| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Di
zaman pemerintahan Sultan Malikussaid Raja Gowa dengan gelar anumerta
Tummenanga ri Papambatuna, tersebutlah dua orang tokoh sejarah yang
terkenal yaitu Syaikh Yusuf Tuanta Salamaka dan Karaeng Pattingalloang.
Syaikh Yusuf adalah tokoh berkaliber internasional, dengan predikat
ulama dalam kwalitas sufi, ilmuwan penulis puluhan buku, pejuang yang
gigih di mana saja ia berada: di Gowa, di Banten, di Ceylon (Srilangka
sekarang) dan di Tanjung Pengharapan, negaranya orang Boer (petani
emigran Belanda, sekarang Negara Afrika Selatan). Karaeng Pattingalloang
adalah Perdana Menteri kerajaan kembar Gowa-Tallo', negarawan, politikus,
ilmuwan, yang publikasi karya ilmiyahnya belumlah ditemukan hingga
dewasa ini.
Syahdan, inilah dialog di antara keduanya dalam Hikayat Tuanta Salamaka
menurut versi Gowa, sebagaimana dituturkan oleh Allahu Yarham Haji
Ahmad Makkarausu' Amansyah Daeng Ngilau'. Materi dialog itu ada lima
perkara: anynyombaya saukang, appakala'biri' sukkuka gaukang, a'madaka
ri bate salapanga, angnginunga ballo' ri ta'bala' tubarania, dan pa'botoranga
ri pasap-pasaraka.
Maka
berkatalah Tuanta Salamaka: "Telah kulihat alamat keruntuhan
Butta (negeri) Gowa. Oleh sebab itu, pertama, hentikan dan cegahlah
rakyat menyembah berhala (saukang), yang kedua, hentikan menghormati
atribut kerajaan (gaukang) secara berlebih-lebihan, yang ketiga, hentikan
Bate Salapang bermadat, yang keempat, hentikan pasukan kerajaan minum
tuak, dan yang kelima, hentikan perjudian di pasar-pasar." (bahasa
aslinya seperti dituturkan Daeng Ngilau di atas itu).
Maka menjawablah Karaeng Pattingalloang:
"Pertama, susatongi nipamari anynyombaya saukang, susahlah menghentikan
rakyat menyembah saukang, sebab melalui saukang itulah wibawa raja
ditegakkan, yang kedua, sukarlah juga menghentikan penghormatan gaukang,
karena di situlah letaknya kemuliaan sang raja, anjoreng minjo kala'biranna
sombaya, yang ketiga, tidaklah gampang Bate Salapang menghentikan
bermadat, karena jika demikian takkuleami nagappa nanawa-nawa kabajikanna
pa'rasanganga, tidak akan timbul gagasan-gagasan baru mengenai konsep
pembangunan, yang keempat, kalau pasukan kerajaan dihentikan minum
tuak, lalu kedatangan musuh, inaimo lanisuro a'jjallo', siapalah yang
akan dikerahkan membabat musuh, yang kelima, juga tidak mungkin menutup
perjudian di pasar-pasar, karena tenamo nantama baratuwa, tidak ada
lagi pajak judi yang masuk dalam perbendaharaan kerajaan, antekammamo
lanibajiki pa'rasanganga, lalu bagaimana mungkin menggalakkan pembangunan?"
Setelah dialog selesai, Tuanta Salamaka mengeluarkan pernyataan: "Punna
tenamo takammana lakupilari butta Gowa, kalau keputusan kerajaan sudah
demikian itu, akan kutinggalkan Butta Gowa. Tamangeai nyawaku anciniki
sallang sare-sarenna Butta Gowa. Tak sampai hati saya menyaksikan
kelak keruntuhan Butta Gowa."
La Maddaremmeng, Raja Bone ke-13, menjalankan Syari'at Islam dengan
murni dan konsekwen dalam kerajaannya. Sebenarnya La Maddaremmeng
ini perlu diangkat dalam sejarah, bahwa ia mendahului gerakan Paderi
di Minangkabaw. La Maddaremmeng adalah Pahlawan Islam. Ia memberantas
adat kebiasaan yang bertentangan dengan Syari'at Islam, sejalan dengan
yang dikemukakan oleh Tuanta Salamaka kepada Karaeng Pattingalloang.
Para bangsawan Bone yang tidak setuju dengan kebijaksanaan La Maddaremmeng
minta bantuan Kerajaan Gowa, yang mengakibatkan pecah perang Gowa-Bone
yang kedua. Bone kalah perang, sejumlah rakyatnya ditawan, dikerahkan
ke Gowa untuk kerja paksa, membangun benteng pertahanan.
Perang Gowa-Bone ini memang unik dalam sejarah. Pada zaman pemerintahan
I Mallikaang Daeng Manyonri Karaeng Katangka Karaenga Matowaya Sultan
Alawddin Awwalu lIslam Tummenanga ri Agamana terjadi perang Gowa-Bone
pertama, yang penyebabnya sebaliknya dari perang yang kedua. Yaitu
Kerajaan Gowa walaupun tidak memaksakan agama Islam pada Kerajaan
Bone yang waktu itu belum Islam, Kerajaan Gowa menghendaki agar Bone
menghentikan praktek tradisi yang bertentangan dengan Syari'at Islam.
Demikianlah Kerajaan Gowa kehilangan mutiaranya. Tuanta Salamaka akhirnya
meninggalkan Kerajaan Gowa, merantau ke Banten. Menuntut ilmu ke Tanah
Suci. Bersama-sama dengan mertuanya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan iparnya,
Pangeran Purbaya, berperang melawan Belanda di Banten, di Parahyangan,
sampai ke Ceribon. Melanjutkan perjuangan sambil menulis buku di pengasingan
di Ceylon dan di Tanjung Pengharapan.
Apa yang diucapkan Tuanta Salamaka sebagai futurelog terbukti dalam
sejarah. Arung Palakka, yang walaupun masa remajanya dibina dan dididik
oleh Karaeng Pattingalloang, bangkit melawan kerajaan Gowa untuk memerdekakan
Bone, mengakhiri kerja paksa itu. Dan selanjutnya dapat kita baca
dalam sejarah bahwa apa yang diramalkan oleh Syaikh Yusuf tentang
nasib kerajaan Gowa terbukti dalam satu generasi berikutnya pada zaman
pemerintahan I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangngape
Sultan Hasanuddin Tummenanga ri Balla' Pangkana, ditandai dengan ditandatanganinya
Perjanjian Bungaya. Sepeninggal Sultan Hasanuddin pamor Kerajaan Gowa
menjadi pudar.
Menurut berita insya Allah Syaikh Yusuf akan diperingati sepanjang
tahun 1994 di Negara Afrika Selatan, yang mendapat dukungan kuat dari
Nelson Mandela. Kolom ini ditulis untuk ikut sekelumit menyambut tahun
kegiatan memperingati Syaikh Yusuf di rantau jauh itu. Adegan dialog
itu menunjukkan perbedaan sikap berpikir antara orang berdzikir kemudian
baru berpikir, berhadapan dengan orang yang berpikir saja tanpa berdzikir.
Syaikh Yusuf, karena berdzikir, ingat kepada Allah dahulu sebelum
berpikir, maka pemikirannya dituntun oleh wahyu. Sedangkan Karaeng
Pattingalloang hanya berpikir saja tanpa dituntun wahyu, hanya mengandalkan
akalnya belaka. Itulah barangkali latar belakangnya mengapa penulis
sejarah di kalangan orang barat sangat memujinya. WaLlahu a'lamu bishshawab.
*** Makassar, 5 Desember 1993
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
|
|