| |
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Keduanya
sebaya, teman bergelut pada waktu masih anak-anak. Setelah Nabi Muhammad
RasuluLlah SAW membawakan risalah, keduanya menjadi penantang sengit.
Umar ibn Khattablah yang pergi menghadap Najasah (Negus) Raja Habasyah
(Abessinia) meminta kepada raja itu untuk menyerahkan semua Ummat
islam yang hijrah ke kerajaah itu, namun permintaan Umar itu ditolak
oleh Najasah. Seperti diketahui dalam sejarah, hijrah yang pertama
adalah ke Habasyah. 'Umar men4ahului Khalid masuk Islam, masih dalam
perio Makkah.
Adapun Khalid ibn Walid masuk Islam pada periode Madinah. Ia adalah
komandan pasukan berkuda angkatan perang Quraisy. Pasukan berkuda
Khalid inilah yang mernusuk pasukan Islam dan belakang pada Perang
Uhud. Matanya yang jeli dapat melihat pasukan pemanah yang menjaga
barisan belakang pasukaln Islam di celah bukit Uhud meninggalkan posnya
karena melihat pertempuran sudah dimenangkan pasukan Islam. Padahal
RasuluLlah SAW telah memerintahkan kepada pasukan pemanah yang menjaga
celah bukit Uhud tidak boleh meninggalkan posnya, apapun yang terjadi.
Ketidak-disiplinan pasukan pemanah itu yang menyebabkan pasukan berkuda
Khalid mengubah situasi pertempuran menjadi terbalik. Kini giliran
pasukan Islam yang bertahan, padahal tadinya pasuk Quraisylah yang
dikejar, dipukul mundur. Namun ibarat main bola pasukan Islam yang
bertahan itu akhirnya dapat melakukan serangpn balik. Akan tetapi
dari pihak pasukan Islam tak kurang yang syahid dan menderita luka.
Hamzah syahid, bahkan RasuluLlah SAW sendiri luka dalam pertempuran
yang sengit itu.
Setelah Perjanjian Perdamaian Hudaybiyah dua orang panglima perang
Quraisy datang di Madinah menyatakan din masuk Islam. Keduanya adalah
Khalid ibn Walid dan Amr ibn Al Ash, yang kelak menjadi Gubemur Mesir.
Walaupun dalam Perjanjian Hudaybiyah ada diktum yang menyebutkan bahwa
apabila ada penduduk Makkah yang ke Madinah harus dikembalikan ke
Makkah jika pihak Quraisy memintanya untuk dikembalikan, keduanya
tidak dikembalikan ke Makkah, karena pihak Quraisy tidak memintanya.
Pada waktu Khalifah 'Umar ibn Khattab menjadi Khalifah, Khalid ibn
Walid menjadi Panglima Perang. Kemana saja ia dikirim pasukannya selalu
menang. Sekali waktu pasukan Khalid ada di Asia Kecil. Sebelum menyerbu
pertahanan musuh Khalid mendapat SK dari Khalffah, yaitu SK pencopotan,
dihentikan jadi panglima. Dalam penyerbuan itu, Kahlid sebagai tentera
biasa masih menunjukkan kesungguhannya, bahkan masih berjasa dalam
merebut kubu musuh. Waktu ditanya temannya sepasukan: "hai Khalid,
buat apa engkau bersungguh-sungguh begitu, bukankah engkau telah dipecat
'Umar?" Khalid menjawab, "saya tidak berjuang untuk 'Umar,
melainkan berjuang untuk Islam." Kemudian Khalid niinta izin
dan panglima yang baru untuk ke Madinah minta penjelasan Khalifah.
Syahdan. inilah dialog secara terbuka antana 'Umar sebagai Khalifah
dengan Khalid sebagai mantan Panglima.
"Mengapa saya dipecat, apa kesalahan saya?"
"Engkau saya pecat untuk mencegah tiga hal. Pertama, untuk Khalifah,
Panglima tidak boleh lebih populer dari Khalifah. Yang kedua, untuk
engkau sendiri, engkau adalah manusia biasa, kalau berhasil terus
dalam memimpin engkau akan menjadi sombong. Yang ketiga untuk rakyat,
rakyat harus dipelihara aqidahnya dan kemusyrikan memuja, mengkultus-individukan
pahlawannya."
"Saya terima pemecatan itu dengan ikhlas".
"Engkau sekarang saya tugaskan membantu Sa'ad di front sebelah
timur yang sedang mengalami kesulitan melawan pasukan bergajah angkatan
perang Parsi."
Maka Khalid dikirimlah ke front sebeiah timur. Ia menyarankan kepada
Panglima Sa' ad untuk menghadapi setiap ekor gajah perang dengan satu
regu pasukan panah. Yang dipanah dahulu adalah penunggangnya. Setelah
penunggangnya tewas baru memanah gajah pada bagian yang sensitif.
Khalid sendin menawarkan dininya untuk inenjadi kepala regu dari salah
satu regu pemanah. Taktik Khalid ini berhasil memukul mundur tentera
bergajah itu. Karena gajah itu sudah tidak ada yang mengendalikannya,
dan kesakitan kena panah, para gajah itu berbalik haluan menginjak-injak
tentera berkuda dan infanteri di belakangnya, maka kocar kacirlah
pasukan Parsi itu.
Ada empat nilai yang masih relevan hingga kini dalam kehidupan bernegara
dari dialog di atas. Yang pertama, sikap keterbukaan dan keikhlasan,
sebab tanpa keterbukaan mudah terjadi kesalah fahaman, yang mengandung
bibit perpecahan ibarat api dalam sekam, baik dalam kalangan pimpinan,
maupun antara yang memimpin dengan yang dipimpin. Yang kedua, kepala
negara tidak boleh kalah populer dari panglimanya. Betapa banyak terjadi
perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh panglima suatu negara maupun
kerajaan dalam sejarah. Yang ketiga, orang yang selalu sukses dalam
bidang apa saja, akan menjadi empuk bagi iblis untuk masuk dalam perangkapnya
bersifat seperti iblis sendiri, yaitu takbur, menyombongkan diri,
balk kesombongan kepangkatan, maupun kesombongan intelektual dan jenis
jenis kesombongan yang lain. Yang keempat, sikap mendewakan pemimpin,
taat tanpa reserve, loyal tanpa batas dari rakyat, menyebabkan rusaknya
aqidah rakyat di pihak yang satu, dan pada pihak yang lain pemimpin
akan menjadi diktator. Contohnya banyak dalam sejarah seperti misalnya
rakyat Jerman yang memuja Fuhrernya, Hitler, sang diktator.
*** Makassar, 19 Desember 1993
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
|
|