MUDER TERESA
Dilahirkan di Skopje, Yugoslavia, dengan nama Agnes
Boyakhul, 26 Agustus 1910. la masuk Biara 1oretto di Irlandia 1928.
Setahun
sesudahnya dikirim ke India untuk menjalankan novisiatnya di sana dan
memulai karya sebagai guru, mengajar di
SMP St.Mary Calcuta.
Ia mengajar di situ hampir 20 tahun. Pada tahun 1946 dalam perjalanan
menuju retret tahunannya, ia berkata: "Aku mendengar panggilan untuk
meninggalkan segalanya dan mengikuti DIA ke lorong-lorong kumuh untuk
melayani orang-orang miskin dan teriantar.
la mengajukan permohonan kepada pimpinan Biara Loretto dan pada tahun 1984
ia meninggalkan biara Lorreto. Dalam ketaatan kepada Uskup Agung Calcuta,
ia memulai hidup di tengah orang-orang miskin. Ia mendirikan sekolah di
daerah kumuh dan mulai mengajar anak-anak miskin di situ. la juga belajar
obat-obatan sederhana dari para suster BKK (Biarawati Karya Kesehatan) dan
mulai mengunjungi rumah-rumah orang sakit dan merawat mereka. Tidak lama
banyak gadis alumni Sekolah St. Mary bergabung dengan dengan dia dan
melayani orang-orang menderita itu.
Tahun 1952 ia bertemu seorang wanita yang dibuang, sedang
dalam keadaan hampir mati di jalan. Badannya penuh dengan tikus-tikus dan
semut. Ia mengangkat wanita itu dan membawanya ke Rumah Sakit, tetapi Rumah
Sakit tidak melayani. Teresa Ialu membawa ibu itu ke Wahkota dan meminta
pertolongan untuk melayani orang-orang miskin, agar mereka boleh mendapat
tempat perlindungan yang layak.
Petugas kesehatan membawa dia ke sebuah gedung di dekat kuil Hindu. Gedung
itu tidak dipakai, kecuali sebagai penginapan bagi para pengunjung kuil.
Petugas kesehatan itu menawarkan rumah itu kepada Ibu Teresa untuk
digunakan. Dalam sehari ia menampung banyak orang sakit di situ dan memulai
di rumah itu tempat untuk orang sakit payah - yang sekarang terkenal dengan
nama: Kalighat.
Bertahun-tahun ia mengembangkan karya pelayanannya ini
secara subur. la melayani hampir setiap penderita yang ia jumpai untuk
dilayani; memberi perlindungan, memelihara anak-anak yatim-piatu, memberi
makan yang lapar dan memberi pakaian kepada yang telanjang, membuka klinik
untuk keluarga berencana, pelayanan perawatan jalan, dan perawatan
orang-orang lepra.
Ia mendirikan Tarekat Misionaris Cintakasih, yang
sekarang sudah lebih dari 3000 anggotanya, yang bekerja di 52 negara di
manca negara seperti di Roma, Addis Ababa, Bronx, Jenkins, Kentucky. Para
suster menjalankan hidup bakti dengan mengikrarkan kaul ke-empat yakni
"Dengan Segenap Hati Dan Seluruh Diri. Memberikan Pelayanan Bebas
Kepada Mereka Yang Paling Miskin". Dalam situasi dunia di mana
panggilan hidup religius berkurang, suster Misionaris Cintakasih ini malah
bertumbuh amat subur. Penjelasan untuk ini sangat sederhana, kata Ibu
Teresa: "Ada banyak wanita data pekerjaan seperti ini yang masih tetap
mencari suatu kehidupan doa, kemiskinan dan pengorbanan."
Pekerjaan Ibu Teresa diakui di seluruh dunia. Ia
terkenal sebagai wanita yang diakui di mata dunia dan
pada tahun 1979 ia mendapat hadiah Nobel Perdamaian.
Kemasyhuran nama seperti itu tidak memudarkan cara hidqpnya yanq luqu yanq
bersinarkan cinta-kasih Kristus kepada orang-orang miskin. la berjalan
dengan kaki telanjang ke mana saja bila perlu dan tidur di tantai rumah-rumah
penampungan orang miskin bersama suster-suster dan novis-novisnya. la makan
makanan orang sederhana dan minum air putih. Seperti semua susternya, ia
pun mempunyai hanya dua buah baju putih sari dan sendiri mencuci pakaian.
Para pengunjung merasa terharu oleh kesederhanaan
hidupnya. Mereka menyaksikan ia sedang menyisir rambut seorang anak gadis
India. Ia memadamkan listrik kalau ekaristi atau doa di kapel sudah tidak
lagi butuh terang lampu untuk membaca. Hal-hal itu lebih menunjuk kepada
cara hidup dan semangatnya. "Tak ada uang yang diberikan kepada orang
miskin." .a menjelaskan: "Adalah suatu pemborosan kalau kita
membiarkan listrik bernyala tanpa diperlukan. Kta hanya boleh menggunakan
kalau itu perlu sekali".
