![]() |
Brosot Hersi Setiawan Terug naar: Lied/voordracht-overzicht | |
---|---|---|
Navigatie: |
hersri setiawan: Surat Awal Tahun untuk R. William Liddle Tentang Desa Brosot (habis) DAERAH persawahan Brosot memang tidak luas. Tanahnya terlalu tinggi untuk bisa dialiri air sodetan muara Progo. Saluran induk yang mengalir di depan asistenan itu, setelah ditambah aliran saluran induk Desa Lendah dari utara, terus mengalir ke barat. Menyusur Jalan Wates, dan mulai tumpah dibagi-bagi di areal sawah di utara rumah sakit. Rumah sakit Brosot terbesar kedua sesudah rumah sakit pusat di Wates, milik sending, dipimpin seorang mantri juru rawat, dan mendapat kunjungan dokter dari Wates satu kali setiap bulan. Di jaman Jepang rumah sakit ini ditutup, seluruh kompleksnya diambil alih pemerintah, dan dipakai sebagai Kesatrian satu Daidan Peta (Pembela Tanah Air). Di sekitar 0 Km Brosot sendiri tidak cukup luas tanah landai yang bisa digarap. Paling jauh berjarak 5-6 Km dari laut, yang kata orang "beralun banteng". Berombak kuat dan ganas. Lahan sawah terhampar sekitar 2-3 Km di arah barat, di sekitar pabrik gula sana. Tidak terlalu luas, kurang subur, dan sering sekali dilanda hama mentek atau buta ijo. Ketidak suburan sawah ini barangkali juga sebagai akibat lahan yang disewakan pada industri (tebu, tembakau, konon dulu juga indigo) dengan sistem "glébagan". Misalnya, pada tahun ini separoh (atau sepertiga) ditanam tanaman industri, dan pada tahun berikut separoh (atau sepertiga) lainnya. Begitu berganti-ganti lahan, dan sekaligus berselang-seling tanaman. Saking kurusnya tanah, bahkan ikan belut nya yang biasa ditangkap orang sehabis panen - aku pernah mencoba ikut menangkap - hanya sebesar jari kelingking. Selain akibat sistem sewa "glébagan", mungkin udara laut juga berdampak tak menguntungkan bagi kesuburan tanah. Aku ingat, misalnya, lahan persawahan Unit IV Savanajaya dan Unit XIV Bantalareja di Buru yang selain merana juga tak kunjung reda dari serangan hama mentek dan ulat tentara. Ketika tetangga Unit XV Indrapura, yang bekas hutan bambu, pada panen padi pertama sudah "overproduktie", Unit XIV Bantalareja sampai tiga tahun (1971-74), artinya enam kali musim tanam, terus menerus menderita kelaparan. Mentek, hama putih, babi hutan, ulat tentara menyerbu bersama! Ya, saudara Tentara, jangan marah. Dunia pertanian memang memberi nama ulat hama padi itu Ulat Tentara. Seluruh tubuhnya hijau, kepalanya kemerahan seperti baret kopassus, matanya hitam seperti lubang karaben. Delapan puluh hektar sawah tapol G30S-PKI Unit XIV Bantalareja (predikat tapol itu perlu disebut, karena sekarang tetap dengan nama unit yang sama tapi berpenghuni transmigran), dalam satu malam pernah habis ludes sama sekali. Malam itu dari barak barak yang berjarak ratusan meter dari areal persawahan, terdengar seperti derap derap sepatu barisan tentara siluman. Walaupun begitu ketika itu kami, tapol G30S-PKI, tidak ada yang menghujat tentara. Yang kami kambinghitamkan, di jaman perang dingin itu siapa lagi kalau bukan Amerika Serikat. Musuh nomor satu dunia! Segala macam bibit hama padi, konon memang sengaja dicampur di dalam pupuk urea dan TSP yang harus diimpor dari sana! Sekitar asistenan Brosot