The Cross

 

Ambon Berdarah On-Line
News & Pictures About Ambon/Maluku Tragedy

 

 


 

 

 

Sala Waku Maluku


Sala Waku Maluku, 02 Juni 2004

Teroris terus beraksi di kota Ambon

Aksi teror dengan modus meletakan bom di wilayah wilayah (umumnya tempat tempat keramaian) pada wilayah Kristen terus berlanjut. Setelah peledakan bom di Desa Latta, Pasar Kaget Batu Meja yang menjatuhkan puluhan korban meninggal dan luka luka, penemuaan bom (tidak meledak) di depan kantor Sinode GPM pada hari Selasa tanggal 25 Mei 2004, maka pada hari Rabu siang hari hingga pagi hari Kamis 27 Mei 2004 hari, kembali ditemukan beberapa bom di lokasi berbeda dalam wilayah Kota Ambon yang dapat dijinakan oleh tim gegana dari Kepolisian dan beberapa diantaranya sempat meledak, namun tidak membawa korban jiwa.

Di Desa Passo, Kecamatan Baguala tepatnya di halte bus Passo - Ambon ditemukan 1 buah bom yang siap meledak oleh masyarakat. Investigator kami melaporkan dari Passo bahwa kira kita jam 16.30 Wit sekelompok pemuda sempat melihat ada bungkusan dengan tas plastik berwarna hitam berada didepan warung salah seorang pedagang yang berdekatan dengan halte bus. Para pemuda tersebut kemudian berteriak ada bom dan menimbulkan kepanikan masyarakat yang berada di sekitarnya. Temuan masyarakat tersebut kemudian dilaporkan kepada Polsek Baguala di Passo dan beberapa saat kemudian datang tim Jihandak Polda Maluku yang akhirnya berhasil menjinakan bom tersebut kira kira pada jam 17.30 Wit . Hingga saat ini siapa pelaku peletakan bom tersebut belum diketahui, namun kira kira jam 10.00 Wit tadi malam diterima informasi dari pihak kepolisian bahwa seorang pemuda Kristen berinisial F.T. telah dimintai keterangan dan ditahan oleh Polda Maluku karena diduga pelaku peletakan bom tersebut.

Di kawasan Mardika tepatnya disekitar belokan jalan menuju hotel Amans dari arah Batu Merah, investigator kami melaporkan bahwa kira kira jam 19.00 Wit ditemukan sebuah bom yang diletakan oleh orang yang tidak dikenal. Bom tersebut meledak beberapa saat, namun tidak membawa korban jiwa.

Dari kawasan Kudamati, investigator kami melaporkan bahwa kira kira jam 23.00 WIT tepatnya di belakang Sekolah Dasar 25 dan Sekolah Dasar 47 (sekolah ini berada disekitar lorong coker yang dulunya dipimpin oleh Berthy Loupatty, yang terlibat dalam kasus peledakan bom dan penyerangan kekeberapa wilayah Kristen termasuk Desa Soya pada konflik tahun 1999, yang bersangkutan kini divonis pengadilan dan ditahan di Jakarta) terjadi ledakan 1 buah bom yang cukup dasyat. Walaupun tidak ada korban jiwa, namun masyarakat sempat berhamburan keluar rumah setelah mendengar ledakan yang cukup dasyat tersebut dalam keadaan yang was was. Ada dugaan bahwa ledakan bom di Kudamati ini berhubungan dengan munculnya isu hadirnya kembali pimpinan Coker Berthy Loupatty itu beserta kelompoknya di Ambon, untuk mengacaukan Kota Ambon. Walaupun tim investigator kami setelah melakukan pengecekan dilapangan melaporkan tidak ada indikasi bahwa Berthy Loupatty dan kelompoknya itu berada di Ambon saat ini.

Sejak malam tadi hingga pagi dinihari Kamis, 27 Mei 2004 terdengar beberapa ledakan bom yang cukup dasyat di dalam wilayah Kota Ambon yang diperkirakan merupakan rangkaian kegiatan teror dari para terorisme yang kini sedang beraksi dengan aksi aksi terornya di Kota Ambon.

