Cinta Sebagai
Agama
Jalaluddin Rakhmat
02:00pm
09 Jun 2005
Pada zaman dahulu, hidup seorang gembala
yang bersemangat bebas. Ia tidak punya
wang dan tidak punya keinginan untuk memilikinya.
Yang ia miliki hanyalah hati yang lembut
dan penuh keikhlasan; hati yang berdetak
dengan kecintaan kepada Tuhan. Sepanjang
hari ia menggembalakan ternaknya melewati
lembah dan ladang melagukan jeritan hatinya
kepada Tuhan yang dicintainya, “Duhai
Pangeran tercinta, di manakah Engkau,
supaya aku boleh persembahkan seluruh
hidupku pada-Mu? Di manakah Engkau, supaya
aku boleh menghambakan diriku pada-Mu?
Wahai Tuhan, untuk-Mu aku hidup dan bernafas.
Kerana berkat-Mu aku hidup. Aku ingin
mengorbankan domba-Ku ke hadapan kemuliaan-Mu.”
Suatu hari, Nabi Musa as melewati padang
gembalaan tersebut dalam perjalanannya
menuju kota. Ia memperhatikan sang gembala
yang sedang duduk di tengah ternaknya
dengan kepala yang mendongak ke langit..
Sang gembala menyapa Tuhan, “Ah,
di manakah Engkau, supaya aku boleh menjahit
baju-Mu, memperbaiki kasut-Mu, dan mempersiapkan
ranjang-Mu? Di manakah Engkau, supaya
aku boleh menyisir rambut-Mu dan mencium
kaki-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku
boleh mengilapkan sepatu-Mu dan membawakan
air susu untuk minuman-Mu?”
Musa mendekati gembala itu dan bertanya,
“Dengan siapa kamu berbicara?”
Gembala menjawab, “Dengan Dia yang
telah menciptakan kita. Dengan Dia yang
menjadi Tuhan yang menguasai siang dan
malam, bumi dan langit.” Musa as
murka mendengar jawaban gembala itu, “Betapa
beraninya kamu bicara kepada Tuhan seperti
itu! Apa yang kamu ucapkan adalah kekafiran.
Kamu harus menyumbat mulutmu dengan kapas
supaya kamu boleh mengendalikan lidahmu.
Atau paling tidak, orang yang mendengarmu
tidak menjadi marah dan tersinggung dengan
kata-katamu yang telah meracuni seluruh
angkasa ini. Kau harus berhenti bicara
seperti itu sekarang juga kerana nanti
Tuhan akan menghukum seluruh penduduk
bumi ini akibat dosa-dosamu!”
Sang gembala segera bangkit setelah mengetahui
bahawa yang mengajaknya bicara adalah
seorang nabi. Ia bergetar ketakutan. Dengan
air mata yang mengalir membasahi pipinya,
ia mendengarkan Musa as yang terus berkata,
“Apakah Tuhan adalah seorang manusia
biasa, sehingga Ia harus memakai sepatu
dan alas kaki? Apakah Tuhan seorang anak
kecil, yang memerlukan susu supaya Ia
tumbuh besar? Tentu saja tidak. Tuhan
Mahasempurna di dalam diri-Nya. Tuhan
tidak memerlukan siapa pun. Dengan berbicara
kepada Tuhan seperti yang telah engkau
lakukan, engkau bukan saja telah merendahkan
dirimu, tapi kau juga merendahkan seluruh
ciptaan Tuhan. Kau tidak lain dari seorang
penghujat agama. Ayuh, pergi dan minta
maaf, kalau kau masih memiliki otak yang
sihat!”
Gembala yang sederhana itu tidak mengerti
bahawa apa yang dia sampaikan kepada Tuhan
adalah kata-kata yang kasar. Dia juga
tak mengerti mengapa Nabi yang mulia telah
memanggilnya sebagai seorang musuh tapi
ia tahu betul bahawa seorang Nabi pastilah
lebih mengetahui dari siapa pun. Ia hampir
tak boleh menahan tangisannya. Ia berkata
kepada Musa, “Kau telah menyalakan
api di dalam jiwaku. Sejak ini aku berjanji
akan menutup mulutku untuk selamanya.”
Dengan keluhan yang panjang, ia berangkat
meninggalkan ternaknya menuju padang pasir.
Dengan perasaan bahagia kerana telah
meluruskan jiwa yang tersesat, Nabi Musa
as melanjutkan perjalanannya menuju kota.
Tiba-tiba Allah Yang Mahakuasa menegurnya,
“Mengapa engkau berdiri di antara
Kami dengan kekasih Kami yang setia? Mengapa
engkau pisahkan pecinta dari yang dicintainya?
Kami telah mengutus engkau supaya engkau
boleh menggabungkan kekasih dengan kekasihnya,
bukan memisahkan ikatan di antaranya.”
