Republika, Selasa, 22 Maret 2005 20:23:00
Presiden Perintahkan Perkuat Intelejen di Ambon
Laporan: Budi Raharjo
Jakarta-RoL-- Presiden memerintahkan Kapolri untuk memperkuat intelejen di Ambon
menyusul ledakan bom yang kembali terjadi di sana. Pelaku peledakan bom itu
diduga hanya berasal dari kelompok-kelompok kecil atau individu-individu yang
merasa tak puas dengan perkembangan situasi di sana.
Perintah presiden itu diungkap oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, saat jumpa pers di
kantornya di Jakarta, Selasa (22/3). Wapres menerima kabar ledakan bom itu melalui
SMS langsung dari Walikota Ambon sekitar 30 menit setelah kejadian. Kebetulan,
saat itu, ia tengah bersama Presiden, Kapolri, dan Panglima TNI, di istana presiden.
''Presiden lansung memerintahkan Kapolri untuk memperkuat intelejen,'' ungkapnya.
Kabar tak sedap dari tanah Maluku ini kontan membuat presiden merasa tidak
nyaman. Saat itu juga, ungkap Jusuf, Presiden lansung mengelar rapat membahas
perkembangan situasi di Ambon. ''Kapolri dan Penglima langsung menelepon Kapolda
dan Pangdam untuk memperketat intelejen,'' tambahnya.
Wapres belum mengetahui siapa pelaku dari peledakan bom yang terjadi di daerah
Batu Merah itu. Namun ia menuda ada beberapa kemungkinan pelakunya.
''Orang-orang yagn sentimen karena ada saudaranya yang menjadi korban, bisa
terjadi karena insiden pribadi, provokasi, kriminal, bias juga karena ada masalah
RMS,'' paparnya.
Menurut Jusuf, konflik di Maluku yang terjadi sejak 1999 sampai 2002 telah memakan
korban jiwa sekitar 5.000 orang. Setelah pertemuan Malino, ujarnya, pemerintah
berupaya keras menjelaskan bahwa konflik yang terjadi di Maluku bukan konflik
agama tapi sosial atau ketidakadilan. ''Namun pikiran konflik agama yang ada di sana
tidak bisa hilang 100 persen,'' sergahnya.
Meski ledakan bom kembali mengguncang Ambon, Jusuf melihat tren kekerasan
yang terjadi disana sudah menurun sejak ditandatanganinya perjanjian Malino. Ia
memaparkan pada tahun 2002 korban jiwa yang jatuh menurun hanya sekitar 200
orang. ''Sekarang satu bom semua orang ribut, itu artinya kepekaan kita sungguh luar
biasa,'' ujarnya.
Jusuf menegaskan ledakan kali ini tidak melibatkan komunitas yang ada di sana.
Karena itu, lanjutnya, langkah antisipasi yang dibuat pemerintah tidak lagi membuat
barikade-barikade tapi dengan memperkuat intelejen. ''Ada tambahan intel lapangan
untuk mencari, memburu pelakunya,'' tandasnya.
Operasi intelejen ini diperkirakan memakan waktu selama enam bulan. Menurut
Jusuf, lamanya waktu itu berdasarkan pengalaman di Poso, Sulawesi Tengah.
''Pengalaman di Poso, enam bulan cukup untuk menangkap otak pelakunya,''
ucapnya.
Kapolri Jenderal Polisi Da'i Bachtiar mengakui telah mendapatkan perintah untuk
memperkuat intelejen dan penyidikan di Ambon. Namun ia belum bisa mendapatkan
indikasi siapa pelaku di belakang peledakan bom yang terakhir. ''Nanti kita
kembangkan, meski sudah ada bebarapa penangkapan dari kasus-kasus yang terjadi
tapi belum ada keterkaitan antara satu kasus dengan kasus yang lain,'' jelasnya.
Da'i mengatakan pihaknya akan memperkuat intelejen dengan BIN dan TNI. Ia pun
mengharapkan upaya ini bisa mendeteksi apa yang terjadi di Ambon. ''Kemudian kita
mencari pelakunya,'' tegasnya.
© 2005 Hak Cipta oleh Republika Online.
|