Media Indonesia, Sabtu, 05 Maret 2005 09:37 WIB
NUSANTARA
Granat Meledak di Ambon, Tiga Orang Terluka
AMBON--MIOL: Tiga orang terluka akibat ledakan granat yang dilempar orang tak
dikenal di kawasan Kelurahan Lateri II, kecamatan Baguala, kota Ambon (Maluku),
Sabtu dini hari sekitar pukul 01.05 WIT.
Korban yang terluka parah adalah Simon Pesmain. Tubuhnya bermandikan darah
akibat luka di pelipis, tangan kiri, paha, lutut dan betis kanan. Sementara Yulius
Mozes terluka pada bagian pantat dan Audi Mimi (25) terluka di bagian punggung dan
ibujari kaki kirinya.
Remon Somelo (25), salah seorang yang berada di dekat ledakan, menuturkan
kepada pers Sabtu bahwa granat itu dilempar seseorang yang mengendarai sepeda
motor dari arah Lateri III menuju ke pusat kota, persis di dekat sebuah pangkalan
ojek.
"Saya bersama enam rekan lain baru pulang dari pesta perkawinan di Lateri I, kaget
mendengar ledakan keras," katanya.
Ia dan kawan-kawannya berusaha mengejar pengendara sepeda motor yang
berboncengan itu, tapi tak berhasil.
Ledakan yang terdengar hingga radius empat sampai lima km itu juga menimbulkan
kerusakan pada tanggul jalan, tepat di depan rumah penduduk bernama Ny Wali van
Aflen.
Anggota reskrim Polres P Ambon dan PP Lease Ipda George Siahaya, yang datang
di tempat kejadian menduga kuat ledakan itu ditimbulkan granat setelah ia
menemukan pin pembuka senjata peledak yang biasa digunakan militer itu. Barang
bukti itu dibawa untuk diselidiki Tim Gegana.
"Saya saat itu berada di rumah kawan yang meninggal dunia di desa Passo, yang
berjarak empat sampai lima km dari tempat ledakan. Begitu mendengar ledakan,
saya segera datang ke sini," katanya.
Ledakan itu segera menarik perhatian warga Kelurahan Lateri, Latta, Halong dan
Desa Passo hingga Waiheru. Mereka berbondong-bondong datang ke tempat
kejadian.
Ketika berita ini dikirim Simon Pesmain masih menjalani pengobatan di RS Lantamal
VIII Ambon.
Bagaimana pun ledakan ini tidak mengganggu situasi keamanan dan aktifitas warga
di kawasan Lateri dan sekitarnya.
Masyarakat minta perhatian lebih dari aparat keamanan karena akhir-akhir ini teror
bom mulai mengancam kembali kota Ambon.
Mereka pun memandang perlu mengintensifkan sistem keamanan lingkungan
(Siskamling), terutama menjelang ulang tahun gerakan separatis Republik Maluku
Selatan (RMS) 25 April mendatang. Biasanya mendekati tanggal itu terjadi aksi-aksi
yang memperkeruh situasi keamanan.
Sekelompok orang yang menamakan diri Front Kedaulatan Maluku(FKM) sejak tahun
2000 mengupayakan kembalinya RMS. Pimpinan kelompok itu, Alex Manuputty dan
Semmy Wailerunny, diadili di Pengadilan Negeri Jakarta Utara dengan hukuman
masing-masing 4,5 tahun, karena terbukti memprovokasi pengibaran bendera RMS
pada 25 April 2002.
Wailerunny kini menjalani hukuman di Jakarta, sedangkan Manuputty masih kabur ke
Amerika Serikat.
Belasan pendukung kelompok separatis itu kini sedang diperiksa polisi Ambon
karena mencoba menaikkan bendera RMS (mereka menyebutnya bendera "Benang
Raja") ketika kapal pesiar MS Colombus yang berisi ratusan wisatawan asing
merapat di Ambon 18 Februari lalu. (Ant/O-1)
Copyright © 2003 Media Indonesia. All rights reserved.
|