|
Daulat
Abbasiyah II
(750-1258 Masehi)
Tak banyak terkisahkan pada
sejarah Daulat Abbasiyah akhir Abad 9 dan awal Abad 10.
Terutama sejak Khalifah Al-Mutawakkil meninggal pada 861
Masehi. Riwayat hanya menyebut bahwa pemerintahan Baghdad
terus dikuasai oleh para panglima militer berdarah Turki. Para
panglima itu yang mengangkat khalifah dari keturunan
khalifah-khalifah terdahulu. Namun mereka hanya dijadikan
simbol.
Badri Yatim dalam "Sejarah
Peradaban Islam" mencatat adanya 12 khalifah saat Daulat
Abbasiyah dikuasai para panglima militer Turki. Hanya empat
khalifah yang diganti karena meninggal secara wajar. Delapan
lainnya diturunkan secara paksa oleh militer, bahkan juga
dibunuh. Keadaan ini menjadikan wibawa Dinasti Abbasiyah
semakin merosot. Satu per satu wilayah melepaskan diri dari
kendali pusat.
Simbol-simbol peradaban,
seperti ilmu pengetahuan, kesenian dan sastra, tidak lagi
berkembang. Satu-satunya paham keagamaan yang tumbuh pada masa
ini adalah pemikiran Abu Hasan Al-Asy'ari (873-935), yang
kerap disebut aliran tradisional dalam teologi. Al-Asy'ari
sempat belajar paham mu'tazilah yang banyak dipengaruhi oleh
logika Yunani. Ia lalu mengkritisi paham tersebut dengan
mengambil pendekatan tekstual dan tradisi. Sejarah pemikiran
Islam kemudian banyak diwarnai tarik-menarik kedua pendekatan
tersebut, sampai sekarang.
Wibawa kekhalifahan Abbasiyah
bangkit kembali setelah kekuasaan di tangan keluarga Buwaih.
Khalifah, lagi-lagi hanya menjadi simbol sebagaimana Kaisar
Jepang di era Tokugawa. Ketika wazir (perdana menteri) dan
militer bertikai, khalifah menyerahkan kekuasaan pada tiga
kakak beradik Ali, Hasan dan Ahmad -anak Abu Syuja' Buwaih,
nelayan miskin dari Dailam. Ahmad memegang kendali di Baghdad,
Ali menguasai wilayah Persia Selatan yang berpusat di Syiraz.
Hasan berkuasa di Persia Utara, termasuk kota Ray dan Isfahan.
Di awal masa Bani Buwaih
(945-1055), kemakmuran kembali berkembang di wilayah
kekhalifahan Abbasiyah. Pembangunan gedung pun semarak.
Industri karpet berkembang pesat. Intelektual bermunculan.
Antara lain Ibnu Sina (980-1037), penulis Qanun fi Al-Thibb
yang menjadi rujukan ilmu kedokteran Barat sampai Abad 19.
Juga Al Farabi yang wafat pada 950 Masehi dan Al-Maskawaih (wafat
1030 Masehi). Namun dalam keagamaan, terjadi kerancuan paham.
Kekhalifahan menganut paham Sunni, sedangkan Bani Buwaih
berpaham Syi'ah.
Lagi-lagi pertikaian keluarga,
membuat kekuatan Bani Buwaih merosot. Kekhalifahan Abbasiyah
kehilangan pamor lagi. Di Mesir, berdiri Kesultanan Fathimiyah.
Di Afghanistan, keluarga Ghaznawiyah memerdekakan diri.
Kemudian muncul dinasti Seljuk yang berawal dari
kabilah-kabilah kecil di Turkistan yang berhasil dipersatukan
oleh Seljuk anak Tuqaq. Pemimpin Seljuk kemudian Thugrul Beq,
berhasil merebut beberapa wilayah kekhalifahan Abbasiyah. Tak
seperti Bani Buwaih, mereka menganut paham Sunni.
Atas undangan Khalifah Qaim,
Thugrul Bek memasuki Baghdad. Para keturunannya kemudian
menyetir kekuasaan di Baghdad. Banyak keluarga Seljuk lainnya
membangun kekuasaan kecil-kecil di luar Baghdad. Sejarah
mencatat masa terpenting kekuasaan Seljuk terjadi pada
kepemimpinan Alp Arselan (1063-1072). Khalifah masa itu adalah
Sultan Maliksyah, dengan Nizham Al-Mulk sebagai Perdana
Menteri.
Nizham membangun Universitas
Nizhamiyah pada 1065 di Baghdad. Inilah yang disebut model
pertama universitas yang kini dikenal dunia. Di berbagai kota
di Irak dan Khurasan didirikan cabang universitas ini. Nizham
juga membangun Madrasah Hanafiah. Ilmu pengetahuan berkembang
dengan pesat. Banyak intelektual lahir pada masa ini.
Diantaranya Zamakhzyari di bidang tafsir dan teologi, Qusyairi
di bidang tafsir, Imam Al-Ghazali sebagai tokoh tasawuf, juga
sastrawan Fariduddin Attar dan Omar Kayam.
Di militer, 15.000 pasukan Alp
Arselan mengalahkan pasukan gabungan Romawi, Perancis dan
Armenia. Sepeninggal Arselan, pasukan itu malah merebut kota
Yerusalem dari Dinasti Fathimiyah pada 471 Hijrah, atau 1078
Masehi. Inilah peristiwa yang menyulut terjadinya Perang Salib.
Waktu berlalu. Kekhalifahan
melemah. Hampir setiap propinsi melepaskan diri. Pada 1199,
kekuasaan Keluarga Seljuk di Baghdad berakhir. Para khalifah
keturunan Abbas masih melanjutkan kepemimpinan negara. Namun
hanya terbatas di sekitar Baghdad. Pada 1258, tiba-tiba
sekitar 200 ribu pasukan Mongol muncul di bibir kota Baghdad
di bawah komando Hulagu Khan. Khalifah Al-Mu'tashim menyerah.
Ia menyangka Hulagu Khan hendak
menikahkan anak perempuannya dengan Abu Bakar, putra khalifah.
Maka khalifah dan seluruh pembesar istana datang ke kemah
Hulagu membawa berbagai hadiah. Di tempat itulah, Hulagu
memenggal leher khalifah dan seluruh pengikutnya satu per satu.
Kota Baghdad dihancurkan. Seluruh kegemilangan yang dibangun
oleh Al-Mansyur, dan kemudian juga oleh Harun Al-Rasyid itu
luluh lantak. Baghdad kembali rata dengan tanah.n
|