tidak ada areal sawah. Dua-tiga kilometer di belakang, kawasan perdesaan yang makin meninggi. Kuthan, namanya, yang sudah termasuk wilayah Kulonprogo (tanah kesultanan). Di seberang jalan raya depan asistenan itu dulu terletak stasion NIS. Di sebelah timur stasion, sebuah gudang beratap dan dinding seng, di tepi saluran irigasi, dibongkar di jaman Jepang. Di depan gudang ada tanah lapang, yang buat mataku ketika itu, lebar sekali dan berumput jago-jagoan. Anak anak suka bermain adu "jago" dengan kembang rumput ini. Dua batang lidi ditancapkan di tanah, kedua ujungnya dililit dua helai serat gedebog sama datar. Di atas dua helai serat gedebog itu, dari ujung ke ujung, ditaruh bunga rumput jago- jagoan saling berhadapan. Salah seorang memukuli perlahan dan berirama, tiang lidi yang sebelah dengan lidi pemukul. Dua "jago" akan berjalan saling mendekat dan "bertarung". Jago siapa yang jatuh lebih dulu ke tanah, dia itu lah yang kalah. Di tanah lapang Brosot ini aku, untuk pertama kali, melihat gambar sorot atau gambar idup. Istilah "film" belum dikenal ketika itu. Gambar sorot dari jamannya Si Kuncung dan Miss Surip si Mata Roda, disusul film film perang Asia Timur Raya, dan diseling dengan kehadiran kembali wayang beber. Wayang beber jaman ini, tentu saja tidak membawakan lakon Kebo Ijo atau Naladerma, misalnya. Lakon lakon baku wayang beber jaman Jepang antara lain: Amat Heiho, Momotaro, Bekerja, dan semacamnya. Dalangnya Pak Besut alias P. Wardoyo dari Sendenbu (Barisan Propaganda) Pemerintah Bala Tentera Dai Nippon Yogyakarta Koti. Di jaman itu kami selain pandai menyanyikan lagu wajib seperti "Heitai-san, arigato!" dan "Umi Yukaba", juga hafal kata kata lagu "Asia Sudah Bangun" dan "Bekerja": Bekerja bekerja bekerja tenaga semua sudah bersatu mesin pabrik berputar terus palu godam suara gemuruh semua bekerja giat gembira tenaga pekerja teguh bersatu gugur hancur kaum sekutu! Lalu anak anak kecil, sambil membuat versi baru lagu itu, sekaligus juga mempermain-mainkan bunyi syairnya. Sindiran atas sketsa kehidupan semasa, yang dilontar dalam bentuk nyanyian sekenanya: Mizuho mizuho mizuho kooa fajar semangat srutu momotaro nandur jarak amat dadi heiho nganggo kathok bagor sarungé kombor bubur katul opahé nutu!(1) Hamparan tanah datar di selatan "alun-alun" Brosot ini dan dukuh di sebelah timurnya, entah bagaimana ceritanya, dinamai "Pulo". Barangkali dulu sebuah delta di muara Progo? Bila cuaca sedang bening, dan kita berdiri di tanggul irigasi primer itu memandang ke arah selatan, tampak lah limburan laut yang dipermainkan tangan tangan gaib Nyai Lara Kidul. Putih berkilatan ditimpa sinar matahari. Tanah di lahan Pulo ini memang masir, sehingga merupakan ladang lumayan subur untuk palawija - terutama kacang tanah dan ubi jalar. Kacang tanah Pulo dikenal besar besar, ubi jalarnya kalau direbus manis dan "ngendhog" - di tengah memutih dan mempur. Sebenarnya kecamatan Brosot memang wilayah yang miskin lahan pertanian basah dan kering. Tetapi kekurangan ini menjadi tertutup, karena kedudukannya sebagai kota kedua Kadipaten Paku Alaman sesudah ibukota Wates. Brosot dilalui jalan raya Yogyakarta - Bandung dan Jakarta, melalui Wates, Gombong (di sini, seperti di