| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Dari
tahun ke tahun peminat jurusan matematika Perguruan Tinggi relatif
kecil jumlahnya ketimbang jurusan yang lain. Maka timbullah kesan
umum selayang pandang bahwa matematika itu kering. Benarkah kesan
itu? Atau kita pinjam berondongan pertanyaan pakar matematika M. Arif
Tiro dalam tulisannya yang berjudul Benarkah Matematika itu Kering?
dalam harian Fajar, edisi Kamis 14 Oktober 1993: "Benarkah anggapan
itu? Berapa banyak orang beranggapan demikian? Orang-orang pada tingkat
apa saja yang memiliki anggapan seperti itu?"
Tentu saja kesan itu tidak dapat dijawab dengan sikap black and white
thinking. Terhadap matematika itu sendiri sebagai disiplin ilmu tentu
tidak ada sangkut-pautnya dengan kata kering. Namun ini apabila menyangkut
para pakar matematika yang mencari rezeki dalam bidangnya di negara-negara
yang sedang berkembang apatah pula di negara-negara terkebelakang,
maka itu ibarat petani yang mencari rezeki, berkebun di lahan kering.
Adapun di negara-negara maju matematika itu terhitung subur sebagai
lahan untuk mencari rezeki. Itu tidak berarti karena lahan kering
di negara-negara yang bukan negara maju, lalu matematika tidak ada
peminatnya. Orang yang senang pada matematika tidak akan perduli walaupun
lahan itu kering.
Matematika sebagai disiplin ilmu memegang peranan penting dalam perkembangan
Iptek. Bahkan pernah terjadi pengungkapan TaqdiruLLah di bidang fisika
tidak segera dapat dikomunikasikan dalam gelanggang yang ilmiyah,
karena kebudayaan belum melahirkan matematika untuk menjabarkannya.
Dalam usia 23 tahun pemuda Isaac (Sir Isaac Newton, 1642 - 1727) mempunyai
cukup waktu untuk berhari-hari melihat buah-buah appel yang jatuh.
Pada waktu itu Isaac mengungsi ke sebuah pertanian di Lincolnshire
untuk menghindarkan diri dari wabah penyakit sampar yang menyerang
London dalam tahun 1665. Wabah itu menyebabkan Cambridge University
ditutup buat sementara. Di antara sekian banyaknya buah appel yang
jatuh yang disaksikannya hanya sebuah appel yang mempunyai peranan
dalam karirnya sebagai ilmuwan yang menemukan TaqdiruLLah gravitasi.
Penemuannya itu dipendam selama 20 tahun. Barulah dalam tahun 1687
The Theory of Universal Gravity dipublikasikan dalam wujud sebuah
buku dengan judul Philosophiae Naturalis Principa Mathematika. Sebagai
diketahui inti gravitasi adalah gaya tarik menarik di antara benda-benda.
Besarnya berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara benda-benda
itu. Kalau benda itu adalah bumi dan bulan tidak ada masalah. Pendekatan
yang dipakai Isaac Newton ialah baik bumi maupun bulan dikonsentrasikan
sebagai titik benda yang disebutnya dengan Center of Gravity. Jarak
antara kedua titik benda bumi dengan bulan dapat dianggap tetap. Tetapi
halnya tidak akan sederhana apabila diaplikasikan pada buah appel
yang jatuh, yang jaraknya terhadap bumi tidak tetap, makin lama makin
kecil.
Maka Isaac Newton berupaya membuat sendiri jenis matematika untuk
dapat dipakai dalam teori gravitasinya, yang disebutnya dengan Calculus
of Infinitesmals, disingkat Calculus dan istilah inilah yang dipakai
hingga sekarang untuk jenis matematika ini. Dewasa ini kalkulus itu
wawasannya sudah melebar ke kalkulus vektor dan kalkulus tensor, sehingga
dapat memegang peranan penting dalam mengkaji serta sekaligus memperkembang
ilmu fisika. The General Theory of Relativity dan The Unified Field
Theory dari Einstein tidak akan lahir tanpa kalkulus tensor.
Dalam bidang management, khususnya pengelolaan proyek, jasa seorang
pakar matematika C.A.Clark, tidaklah wajar untuk dilupakan begitu
saja. Dalam tahun 1957 ia mengetuai team Project Evaluation Research
Task (PERT) yang menghasilkan suatu metode dalam mengelola proyek
Angkatan Laut Amerika Serikat dengan nama sandi Polaris. Metode baru
itu diberi bernama pula dengan PERT oleh team PERT ini, namun kepanjangannya
lain: Program Evaluation and Review Technique, suatu bagian dalam
Network Planning. Dewasa ini janganlah diharapkan seorang kepala proyek
akan dapat menjadi profesional apabila tidak menguasai ilmu ini. Adapun
proyek Polaris ini menghasilkan roket yang menjadi cikal-bakal roket
pendorong pesawat Columbia ke bulan dan pendorong pesawat ulang-alik
sekarang ini. Itulah sekelumit contoh kasus bahwa pakar matematika
menikmati lahan subur dalam negara maju.
Bilakah lapangan hidup mencari rezeki di lahan matematika berubah
menjadi lahan subur di Indonesia ini? Menjelang akhir tahun 70-han
organisasi Universitas Hasanuddin Makassar berstruktur matrix, aliran
sumberdaya dan aliran program. Aliran sumberdaya dipimpin Dekan Fakultas
dengan ujung tombak Ketua Jurusan menjalankan tugas-tugas rutin. Aliran
program dipimpin Dekan Kajian dengan ujung tombak Ketua Program memikirkan
pengembangan akademik, memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan aliran
sumberdaya. Para dosen mempunyai dua bos, Dekan Fakultas dan Dekan
Kajian. Bagi yang mengerti sejarah Kerajaan Makassar hal dua bos ini
bukan hal yang aneh, yaitu kerajaan kembar Gowa-Talo', yang dalam
lontara disebut rua karaeng se're joa', dua raja satu rakyat. Kerajaan
Makassar mencapai puncaknya dengan struktur organisasi kerajaan kembar
ini. Struktur organisasi matrix itu sifatnya dinamik. Program pendidikan
dapat ditambah atau dikurangi sesuai dengan kebutuhan kualitatif dan
kuantitatif para konsumen atau pasar sumberdaya manusia tanpa merombak
organisasi, tanpa menambah atau mengurangi jurusan. Organisasi matrix
ini ditiru dari dunia industri, perubahan jenis-jenis produksi secara
dinamik dapat dilakukan tanpa mengubah struktur organisasi pabrik,
untuk dapat memenuhi gelombangnya pasar.
Dengan diterapkannya organisasi matrix itu, tiga serangkai modal,
industri, teknologi dapat saling pacu, yang dalam teknik mengatur
dikenal dengan ungkapan umpan balik positif. Dan apabila di Indonesia
ini ketiga serangkai itu sudah saling pacu maka matematika insya Allah
akan berubah dari lahan kering menjadi lahan subur. Hanya saja perlu
diantisipasi, saling pacu tiga serangkai itu dapat menjurus ke arah
pencemaran global yang sulit dikontrol. Maka perlu kita ingat peringatan
Allah SWT dalam S.ArRuwm,41: Zhahara lFasaadu fiy lBarri wa lBahri
Bimaa Kasabat Aydi nNaasi, muncullah kerusakan di darat dan di laut
akibat tangan-tangan manusia. WaLlahu a'lamu bishshawab.
*** Makassar, 7 November 1993
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
|
|