|
Daulat Umayah
II
(661-750 Masehi)
Kekuasaan yang dibangun
Muawiyah bagi Daulat Umayah diawali dengan noda hitam.
Pemberontakan Muawiyah terhadap Khalifah Ali yang melahirkan
Perang Shiffin menyebabkan sekitar 80 ribu orang tewas. Badri
Yatim, dalam buku 'Sejarah Peradaban Islam' menyebut: "Kekhalifahan
Muawiyah diperoleh melalui kekerasan, diplomasi dan tipu daya,
tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak." Praktek
yang bertolak belakang dengan nilai Islam sebenarnya.
Muawiyah menunjuk anaknya,
Yazid, sebagai penggantinya. Cara demikian tidak dikenal Islam
dalam pemilihan pemimpin negara. Masyarakat berontak. Sebagian
mengangkat Hussein anak Ali sebagai khalifah. Melalui penipuan,
Yazid menghancurkan kubu Hussein. Hussein yang berencana
memenuhi ajaka damai Muawiyah, ternyata dibunuh. Di padang
Karbala, Hussein dipenggal. Kepalanya dibawa ke Damaskus.
Abdullah anak Zubair juga tak
mengakui kekhalifahan Yazid. Abdullah berkedudukan di Mekah.
Tentara kerajaan di masa Khalifah Abdul Malik kemudian
menyerbu Mekah. Keluarga Zubair dihancurkan. Abdullah wafat
dalam pertempuran pada 73 H atau 692 Masehi.
Di masa Muawiyah, kekuasaan
melebar ke Barat hingga Tunisia yang berada di seberang
Italia. Di Timur, wilayah kekuasaan telah menjangkau seluruh
tanah Afghanistan sekarang. Ekspedisi laut berulangkali
menyerbu ke Byzantium, namum gagal menaklukkan Romawi. Wilayah
itu kemudian diperluas oleh Khalifah Abdul Malik. Wilayah Asia
Tengah seperti Bukhara, Khawarizm, Ferghana hingga Samarkand
mereka kuasai. Pasukan Umayah bahkan wilayah Sind dan Punyab
di India dan Pakistan.
Terobosan paling monumental
terjadi di Gibraltar, Spanyol, di masa Khalifah Walid. Seluruh
wilayah Afrika Utara -termasuk Aljazair dan Maroko-mereka
kuasai. Pada tahun 711 Masehi, Panglima Perang Thariq bin
Ziyad memimpin pasukan menyeberang selat dari Maroko ke
dataran Spanyol di Eropa. Ibukota Spanyol segera mereka kuasai.
Demikian pula kota-kota lain seperti Seville, Elvira dan
Toledo. Seluruh Spanyol pun menjadi wilayah kekusaan Bani
Umayah.
Di masa Khalifah Umar bin Abdul
Aziz, tentara Bani Umayah di bawah komando Panglima
Abdulrahman bin Abdullah Al-Ghafiqi, bergerak dari Spanyol
menuju Perancis. Setelah melalui pegunungan Piranee, mereka
menguasai Bordeau, Poitiers dan hendak maju ke kota Tours. Di
tempat ini terjadi pertempuran yang menewaskan Al-Ghafiqi.
Tentara itu pun mundur kendali ke Spanyol.
Dengan rentang wilayah
kekuasaan yang sangat luas, di abad ke-8 Masehi tersebut, Bani
Umayah merupakan kekuasaan yang paling besar di dunia.
Kekuasaan besar lainnya adalah Dinasti Tang di wilayah Cina
serta Romawi yang berpusat di Konstantinopel. Ke wilayah
kekuasaan Bani Umayah itulah Islam kemudian menyebar dengan
cepat.
Namun adalah sebuah
kemustahilan untuk mempertahankan wilayah yang begitu luas
terus-menerus. Apalagi masyarakat kemudian kehilangan rasa
hormatnya pada kekhalifahan. Pemberontakan muncul di sana-sini.
Yang terkuat adalah pemberontakan oleh Abdullah Asy-Syafah,
atau Abu Abbas. Ia keturunan Abbas bin Abdul Muthalib -paman
Rasulullah. Ia disokong oleh keluarga Hasyim -keluarga yang
terus berseteru dengan Keluarga Umayah. Kalangan Syi'ah -para
pendukung fanatik Ali-mendukung pula gerakan ini.
Abu Abbas kemudian bersekutu
dengan tokoh kuat, Abu Muslim dari Khurasan. Pada tahun 750
Masehi, mereka berhasil menjatuhkan kekuasaan Bani Umayah.
Khalifah terakhir, Marwan bin Muhammad, lari ke Mesir namun
tertangkap danm dibunuh di sana. Berakhirlah kekuasaan Bani
Umayah ini, meskipun keturunannya kemudian berhasil membangun
Bani Umayah kedua di wilayah Spanyol.n
|