Citra tasawuf
sejati
Jalaluddin Rakhmat
06:20pm
24 Mei 2005
Dua orang ulama besar
pernah hidup satu zaman. Kedua-duanya
dikenal sebagai ahli fiqh dan sekaligus
ahli makrifat. Yang satu bernama Sufyan
Al-Tsawri. Ia dikenali sebagai pendiri
mazhab fiqh besar di zamannya; tetapi
dalam perkembangan zaman, fiqhnya sepopular
dengan fiqh-fiqh yang lain. Pada suatu
hari ia mendatangi seorang faqih lainnya,
yang mazhabnya diikuti oleh jutaan umat
Islam sampai sekarang. Ia juga dikenal
sebagai manusia suci, salah satu di antara
“bintang” cemerlang dalam
silsilah tarikat. Ia adalah Imam Ja’afar
Al-Shadiq.
Al-Tsawri mendapatkan Al-Shadiq dalam
pakaian yang putih gemerlap, tampak baginya
sangat mewah. Ia merasa Al-Shadiq, yang terkenal
sangat salih dan zahid, tidak sesuai untuk
memakai pakaian seperti itu. Lalu ia berkata,
“Busana ini bukanlah pakaianmu!”.
Al-Shadiq berkata, “Dengarkan aku
dan semak apa yang akan aku katakan padamu.
Apa yang akan aku ucapkan ini baik bagimu
sekarang dan pada waktu yang akan datang,
jika kamu ingin mati dalam sunnah dan
kebenaran, dan bukan mati di atas bid’ah.
Aku beritakan padamu bahawa Rasulullah
saw hidup pada zaman kemiskinan yang sangat.
Ketika dunia datang, orang yang paling
berhak untuk memanfaatkannya adalah orang-orang
salihnya, bukan orang-orang durhakanya;
orang-orang mukminnya, bukan orang-orang
munafiknya; orang-orang Islamnya bukan
orang-orang kafirnya. Apa yang akan kau
ingkari, hai Al-Tsawri? Demi Allah, walaupun
kamu lihat aku dalam keadaan ini, sejak
pagi dan petang, jika dalam hartaku ada
hak yang harus aku berikan pada tempatnya,
pastilah aku sudah memberikannya semata-mata
kerana Allah.”
Pada saat itu datanglah rombongan orang
yang bersufi-sufian. Mereka mengajak orang
ramai untuk mengikuti kehidupan mereka
yang sangat sederhana. Mendengar ucapan
Al-Shadiq mereka berkata, “Tampaknya
sahabat kami ini tidak mampu membalas
pembicaraan Tuan dan tidak dapat menyampaikan
hujah.”
Al-Shadiq berkata, “Tunjukkan hujah
kalian.” Mereka menyahut, “Kami
punya hujah dari Kitab Allah.” Kata
Al-Shadiq, “Tunjukkan dalil-dalilnya,
kerana Kitab Allah lebih layak untuk di
ikuti dan diamalkan.” Mereka berkata,
“Allah swt mengabarkan sekelompok
sahabat Nabi saw: di dalam kitab-Nya;
Dan mereka mendahulukan orang-orang lain
di atas diri mereka sendiri, sekali pun
mereka memerlukan apa yang mereka berikan
itu; siapa yang dipelihara dari kekikiran
dirinya, mereka itulah orang-orang yang
beruntung.” (QS. Al-Hasyr; 9). Allah
memuji mereka. Kemudian Allah berfirman
dalam ayat yang lain; Mereka memberikan
makanan yang mereka cintai kepada orang
miskin, yatim, dan tawanan. Cukuplah bagi
kami semua keterangan ini.”
Di antara yang hadir dalam majlis itu
ada seseorang yang segera menukas, “Kami
tidak melihat kalian menahan diri untuk
tidak makan makanan yang baik. Malahan
kalian memerintahkan orang lain untuk
mengeluarkan harta mereka supaya kalian
bersenang-senang dengan memanfaatkan harta
mereka.”
Al-Shadiq berkata pada orang itu, “Tinggalkan
olehmu apa yang tidak bermanfaat bagi
kamu.” Setelah itu Al-Shadiq berkata
kepada mereka yang menyampaikan dalil-dalil
dari Al-Quran itu, “Hai saudara-saudara,
ceritakan kepadaku apakah kalian tahu
nâsikh-mansûkh dalam Al-Quran,
muhkam dan mutasyâbih-nya? Kerana
di sinilah umat ini banyak yang tersesat
atau binasa.” Mereka menjawab: “Sebahagian
memang kami ketahui. Tetapi seluruhnya
tidak.”