Sementara itu beberapa media masa lokal di Kota Ambon (Surat Kabar, Radio dan televisi) gencar memberitakan pernyataan para pejabat di daerah ini tentang pernyataan Kepala BIN (Badan Intelejen Nasional) Hendro Priyono pada beberapa media masa nasional di Jakarta pada tanggal 25 dan 26 Mei 2004 bahwa aksi teror bom di Kota Ambon saat ini adalah akibat dari ulah separatis RMS dan akibat dari surat surat dan pernyataan pernyataan yang disampaikan oleh Ketua FKM-RMS dr Alex Manuputty yang kini berada di Amerika Serikat kepada masyarakat dan lembaga lembaga internasional tentang konflik Maluku sebagai konflik agama, dimana isu tersebut menurut Hendro Priyono merupakan isu yang tidak benar dan berisi fitnahan semata. Malah menurut Hendro Priyono kini telah teridentifikasi teror bom tersebut melibatkan pihak asing akibat ulah dari pimpinan FKM-RMS Alex Manuputty di luar negeri saat ini. Para pejabat daerah diantaranya Gubernur Maluku dan Kapolda Maluku dalam pernyataan membantah keras pernyataan Kepala BIN tersebut, karena menurut mereka belum ada bukti yang dapat dijadikan sebagai fakta bahwa pihak asing terlibat dalam aksi teror bom dimaksud.

Analisa

Dari kejadian kejadian tersebut diatas, dapat dibuat analisa sebagai berikut:

1. Teror bom secara berkelanjutan yang dilakukan oleh para teoris merupakan suatu kegiatan terencana secara rapih dengan tujuan meresahkan masyarakat dan untuk mnimbulkan emosi serta kemarahan masyarakat yang dapat memancing terjadinya konflik baru. Kegiatan teror secara berkelanjutan ini juga dimaksudkan untuk menciptakan suatu kondisi chaos yang dapat dijadikan sebagai alasan pemberlakuan keadaan bahya di Maluku sebagai suatu proyek dari pihak militer. Indikasinya terlihat dari modus operandi maupun teknik merancang bom yang memiliki kesamaan ciri dengan bom bom sebelumnya serta tidak begitu seriusnya aparat keamanan meningkatkan kemampuan intelejen untuk membongkar kasus ini dengan baik.

2. Dugaan adanya keterlibatan kelompok masyarakat Kristen dalam teror bom dalam suatu jaringan yang cukup rapih, kuat dan terencana mulai nampak, dengan tertangkapnya pelaku peletakan bom di Halte bus Passo-Ambon, namun yang perlu ditindak lanjuti dari tertangkapnya pelaku tersebut adalah upaya aparat keamanan untuk membongkar kelompok, yang merupakan pelaku intelektual dari kegiatan teror ini.

3. Pernyataan Kepala BIN Hendro Priyono yang kemudian dibantah oleh beberapa pejabat daerah tentang keterlibatan pihak FKM-RMS dan pihak asing dalam kegiatan teror bom di Kota Ambon menunjukan indikasi pihak aparat keamanan masih terus berusaha mencari alasan untuk menjustifikasi tuduhan kepada FKM-RMS sebagai pihak yang merancang kerusuhan Maluku sejak tahun 1999, walaupun disadari bahwa Hendro Priyono sendiri adalah salah seorang arsitek yang selama ini ikut berperan dalam merakayasa FKM-RMS sebagai kelompok yang paling bertanggung jawab atas konflik Maluku sejak tahun 1999, dengan alasan alasan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan secara hukum.

Kesimpulan

Apapun indikasi tentang akar konflik di Maluku sejak tahun 1999 dan modus operandinya, namun dipastikan bahwa terorisme telah mengambil bagian penting dalam konflik untuk menghancurkan masyarakat Maluku untuk saat ini dan masa yang akan datang, tanpa peran dan kemampuan pemerintah untuk mengatasinya. Karena itu dibutuhkan perhatian semua pihak untuk mendorong masyarakat dan lembaga lembaga internasional untuk memberikan perhatiannya kepada Indonesia khususnya Maluku saat ini, karena teorisme adalah merupakan kejahatan internasional yang harus diberantas dan dikikis habis.

Tim Kajian

Sala Waku Maluku
 


Copyright © 1999-2001 - Ambon Berdarah On-Line * http://www.go.to/ambon
HTML page is designed by
Alifuru67 * http://www.oocities.org/urimesing
Send your comments to
alifuru67@yahoogroups.com
This web site is maintained by the Real Ambonese - 1364283024 & 1367286044