Musa mendengarkan kata-kata langit itu
dengan penuh kerendahan dan rasa takut.
Tuhan berfirman, “Kami tidak menciptakan
dunia supaya Kami memperoleh keuntungan
daripadanya. Seluruh makhluk diciptakan
untuk kepentingan makhluk itu sendiri.
Kami tidak memerlukan pujian atau sanjungan.
Kami tidak memerlukan ibadah atau pengabdian.
Orang-orang yang beribadah itulah yang
mengambil keuntungan dari ibadah yang
mereka lakukan. Ingatlah bahawa di dalam
cinta, kata-kata hanyalah bungkus luar
yang tidak memiliki makna apa-apa. Kami
tidak memperhatikan keindahan kata-kata
atau komposisi kalimat. Yang Kami perhatikan
adalah lubuk hati yang paling dalam dari
orang itu. Dengan cara itulah Kami mengetahui
ketulusan makhluk Kami, walaupun kata-kata
mereka bukan kata-kata yang indah. Buat
mereka yang dibakar dengan api cinta,
kata-kata tidak mempunyai makna.”
Suara dari langit selanjutnya berkata,
“Mereka yang terikat dengan basa-basi
bukanlah mereka yang terikat dengan cinta.
Dan umat yang beragama bukanlah umat yang
mengikuti cinta. Kerana cinta tidak mempunyai
agama selain kekasihnya sendiri.”
Tuhan kemudian mengajarkan Musa as rahsia
cinta.
Setelah Musa as memperoleh pelajaran
itu, ia mengerti kesalahannya. Sang Nabi
pun merasa menderita penyesalan yang luar
biasa. Dengan segera, ia berlari mencari
gembala itu untuk meminta maaf. Berhari-hari
Musa as berkelana di padang rumput dan
gurun pasir, menanyakan orang-orang apakah
mereka mengetahui gembala yang dicarinya.
Setiap orang yang ditanyainya menunjuk
arah yang berbeda. Hampir-hampir Musa
kehilangan harapan tetapi akhirnya Musa
as berjumpa dengan gembala itu. Ia tengah
duduk di dekat mata air. Pakaiannya compang-camping,
rambutnya kusut masai. Ia berada di tengah
tafakur yang dalam sehingga ia tidak memperhatikan
Musa yang telah menunggunya cukup lama.
Akhirnya, gembala itu mengangkat kepalanya
dan melihat kepada sang Nabi. Musa as
berkata, “Aku punya pesan penting
untukmu. Tuhan telah berfirman kepadaku,
bahawa tidak diperlukan kata-kata yang
indah bila kita ingin berbicara kepada-Nya.
Kamu bebas berbicara kepada-Nya dengan
cara apa pun yang kamu sukai, dengan kata-kata
apa pun yang kamu pilih. Kerana apa yang
aku duga sebagai kekafiranmu ternyata
adalah ungkapan dari keimanan dan kecintaan
yang menyelamatkan dunia.” Sang
gembala hanya menjawab sederhana, “Aku
sudah melewati tahap kata-kata dan kalimat.
Hatiku sekarang dipenuhi dengan kehadiran-Nya.
Aku tak dapat menjelaskan keadaanku padamu
dan kata-kata pun tak boleh melukiskan
pengalaman ruhani yang ada dalam hatiku.”
Kemudian ia bangkit dan meninggalkan Musa
as.
Nabi Musa as menatap gembala itu sampai
ia tak kelihatan lagi. Setelah itu Musa
as kembali berjalan ke kota terdekat,
merenungkan pelajaran berharga yang didapatnya
dari seorang gembala sederhana yang tidak
berpendidikan.
Cerita di atas melukiskan kepada kita
bahawa ada sekelompok orang yang mengambil
cinta sebagai agamanya. Kalau seseorang
telah meledakkan kecintaannya kepada Tuhan,
dia tidak lagi boleh menemukan kata-kata
yang tepat untuk melukiskan seluruh kecintaannya
kepada Allah swt. Di dalam cinta, kata-kata
menjadi tidak punya makna.
Dari kisah ini juga kita belajar bahawa
untuk boleh mendekati Allah swt, tidak
diperlukan kecerdasan yang tinggi atau
ilmu yang sangat mendalam. Salah satu
cara utama untuk mendekati Tuhan adalah
hati yang bersih dan tulus. Tidak jarang
pengetahuan kita tentang syariat membutakan
kita dari Tuhan. Tidak jarang ilmu menjadi
hijab yang menghalangi kita dengan Allah
swt.
Kita akhiri kisah ini dengan sabda Nabi
saw, “Innallâha lâ yanzhuru
illâ shuwarikum walakinallâha
yanzhuru illâ qulûbikum. Ketahuilah,
sesungguhnya Tuhan tidak memperhatikan
bentuk-bentuk luar kamu. Yang Tuhan perhatikan
adalah hati kamu.”