Dengan bertanya seperti itu, Al-Shadiq
bermaksud untuk mengajarkan mereka untuk
berhati-hati menafsirkan Al-Quran, tanpa
bantuan ilmu yang memadai. Kerana di dalam
Al-Quran terdapat ayat-ayat yang berlaku
dalam konteks tertentu tetapi tidak pada
konteks yang lain (nâsikh-mansûkh).
Di dalamnya juga ada yang sangat jelas
maknanya dan ada yang sekilas tampak ambiguity
(muhkam mutasyâbih). Setelah itu,
Al-Shadiq berkata:
“Apa yang kalian sebut sebagai
keterangan dari Al-Quran tentang orang
yang mendahulukan orang lain, walaupun
diri mereka dan keluarga mereka kepayahan,
perbuatan mereka itu hanyalah hal yang
diperbolehkan bukan hal yang dilarang.
Mereka mendapat pahala di sisi Allah (tidak
ada perintah untuk melakukan perbuatan
seperti itu, dan mereka boleh saja melakukan
hal demikian). Tetapi Allah setelah itu
memerintahkan mereka untuk melakukan hal
yang bertentang dengan apa yang mereka
lakukan. Perintah Tuhan itu menjadi nâsikh
(menghapuskan) bagi perbuatan mereka.
Allah melarang mereka untuk berbuat demikian
sebagai ungkapan kasih sayangnya kepada
kaum mukmin. Supaya mereka tidak menyengsarakan
dirinya dan keluarganya. Mungkin ada di
antara mereka anak-anak kecil yang lemah,
anak-anak, orang tua renta, orang yang
sudah sangat tua yang tidak sanggup lagi
menahan lapar. Jika aku menyedekahkan
makananku kepada orang lain, padahal padaku
tidak ada lagi makanan selain itu, pastilah
semua keluargaku telantar dan binasa dalam
keadaan lapar.
“Kerana itulah Rasulullah saw bersabda:
Jika ada lima butir kurma atau lima dinar
atau dirham yang dimiliki seseorang, kemudian
ia ingin mengekalkan wang itu, maka yang
paling utama ialah ia memberikannya kepada
kedua orangtuanya, kemudian kepada dirinya
dan keluarganya, kemudian kepada kerabat
dan saudaranya kaum muslim, kemudian kepada
tetangganya yang miskin, dan terakhir
- pada ranking kelima - ia mensedekahkannya
di jalan Allah. Dan yang terakhir itu
adalah yang paling sedikit pahalanya.
“Seorang Anshar memerdekakan lima
atau enam orang budak sebelum matinya,
padahal ia tidak punya harta lain selain
itu. Ia meninggalkan anak-anak kecil.
Nabi saw pernah berkata kepada sahabatnya:
‘Sekiranya kalian memberitahukan
kepadaku keadaan dia, aku tidak akan membiarkan
kalian menguburkannya di pekuburan muslimin.
Ia menelantarkan anak-anak kecil dan membiarkan
mereka mengemis kepada orang lain.’
Kemudian Al-Shadiq berkata: ‘Ayahku
menyampaikan kepadaku dari Nabi saw bahawa
ia bersabda; Mulailah dari tanggunganmu
yang paling dekat, kemudian yang paling
dekat, dan seterusnya!’
“Kemudian, inilah yang difirmankan
dalam Al-Quran – yang menolak argumentasi
kalian- dan diwajibkan kepada kalian oleh
Tuhan yang Mahamulia dan Mahabijaksana;
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan
hartanya, mereka tidak berlebih-lebihan
dan tidak pula kikir, dan adalah (pembelanjaan
itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”
(QS. Al-Furqan; 67). Tidakkah kalian perhatikan
bahawa Allah mengecam orang yang berlebih-lebihan
dalam menginfakkan hartanya? Pada ayat
lain Allah swt berfirman, “Sesungguhnya
Ia tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”
(QS. Al-An’am; 141, QS. Al-A’raf;
31). Tuhan melarang mereka berlebihan
dan melarang mereka kikir. Yang benar
itu ialah yang berada di tengah-tengah.
Seseorang tidak boleh memberikan seluruh
hartanya, lalu setelah itu, ia berdoa
agar Tuhan memberinya rezeki. Doa seperti
itu tidak akan dikabulkan.
“Rasulullah saw bersabda: Ada beberapa
kelompok dari umatku yang doanya tidak
akan dikabulkan; Doa seorang anak yang
disampaikan untuk mencelakan orang tuanya,
doa seseorang untuk mencelakan pengutangnya
padahal ketika ia membuat transaksi tidak
ada saksi, doa seorang lelaki untuk mencelakakan
isterinya padahal Allah sudah menyerahkan
tanggungjawab memelihara isteri itu pada
tangannya, dan doa seseorang yang duduk
di rumah lalu ia tidak henti-hentinya
bermohon: ‘Tuhanku berilah rezeki
padaku’; kemudian ia tidak keluar
rumah untuk mencari rezeki. Allah swt
akan berkata kepadanya: ‘Wahai hamba-Ku,
bukankah Aku sudah memberi jalan bagimu
untuk mencari rezeki dan berusaha di bumi
dengan modal tubuhmu yang sihat? Supaya
kamu tidak bergantung pada orang lain
dari keluargamu. Jika Aku kehendaki, Aku
akan memberi rezeki. Jika Aku kehendaki,
Aku batasi rezeki kamu. Dan alasanmu Aku
terima.’
