|
TRADITIONAL ISLAM as understood by the vast majority of ulama' of the Ahli Sunnah wal Jamaah
|
|
بسم
الله الرحمن
الرحيم نحمده
ونصلى على
رسوله الكريم
ORIENTALISME
DAN SEKULARISME
OLEH: MUHAMMAD
‘UTHMAN EL-MUHAMMADY
Mungkin kita boleh mulakan perbincangan tentang “Orientalisme” ini dengan mengambil kata-kata Edward Said dalam bukunya yang terkenal itu, iaitu “Orientalism” (1) di mana beliau membuat kenyataan:
Americans
will not feel quite the same about the Orient, which for them is much more
likely to be associated very differently with the Far East (China and Japan,
mainly). Unlike the Americans, the French and the British - less so the Germans,
Russians, Spanish, Portuguese, Italians and Swiss - have had a long tradition of
what I shall be calling Orientalism, a way of coming to terms with the Orient
that is based on the Orient’s special place in European Western experience.
The Orient is not only adjacent to Europe; it is also the place of Europe’s
greatest and richest and oldest colonies, the source of its civilizations and
languages, its cultural contestant, and one of its deepest and most recurring
images of the Other. In addition, the Orient has helped to define Europe (or the
West) as its contrasting image, idea, personality, experience. Yet, none of this
Orient is merely imaginative. The Orient is an integral part of the European
material civilization and culture. Orientalism expresses and represents that
part culturally and even ideologically as a mode of discourse with supporting
institutions, vocabulary, scholarship, imagery, doctrines, even colonial
bureaucracies and colonial styles … (2)
It
will be clear to the reader (and will become clearer still throughout the many
pages that follow) that by Orientalism I mean several things, all of them, in my
opinion, interdependent. The most readily accepted designation for Orientalism
is an academic one, and indeed the label still serves in a number of academic
institutions. Anyone who teaches, writes bout, or researches the Orient --- and
this applies whether the person is an anthropologist, sociologist, historian, or
philologist --- either in its specific or its general aspects, is an Orientalist,
and what he is or she does is Orientalism. Compared with Oriental Studies or
area studies, it is true that the term Orientalism is less preferred by
specialists to-day, both because it is too vague and general, and because it
connotes the high-handed executive attitude of the nineteenth century and early
twentieth-century European colonialism. (3) Related
to this academic tradition, whose fortunes, transmigrations, specializations,
and transmissions are in part the subject of his study, is a more general
meaning for Orientalism. Orientalism is a style of thought based upon an
ontological and epistemological distinction made between “the Orient” and
(most of the time) “the Occident”. Thus, a very large mass of writers, among
whom are poets, novelists, philosophers, political theorists, economists, and
imperial administrators, have accepted the basic distinction between East and
West as the starting point for elaborate theories, epics, hovels, social
descriptions, and political accounts concerning the Orient, its people, customs,
“mind”, “destiny”, and so on. This
Orientalism can accommodate Aeschylus, say, and Victor Hugo, Dante and Karl
Marx … The
interchange between the academic and the more or less imaginative meanings of
Orientalism is a constant one, and since the late eighteenth century there has
been a considerable, quite disciplined - perhaps regulated - traffic between the
two. Here I come to the third meaning of Orientalism, which is something more
historically and materially defined than either of the other two. Taking the
late eighteenth century as a very roughly defined starting point Orientalism can
be discussed and analysed as the corporate institution for dealing with the
Orient - dealing with it by making statements about it, authorizing views of it,
describing it, by teaching it, settling it, ruling over it: in short,
