MAKSIM TUTUR: TINJAUAN SELAYANG PANDANG

Jumadi
 

Abstrak: Pada hakikatnya bahasa adalah realitas sosial. Sebagai realitas sosial, keberadaanya tentu terkait dengan hal-hal di luar bahasa. Upaya memahami bahasa secara menyeluruh tidak dapat dilakukan melalui pemahaman struktur bahasa semata. Kaum formalis mulai dari Ferdinand de Saussure hingga Noam chomsky mencurahkan perhatiannya terlalu terfokus kepada aspek struktur bahasa semata, manafikan aspek fungsinya.    Apabila kaum formalis memisahkan antara struktur dan fungsi atau konteks pemakaiannya, kaum fungsionalis justru sebaliknya. Kaum fungsionalis tidak bisa memisahkan kedua hal itu sebab keduanya saling berpengaruh. Dengan demikian , proses deskripsi bahasa dimulai dengan mengumpulkan sejumlah konteks teks dan tujuan deskripsi itu adalah untuk menjelaskan bagaimana kalimat-kalimat atau ujaran itu dalam kontektnya. Firt dan Hymes mengisyaratkan bahwa telaah bahasa memang perlu dikaitkan dengan hal-hal di luar struktur bahasa. Banyak unsur di luar bahasa yang mempengaruhi perilaku bahasa, antara lain adalah maksim-maksim tutur yang diturunkan dari prinsip kerja sama (PK) dan prinsip sopan- santun (PS).

 

Kata kunci: bahasa, konteks, maksim tutur

 

info lebih lanjut hubungi:

Email: vidyafkip@yahoo.com