Mereka
yang tidak dicintai Ilahi
Jalaluddin Rakhmat
03:40pm
22 Julai 2005
Dalam Al-Quran, tidak ada kata “membenci”
tapi yang ada adalah kata “tidak
mencintai”. Sebelum kata yuhibbu,
di awali dulu dengan kata ‘la’.
Innallaha layuhibbu (sesungguhnya
Allah tidak mencintai). Yang tidak dicintai
Tuhan kadang-kadang merupakan orang atau
perbuatan.
Pertama, mu’tadin, orang-orang
yang melakukan sesuatu dengan melewati
batas. Dalam Al-Quran disebutkan, “Perangilah
orang yang memerangi kamu. Janganlah kamu
melewati batas. Sesungguhnya Allah tidak
mencintai orang yang melewati batas.”
(QS. Al-Baqarah: 190).
Dalam perintah perang pun, kita tidak
boleh melakukan hal-hal yang melewati
batas. Di dalam peperangan Islam, misalnya,
kita tidak boleh menyerang atau mengejar
musuh yang sudah lari, merosak tanaman,
mengganggu perempuan, atau mengganggu
orang-orang yang sedang beribadat dan
sebagainya.
Kedua, dalam Al-Quran, di antara orang-orang
yang tidak dicintai Allah adalah orang
yang berbuat kerosakan (kafir yang berkhianat),
orang-orang yang berbuat zalim, orang-orang
yang sombong, para pengkhianat, para pembuat
kerosakan, orang-orang yang berlebihan.
Apa saja yang berlebihan? Tidak dicintai
oleh Allah. Ayat ini berkenaan dengan
perintah makan dan minum: Makan dan minumlah
kamu, tapi jangan berlebih-lebihan kerana
Allah tidak suka kepada orang yang berlebih-lebihan.
(QS. Al-A’raf: 31)
Jalaluddin Rumi bercerita tentang orang
yang dalam hidupnya hanya mengejar makanan
saja. Rumi menggambarkan dengan bagus
dengan mengatakan, “Orang itu hanya
taat kepada satu perintah Tuhan, yaitu:
Makan dan minumlah kamu. Tapi ia tidak
menaati kalimat yang berikutnya.”
Dalam Al-Quran, ada cerita bahawa suara
yang paling jelek di hadapan Allah adalah
suara keldai. Sesungguhnya suara yang
paling jelek adalah suara keldai (QS.
Lukman: 19). Menurut Rumi, yang di maksudkan
dengan paling jelek suaranya bukanlah
yang paling keras suaranya.
Ketika Allah menciptakan seluruh makhluk
dan ruh ditiupkan ke dalam diri mereka,
semuanya hidup. Kalimat pertama yang mereka
ucapkan adalah memuji Allah swt, bertasbih
kepada-Nya. Tapi ketika semua bertasbih,
keldai tidak bertasbih. Dia diam saja.
Suatu saat ketika seluruh binatang diam,
keldai itu berteriak.
Orang-orang bertanya, “Mengapa
keldai itu?” Ternyata keldai itu
berteriak kerana lapar. Kata Rumi, “Suara
yang paling jelek di sisi Allah adalah
orang yang hanya bersuara ketika perutnya
lapar, atau ia hanya bersuara ketika membela
kepentingan dirinya saja.”
Dalam kebiasaan kita pun, orang-orang
akan bersuara keras hanya ketika membela
kepentingan dirinya saja tapi ketika berbicara
tentang kepentingan bangsa, suaranya jadi
melemah, bahkan tidak bunyi sama sekali.
Itulah orang yang berbicara keras dan
buruk.
Hadis tentang Cinta Ilahi
Nabi saw telah menjadikan kecintaan sebagai
syarat iman. Seseorang bertanya kepada
Rasulullah saw, “Ya Rasulallah,
apa iman itu?” Rasulullah saw menjawab,
“Allah dan Rasul-Nya lebih kamu
cintai daripada apa pun selain keduanya.”
Dalam hadis yang lain, yang diriwayatkan
oleh Bukhari dan Muslim, dari Anas bin
Malik: Tidak beriman kamu sebelum Allah
dan Rasul-Nya lebih kamu cintai dari siapa
pun selain mereka.
Kemudian dalam hadis lain yang diriwayatkan
oleh Bukhari dan Muslim, “Tidak
beriman kamu sebelum aku (Rasulullah)
lebih dicintai dari keluarganya, hartanya,
dan seluruh umat manusia.”
Semua hadis di atas menjelaskan ayat
Al-Quran, surat Al-Taubah ayat 24: Katakanlah
jika orang tua, anak-anak, saudara, istri-istri,
dan kaum keluarga kalian, harta kekayaan
yang kamu usahakan, perdagangan yang kalian
takutkan kerugiannya, dan rumah yang kalian
tinggali, lebih kalian cintai daripada
Allah dan rasul-Nya, dan dari berjihad
di jalan-Nya, maka bersiap-siaplah mereka
menerima azab dari Allah.
