Media Indonesia, Jum'at, 25 Februari 2005 16:10 WIB
Konflik Agama Akibat Tiada 'Pertemanan' Antar-Tokoh Agama
AMBON—MIOL: Konflik antar agama yang masih sering terjadi di sejumlah daerah di
tanah air, dikarenakan tidak adanya hubungan 'pertemanan' antar para tokoh agama
di wilayah itu, kata salah seorang tohoh Nahdlatul Ulama (NU), Prof. Johan Effendy.
"Jika tokoh agama bisa bersatu dan berteman selayaknya teman akrab, maka
kemungkinan besar konflik antara agama itu dapat dihindari karena masing-masing
dapat meredam emosi umatnya untuk tidak saling menyakiti," katanya, di Ambon,
Jumat.
Johan Effendy berada di Ambon dalam rangka menjadi salah satu pembicara utama
pada seminar tentang "Mengkritisi Protestantisme Dalam Sejarahnya Di Indonesia",
yang digelar Panitia perayaan HUT ke-400 tahun Gereja Protestan Indonesia (GPI),
berlangsung selama dua hari hingga Sabtu.
Effendy yang pernah menjabat Mensesneg di jaman pemerintahan mantan Presiden
KH. Abdulrachman Wahid itu, mengakui, banyak mempelajari kasus-kasus konflik
yang berlatar belakang agama di beberapa daerah, termasuk Maluku, di mana salah
satu penyebabnya karena antara sesama tokoh agama itu ternyata tidak saling
mengenal.
Ia mencontohkan, kasus konflik agama di Situbondo dan Lamongan, ternyata ada
pendeta yang bahkan tidak tahu dan mengenal beberapa ulama yang memiliki nama
besar di wilayah itu.
"Saat itu saya mendatangi lokasi konflik di dua wilayah itu dan berbicara dengan
pendeta, ternyata pendetanya tidak kenal dengan beberapa ulama yang punya nama
besar di Indonesia maupun di Jawa Timur. Begitu pun ada Ustad yang tidak kenal
dengan para pendeta di wilayah itu," katanya.
Oleh karenanya, menurutnya hubungan pertemanan atau berkawan diantara sesama
tokoh agama di masing-masing daerah, harus dibina dan diperkuat dan bila perlu
mengadakan pertemuan sebulan sekali, sehingga tali silaturachminya semakin kuat
sehingga mampu meredam emosi umat terhadap hal-hal tertentu yang dapat berubah
menjadi konflik agama.
"Walaupun pertemuannya hanya sekedar bersendagurau saja tapi harus dilakukan.
Kalau hubungannya semakin dekat dan antartokoh agama sudah bisa saling
meledek, itu berarti hubungannya semakin harmonis dan tidak ada lagi perbedaan
agama," ujarnya.
Menyinggung tentang Syariat Islam, Johan Effendy menegaskan, di dalam kalangan
umat Islam sendiri pun masih menjadi pertentangan dan perdebatan, terutama
menyangkut penerapan dan implementasinya di tengah-tengah masyarakat.
"Banyak juga yang salah kaprah dalam menerapkan Syariat Islam di tengah-tengah
masyarakat, padahal hakekatnya baik untuk membina umat menjadi saleh dan dekat
dengan Allah," ujarnya, seraya menambahkan, kerukunan dan rasa saling
menghormati terhadap kebebasan agama lain dalam menjalankan ibadahnya perlu
dijunjung tinggi.
"Negara kita berlandaskan Pancasila dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika,
sehingga kebebasan beribadah masing-masing agama harus dihargai, di mana
berbagai pihak termasuk pemerintah pun harus bertindak adil, sehingga tidak terjadi
diskriminasi agama tertentu," demikian prof. Johan Effendy. (Ant/O-2)
Copyright © 2003 Media Indonesia. All rights reserved.
|