Bandung, ada satu batalyon depot KNIL), dan Purwokerto (ibukota keresidenan penting di Jawa Tengah, terutama karena adanya pelabuhan Cilacap yang satu- satunya di pantai selatan Jawa). Sementara itu seluruh daerah "di belakang" Brosot sampai Sentolo, ibukota Afd. Kulonprogo, tidak ada kota asistenan yang berarti. Brosot jadinya seperti terletak di pangkuan "daerah belakang", yang merupakan lahan pertanian berbagai kultur. Karena itu pasar Brosot hidup setiap hari(2). Beda dengan pasar Desa Kranggan, dekat rumah sakit, yang hanya hidup setiap Kliwon, sehingga dinamai Pasar Kliwon; pasar Sewugalur atau orang desa menyebutnya Pasar mBabrik, yang dinamai Pasar Paing; pasar Keboan, biasa juga di-kromo-kan sebagai Maésan, yang Pasar Legi. Sedangkan hari pasaran Pasar Brosot ialah tiap Pon. Di antara para pembeli dan penjual yang datang, antara lain dari arah barat sejauh Keboan (5 Km: terutama kelapa dan minyak kelapa, di desa ini ada "ngGoprakan", perusahaan kopra); dari utara: Lendah (2 Km) sampai Kenthèng Nganggrung (9 Km: berbagai hasil pertanian, kayu bakar dan arang); dari timur: Mangiran (5 Km: penjahit dan tahu; di desanya Ki Ageng Mangir ini banyak pabrik tahu usaha rakyat) bahkan Jodoglegi (9 Km: tembakau Siluk Imagiri dan barang- barang klontong). Pada tahun 1948-49, ketika Belanda menduduki kota Yogya dan Bantul (lk. 12 Km arah timur laut), Brosot berubah menjadi kota terdepan Republik yang aman dan sangat ramai. Selain menjadi "sarang" berbagai kesatuan lasykar bersenjata, jembatan Kali Progo yang hampir seribu meter itu pun sudah dibumi hanguskan(2). Karenanya pengungsi seperti "tumplek blek" berdatangan di Brosot dengan rasa aman. Dengan begitu daya hidup Pasar Pon itu pun menjadi menggelombang makin besar dan makin jauh lagi. Di dalam jaman "doorstoot" itu kami bertujuh sekeluarga, yaitu saya dan enam sesaudara serta Ibu, juga menyandarkan hidup kami pada rejeki pasar yang terbuka bagi siapa saja. Kami bertiga, aku dan dua kakak beradik, yang baru memasuki umur belasan, berjualan rokok. Begitulah sebutannya yang lazim saat itu. Walaupun dagangan kami sesungguhnya bukan rokok yang utama, tetapi tembakau dan segala macam bumbunya untuk penyedap rokok tingwe(3): klembak, uwur cengkih, kemukus dan kemenyan - khususnya untuk melayani orang-orang yang suka mengisap rokok siong atau rokok klembak menyan. Kemudian tentu saja juga kertas manis dan klobot untuk penggulung rokok, batu api, batu thithikan, kawul, dan kepingan baja untuk pemantik; sabun dan teh. Pada siang hari kami berjualan dari pasar desa yang satu ke pasar desa yang lain, dan pada malam hari dari tempat pertunjukan rakyat yang satu ke tempat yang lain, dengan menempuh jarak antara 5-10 Km. Misalnya ke tempat pertunjukan wayang atau ketoprak di satu desa yang sedang berpesta "bersih desa", atau ke satu keluarga berada yang sedang punya perhelatan perkawinan, sunatan, atau hajat yang lain. Berkat kedudukan geografisnya yang menguntungkan, Brosot mempunyai berbagai kelebihan sarana dan kemudahan ketimbang desa-desa lain di sekitar. Karena itu tiap pasaran Pon, ketika Pasar Brosot berpasaran, jalan lingkar desa (biar gagah katakan "rural ring road") Brosot-Lendah di depan rumahku, sejak menjelang subuh