Orientalism as a Western style for dominating, restructuring, and having
authority over the Orient. I have found it useful here to employ Michel
Foucault’s notion of a discourse, as described by him in ‘The Archaeology of
Knowledge’ and in ‘Discipline and Punish’ to identify Orientalism. My
contentation is that without examining Orientalism as a discourse one cannot
possibly understand the enormously systematic discipline by which European
culture was able to manage - and even produce - the Orient politically,
sociologically, militarily, ideologically, scientifically, and imaginatively
during the post-Enlightenment period. Moreover, so authoritative a position did
Orientalism have that I believe no one writing, thinking, or acting on the
Orient could do so without taking account of the limitations on thought and
action imposed by Orientalism. In brief, because of Orientalism the Orient was
not (and is not) a free subject of thought or action. This is not to say that
Orientalism unilaterally determines what can be said about the Orient, but that
it is the whole network of interests inevitably brought to bear on (and
therefore always involved in) any occasion when that peculiar entity ‘the
Orient’ is in question. How this happens is what this book tries to
demonstrate … (4). Terjemahannya
ialah:
Orang-orang
Amerika akan merasa tidak begitu sama terhadap Timur, yang bagi mereka adalah
lebih berkemungkinannya berhubung secara berlainan sekali dengan Timur Jauh (terutamanya
China, dan Jepun). Berbeza sekali daripada Orang-orang Amerika, Orang-orang
Perancis dan Inggeris - berkurangan lagi Orang-orang Jerman, Russia, Sepanyol,
Portugis, Itali dan Swis, - mereka ada mempunyai tradisi yang lama tentang apa
yang saya akan sebutkan sebagai Orientalisme, (yaitu) sesuatu cara berhubungan
dengan Alam Timur berdasarkan kepada kedudukan Timur itu sendiri dengan
kedudukannya yang istimewa dalam pengalaman Orang Barat. Dunia Timur bukan
sahaja berjiran dekat dengan Eropah, ia juga berupa tempat bagi tanah-tanah
jajajahan Eropah yang terbesar, terkaya dan tertua sekali, berupa sumber bagi
peradaban-peradaban dan bahasa-bahasanya, sebagai pesaing budayanya, dan satu
daripada wajah-wajah yang paling mendalam dan berulang-ulang untuknya berkenaan
dengan Pihak Lain itu. Tambahan lagi, Dunia Timur membantu untuk memberi
takrifan bagi Eropah (atau Barat) sebagai wajah yang bertentangan dengannya,
sebagai idea, keperibadian, pengalaman. Tetapi tidak ada daripada Dunia timur
segi ini adalah berupa khayalan semata. Dunia Timur adalah sebahagian yang tidak
terpisah daripada peradaban dan kebudayaan kebendaan
Eropah. Orientalisme mengungkapkan dan mewakili bahagian itu secara budaya
bahkan secara ideologi sebagai cara-cara berwacana dengan institusi-institusi
sokongannya, peristilahan, dan kesarjanaan, imageri, doktrin-oktrin, bahkan
birokrasi-birokrasi penjajahan dan
stailnya …
Akan
menjadi jelas kepada para pembaca (dan ini akan menjadi lebih jelas lagi dalam
keseluruhan halaman-halaman yang banyak yang berikutnya) bahawa yang saya
maksudkan Orientalisme adalah beberapa perkara, yang pada saya semuanya saling
kait-mengait antara satu sama lainnya. Makna yang paling diterima dengan senang
Orientalisme ialah segi akademiknya, dan sesungguhnya panggilan itu masih
digunakan dalam beberapa institusi akademik. Sesiapa yang mengajar, menulis,
membuat penyelidikan, tentang Dunia Timur - dan ini termasuk juga maksudnya
samada ada seseorang itu ahli anthropologi, sosiologi, sejarawan, atau ahli
filologi, - samada dalam bentuknya yang spesifik atau yang am, ia adalah seorang
Orientalis, dan apa yang dilakukannya adalah Orientalisme. Berbanding dengan
Pengajian-pengajian Timur, atau pengajian-pengajian lapangan (“Oriental
studies or area studies”) adalah benar bahawa Orientalisme kurang digemari
oleh para spesialis hari ini, kedua-duanya kerana ia terlalu kabur dan am dan
kerana ia memberi erti sikap memaksa pegawai eksekutif abad ke 19 dan awal abad
ke-20 kolonialisme Eropah.
