Sahabat 

 

 

Sebuah negeri,  bayangkan, penuh dengan patung hitam, murung dan muram. Setiap nama jalan kita hapal, tapi selalu saja kita  tersesat  disitu. Sebuah kapel tua, bangku kayu bisu,  juga apel membusuk perlahan di rerumputan di tepi taman. Seolah di nujum mimpi, semua terulang disini.

 

Sahabat ….

Seketika ingin aku putar undur jarum jam, meninggalkan arang, puing malam,  pesta kata-kata kaum bayang, di palung malam. Juga  teriakan teriakan mereka yang  kadang begitu  garang. Seperti menemukan  rembulan  yang separuh lebam, berdarah, tenggelam di senyapnya  malam.   

Sahabat……

Apakah aku telah ingkar janji? karena aku terlalu liar menari dengan  para gadis-gadis  negeri kata ini, dari ruangan yang kelam,  yang hanya  disaksikan  malaikat kecil  yang mungkin belum tau tentang arti sebuah kehidupan, Kekal jadi tawanan ingatan, jadi teka teki waktu.

 

Tapi sahabat,disini,  bukankah semua kadang mirip dengan perangai cuaca? Tak mau tau siapa yang sungguh bahagia, siapa yang nyata2  sengsara? Tak mau perduli siapa yang menggigil, siapa yang tersekap, siapa yang bertahan melawan amuk topan, dan siapa yang bertahan melawan ketakutan.?

 

Kadang di negeri itu, semua jejak begitu mudah terhapus. Menghapus semua bagian2 ingatan dalam diri kita.

 

Disini, sahabat, begitu banyak kenangan. Tawa, canda,  bahkan makian , dan semuanya  yang terbungkus dalam  sebuah persahabatan yang kadang begitu  membingungkan. Seperti di sebuah barak yang sesak, tanpa jarak. Kadang kita berlaku seperti anak anak yang  bermain dengan bonekanya yang kikuk.  Sebuah labirin kenangan yang begitu indah tapi lagi- lagi sangat membingungkan. Bahkan disaat kata kata hangus, terhapus panas nafas,  kadang firman,  asma Tuhan, yang di samarkan oleh luka   dalam ketikan tangan, mungkin semua akan musnah, yang tertinggal cuma sayup dan gema.

 

Dan kerling bening bocah yang jenaka, bocah nakal yang jenaka, seperti menjadi cerita akhir di pelipur lara, karena membayangkan semua penyihir2 jahat terusir. Dan  burung2 gagakpun terkutuk sirna, karena datangnya seorang peri berambut ikal, bersayapkan terangnya bintang, terbang riang mengelilingi dan memahkotai nasib kita. Dan dia bernyanyi seolah nyanyinya adalah sebuah titah yang tak terbantahkan, sekali sentuh, jadilah..

 

“Sunyi pun sekejap menjelma roti, getir  di hati menjelma menjadi anggur nan wangi”

 

Tapi sahabat,diluar dongeng itu, dikamar yang terasa begitu mencekam, mata bapak terbelalak garang, mata ibu begitu pilu, menghitung dan menggiring, seperti memandang langkah prajurit yang kalah, pesakit yang pasrah, mendatangi sebuah subuh yang teduh, ke suatu  tempat dimana kini aku telah begitu lama tersesat, dan tak tercatat. Tak beralamat, tak pernah  menunggu isyarat selamat.

 

Sepertinya, sia- sia semua tengadah langit, sepertinya, bintang hanyalah milik orang Majusi, terdampar disudut, terisak, oh Sahabat, ingin sekali aku beralih bentuk.

 

Sahabat, entah apakah kita bisa bertemu lagi, seperti ragam bunga di sebuah kebun kecil  yang indah , dan  berkumpul, duduk  di bangku kayu di sisi taman. Atau kata2 ini adalah sebuah penghabisan dari kisah kisah muram. Kisah yang kekal jadi tawanan ingatan, dan selalu jadi teka teki waktu…

 

 

by Tbg. Arie P Oebaydillah (Absolutely Vodka)