sudah menjadi ramai oleh orang orang yang seperti mengalir turun dari gunung. Obor-obor mancung dan blarak mereka masih belum dipadamkan. Selain untuk menerangi jalan, juga menghangati diri dari hembusan dingin pagi hari. Yang perempuan menggendong, dan yang laki-laki memikul atau menyunggi: daun pisang atau daun jati, kelapa, beras, sabut kelapa yang sudah kering, arang, kayu bakar, rumput atau rèndèng (daun kacang tanah), pisang, mangga (jika sedang musim), dsb. Sepagi itu biasanya Ibu sudah berbelanja di pinggir jalan, tidak perlu susah payah dan berjalan jauh ke pasar. Belanja seperti ini "adhang-adhang", namanya. Jadi Saudara, Adikarta dan Kulonprogo, dalam hidup keekonomian, mereka itu ibarat kuku dan jari. Dengan begitu juga Brosot dan daerah barat Kali Progo seanteronya, boleh dibilang banyak bergantung pada daerah "belakang garis": Lendah ke atas sampai Sentolo. Wibawa pulung kraton tetap pada "praja kasultanan", dan bukan "kadipaten pakualaman". Salah satu repertoar lagu panembrama (paduan suara tembang Jawa) murid murid SD Brosot sebelum perang, ialah tembang Kinanrthi yang khusus digubah untuk wisuda Sultan Hamengku Buwana IX. Kawula Adikarta umumnya bahkan "tidak peduli" kapan hari wisuda Gusti Adipati Paku Alam. Dari segi ruhani Brosot juga mempunyai kekurangan yang besar. Memang aneh! Sebuah desa tua, tapi tidak punya "pepundhèn" atau tokoh cikal bakal desa. Sementara itu Lendah mempunyai Kyai Landhoh. Konon seorang pangeran dari Brawijaya, yang melarikan diri jauh ke barat, dan membuka desa yang kemudian dinamai orang "Lendah". Nisan makamnya di dalam cungkup berpintu sempit dan tinggi setengah meter, dari batu hitam panjang dua meter yang selalu diselimuti kain putih. Tutur babad mengatakan, ia mempunyai pusaka "bathok bolu". Sedikit di kanan depan cungkup Kyai Landhoh, terbujur nisan seorang putri "pepundhèn Dalem Kangjeng Sultan". junjungan Sri Paduka Sultan. Masih ada satu lagi kekurangan bobot ruhaniah Brosot. Lampor Nyai Lara Kidul yang tiap rembang senja meronda-ronda di sepanjang aliran Progo itu adalah milik "Ingkang Sinuwun" dan bukan "Gusti Adipati". Tapi Brosot, sebagai kota kedua di tanah apanase raja kecil Paku Alam, memang menjadi sedikit bernafas burjuis. Desa Brosot tampil dengan wajah "desa kota" ketimbang desa-desa seantero dan setaranya yang sama sekali berwajah "desa tani yutun". Dari "bibilotik" Brosot (ayahku pengelola perpustakaan Sekolah Rakyat yang mempunyai lebih dari 2500 judul buku; dalam bahasa-bahasa Jawa dan Melayu, dan satu-dua Belanda) aku berkenalan dengan "Resiyaning Ngaurip" (Rahasia Hidup) Tolstoy dan "Pacar Merah" yang saduran Melayu dari roman sejarah berlatar revolusi Perancis. Di Brosot aku pertama kali melihat tonil dan pantomim, tari lilin dan sapu tangan Minangkabau; wayang beber dan (apa yang orang desa menamai) "standen", sejenis akrobatik. Brosot tidak mempunyai rombongan trubadur desa reyog dan jatilan amatir, yang dimainkan pemuda pemuda tani seusai panen. Bahkan wayang orang dan ketoprak pun, jika terkadang ada, sudah tampil dalam kemasan "tobongan" yang untuk masuk dan menontonnya dipungut bayaran. Di Brosot juga aku pertama kali (6 tahun) mengenal tontonan yang dinamai "gambar sorot". Tapi