“Selain itu, doa orang yang tidak
akan Aku dengar adalah doa seseorang yang
mendapat rezeki yang banyak dari Allah
swt. Ia mengeluarkan semuanya kemudian
ia kembali sambil berdoa: ‘Ya Rabbi,
berilah aku rezeki’. Tuhan berfirman:
‘Bukankah Aku telah memberimu rezeki
yang banyak. Kenapa kamu tidak berhemat
seperti yang Aku perintahkan? Mengapa
kamu berlebih-lebihan seperti yang Aku
larang?’ Kemudian terakhir, doa
yang tidak akan didengar Tuhan adalah
doanya orang yang memutuskan silaturahim.’
“Allah mengajari Nabi-Nya bagaimana
cara berinfak. Di suatu hari, pada diri
Rasulullah saw ada beberapa wang emas.
Ia tidak ingin tidur bersama wang itu.
Kemudian ia mensedekahkannya. Pagi hari
ada seseorang yang datang meminta bantuan
kepadanya. Tapi Rasulullah tidak punya
apa pun. Peminta itu kecewa kerana Nabi
saw tidak membantunya. Rasulullah saw
juga berduka cita kerana tidak dapat memberinya
apa pun, padahal Nabi saw adalah orang
yang sangat santun dan penuh kasih. Allah
swt lalu mendidik beliau dengan firman-Nya:
Janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu
di kudukmu, jangan juga engkau buka selebar-lebarnya,
nanti kamu duduk dalam keadaan menyesal
dan rugi (QS. Al-Isra 29).”
Kita mengutip riwayat yang panjang itu
hanya sampai di sini. Sufyan Al-Tsawri
mewakili pandangan sekelompok orang bahawa
kesucian harus dicapai dengan mengorbankan
segala-galanya – meninggalkan pekerjaan,
memberikan seluruh harta, meninggalkan
keluarga, mengasingkan diri, dan menjauhkan
diri dari dunia. Konon, kerana cinta dunia
itu sumber segala kejahatan, akhirnya
mereka memilih untuk membenci dunia.
Menurut cerita, Fariduddin Al-Aththar
adalah orang yang kaya raya. Seorang darwisy
berhenti di depan tokonya. Ia mengatakan
bahawa ia boleh memlih kapan ia mati.
Ia bertanya apakah Al-Aththar bersedia
mati sekarang dengan semua kekayaan yang
ia miliki. Kemudian darwisy itu berbaring
dan melepaskan ruhnya. Al-Aththar betul-betul
terkesan. Ia menjual seluruh perusahaannya.
Ia mensedekahkan semuanya dan hidup mengembara
dengan menjalani kehidupan seorang sufi.
Jika kita semua mengikuti aliran tasawuf
gaya Tsawriyyah ini, menurut Al-Shadiq
dalam ucapannya yang tidak dikutip di
sini, siapakah di antara kita yang harus
membayar zakat, melakukan ibadah haji,
mengurus orang yang lemah, membiayai pendidikan,
melakukan penelitian ilmiah dan sebagainya?
Kerana adanya orang-orang seperti Al-Tsawri,
maka citra tasawuf menjadi sangat negatif
pada sebahagian besar kaum muslimin.
Tasawuf identik dengan kemiskinan, kelusuhan,
dan bahkan kekotoran. Orang takut belajar
tasawuf kerana khuatir menjadi miskin.
Imam
Ja’afar Al-Shadiq
menunjukkan dengan argumentasi yang sangat
fasih bahawa tasawuf sejati tidak demikian.
Ia menjelaskan bahawa kemiskinan yang
disamakan dengan kesalihan berasal dari
kekeliruan dalam memahami Al-Quran dan
hadis. Tasawuf sejati bukan tidak memiliki
dunia, tetapi tidak dimiliki dunia. Sufi
bukan bererti tidak mempunyai apa-apa,
tetapi tidak dipunyai apa-apa. Seorang
sufi boleh saja, malah mungkin harus,
memiliki kekayaan yang banyak; tetapi
ia tidak meletakkan kebahagiaan pada kekayaannya.
Inilah tasawuf sejati, yang diajarkan
Rasulullah saw melalui para pemimpin pilihan
dari keluarganya.