Dalam hadis lain, Rasulullah saw memerintahkan
kita untuk mencintai Allah, “Cintailah
Allah atas anugerah-Nya kepada kalian
dan cintailah aku atas kecintaan Allah
kepadaku.” Al-Ghazali tidak melanjutkan
hadis ini. Dalam lanjutan hadis itu, Rasulullah
berkata, “Dan cintailah keluargaku
kerana kecintaan aku kepada mereka.”
Sumber cinta yang pertama adalah Allah,
kemudian kita mencintai siapa saja yang
dicintai Allah, termasuk rasul-Nya, dan
mencintai apa yang dicintai oleh pencinta
Allah, termasuk ahlul baitnya. kerana
itu, doa yang biasa kita baca adalah:
“Ya Allah, aku mohonkan kepada-Mu
cinta-Mu dan mencintai orang-orang yang
mencintai-Mu, dan mencintai setiap amal
yang membawa kami ke dekat-Mu.
Rasulullah saw bersabda: Kalau kita mencintai
saudara kita, ungkaplah kecintaan itu.
Kalau bapa mencintai anak, ungkaplah kecintaan
itu kepada anak-anaknya, jangan disembunyikan
kerana kecintaan itu menimbulkan berkah.
Ada seorang anak yang menderita sepanjang
hidupnya, kerana ia mengira bapanya tidak
mencintainya. Suatu saat ketika bapanya
sekaratul maut di rumah sakit, menghembuskan
nafasnya yang terakhir, anak itu tidak
datang juga kerana ia tahu bapanya tidak
menyukainya.
Ibunya bercerita bahawa sebelum meninggal
dunia, bapanya mengatakan bahawa ia sangat
mencintai anaknya dan bangga akan anaknya.
Anak itu menjerit keras kerana selama
ini ia membenci bapanya dengan dugaan
bahawa bapanya tidak mencintainya. Padahal
di saat-saat terakhir, bapanya mengungkapkan
bahawa ia cinta anaknya.
Kita dianjurkan, jika kita mencintai
seseorang, kita harus mengungkapkan kecintaan
itu. Dan itu lebih menyenangkan. Kita
bahagiakan orang lain dengan kecintaan
kita. Kalau kita sembunyikan, orang lain
tidak akan tahu dan ia tidak akan bahagia
kerana kecintaan kita.
Suatu saat, saya pernah melakukan umrah.
Seorang pemandu teksi yang baik mengantarkan
saya ke tempat kelompok keturunan sahabat
anshar. Mereka adalah para petani miskin
yang tinggal di perkebunan kurma. Kami
datang ke sana dan salat bersama di masjid
yang sangat sederhana. Pemimpin kelompok
itu bernama Al-Anshari.
Waktu masuk ke tempat itu, saya diperkenalkan
sebagai tamu dari Indonesia. Saya bercerita
tentang Islam di Indonesia. Dia memegangi
kepala saya dan mencium dahi saya. Dia
berkata, “Aku mencintaimu.”
Saya senang sekali dan terkesan dengan
kecupannya di dahi saya.
Ada seseorang datang kepada Nabi saw
dan berkata, “Ya Rasulallah, aku
mencintaimu.” Lalu Nabi berkata,
“Kalau begitu, bersiaplah untuk
miskin.” Ia lalu berkata, “Aku
juga mencintai Allah.” Nabi berkata,
“Kalau begitu, bersiaplah untuk
mendapat ujian.”
Dalam sebuah buku sufi, Essential
Sufism, disebutkan bahawa orang-orang
moden sangat sulit untuk boleh mencintai
dengan tulus kerana kecintaan yang tulus
membawa risiko yang banyak. Risiko yang
pertama adalah keterlibatan seluruh kepribadian
kita.
Sementara orang modern inginnya mandiri,
bebas, independen, tidak mau meleburkan
diri, dan tidak mau melibatkan diri terlalu
banyak. Akhirnya mereka tidak berhasil
mencintai siapa pun, kecuali dirinya sendiri.
Salah satu risiko besar dari kecintaan
adalah hilangnya sikap ego dan keakuan
kita. Rasulullah saw pernah berkata, “Siap-siaplah
menghadapi kemiskinan dan ujian.”
Suatu hari Rasulullah saw melihat Mash’ab
bin Umair datang dan memakai pakaian yang
lusuh dan compang-camping. Dahulu Mash’ab
adalah anak orang kaya raya di Mekkah.
Wajahnya tampan. Di antara sahabat Nabi
ada yang terkenal kerana ketampanannya,
Mash’ab bin Umair, Al-Syammas.
Pada waktu muda, orang tua Mash’ab
sering menghiasinya dengan pakaian yang
indah. Namun, ketika ia sudah masuk Islam,
ia mendatangi majlis Nabi saw.
Rasulullah saw lalu berkata, “Lihatlah
orang itu yang telah Allah sinari hatinya.
Dahulu aku pernah melihat dia beserta
kedua orang tuanya. Mereka memberinya
makanan enak, minuman nikmat, dan pakaian
bagus. Kemudian kecintaannya kepada Allah
dan rasul-Nya membawa ia kepada keadaan
sekarang ini.”