di Lendah aku (5-6 tahun) melihat pertama kali pergelaran ketoprak dengan lakon Bandung Bandawasa, di pendapa asistenan, untuk merayakan perkawinan Ndoro Setèn (sekarang pakar sosiologi) Selosumardjan - saya lupa: tiga atau lima siang, Pak Mardjan? Wajah Brosot yang sedikit burjuis itu menimbulkan adanya kecemburuan sosial diam diam, antara kaum "priyayi kasultanan" di satu pihak dengan kaum "priyayi gupermen" di lain pihak. Kaum petaninya pun, oleh sistem sewa "glébagan" tersebut di atas menjadi dikuasai oleh hubungan produksi yang setengah (atau sepertiga) feodal sekaligus setengah (atau sepertiga burjuis). Ini berarti, bahwa proletariat desa yang selain tani tak bertanah juga tani miskin, memijakkan dua kakinya pada dua tumpuan: tanah raja dan lahan tuan pabrik. Fenomena masyarakat desa Brosot yang demikian itu, barangkali juga menggejala di desa-desa di Jawa pada umumnya dan sana sini di Sumatra di mana ada perkebunan dan pertambangan. Namun bisa dipastikan, bahwa fenomena sosial seperti di desa Brosot ini tidak pernah dijumpai Mao Zedong, di sepanjang sejarah perjuangannya memimpin revolusi agraria sosialis di Tiongkok. Di seluruh daratan Tiongkok yang maha luas itu, karena feodalismenya yang telah berakar dan berkembang, tidak tersedia ruangan untuk pabrik-pabrik dan perkebunan perkebunan industri kapitalis. Sementara itu proletariat yang berwatak rangkap, (sarekat) abang (sarekat (hijo), seperti proletariat desa di desa Brosot, pastilah tidak pernah dikenal oleh Lenin dan Stalin di negerinya. Bahkan di Indonesia sendiri pun, apakah fenomena sosial politik yang seperti itu pernah disadari oleh parpol-parpol yang menjanjikan pembebasan rakyat kecil dari kemiskinan dan keterbelakangan? Termasuk PKI pada masa jayanya sekalipun? Pada awal "Peristiwa Madiun" kakakku, perwira Pepolit Biro Perjuangan Daerah XXV (kemudian TNI Bag. Masyarakat), ditangkap polisi Wates di Desa Lendah, atas petunjuk tetangga "baik" yang Kepala Dukuh dan anggota Masyumi. Di jaman "doorstoot", bekas toko klontong terbesar di Brosot diambil alih menjadi markas lasykar. Tapi justru Lasykar Hisbullah yang berhasil mendudukinya. Sementara itu markas BODM (Bintara Onder Distrik Militer) entah menumpang di mana, markas Mobilisasi Pelajar di desa Kranggan dekat Sewugalur, di rumah seorang Katekis (Penginjil Kristen), dan anggota Lasykar Rakyat tersebar menumpang di rumah rumah keluarga. Pada masa itu jugalah Kapten Anu, Komandan Lasykar Rakyat, pada suatu subuh, mati dirajam peluru di samping pagar bambu pekarangan rumah pondokannya. Konon, desas desus mengatakan, karena ia memungut pajak liar penyeberangan Kali Progo, demi kepentingan lasykarnya sendiri; dan tambahan lagi, karena ia beristri perempuan bekas pelacur Balokan Yogya ... Pada waktu pemilihan umum 1955/56, hasil penghitungan suara baik di Brosot maupun di Lendah, sama seperti wilayah DIY umumnya. PKI termasuk empat besar, dengan PNI di papan paling atas. Tentu saja ini bukan berkat dukungan kaum priyayi abangan yang, bagaimanapun juga, kecil saja jumlahnya jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Dukungan terbesar PNI pastilah dari massa "proletar abang-ijo" yang islam-abangan, yang berhasil direbutnya dari kontestan