|
Serbuan
Hulagu Khan
Baghdad 1258. Tepian sungai
Tigris itu menampakkan pemandangan ganjil. Dari dataran
sekelilingnya, kecemerlangan kota tampak jelas. Gedung-gedung
megah bertaburan tertata secara rapi. Saat itu, hampir tidak
ada kota di dunia segemerlap Baghdad. Namun ribuan tenda
mendadak bermunculan di luar kota. Itulah tenda pemimpin
Mongol, Hulagu Khan, beserta 200-an ribu pasukannya.
Sejarah mencatat, Khalifah Al-Mu'tashim
dan para pembesar Kekhalifahan Abbasiyah dengan senang hati
menemui Hulagu. Ia membawa berbagai macam hadiah. Hulagu
menerima mereka dengan dingin. Ia memenggal kepala khalifah
dan seluruh pengikutnya satu per satu. Hulagu kemudian
memerintahkan pasukannya untuk meratakan Baghdad dengan tanah.
Bukan hanya istana dan gedung-gedung kerajaan saja. Namun juga
rumah penduduk, masjid, serta madrasah, universitas dan
perpustakaan.
Kemegahan Baghdad habis tanpa
bekas. Seluruh warga tewas dibantai, kecuali yang sempat lari
menyelamatkan diri. Peristiwa ini merupakan salah satu
penghancuran terbesar kebudayaan masyarakat Islam yang telah
berkembang selama lebih 6 (enam) abad.
Hulagu tetap tinggal di
tendanya. Ia sepenuhnya mewakili karakter masyarakatnya,
bangsa Mongol, saat itu yang sangat sederhana namun brutal.
Mulanya bangsa itu adalah kelompok-kelompok kecil pemburu dan
penggembala di padang stepa di utara Cina hingga Siberia.
Mereka mempercayai sebagai keturunan Alanja Khan yang
mempunyai dua anak kembar, Tatar dan Mongol.
Adalah Yasugi Bahadur Khan yang
diyakini sebagai pemersatu kelompok-kelompok Mongol. Setelah
meninggal, kepemimpinan dilanjutkan oleh anaknya, Temujin yang
berusia 13 tahun. Pada 1206, Temujin mendapat gelar Jenghis
Khan. Ia membangun pasukan laki-laki dan pertempuan dalam
kelompok 10, 200, serta 1.000 orang yang masing-masing
dipimpin oleh seorang komandan.
Dengan pasukannya itu, ia
menaklukkan Cina dan menguasai sepenuhnya Asia Tengah. Kota-kota
indah seperti Samarkand, Bukhara dihancurkan sama sekali.
Penduduk dibantai habis-habisan. Sultan Ala Al-Din mencoba
menghadang gerak pasukan itu di Bukhara. Ia tewas dalam
pertempuran. Jalal Al-Din, anaknya, terpaksa lari ke India.
Jenghis Khan mewariskan
semangat berpetualang dan kebrutalan itu pada anak cucunya.
Keempat anaknya, Juchi, Chagatai, Ogotai dan Tuli melanjutkan
petualangan tersebut, menjarah wilayah-wilayah Islam. Salah
seorang cucu Jenghis, kemudian malah membangun armada laut
yang melakukan ekspedisi militer hingga wilayah Nusantara,
sehingga melahirkan insiden Tarik - Jawa Timur, yang
melahirkan kerajaan Majapahit.
Chagatai menguasai wikayah
Ferghana hingga Azerbaijan. Saudaranya, Tuli menduduki
Khurasan. Saat itu, kerajaan Islam terpecah belah dan tak
mempunyai kekuatan berarti. Sangat mudah bagi pasukan Mongol
-yang menghormat matahari terbit-untuk menaklukkan mereka.
Sebelum meninggal pada 1256, Tuli sudah menguasai sebagian
wilayah Irak. Hulagu tinggal melanjutkannya untuk menaklukkan
Baghdad.
Damaskus, Yordania, Nablus dan
Gaza dengan mudah dikuasai pasukan Hulagu. Mereka mengincar
Mesir yang dikuasai kesultanan Mamluk. Panglima Kitbugha
mengirim utusan ke Mesir yang meminta Sultan Qutuz menyerah.
Utusan Qitbhuga malah dibunuh. Di 'Ain Jalut, Sultan Qutuz
bersama panglima Baybars memimpin sendiri pasukannya bertempur
melawan pasukan Hulagu. Untuk pertama kalinya, pasukan Mongol
dapat ditaklukkan.
Kekuasaan Mongol dilanjutkan
oleh anak cucu Hulagu, yang dikenal dengan sebutan dinasti
Ilkhan. Abaga, anak Hulagu, memeluk Krtisten. Penggantinya,
Ahmad Teguder (1282-1284) masuk Islam, namun dibunuh oleh
Arghun, raja keempat yang bertindak kejam terhadap orang-orang
Islam. Posisi umat Islam membaik di masa raja ke tujuh Ikhan,
Mahmud Ghazan (1295-1304). Ia sempat menganut ajaran Budha
sebelum beralih ke Islam.
Ghazan tertarik pada masalah
peradaban. Ia membangun perguruan tinggi untuk mazhab Syafii
serta Hanafi, observatorium, perpustakaan, bahkan juga
padepokan atau semacam biara buat kaum sufi. Ia meninggal
dalam usia 32 tahun, dan digantikan Muhammad Khudabanda
Uljeitu (1304-1317), seorang penganut Syi'ah garis keras.
Sultan terakhir dari Dinasti Ilkhan adalah Abu Sa'id
(1317-1335). Kekuasaannya hancur setelah terjadi bencana
kelaparan hebat akibat serangan badai dan hujan es. Kekuasaan
pun terpecah belah, sampai kemudian dihancurkan oleh Timur
Lenk, penakluk brutal lainnya yang juga keturunan Mongol.
Serbuan Jenghis Khan hingga
Hulagu Khan benar-benar membuat masyarakat Islam harus
membangun kehidupan baru dari tingkat yang paling dasar. Tidak
ada lagi wujud peradaban yang tersisa dari wilayah Asia Tengah,
Selatan hingga Timur Tengah. Syukurlah, Dinasti Mamluk mampu
mempertahankan wiyah Mesir. Dari Mesirlah, kemudian peradaban
Islam dibangun kembali.n
|