TRADISI DEMOKRASI

DALAM PERSPEKTIF SEJARAH BANJAR

(Refleksi Pemudaran Nilai Demokrasi Tradisonal )

 

 

Bambang Subiyakto

Dosen Program Studi Sejarah FKIP Unlam Banjarmasin

 

Tulisan ini dimaksudkan untuk mengambarkan bagaimana tradisi (budaya) demokrasi dalam masyarakat Banjar di masa lalu. Hal pokok yang menjadi uraian tulisan ini yakni nilai-nilai demokrasi tradisional yang ada dalam masyarakat Banjar dan pudarnya tradisi demokrasi Banjar. Seperti umumnya masyarakat di Nusantara, masyarakat Banjar pada dasarnya juga adalah masyarakat agraris yang terbuka, egaliter, dan resiprokal. Oleh karena kebudayaannya seperti itu, masyarakat Banjar dengan sendirinya bersifat demokratis (egaliter), sebab hierarki bukan merupakan produk alamiah, melainkan produk kultural, akal budimanusia. Demokrasi dalam prespektif budaya dan sejarah Banjar adalah demokrasi yang bersifat langsung dari setiap struktur atau kebijaksanan sebagai dampak tidak langsung atau jangka panjangnya (Faruk, 1994). Sebagai kesimpulan sementara, pada dasarnya selama proses yang cukup panjang telah tumbuh unsur-unsur demokratis di dalam masyarakat Banjar. Akan tetapi, sesudah masa Kerajaan Banjar berakhir, cengkraman kuku kekuasaan kolonial (Belanda) sangat kuat. Selanjutnya, pemahaman demokrasi pada masa ini diserap dari konsep Barat. Ketika kekuasaan Belanda mencengkram semua aspek kehidupan, mulai tampak adanya pemusanahan nilai-nilai demokrsi lama yang dimilki masyarakat Banjar. Segala bentuk perilaku dan tindakan politik yang dijalankan oleh Belanda di daerah bekas Kerajaan Banjar pada dasarnya merupakan wujud eksploitasi kekuasaan yang tida memberikan kesempatan pada wakyat untuk menyuarakan aspirasinya, apalagi mengembangkan kehidupan yang demokratis. Demokrasi yang jelas-jelas konsep Barat justru oleh orang Barat sendiri diinjak-injak.

info lebih lanjut hubungi:

Email: vidyafkip@yahoo.com