Kepala Polri Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar dan
Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto.
"Setengah jam setelah bom di Ambon, saya di Istana Presiden. Presiden dan Kepala
Polri menerima SMS dari Wali Kota Ambon. Setelah rapat singkat, Kepala Polri
langsung telepon Kepala Polda (setempat) dan Panglima TNI langsung telepon
Panglima Kodam (setempat) untuk memperketat operasi intelijen dan sweeping di
Ambon," ujar Kalla.
Keputusan pengelaran operasi intelijen di Ambon oleh Polri dan TNI diambil setelah
mencermati apa yang terjadi di Ambon setelah konflik (tahun 1999 sampai 2002) dan
menewaskan sekitar 5.000 orang mereda.
"Ini pribadi-pribadi, berbeda dengan dulu yang melibatkan komunitas agama Kristen
dan Islam. Jadi yang dikencangkan di Ambon itu seperti operasi intelijen," ujarnya.
Kalla menilai, reaksi atas ledakan bom di Ambon sangat bagus karena menandakan
kepekaan semua orang dan tidak menggerakkan massa dua komunitas yang
sebelumnya terlibat dalam konflik.
Terkait dengan ledakan bom di Ambon, Kalla menduga ada beberapa kemungkinan
yang dapat menjadi pemicu, antara lain perasaan sentimen keluarga korban konflik di
masa lalu, masalah insiden pribadi, provokasi dari orang-orang yang tersisa, kriminal,
dan faktor Republik Maluku Selatan (RMS) menjelang ulang tahun RMS bulan April.
Tentang RMS, menurut Kalla, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Hamid
Awaluddin telah minta kepada pemerintah Amerika Serikat agar Alex Manupputy
dapat diekstradisi karena menjadi salah satu pemicu dan provokator.
Aktivitas normal
Selasa siang aktivitas warga kota Ambon kembali berjalan normal. Masyarakat dari
dua komunitas bebas keluar masuk ke daerah yang berbeda komunitas. Aktivitas
perkantoran, pasar, terminal, dan rumah sakit yang biasa digunakan dua kelompok
komunitas masyarakat di Ambon tampak normal.
Menurut sopir angkutan kota jurusan Ambon-Tulehu Tommy Ferdinandus (42),
sebagian penumpang memang ada yang khawatir terhadap dampak dari ledakan yang
terjadi Senin malam. Namun, setelah diyakinkan oleh para sopir bahwa keadaan
aman penumpang yang berasal dari luar kota pun berani masuk ke dalam kota.
Wakil Gubernur Maluku M Abdullah Latuconsina saat mengunjungi para korban yang
terkena serpihan ledakan bom di Rumah Sakit Al Fatah Ambon Senin tengah malam
mengharapkan agar masyarakat tidak terpancing untuk bereaksi dan lebih berhati-hati
terhadap kondisi lingkungan sekitar.
Pertikaian
Saat Kepala Polda Maluku Brigjen (Pol) Aditywarman, Wakil Kepala Polda Maluku
Komisaris Besar Aloysius Mudjiono, dan Kepala Polres Pulau Ambon dan
Pulau-pulau Lease Ajun Komisaris Besar Leonidas Braksan berkoordinasi untuk
menangani kasus tersebut serta merawat para korban di Rumah Sakit Bhayangkara,
sejumlah aparat Polri dan intelijen TNI Angkatan Darat terlibat perkelahian.
Menurut Braksan, perkelahian tersebut disebabkan ketersinggungan salah satu pihak.
Sebagai kesatrian milik polisi, bila ada pihak luar dari kesatuan lain yang ingin
mencari informasi soal korban di Rumah Sakit Bhayangkara, yang bersangkutan
diharuskan meminta izin terlebih dahulu. Oleh karena itu, sebagai pemilik kesatrian
sejumlah polisi tersinggung atas sikap aparat intelijen yang masuk tanpa izin itu.
"Kasus tersebut telah diselesaikan dan saat ini ditangani oleh Polda Maluku," kata
Braksan. (MZW/INU)
Copyright © 2002 Harian KOMPAS
|