- Pengalaman memelihara piyik -
Setiap peternak perkutut mempunyai kiat sendiri-sendiri sesuai selera masing-masing dan berdasarkan pengetahuan yang diyakini benar untuk memlihara piyik perkutut, mulai dari telor menetas sampai piyik berumur 5(lima) bulan.
Demikian pula penulis, juga mengeterapkan cara untuk memelihara piyik berdasarkan pengetahuan yang dimiliki disamping pengalaman yang didapatnya selama lebih dari setahun ini membuat peternakan perkutut secara sederhana.
Telor-telor perkutut selama ini tetap diberikan kepada Induknya untuk mengeraminya sampai menetas setelah sekitar 14-15 hari. Dalam keadaan tidak normal bisa saja terjadi, telor ditinggalkan induknya setelah dierami hanya beberapa hari, maka telor tersebut akan diusahakan dititipkan Puter untuk melanjutkan mengeraminya.
Setelah telor menetas, maka piyik-piyik tersebut paling tidak selama 7(tujuh)-9(sembilan) hari masih akan tetap bersama induk perkutut untuk diloloh ( diberi makan/minum ) sampai waktunya untuk dipasangkan Ring pada kakinya.
Kemudian ada 2(dua) cara yang dilakukan untuk pemeliharaan/membesarkan piyik-piyik tersebut yaitu :
Untuk mempercepat pertumbuhan si piyik, dapat diberikan makanan tambahan berupa Voer atau Dog food, atau kacang kedelai putih yang ditumbuk menjadi agak halus dicampurkan kedalam makanan induknya yang biasanya terdiri dari ; Millet putih, Jawawut atau Millet merah, Ketan hitam, Beras merah, Gabah putih/merah dan juga Jagung beras. Disamping itu juga tambahan Vitamin pada minumannya dan agar diusahakan piyik-piyik mendapatkan sinar matahari pagi selama 2-3 jam per hari.
Piyik-piyik yang berumur sekitar 1.5 bulan setelah disapih/dipisahkan dari induknya atau Puter, dimasukkan kedalam kandang sedang ukuran kira-kira 50 x 50 x 80 cm3 yang dapat diisi sebanyak 7-8 piyik perkutut.
Untuk menjaga kesehatan dan mempercepat pertumbuhan, maka piyik-piyik tersebut diberikan Vitamin tambahan yaitu misalnya ; B-plex, minyak ikan, kalsium/kalg juga obat anti cacing ( Combantrin sebesar 1/12 tablet ) dengan cara melolohkannya.
Agar diusahakan piyik-piyik yang dicampur dalam satu kandang mempunyai umur yang tidak jauh berbeda ( misalnya bedanya hanya kira-kira seminggu masih bisa ). Juga agar diusahakan kandang piyik ini dijemur pada sinar matahari pagi selama 2-3 jam per hari.
Pada umur 1.5 – 2.5 bulan ini, piyik-piyik tersebut sudah dapat mulai dipantau suaranya, walaupun masih berupa suara angin, sehingga sudah dapat mulai diadakan seleksi mana piyik yang berprospek dan mana yang biasa-biasa saja.
Pada tahap ini biasanya masih dibantu penghangat lampu dimalam hari, terutama saat udara dingin karena hujan dimusim penghujan atau waktu kelihatannya kurang sehat.
Menjelang piyik berumur sekitar 2.5 bulan biasanya bulu-bulunya mulai rontok untuk ganti bulu, maka sebaiknya mereka dapat ditempatkan di kandang umbaran yang agak luas misalkan ukuran : 100 x 200 x 300 cm3 atau bisa sedikit lebih kecil juga bisa. Dan sebelum diumbar piyik-piyik tersebut sekali lagi diberikan obat anti cacing dan kalau perlu minyak ikan.
Selama 2 – 3 minggu didalam kandang umbaran tersebut, piyik-piyik dengan leluasa terbang kesana-kemari sambil melepaskan bulu-bulu piyiknya ( rontok ) dan badanya menjadi lebih sehat dengan gerakan terbang tersebut.
Selepas piyik berumur 3 – 3.5 bulan bertepatan dengan selesainya pergantian bulu, suara anggungannya juga sudah mulai pecah/keras, sehingga dapat diangkat dari kandang umbaran dan dimasukkan ke sangkar soliter untuk selanjutnya dapat mulai dilatih dengan menggantungkan di tiang atau dikerek di tiang gantangan sambil sesekali diikutkan lomba piyik hanging sampai umurnya mencapai 5 bulan selanjutnya piyik-piyik tersebut akan menjadi Perkutut Junior.
Pada tahap ini piyik-piyik sudah dibiasakan dimandikan sekali seminggu, biasanya setiap hari Kamis pagi/sore yaitu 2 hari menjelang hari lomba yang biasanya diadakan pada tiap hari Sabtu pagisore untuk kelas piyik. Sambil diberikan jamu-jamuan baik berupa yang sudah jadi yang dapat dibeli di pasar burung misalkan yang bermerek Bima Sakti atau Parikesit, dll., juga bisa dengan daun-daunan dari tanaman Saga, Katuk, dll. yang dihaluskan dan dijadikan bulat-bulat kecil dengan cara melolohkannya atau air perasannya diminumkan.
Demikianlah penulis melakukan pemeliharaan piyik-piyik hasil ternakan TSBF selama ini dan syukurlah belum pernah ada/terjadi suatu musibah yang fatal yang berakibat piyik-piyik banyak yang sakit atau bahkan mati.
Edisi No.8 – Jakarta, 15 September, 2000.