Ibu Teresa pergi ke mana-mana untuk berbicara tentang
pelayanan kasih. Ia tidak menumpuk uang untuk tarekatnya. Uang-uang yang
aiperolehnya semuanya dipakai untuk pelayanan orang-orang kecil itu. la
berbicara sederhana dan gamblang, tepat sasaran. Ia menggambarkan dengan
jelas warta cinta kasih Yesus bagi orang-orang miskin dan teriantar.
Pewartaannya merupakan pancaran nyala cinta seperti yang digambarkannya
dalam ungkapan-ungkapan yang terus-menerus diulanginya: "Kami buat
karena Yesus, untuk Yesus dan bersama Yesus". "Sesuatu yang
indah untuk Tuhan", "memberi sampai diri sendiri menderita karena
memberi", "layanilah Yesus dalam orang-orang yang menderita dan
terbuang".
Terbukti orang-orang yang tersentuh pelayanan Ibu Teresa
akan bertanya: "Apa yang dapat saya lakukan?"; jawabannya selalu
sama; yakni, suatu jawaban yang memperjelas visinya. Jawaban diberikan
secara pribadi, sesuai tempat di mana kita berada: "Mulai saja,
...satu, satu, satu", ujarnya. "Mulai di rumah dengan mengatakan
sesuatu yang baik kepada anakanakmu, kepada suamimu, atau kepada istrimu.
Mulai dengan melakukan apa saja yang dapat kau lakukan, sesuatu yang indah
untuk Allah". Sebagai suatu kritik sosial, ia mengganti kebiasaan
memerintah dengan pelayanan.
Selama tahun-tahun pelayanannya ia tidak nampak jera atau
lelah. la selatu tampak gembira, ceria, yang merupakan unsur paling penting
dalam hidup para suster Misionaris Cintakasih.
la menghayati kegembiraan kebangkitan. Kegembiraan dan
sukacita adatah pusat karya pelayanannya. "Buatiah apa yang kau mau
buat dengan gembira dan dengan suatu hati penuh bahagia", ia
menasehati suster-susternya. Orang-orang yang sakit payah adalah tubuk hati
Yesus yang bersengsara.
"Kapan saja engkau menjumpai Yesus, tersenyumlah
kepada-Nya". la mengatakan kepada suster-susternya, 'Uikalau kamu
tidak mau tersenyum kepada Yesus, maka lebih baik bungkusla pakaianmu dan
pulang saja ke rumah".
Pada suatu kesempatan konferensi pers di USA, ia
ditanyakan hal-hal sekitar perubahan dan perkembangan di dalam Gereja,
masalah emansipasi wanita, kerohanian dunia Barat, ekonomi dan penggunaan
media untuk pewartaan Injil.
la mengatakan: "Saya tidak tahu apa-apa tentanq hal itu." Atau
bahkan ia balik bertanya yang ada kaitannya dengan visinya: "Kalau
anda melakukan pekerjaan ini untuk kemuliaan diri, Anda hanya lakukan itu
untuk satu tahun, dan tidak lebih. Hanya kalau engkau melakukan itu untuk
Yesus maka engkau akan terus maju." Ibu Teresa dan suster-susternya
menghayati Injil secara harafiah dan amat radikal.
Kepada anggota-anggota pers, paling sedikit waktu ia berbicara
pada kesempatan itu, ia sangat berbeda pengalaman dengan semua yang lain.
Mereka tidak biasa mendengar seseorang berkata bahwa ia mencintai Yesus dan
didorong oleh Yesus, atau didukung oleh Ekaristi dan doa. Ada beberapa
orang yang terharu, yang dapat kita saksikan dengan melihat mata mereka.
Kebanyakan orang kehilangan warta kasih yang sebenarnya dan memandang dia
sebagai wanita naif yang coba mempengaruhi dunia yang tidak dapat lagi
berubah situasi sosiainya ini. Mereka memuji dia dan pekerjaannya, sambil
kehilangan kesederhanaan dan 'Keluguan motivasinya.
Beberapa orang yang mengenal Ibu Teresa, yang menggunakan
waktu berbincang - bincang dengan dia, merasakan bahwa beliau sungguh satu
karunia Tuhan bagi jaman kita. Barangkali ia juga salah satu dari
tokoh-tokoh historis yang muncul sebagai nabi yang datang untuk
memperingatkan kita akan warta gembira Injil, mengingatkan kita akan apa
yang Allah Bapa harapkan dari kita.
Agnes Boyaxhui mengeluh tentang kata-kata dan mengatakan:
"Terlalu banyak kata-kata". "Biarkan mereka melihat saja apa
yang kita buat". Tetapi ia terus berbicara, dengan sabar mengulangi
hal-hal pokok dari cita-cita dan visinya. Beberapa ungkapan yang mengikuti
- pembicaraannya - semoga dapat menjadi inspirasi dan pemahaman tentang wanita
itu dan karyanya.
Sumber : Mutiara Cinta, Muder Teresa