Berkait
dengan tradisi akademik ini, yang nasibnya, perpindahan-perpindahannya, dan
spesialisasi-spesialisasinya, dan transmisinya
adalah pada bahagianya tertentu berupa perkara bagi kajian ini, adalah
maksud yang lebih am lagi bagi istlah Orientalisme ini. Orientalisme adalah
stail pemikiran berdasarkan kepada perbezaan ontologi dan epistemologi (yaitu
perbezaan segi keadaan hakiki dan fahaman tentang
ilmu) yang dibuat antara "Alam
Timur” (pada kebanyakannya) dengan “Dunia Barat” (“Occident”). Dengan
itu maka sangat banyaklah himpunan para penulis, antara mereka itu penyair,
novelis, ahli falsafah, ahli-ahli teori politik, ekonomi, dan para pentadbir
negeri jajahan, yang menerima pembezaan yang asasi antara Timur dengan Barat
sebagai titik permulaan bagi teori-teori yang lanjut, epik-epik, novel-novel,
gambaran-gambaran hidup sosial, dan huraian-huraian yang bersifat politik,
berkenaan dengan Dunia Timur, tentang para penduduknya, adat kebiasaannya, “minda”,
nasib terakhir, dan seterusnya. Orientalisme ini
boleh memasukkan ke dalamnya katakanlah Aeschylus, dan Victor Hugo, Dante dan
Karl Marx…
Saling
tukar menukar antara makna akademik dan yang lebih kurangnya bersifat imaginatif
tentang makna Orientalisme ini berlaku dengan kerapnya, dan semenjak
lewat abad ke-18 Masihi ada terdapat perhubungan yang agak berdisiplin, bahkan
yang disusun dengan teratur, antara keduanya itu. Di sini saya datang kepada
makna ketiga Orientalisme, yaitu sesuatu yang dari segi sejarahnya dan
kebendaannya lebih ditakrifkan dengan baik, daripada yang dua takrif sebelum ini.
Dengan mengambil lewat abad ke-18 Masihi sebagai titik permulaan secara kasarnya
Orientalisme boleh dibincangkan dan dianalisis sebagai institusi korporat bagi
berbicara berkenaan dengan Dunia Timur - berbicara dengannya dengan membuat
kenyataan-kenyataan tentangnya, menjadi pengarang mengeluarkan pendapat-pendapat
tentangnya, memberi gambaran tentangnya, membuat penyelesaian tentangnya,
membuat keputusan peraturan tentangnya: ringkasnya, Orientalisme adalah stail
Barat bagi mendominasi, merekonstruksi, dan memiliki otoritas ke atas Dunia
Timur. Saya dapati di sini adalah berguna bagi kita menggunakan kosep Michel
Foucault tentang wacana, sebagaimana yang digambarkan olehnya dalam buku “The
Archaeology of Knowledge”, dan dalam bukunya “Discipline and Punish”, bagi
mengenali takrifan Orientalisme. Hujah saya ialah tanpa meneliti Orientalisme
sebagai wacana seseorang tidak mungkin memahami disiplin yang terlalu amat
sistematis sekali itu yang dengannya budaya Eropah berjaya untuk menangani –bahkan
menghasilkan - Dunia Timur secara politik, sosiologi, militari, ideologi,
saintifik, dan secara imaginatif, dalam masa pasca-Pencerahan
(“post-Enlightenment”). Lebih lagi dari itu, menjadi sedemikian
berotoritasnya kedudukan
Orientalisme itu sehingga saya percaya bahawa
tidak ada seorangpun yang menulis, berfikir, atau bertindak berhubung dengan
Dunia Timur, boleh melakukan semua itu, tanpa mengambil kira tentang
batasan-batasan atas pemikiran dan tindakan yang ditekankan oleh Orientalisme.