bertanda gambar lain, terutama Palu-Arit dan sedikit banyak juga Cangkul-Kalam Bulu Ayam PRN Jody Gondokusumo. Sebagai ilustrasi sehubungan itu, ada contoh dari percakapanku dengan seorang tani miskin di Karangmaja, desa tandus di Gunung Kidul tahun 1957, antara lain (dengan kursif- kursif sebagai penegas): "Waktu pemilihan umum nyoblos apa, Pak?" "Ya Palu-Arit, to Pak. Apalagi? Wong orang kecil ..." "Agamanya apa, Pak?" "Lha ya Islam wong orang Jawa ...!" "Lho! Palu-Arit kok Islam?" "Ya bisa saja to, Pak. Palu-Arit itu kan politik. Islam itu agama. Politik dan agama itu lain-lain ..." Partai Rakyat Nasional (PRN) Jody memang pecahan PNI (1950). Tapi popularitasnya di desa, selain oleh tanda gambarnya yang pacul dan (bulu) ayam, benda-benda yang akrab bagi kehidupan tani di Jawa; juga tidak mustahil justru oleh identitas "trah dalem" (keturunan raja), seperti tercermin dalam kata belakang "kusumo" pada namanya. Jangan lupa, jaman itu masih belum jamannya "pujakesuma", putra jawa kelahiran sumatra, dan juga belum jamannya "kasno" (maaf: bekas cino) ramai-ramai ganti nama, dengan mencari acuan nama-nama bangsawan Jawa! Embel-embel "kusumo" pada nama diri di jaman itu, masih menjadi monopoli para bangsawan Mataram saja, atau bangsawan Banten-Pajajaran ("kusumah") yang tak merasa kalah pamor dari Mataram. Karisma "pulung" Pakualaman memang sudah padam. Tapi Hamangku Buwana tampaknya justru sedikit mencuat, jika kita memperhatikan berbagai kejadian sejak sekitar dan sesudah $uharto lengser. Maka pada pemilu mendatang massa pemilih di Brosot dan sekitarnya, seperti juga di kawasan DIY umumnya, agaknya masih tetap cenderung "ndherek Ngarsa Dalem" (mengikuti Sri Paduka Sultan). Persaingan keras agaknya justru akan terjadi antara kelompok Islam dan Golkar, yang selama 32 tahun sudah merebut kedudukan PNI sebagai "partai priyayi", yang menjadi panutan massa "proletar bangjo". Tanpa pandai membaca, dan berani dengan tegas mengartikulasi amanat "proletar bangjo" di desa, PNI tidak akan mendapat pasaran. Tapi, jika Semangat Ciganjur (plus atau tanpa plus) bisa dipandang sebagai pencerminan kecenderungan Semangat Empat Besar, pertanyaan besar yang satu itu juga yang tetap kumandang: "Quo Vadis Reformasi?"*** Catatan: (1) Semua kata pada dua baris pertama nama nama etiket rokok yang lazim waktu itu. Terjemahan baris baris selanjutnya: Tanam jarak Amat jadi heiho / bercelana bagor / bersarung kedodoran (yang dimaksud sarung dari bahan karet lateks) / bubur bekatul upah menumbuk padi // (2) Hari-hari pasaran ada lima: Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Paing. (3) Sejak jaman Jepang jaringan kereta api terhenti sampai Palbapang, 2 Km selatan Bantul. Palbapang - Sewugalur disambung dengan munthit, kereta api tebu yang diberi dinding gedek dan bangku bangku kayu. Tidak lagi mengikuti jalan NIS, tapi di timur Mangiran membelok ke utara melalui Gesikan (di sini ada pabrik gula), terus ke selatan mendekati Padokan (pabrik gula lainnya), baru kembali mengikuti jalan lama NIS. (4) "Tingwe", akronim dari "nglinting dhewe"; (rokok) gulungan sendiri. ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html |
![]() |
Terug naar: Top Terug naar: Lied/voordracht-overzicht |