SINAR HARAPAN, Selasa, 22 Maret 2005
Granat Gagal Meledak di Angkot, 19 Cedera
Ambon, Sinar Harapan - Dua orang berboncengan sepeda motor, Senin (21/3) malam
sekitar pukul 21.45 WIT melempar granat tangan ke dalam angkutan kota (angkot)
jurusan Ambon - Passo yang penuh penumpang. Belum sempat meledak, granat itu
ditendang penumpang angkot keluar dan meledak di sisi ruas Jalan Desa Batumerah,
Kecamatan Sirimau, Kota Ambon. Akibat kejadian itu, 19 orang terluka.
Menyikapi insiden tersebut, Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar, Selasa (22/3) pagi ini
menggelar telekonferensi dengan Kapolda Maluku Brigjen Adityawarman di ruang
Rupatama Mabes Polri, di Jakarta. Dalam kesempatan itu hadir sejumlah Kapolda.
Telekonferensi yang biasanya terbuka untuk wartawan secara tiba-tiba dinyatakan
tertutup.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Maluku, Komisaris Endro Prasetyo yang
dihubungi SH, Selasa (22/3) pagi ini menyatakan, pihaknya belum mau mengaitkan
kejadian itu dengan pihak-pihak terlatih maupun personel satuan-satuan tertentu
karena masih mengumpulkan keterangan maupun barang bukti.
"Jika memang ada keterlibatan orang-orang terlatih maupun personel satuan-satuan
tertentu dalam insiden ini, maka hal itu harus didukung oleh keterangan saksi dan
barang bukti," katanya. Dia mengatakan, tim penyidik Polda Maluku maupun Polres
Pulau Ambon masih mengintensifkan penyelidikan untuk mengungkap motif maupun
pelaku insiden semalam. "Hingga siang ini kami memang belum berhasil menangkap
pelaku pelemparan granat ke angkot. Namun, kami terus mengintensifkan
penyelidikan," tegasnya.
Komisaris Endro Prasetyo menjelaskan, pihak penyidik masih terus menyelidiki awal
terjadinya peledakan granat dari sejumlah saksi korban yang saat ini telah selesai
menjalani perawat di sejumlah rumah sakit. "Hingga kini memang telah dapat
disinkronkan data bahwa pelaku pelemparan granat merupakan pengendara sepeda
motor, namun identitasnya masih misterius karena para penumpang angkot tidak
dapat melihat secara jelas wajah pelaku maupun nomor kendaraannya," tambahnya.
Pengamatan SH di RS Bhayangkara Polda Maluku tadi malam terlihat sejumlah
personel Polda Maluku yang bersiaga di RS Polda Maluku sempat menghajar tiga
orang yang diperkirakan berasal dari satuan militer tertentu. Ketiga orang itu berupaya
memata-matai upaya pertolongan medis terhadap para korban penggranatan yang
diberikan dokter maupun tenaga medis lainnya di RS Bhayangkara.
Ketiga personel militer tersebut datang ke RS Bhayangkara menggunakan sepeda
motor yang mirip digunakan para pelaku pelemparan granat dan ketika ditanya
identitas oleh personel Polda Maluku ternyata mereka enggan memberikan
identitasnya bahkan terkesan balik mengancam personel polisi. Tak berapa lama,
belasan personel Polda Maluku langsung menghajar ketiga orang tersebut sampai
akhirnya dilerai oleh Kapolres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, Ajun Komisaris
Besar Leonidas Braksan.
Kronologis Kejadian
Ajun Komisaris Besar Leonidas Braksan yang diminta konfirmasi SH, Senin (21/3)
malam di tempat kejadian perkara (TKP) menyebutkan peristiwa yang terjadi Senin
(21/3) malam sekitar pukul 21.45 WIT ini mengakibatkan lima warga yang berada di
sisi jalan terluka dan 14 penumpang angkot juga terluka.
Dia menjelaskan, setelah granat meledak, pengemudi angkot jurusan Ambon - Passo
dengan nomor polisi DE-307-AU, Agustinus Sahalessy terus melarikan mobilnya
menuju Rumah Sakit Polda Maluku di Kawasan Tantui Kecamatan Sirimau, Kota
Ambon sekitar satu kilometer dari TKP, sementara massa yang langsung keluar ke
ruas jalan Desa Batumerah menghujani mobil tersebut dengan batu sehingga
mengakibatkan para penumpang terluka.
"Begitu granat meledak, memang isu cepat beredar bahwa bom dilempar dari mobil
angkot jurusan Ambon - Passo sehingga warga Desa Batumerah marah. Warga
sempat mencoba memblokir jalan dengan kursi dan kayu namun mobil angkot
tersebut tetap dapat melintas menuju Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Polda Maluku
guna menyelamatkan para penumpang yang terluka akibat terkena lemparan batu,"
jelasnya.
Kapolres menjelaskan kelima warga yang terluka akibat terkena serpihan granat
akibat berada di tepi jalan yaitu Suhendra Saputra (22), A Rafik Maba (20), Rauf
Kaplale (30), Herry Purwanto (17) dan Is Haryanto (19). Kelima warga tersebut hingga
saat ini masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit (RS) Al Fatah Ambon.
Sebagian besar mereka terluka bagian kepala, punggung, tangan maupun kaki.
"Sementara 14 penumpang angkot yang terluka akibat terkena lemparan batu warga
di TKP yaitu Agus Sahalessy (46), Ivone Sahalessy (32), David Sahalessy (2),
Markus Kelbulan (30), Stevy Toumahu (24), Marvin Pelamonia (20), Jemmy Ajawaila
(24), Mike Pattimahu (27), Corneles Supusepa (30), Roy Supusepa (46), Kelobsin
(15), Eda Hattu (25), Brian Hattu (17) dan Stevy Hattu (20). Mereka saat ini dirawat di
Rumah Sakit Bhayangkara Polda Maluku," rincinya.
Kapolres Ajun Komisaris Besar Leonidas Braksan menuturkan, berdasarkan informasi
dari warga yang berada di tepi jalan Desa Batumerah diduga granat tersebut berasal
dari dalam mobil angkot tersebut, namun ketika para penumpang angkot yang terluka
dimintai keterangan, ternyata menurut mereka ada dua pengendara sepeda motor
misterius yang melempar granat ke dalam mobil angkot tersebut.
"Namun ketika granat masuk ke mobil belum meledak sehingga para penumpang
membuangnya keluar mobil ke ruas jalan Desa Batumerah dan beberapa saat
kemudian granat tersebut meledak," jelasnya.
Para penumpang angkot, menurut Kapolres, tidak sempat melihat nomor polisi
sepeda motor misterius tersebut namun mereka sempat melihat kedua pengendara
sepeda motor tersebut langsung memprovokasi warga di TKP bahwa granat yang
meledak tersebut dilempar oleh para penumpang angkot. "Para penumpang juga tak
dapat melihat lebih lanjut ke mana kedua orang misterius tersebut berada karena
mereka langsung menunduk ketika warga di TKP menghujani angkot tersebut dengan
lemparan batu," jelas Kapolres. (han/izc)
Copyright © Sinar Harapan 2003
|