Ringkasnya, oleh kerana Orientalismelah maka Dunia Timur telah tidak (dan masih
tidak) berupa subjek bebas segi pemikiran dan tindakan. Ini bukanlah kita
mengatakan bahawa Orientalisme menentukan secara unilateral apa yang boleh
dinyatakan tentang Dunia Timur, tetapi maksudnya keseluruhan rangkaian
kepentingan secara mestinya mendatangkan kesan (dan oleh itu selalu terlibat di
dalamnya) dalam mana-mana keadaan bila entiti khas “Dunia Timur” itu menjadi
persoalan. Bagaimana ini boleh berlaku, inilah yang cuba dibuktikan oleh buku
ini…
Tiga
Orientalisme: Pengajian
yang disebut sebagai Oriental Studies atau Pengajian Ilmu-ilmu Timur merupakan
pengajian yanmg terhimpun di dalamnya beberapa bidang kajian termasuk filologi,
linguistik, ethnografi, dan penafsiran budaya melalui penemuan, penemuan kembali,
himpunan, dan penterjemahan teks-teks Dunia Timur. (6). (Ke dalam bidang ini
termasuklah pengajian Islam sebagaimana yang dikembang dan dilaksanakan oleh
para Orientalis).
Dalam
perbincangan Edward Said, yang ditumpukan ialah bagaimana para Orientalis
Inggeris, Francis, dan Amerika membuat pendekatan mereka terhadap
masyarakat-masyarakat Arab di Afrika Utara, dan Timur Tengah. Para sarjana yang
mengulas pengajian tentang pengajian Hebrew, Parsi, Turki dan India tidak
dibicarakan, dan demikian juga tidak disentuh sikap Orientalis Jerman, Russia,
Itali, Sepanyol dan Portugis. Ruang lingkup yang beliau ambil adalah dengan
mengambil kira sastera, buku catitan perjalanan, kajian-kajian keagamaan,dan
falsafah, yang melahirkan perspektif yang luas segi sejarah dan perspektif
anthropologinya. (7).
Dalam
buku Edward Said yang penting di atas kita dapati tiga kenyataan besar yang
dibuat yang pada penulis ini patut diberi pertimbangan yang serius.
Kenyataan-kenyataan itu adalah seperti berikut:
Pertama,
bahawa Orientalisme walaupun ia mengaku hendak bersikap objektif dan tidak
berkepentingan, sebenarnya ia berkhidmat untuk matlamat-matlamat politik Barat.
Dengan itu maka kesarjanaan barat berhubungan dengan Dunia Timur memberi jalan
dan menjadi alat yang dengannya orang-orang Eropah boleh mengambil bumi
negeri-negeri Timur, termasuklah, sudah tentu negeri-negeri Islam.
Pemerintahan
kolonial disahkan terlebih dahulu oleh Orientalisme, bukan sangat selepas
daripada berlakunya. Kata-kata Lord Curzon, Viceroy bagi India, bersetuju bahawa
hasil kesarjanaan itu “our
familiriaty, not merely with the languages of the people of the East but with
their customs, their feelings, their traditions, their history, and religion
(had provided) … the sole basis
upon which we are likely to be able to maintain in the future the position we
have won” (8) - “pengetahuan kita, bukan hanya tentang bahasa-bahasa
Orang-orang Timur, bahkan adat kebiasaan mereka, perasaan mereka,
tradisi-tradisi mereka, sejarah mereka, dan agama mereka .. (ini memberi) ..
asas satu-satunya bagi kita yang dengannya kita mampu untuk meneruskan pada masa
akan datang kedudukan yang kita mencapai kemenangan mendapatkannya”.
Dalam
lewat abad ke-20 bidang pengajian ini membantu dalam mengekalkan kuasa Amerika
di Timur Tengah dan mempertahankan apa yang disebut oleh Said sebagai “the
Zionist invasion and the colonization of Palestine” - “serangan Zionist dan
penjajahan Palestin”. Dan tentang senario kini, pusat-pusat akademik Amerika
adalah lebih berminat untuk memberi nasihat secara langsung kepada pemerintah
tentang polisi awamnya. Secara menyeluruhnya Edward Said mengakui bahawa
usahanya menunjukkan “metamorphosis of a relatively innocuous philological
speciality into a capacity for managing political movements, administering
colonies, making nearly apocalyptic statements representing the White Man’s
difficult civilizing mission” - “penjelmaan pengkhususan filologi yang
secara relatif nampaknya tidak menarik itu menjadi berubah kepada kemampuan
untuk mengurus gerakan-gerakan politik, memerintah negeri-negeri di bawah
jajahan, membuat kenyataan-kenyataan yang menentukan nasib mewakili matlamat
yang sangat sukar, memberi peradaban (kepada Orang Timur) oleh Orang Kulit Putih”.
Keduanya
Said mengakui bahawa Orientalisme membantu dalam memberi takrifan kepada wajah
diri Eropah itu sendiri. Katanya “… It has less to do with the Orient than
it does with ‘our’ world” - “… ia kurang berhubung dengan Dunia Timur
itu sendiri daripada ianya berhubung dengan dunia ‘kita’... ”. Pada Said,
pembentukan jatidiri atau “identity” dalam setiap zaman dan masyarakat
adalah dengan melibatkan pembentukan “pihak lain” (‘the other’), atau
“mereka itu” atau “pihak lain itu”. Ini berlaku kerana “the
development and maintenance of every culture require the existence of another
different and competing alter ego” -“perkembangan dan penerusan
setiap budaya menuntut kewujudan sesuatu alter ego (atau diri yang lain
yang berlawanan dengannya) yang berlainan dan bersaingan dengannya”. Maka
Orientalisme memandang kebudayaan Islam sebagai statis dari segi masa dan
tempatnya, sebagai “abadi, seragam, dan tanpa mempunyai kemampuan untuk
memberi takrifan dirinya” - “eternal, uniform, and incapable of defining
itself”. Ini memberi kepada Eropah sesuatu kesedaran tentang superioritinya
dari segi budaya dan intelektuil. Dengan itu Eropah memandang dirinya sebagai
dinamis, inovatif, dan budaya yang berkembang maju, dan menjadi sebagai
“penyaksi, hakim dan juri bagi setiap segi perbuatan Dunia Timur”. Ini
menjadi sebahagian daripada kebanggaannya sebagai kuasa penakluk. Dalam tahun
1810 penulis Francis Chateaubriand mengajak Eropah mengajar Orang Timur makna
kebebasan, yang beliau, dan setiap orang kemudian daripadanya mempercayai bahawa
Orang-orang Timur tidak mengetahui apa-apa tentangnya. Dengan itu maka Said
berpendapat bahawa kata-kata demikian memberi alasan kepada imperialisme Barat
yang boleh ditafsirkan oleh mereka yang melakukannya bukannya sebagai penaklukan
tetapi penyelamatan bagi dunia yang rosak.
Ketiganya,
Said berhujah bahawa Orientalisme memberi gambaran yang palsu tentang
Orang-orang Arab dan agama Islam itu sendiri. Ini boleh berlaku kerana
“essentialist nature” dalam usaha yang dilakukan itu - yaitu kepercayaan
bahawa adalah mungkin untuk ditakrifkan ciri-ciri asasi (“essential
qualities”) Orang-orang Arab dan juga kebudayaan Islam, dan ciri-ciri ini
dilihat rata-rata dalam bentuknya yang negatif. Maka Dunia Timur dipandang
sebagai tempat yang terpencil daripada arus perdana kemajuan manusiawi dalam
bidang sains, sastera, dan perdagangan. Dengan itu maka terserlahlah “sifat
sesualitinya, kecenderungannya kepada pemerintahan secara raja berkuasa mutlak
(“tendency to despotism”), mentalitinya yang mengembara tidak menentu
(“aberrant mentality”), tabiatnya tidak tepat, keadaannya terkebelakang”.
Tanggapan Barat tentang Orang Islam menderita tidak berkembang adalah tidak
benar, dan ini kenyataan yang mengkebelakangkan kenyataan-kenyataan mutakhir
seperti pengalaman penjajahan, imperialisme, dan politik
|
|